
Acara dimulai dengan dibuka oleh Mr. Lee, sebagai penyelenggara acara dan perwalian dari pihak perempuan. Setelah itu giliran ayah Benn, Tuan Harsa juga memberi sambutan selamat datang, dan terimakasihnya kepada seluruh kerabat, yang memenuhi undangan pertunangan putra tunggalnya itu.
Sambutan terakhir adalah dari Benn, yang diakhiri dengan acara tukar cincin antara dirinya dengan Desta. Semua bertepuk tangan dengan gembira. Mendoakan agar pertunangan ini dapat segera berlanjut pada pernikahan yang diinginkan. Para kerabat bergiliran mendatangi Benn dan Desta, untuk mengucapkan selamat pada keduanya.
Acara yang berlangsung hanya sekitar dua jam itu, berakhir dengan makan malam bersama. Desta yang duduk bersama Benn dan beberapa sepupunya, termasuk Stella, menikmati isi piringnya dengan diselingi canda jenaka sesekali dari mereka. Alex, Sepupu Benn berkelakar sambil memandangi Desta, yang lebih suka menyimak dan kadang ikut tertawa bersama.
"Desta , sepupu ipar. . sudikah kau carikan wanita sepertimu selusin saja, akan ku nikahi mereka semua.. "
Alex bebicara dengan gaya orang mabuk berat pada Desta.
Benn menyipitkan mata sambil menatap Alex dan Desta, kemudian menoyor kepala Alex dengan tertawa keras.
"Dasar lelaki serakah! Hitung dulu berapa banyak hartamu, baru mintalah hal itu pada kekasihku! " Benn tertawa sambil menolehkan kepalanya sedikit ke arah Desta.
Leehans yang duduk tepat di meja sebelah, juga nampak menoleh sedikit pada Alek. Sedari awal dirinya memang ikut menyimak kelakar mereka meski tanpa sengaja. Karena kursinya berdekatan tepat dengan kursi milik Alex dan Stella.
Leehans merasa jadi bagian dari tuan rumah, maka dia lebih memilih duduk bersama kerabat Benn yang sudah berumur, dan lebih suka bersikap diam. Orang tuanya beserta orang tua Benn, juga duduk membaur di meja yang berlainan.
Karena acara inti sudah selesai, beberapa kerabat Benn pun berpamitan untuk kembali ke kota masing-masing. Mereka menolak tawaran Mr. Lee untuk menginap di rumah besarnya dengan alasan pekerjaan. Hanya beberapa sepupu Benn yang masih belum buyar dari meja mereka.
Benn dan beberapa sepupunya, bersepakat akan pergi ke pantai Zushi ujung minggu ini. Mereka berencana menginap satu malam di sana. Acara itu diprakarsai serta diatur oleh Alex dan Stella. Bagi sesiapa yang ingin ikut, akan menulis namanya di lembar kertas yang diberikan oleh Stella.
Benn dengan yakin menulis namanya beserta nama Desta diurutan kedua setelah nama Alex. Benn juga ingin menulis nama Leehans di kertas itu, namun dia khawatir sahabatnya itu akan keberatan, mengingat sibuknya Leehans karena urusan kerja. Desta bersemangat menyambut rencana itu, dirinya sudah lama tidak melihat pantai.
Stella menghampiri meja Leehans dengan penuh semangat. Sambil menerangkan, diulurkannya kertas itu pada Leehans. Lelaki itu nampak membaca sekilas dan enggan untuk menuliskan namanya. Dia tak ingin membuat nomor palsu, karena belum tentu bisa ikut, jadwal kerjanya begitu padat akhir-akhir ini.
__ADS_1
Stella terus membujuk Leehans untuk ikut dalam liburan kali ini, sepertinya gadis ini sangat cocok untuk berprofesi di bidang marketing bagian lapangan saja. Karena risih dengan bujukan Stella, Leehans berjanji akan berusaha ikut, atau setidaknya pergi menyusul mereka ke pantai.
