Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Skin Care Plus Jambret # 38


__ADS_3

Suasana di Ra**yan* THR mall Surabaya tidak begitu ramai, karena ini bukan hari Minggu atau waktu liburan. Desta sengaja pergi ke mall ini sendirian, dia ingin bertemu Ajeng sahabat yang sangat dirindukannya. Sudah lima hari kembali ke Yayasan, namun Ajeng belum nampak batang hidungnya sekalipun.


Berbekal keterangan dari bu Hartini, posisi terbaru tempat Ajeng bekerja, Desta akhirnya tiba di Mall besar daerah Tambaksari Surabaya ini. Ajeng kebiasaan, suka kasih off ponselnya kelewat waktu yang lama, seperti tak butuh orang lain saja!


Desta telah hampir mengitari seluruh lantai yang ada di Mall itu. Namun nyaris tenaganya mau habis, tak dijumpainya juga si Ajeng yang konon sedang ada shift kerja di jam itu. Desta turun lagi menuju lantai satu dengan gontai, setengah berharap, ditelitinya lagi setiap pramuniaga yang nampak di lantai itu.


Ekor matanya melihat sebuah stand skin care dan make up yang terlihat lengkap. Desta ingin membeli set skin care lengkap dengan make upnya, barangkali akan diperlukannya saat sudah mulai kerja nanti.


Desta tidak tahu nama brand mana yang bagus, hanya pasrah saat pramuniaga cantik itu memberinya set dandan, dengan nama brand yang dirinya juga tidak asing lagi, yang katanya cocok dengan kulitnya yang kuning cerah dan halus.


Desta menyeleksinya, yang mungkin dia tak perlu gunakan, dia kembalikan pada pramuniaga itu. Cat kuku dan bulu mata palsu adalah barang pertama yang dieliminasinya. Hingga tersisa produk-produk yang penting saja yang akan dibeli Desta, itupun masih terlihat memenuhi meja etalase.


Pramuniaga itu terlihat menota semua pilihan make up yang telah disensor Desta. Diulurkannya lembar copy nota jumlah belanja pada Desta, dan gadis itu mengangguk mengiyakan sambil menerima kertas itu. Pramuniaga berjalan melenggang membawa barang-barang itu menuju kasir, Desta hanya ikut dibelakangnya.


Kasir khusus bagian skin care itu kosong tanpa teller, pramuniaga terlihat celingak celinguk mencarinya.


"Kasir skin care, cash buyer!!!"


Pramuniaga itu berteriak, tak ada seorangpun yang bergegas menuju mesin kasir.


"Kasir skin care, Ajeng! Cash buyer!!!"


Deg! Desta kaget dengan nama yang disebut gadis pramuniaga itu. Ajeng...


Dari ujung lorong deretan baju-baju anak, nampak seorang gadis cantik dengan make up yang luwes serasi, berjalan tergesa menuju tempat Desta sedang berdiri. Gadis itu hanya memperhatikan layar komputer dan tumpukan skin care yang akan discanningnya, tanpa melirik Desta sedikitpun.


Benar, gadis yang akan menstruk belanja di kasir ini adalah Ajeng, sahabat yang dikejarnya ke sini. Huh, Desta sedikit gemas dengan sikap Ajeng yang mengacuhkannya dirinya sebagai buyer. Apa tidak bisa lebih humble sedikit saja, ada apa dengan gadis itu?


Ajeng hendak meraih sebuah lipstik untuk discanning, namun dengan gesit disambar Desta lipstik itu. Ajeng bertukar hendak mengambil sebuah pensil mata, kembali disambar oleh tangan Desta. Tangan Ajeng kembali terulur pada alat pelentik bulu mata, dan kembali ditarik oleh Desta.

__ADS_1


Namun kali ini, Ajeng tidak mengalah, tangannya tetap memegangi alat yang juga dipegang Desta.


"Lepaskan Bu, biar saya scan, anda jadi beli yang ini apa tid......"


Ajeng mengomel sambil memandang wajah Desta, seketika dahinya berkerut rapat, mulutnya menganga lebar, gadis berkerudung di depannya ini...


"Ta..!! Kamu Desta!!?"


Ajeng shock, seakan salah dengan matanya.


"Kasir sombong!"


Desta merutuki sikap Ajeng barusan sambil nyengir kuda.Ajeng langsung keluar dari meja kasir, mereka saling memeluk sangat erat. Desta gembira dengan sambutan Ajeng kali ini, gadis itu masih sahabatnya yang dulu.


Desta melepas perlahan pelukan Ajeng yang seakan tidak mau melepasnya.Desta segan jadi tontonan pengunjung mall dan beberapa teman Ajeng, yang terlihat melongok memperhatikan mereka berdua.


