
Pasangan Lee tidak asing lagi dengan Daniel. Masa kecil Leehans sebagian habis di Jakarta. Leehans, Benn dan Daniel tumbuh kembang bersama di lingkungan yang sama. Mereka bertiga seperti bersaudara. Mrs. Lee juga sangat menyayangi Daniel kecil kala itu. Sama dengan perlakuan sayangnya pada Benn yang memang sudah tengil sedari kecil. Kedatanganp Daniel membuat Mrs. Lee sangat merindukan waktu-waktu seperti dulu.
Kini di hadapannya telah berdiri gagah lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu. Daniel sahabat putranya sedari kecil. Begitu juga dengan Benn. Meski mereka sudah cukup umur, namun di mata Mrs. Lee, mereka tetaplah anak-anak yang akan tetap di sayanginya. Anak-anak yang kini berubah jadi lelaki dewasa. Dan dua lelaki dewasa itu sedang menginginkan seorang perempuan cantik dengan orang yang sama, yaitu Desta.
Bahkan yang lebih membuat Mrs. Lee tak habis pikir, dirinya sendiripun juga menginginkan gadis itu untuk Leehans putranya. Dan berharap Leehanslah yang akhirnya memenangkan hati gadis itu. Dan di akhir khayalannya, Mrs. Lee berhasil mendapat menantu impiannya.
****
Makan malam berlangsung begitu hangat. Mrs. Lee sangat menyukai Jenny yang lucu dan menggemaskan. Gadis tiga tahun itu terlihat bahagia dengan perhatian melimpah yang Mrs. Lee berikan pada kunjungannya.
Daniel memang hanya beberapa kali mempertemukan ibunya di Indonesia dengan putrinya. Orang tua Daniel, dulunya tidak menyetujui pernikahannya dengan gadis selain dari gadis Indonesia. Apalagi calon istri Daniel itu, berbeda keyakinan dengan keluarga besar Daniel yang notabene muslim taat, sebelum akhirnya memilih menjadi seorang mualaf.
Sayang takdir berkata lain, istri yang dikasihinya itu meninggal setelah mengeluarkan Jenny dari rahimnya. Istri Daniel meninggal karena pendarahan, dan transfusi darah ke tubuhnya berjalan kurang tepat. Meskipun menyesal, nasi sudah menjadi bubur. Daniel yang juga seorang dokter berkemampuan pun harus ikhlas menerima takdir itu.
Semenjak itulah Daniel jarang mengunjungi orang tuanya. Sehingga Jenny pun seperti tidak tahu-menahu tentang kakek dan neneknya di Indonesia. Apalagi Daniel telah menitipkan Jenny pada abang iparnya, Tauji Hiroshi. Bahkan Daniel pun juga mengajukan mutasi tugasnya ke Jepang saat ini.
"Ayo Dan... habiskanlah makanan seadanya ini. Mommy gembira kalian berkunjung ke sini. Sering-seringlah kalian datang.."
Nyonya Yuri beramah tamah dengan tulus pada Daniel. Nampaknya ibu Leehans juga sangat gemas pada Jenny. Bahkan balita gembul itu didudukkan berdekatan dengannya. Sedang Daniel duduk menempati kursi Leehans di depan Desta.
Selesai dengan makan masing-masing, nyonya Yuri menggendong Jenny ke sebuah ruangan berisi banyak mainan. Ruangan khusus bermain untuk cucunya, saat anak perempuannya Leezha, suami dan anaknya pulang mengunjungi rumah ini. Mr. Lee juga nampak mengikuti istrinya untuk melihat kelucuan Jenny. Sepertinya ayahnya Leehans juga sedang merindukan cucu perempuannya, yang lama tidak dilihatnya.
Selain ingin bermain dengan Jenny, nyonya Yuri juga ingin memberi kesempatan Daniel untuk berbicara berdua dengan Desta. Bagaimanapun nyonya Yuri pernah muda dan sangat pengertian. Meskipun ikut bersaing mendapat calon istri untuk putranya, namun nyonya Yuri telah terbiasa bermain bersih dalam setiap kompetisi. Hal itu tak lepas dari didikan suaminya, Mr. Lee.
Sebenarnya Desta juga ingin mengikuti Jenny untuk bermain dalam ruangan itu. Tapi dilarang oleh nyonya Yuri dengan alasan tidak sopan dan atitude kurang bagus jika meninggalkan Daniel tanpa tuan rumah. Desta terpaksa mengikuti arahan tuan rumah besarnya itu. Mrs. Lee memang lebay.
***
Daniel membawa Desta ke sebuah taman mini di samping teras depan rumah. Taman yang dilengkapi dengan sebuah kolam ikan itu didesain indah bersama lampu-lampunya yang temaram, namun bertebaran begitu banyak. Terlebih dengan adanya Daniel dan Desta yang duduk berhadapan di kursi taman, memberi kesan romantis pada tempat itu.
"Desta.."
__ADS_1
Desta menatap lelaki yang menyebut namanya dengan ekspresi menunggu. Lelaki tampan yang sukses menjadi dokter spesialis penyakit dalam, di usianya yang masih terbilang muda.
"Apakah Leehans sudah bilang padamu, Benn akan datang ke sini. Kemungkinan lusa."
Daniel bicara dengan mimik yang serius memperhatikan Desta yang nampak terkejut sebentar.Desta memandang Daniel seperti memastikan kebenaran ucapan lelaki itu.
"Benn datang ke rumah ini?"
