Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Penolakan # 45


__ADS_3

Desta heran saat ini, bagaimana bisa dirinya berada di antara mereka, mereka yang notabebe adalah para petinggi yayasan itu? Desta memandang bergantian antara bu Hartini yang duduk di sebelahnya, Gilang di samping bu Hartini dan Leehans di sebelah Gilang. Leehans duduk berhadapan dengannya.


Mereka pun juga memandangnya, tiga pasang mata itu tengah menyorot dirinya. Ada apa ini? Desta sudah tidak tahan, selain rasa ingin tahu, tapi dirinya juga merasa lelah teramat sangat.


"Maaf, saya tidak paham, kenapa saya juga ikut ada di sini?"


Desta tak dapat menahan rasa herannya. Matanya mengarah pada Leehans, lelaki itu yang telah mengundangnya.


"Bersabarlah nak, Gilang akan menjelaskan padamu. "


Bu Hartini menenangkan Desta agar sabar menunggu.


Desta kembali tenang dan kini berganti menatap Gilang.


Berharap penjelasan segera, kenapa dirinya dilibatkan dalam pertemuan ini.


"Betul, penjelasan ini akan dimulai oleh saudara Gilang , silahkan bicarakan keinginan anda itu di sini."


Leehans memulai percakapan, Gilang nampak mengambil nafas dan akan mulai bicara.


Dengan gaya lelakinya, Gilang menjelaskan keinginan dan tawarannya pada Desta dengan perlahan dan berusaha selembut mungkin. Bermaksud agar gadis itu tidak merasa terkejut, saat mengetahui isi hatinya selama ini. Gilang mengatakan semua kepada Desta dengan sejujurnya, persis dengan apa yang sudah dia bicarakan siang tadi kepada Leehans.


"Apakah ini nggak salah mas, aku ndak salah dengar kan? "


Nyatanya, tetap saja Desta merasa terkejut dengan maksud Gilang yang tidak disangkanya.


"Tidak Ta, semuanya benar, aku serius dengan niatku. "


Gilang lebih memajukan tubuhnya, agar lebih leluasa memandang Desta, gadis itu terdiam menunduk sambil memainkan jari-jemarinya. Tentu saja, hati perempuan mana yang tak bingung, mendapat lamaran mendadak tanpa ikatan apapun sebelumnya seperti itu.


Siapa yang tidak tahu Gilang, lelaki mapan dari keluarga baik-baik, pribadinya bagus, urusan agama juga tidak diragukan lagi, dan orangnya juga tampan dan rupawan. Benar-benar paketan calon suami yang sedang jadi idaman perempuan.

__ADS_1


Tambah lagi bonus dari lelaki itu, dirinya bisa selalu tinggal di kota ini tanpa harus pergi jauh-jauh ke luar negeri. Leehans bersedia melepaskan dirinya, dari kontrak kerja yang akan mengikatnya selama dua tahun itu. Bahkan Leehans rela tidak menerima ganti rugi sepeserpun, jika dirinya mau menerima Gilang sebagai suaminya.


Sekilas, pikirannya ingat pada Ajeng yang sedang pada posisi down, gadis itu butuh penyokong saat ini. Ajeng sedang memerlukan dukungan untuk kembali mendapatkan semangat hidupnya. Gadis itu lebih dari sahabat sedari kecilnya yang tak bisa diabaikannya begitu saja.


Jika setuju dengan tawaran Gilang, sekali lagi Desta akan merugikan Leehans dalam banyak hal. Dalam hal ini yang paling diuntungkan adalah Gilang, dia mendapat semua keinginannya. Sedang Desta hanya perlu berkorban perasaan saja, karena diyakini hatinya bukanlah untuk Gilang. Desta tidak ingin kejadian bersama Benn terulang kembali, dirinya berhak bahagia.


Dilihatnya bu Hartini yang tengah menatap teduh padanya, ibu ketua itu sedang menunggunya bersuara. Pandangan Desta beralih mendapati Gilang yang terus menatap padanya, rahangnya mengeras dan pandangan penuh harap, lelaki itu juga nampak menunggu jawabannya dengan segera. Desta kembali menggeser matanya ke samping Gilang, ada Leehans di situ, tidak melihatnya sama sekali, lelaki itu terlihat sibuk dengan ponsel di tangannya. Seakan acuh dengan apapun keputusan Desta kali ini.


"Apakah perlu saya jawab sekarang? "


Desta bertanya sambil melihat ke arah Gilang.