Desta memegangi tangan Ajeng dan memperhatikan wajah cantiknya. Eh, gadis itu menangis, sejak kapan sahabatnya ini jadi melankolis begini. Bukankah sifatnya selalu terlihat riang dan terkesan cuek? Desta tetap memperhatikan wajah Ajeng yang sudah mengusir tangisnya.


Desta mencoba memancing senyum Ajeng. Tapi gadis itu semakin terlihat merah wajahnya, menahan tangis yang siap menumpah lagi. Desta jadi bingung dengan sikap Ajeng kali ini.


"Ta, aku kangeeeen sama kamu, sekarang kamu duluan pulang ya, nanti aku pulang ke yayasan.Kita saling bercerita.ok!"


Ajeng ingin melanjutkan kerjanya.


"Jangan bohong,aku benar-benar menunggumu.


Aku ingin cerita banyak ke kamu."


Desta menjeling mata ke Ajeng.

__ADS_1


"Iyaaa.. Udah aku mesti kerja, ntar boss lihat. Matilah aku."


Ajeng kembali ke meja kasir dan mulai scanning belanja Desta.


"Ajeng... minta no hp kamu dong." Desta berkata lirih, namun Ajeng mendengarnya.


"Aku lupa, nanti aku datang."


Ajeng menjawab berbisik. Desta hanya manyun dengan jawaban itu. Hmmm..selalu..


***


Desta menyeberangi jalan dengan hati-hati, tengah hari begini, jalanan begitu ramai. Demikian halnya zebra cross pun dipadati para pejalan kaki. Rasa lapar itu mungkin membuat mereka rela keluar di tengah cuaca terik begini.


Saat konsentrasinya terfokus untuk mencari celah di antara penyeberang jalan, Desta merasa bahunya agak sedikit berat, belum sempat menyadari, tas yang dia sangkutkan di bahunya telah ditarik lolos dari tangannya. Desta segera sadar, dirinya telah kecopetan.


Kelebat orang yang merampas tas kecilnya itu masih tertangkap matanya. Desta cepat berbalik arah, berusaha keluar dari zebra cross dengan cepat, untuk mengejar jambret yang membawa lari tas bahunya.


Desta terus berlari dengan gesit, tidak mau kehilangan targetnya. masuk ke sebuah halaman yang seperti taman, matanya mencari-cari di penjuru taman yang nampak sepi itu. Jambret tadi berlari ke sini, dan tiba-tiba hilang begitu saja. Desta memang dengan mudah bisa mengejar jambret itu. Desta adalah mantan atlet lari. Dirinya telah berlangganan menyabet juara lomba lari, baik di tingkat yayasan ataupun sekolah. Namun gadis itu enggan untuk menggeluti skillnya untuk tingkat lebih tinggi. Dia mengutamakan fokusnya pada pelajaran di sekolah.


Kini pandangan Desta hanya menemui adanya seorang lelaki bertopi, tengah membawa kantong keresek hitam, sedang berlagak mencabuti rumput. Desta mengamati orang itu, rasanya begitu lebay, di tengah terik begini mencabuti rumput. Lagipula halaman ini sudah bersih sekali, bahkan rumputpun hampir tak ada.


Hmm..Desta yakin, lelaki inilah jambret yang tengah diburunya. Dengan agak perlahan , desta mendekati lelaki itu dari arah belakang, dia ingin mengambil serentak kantong kresek hitam itu, yang diyakininya berisi tas bahu miliknya.


Tangan Desta hampir mencapai tas kresek hitam itu, namun lelaki itu mendadak menepis tangannya dengan sebuah pisau lipat kecilnya. Tepisan pisau itu berhasil menyabet punggung tangannya, terasa perih dan darah langsung mengucur dari punggung tangannya yang terluka.


Melihat serangannya pada gadis itu sukses, jambret itu kembali melarikan diri keluar halaman taman menuju trotoar jalan raya. Desta memutuskan berhenti mengejar jambret itu, luka di tangannya sepertinya cukup dalam.


***

__ADS_1


Desta telah berada di sebuah klinik untuk mendapat perawatan, dirinya beruntung telah ditolong dan dibawa berobat oleh seorang pegawai, yang kebetulan keluar gedung dan melihat tangannya mengeluarkan darah. Ternyata taman tadi adalah halaman dari sebuah kantor catatan sipil di wilayah Tambaksari Surabaya.


Meski tangannya terluka cukup dalam dan tas bahunya terpaksa dia relakan, pegawai itu menerangkan bahwa dirinya sangat beruntung, masih selamat dari serangan penjambret. Karena daerah situ sering terjadi copet ataupun jambret, yang kerap memakan korban hingga nyawa korban melayang. Keterangan itu mengingatkan Desta untuk tetap bersyukur dan ikhlas, apapun kerugian yang menimpa dirinya kali ini.


__ADS_2