Desta berkata lirih, namun Daniel mendengarnya.
"Tentu, sepertinya hanya ke sinilah tujuan utama Benn tiap kali dia ke Jepang."
Mendengar itu, Desta tidak tahu bagaiman bersikap pada Benn jika terpaksa harus saling bertatap muka. Yang jelas, mengingat lelaki itu adalah hal paling dihindarinya. Perasaan risih, tidak suka, muak dan sedikit takut bercampur jadi satu. Benn orangnya cenderung nekat.
"Apakah sebaiknya aku pergi dari rumah ini? Menyewa kamar atau asrama sederhana, tapi aman, penjagaannya ketat, apakah ada ya mas?"
Desta memandang Daniel dengan gusar.
"Tapi saranku jangan buru-buru. Bincangkan dulu pada Mr. Lee selaku walimu di sini. Tentu beliau akan ikut memikirkan kebaikanmu."
"Tapi aku sangat tidak berharap bertemu Benn, mas Daniel."
Tergambar kegusaran di hati Desta pada ucapannya itu. Daniel memahami perasaan trauma yang tersisa di hati gadis itu.
"Lagipula, kita belum tahu bagaimana sikap Benn terhadapmu sekarang. Apakah masih memaksa ataukah berjiwa besar dengan keinginanmu. Kita lihat saja dulu."
Daniel berusaha menenangkan kegusaran perasaan Desta. Dengan ekspresi sedikit tegang, ditatapnya wajah cantik itu dan mulai berkata lagi.
"Atau seperti yang ku katakan hari itu, kamu bisa mempertimbangkan diriku Desta. JIka kau percaya padaku, akupun bersedia untuk membebaskanmu dari kejaran Benn. Menikah saja denganku, tolong pertimbangkan ini sedikit saja Desta."
Daniel nampak berharap dan bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Lelaki itu ingin memiliki hubungan yang terikat serius dengan Desta. Ingin memberikan untuk putrinya srorang ibu. Perempuan baik yang sudah disukai dan dipercayai oleh putrinya.
__ADS_1
Desta nampak merenungi wajah tampan di depannya. Wajah lelaki dewasa yang teduh tengah menatapnya. Mata itu bukan mata perayu, bibir itu juga bukan bibir penipu. Daniel adalah jelmaan dokter tampan yang pernah ada di halusinasinya. Khayalan anak kuliahan yang berharap segera berjumpa dengan jodoh impiannya.
Namun ketika tokoh imajinasi itu nyata ada di depannya, bahkan menawarkan diri sebagai jodohnya, hatinya tidak menggebu seperti khayalannya. Desta seperti kehilangan hati yang entah sedang berlari ke mana. Mungkin seseorang telah menahan hatinya. Dan Desta sedikit takut mengakui siapa seseorang itu.
"Desta... Apa kamu sedang memikirkan kata-kataku?"
Desta tersadar dari lamaunannya. Saat akan menjawab, dirasakannya tangan Daniel tengah meraih tangannya. Daniel menggenggam telapak tanganya dan sedikit meremasnya. Saat ditariknya, Daniel lebih mempererat genggamannya. Desta mematung, tangannya kini mulai menghangat dalam genggaman tangan Daniel. Namun hanya hangat di tangan yang dirasakannya. Bukan hatinya, justru kini perasaan Desta mulai risih dengan genggaman Daniel itu.
"Maaf mas Daniel, lepaskan tanganku."
Desta berkata lirih pada Daniel.
"Sebentar saja Ta. Dengarkan aku. Tolong belajarlah menerimaku. Lihatlah Jenny, putriku sangat membutuhkanmu. Aku tidak buru-buru, tidak juga memaksamu. Tapi aku ingin kau memikirkannya. Please..Ta.."
Daniel menggenggam tangannya lebih erat, berharap perlakuan dan perkataanya bisa mempengaruhi perasaan gadis itu.
Desta memang bimbang, Jenny sangat disukainya, hatinya iba setiap menatap balita itu. Lagipula ayah balita itu lelaki yang baik dan tidak kurang apapun. Namun di sisi lain, dirinya punya kehidupan sendiri, punya bayangan masa depan sendiri.
Apakah Desta harus mematahkan hatinya.. Mengorbankan dirinya? Menikah dengan lelaki yang menginginkannya dengan tanpa cinta di hatinya? Ah, jawaban apa yang tepat diberikannya untuk Daniel sekarang?
'Dèmm!!'
Terdengar hentakan halus, cukup mengusik telinga dan mengejutkan keduanya. Daniel dan Desta menoleh bersamaan ke arah suara itu. Lebih mengejutkan, Leehans telah berdiri tidak jauh di samping mereka duduk. Ternyata bunyi itu adalah pintu mobil yang ditutup sang sopir dengan pelan.
Leehans perlahan mendekat dan duduk di kursi kosong di antara mereka. Desta menarik tangannya yang tak sadar masih dalam genggaman tangan Daniel. Gadis itu perlahan memandang Leehans yang sedang mengacak rambutnya menjadi lebih berantakan. Desta terpaku memandang wajah lelah Leehans yang justru semakin nampak mempesona di matanya.
#######
π€π€π€ Terimakasih sudah menyimak karya author hingga ke sini.. Terimakasih dukungannya.. Harap terus support saya dengan tinggali like. vote. dan komen yaa...
Masukin juga ke kotak favorite yeeerr.. ππππππππͺπͺβ
__ADS_1