"Iya. Kau harus memutuskan sekarang juga, Desta. "


Leehans lah yang menjawab pertanyaan itu dengan cepat.


"Jika kau masih bingung, berpikirlah lagi, namun segeralah berikan jawabanmu secepatnya, kami menunggumu."


"Jika kau tidak setuju, aku akan kembali besok pagi, dan kau akan ikut bersamaku, melanjutkan kontrak kerjamu pada ayahku hingga dua tahun ke depan. "


Leehans menerangkan lagi pilihan itu pada Desta. Kini lelaki kaya itu memandangi Desta tak berkedip.


"Apakah menurut anda, saya harus menerima mas Gilang? "


Desta bertanya dengan pandangan kosong, seperti bergumam pada dirinya sendiri.


"Apa yang kau ragukan darinya, saudara Gilang adalah lelaki yang baik, punya segalanya, dia tidak sama dengan Benn, jangan bandingkan dengannya. "


Leehans mencoba mencairkan kebingungan Desta. Namun gadis itu hanya diam tak menanggapi, tatapannya berganti antara Gilang , Leehans dan bu Hartini. Suasana berubah hening, tenggelam dalam jalan pikiran masing-masing. Hanya tatapan mata yang saling bergantian di antara mereka berempat.


Suasana kaku itu terpecah saat kembali terdengar suara Desta yang mulai berbicara.

__ADS_1


"Jujur saya merasa bosan dengan momen seperti ini. Saya tidak menyangka, keinginan untuk bekerja sesuai impian saya, akhirnya hanya dihadapkan dengan pilihan menikah dan menikah. Mesti tidak terlihat, sebenarnya saya amat tertekan dengan kondisi ini."


"Tuan Leehans, kenapa anda selalu mengarahkan saya untuk menikah, kenapa?! "


"Di sini saya tegaskan, saya belum ingin menikah dengan siapapun yang berminat menikahi saya, saya sangat berterimakasih atas niat baiknya, tapi dengan terpaksa saya menolaknya. Saya masih ingin bermain dengan kebebasan saya. "


Panjang lebar Desta mengutarakan alasan penolakannya. Gilang nampak menegakkan punggungnya dan kembali menatap Desta dengan berbicara lembut.


"Aku bisa menunggumu Ta, kita tidak akan buru-buru menikah, aku akan sabar menunggumu. "


"Saya tidak ingin menikah!!! aku tidak bisa!!! jangan tunggu aku!!!


Tiba-tiba Desta berkata menjerit dan kemudian menangis tersedu-sedu, sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Nampak sekali gadis itu begitu tertekan dan tidak bisa menahannya kali ini. Bu Hartini meraihnya dan membenamkan kepala Desta dipelukannya.


"Maafkan saya mas Gilang. "


Gadis itu bersuara di antara isak tangisnya yang tertahan, sambil melepaskan pelukan bu Hartini perlahan. Gilang seketika termangu memperhatikan tangis Desta yang menyesakkannya itu. Kalau sudah begitu, Gilang tidak bisa berbuat apapun, tidak juga berani untuk membujuknya lagi.


"Oke Ta, Berhentilah menangis, aku tidak akan memaksamu. Semoga kau berhasil meraih mimpi-mimpimu. Aku juga minta maaf padamu, sampai jumpa Ta, aku pulang dulu. "


Gilang menerimanya dengan lapang dada, lelaki itu berpamitan pada Leehans dan bu Hartini dengan berjabatan tangan, tangan Gilang terasa sangat dingin.


Lelaki itu keluar ruangan melewati pintu dan hilang seketika ditelan gelapnya malam.


Isakan sedih itu masih terdengar sesekali, Leehans menatap gadis yang tengah nenangis itu dengan pandangan kosong. Kedua telapak tangannya terkepal rapat, lelaki itu nampak sedikit gusar, tidak tahu harus berbuat apa saat itu.


"Desta, kembalilah ke kamarmu, beristirahatlah, tidur yang cukup. Pukul lima pagi, kita akan berangkat ke Juanda. "


Leehans berusaha mencairkan ketegangan itu dengan mengatakan pada Desta akan penerbangannya. Desta hanya mengangguk kecil tanpa bicara.


"Tuan Leehans, tunggu sebentar, saya ingin menyampaikan sesuatu kepada anda dan Desta. "

__ADS_1


Bu Hartini nenahan langkah Desta untuk melangkah pergi. Dengan perlahan, Desta kembali duduk pada tempatnya semula.


__ADS_2