**
Ujung minggu yang ditentukan itu telah sampai. Sore ini, Desta tengah bersiap dengan sedikit barang yang dirasa penting, untuk dibawanya ke pantai bersama Benn dan para sepupunya. Dari yang Benn bilang, total rombongan yang akan pergi bersama ada 17 orang, itu karena ada tambahan dari teman-teman sepupunya. Jumlah itu bukan termasuk Leehans, karena lelaki itu masih tenggelam dalam pekerjaannya.
Sehabis ashar, Benn dan Desta berangkat menuju Resto di Tokyo, Cinta Java Cafe , restoran khas daerah Jawa- Indonesia. Tempat yang telah disepakati untuk bertemu sebelum berangkat bersama menuju pantai Zushi.
Benn membawa salah satu mobil milik keluarga Lee, dan mengemudikannya sendiri. Dia begitu bahagia bisa membawa Desta pergi ke pantai kali ini, selama ini dia hanya berhayal, bisa pergi bersama tunangannya ini ke suatu tempat indah, selama berada di Jepang. Desta susah untuk diajak keluar, selalu ada alasan gadis ini untuk menolak ajakannya.
"Apakah kamu pernah dengar nama resto ini sebelumnya, Desta? " Benn berusaha menghangatkan suasana.
"Tidak tuan Benn, saya hampir tidak pernah memikirkan apapun isi kota Tokyo. "
Desta menjawabnya, sambil matanya tetap mengawasi sisi tepi jalan kota Tokyo.
Desta menggelengkan kepala atas pertanyaan Benn.
"Tidak, kupikir hanya kota Surabayalah masa depanku kelak. Saya sekarang di sini, bagiku adalah anugerah, saya bersyukur. "
Desta menatap Benn sekilas sambil tersenyum.
Senyuman Desta untuknya, mampu membuat jantung Benn memompa lebih cepat. Desta memang suka tersenyum, tapi tidak dengan menatapnya.
"Lalu tentang wasiat untuk kita, bagimu apakah itu? " Benn penasaran dengan isi hati Drsta.
__ADS_1
"Saya anggap itu adalah nasibku. "
Jawaban Desta tidak memuaskan bagi Benn.
"Apakah aku adalah juga anugerah bagimu? " Benn bertanya dengan sedikit iseng.
"Saya belum kenal anda sepenuhnya, saya hanya berharap bahwa tuan adalah orang yang baik. "
" Hah.. Desta, kita sudah bertunangan, tapi kau belum yakin dengan kebaikanku? "
"Bukan begitu maksud saya, bukankah kadang sikap orang itu bisa berubah kapanpun? " Benn memilih diam, gadis di sebelahnya ini ternyata bisa bicara juga.
Benn kembali fokus ke jalanan, saat mobil mamasuki area parkir resto. Mobil mereka tiba bersamaan dengan beberapa mobil milik sepupu Benn, beserta temannya yang lain. Mereka saling membungkukkan badan saaat bertemu, Destapun ikut-ikutan sedikit membungkukkan kepala dan bahunya dengan kaku. Sebagian saling berkenalan dengan Benn dan Desta karena belum pernah bertemu sebelumnya.
Mereka memasuki resto untuk mengisi perut masing-masing, sebagai pengganjal perut mereka selama perjalanan ke pantai. Selain menyediakan menu masakan Jawa, resto modern ini juga tentu menyediakan masakan Jepang. Benn mempersilahkan sepupu dan teman-teman barunya itu, untuk bebas memesan makanan sebagai jamuan dari pertunangannya dengan Desta kemarin.
Mobil kembali melaju menuju pantai. Tapi bukan lagi pantai Zushi, melainkan pantai Morito. Karena sehari kemarin, daerah pantai Zushi dalam keadaan berantakan akibat sedikit sapuan dari angin tornado. Sehingga menyebabkan pantai itu ditutup sementara. Maka tujuan langsung dialihkan ke pantai Morito, dengan jarak tempuh sekitar 2 jam dari kota Tokyo.
Mobil Benn ada tambahan 2 orang penumpang lagi, Stella dan seorang teman perempuannya, Hanina. Stella memberitahukan pada Benn, bahwa Hanina adalah pemilik salah satu night club cukup besar di Tokyo, maka itulah Hanina membawakan banyak botol minuman beralkohol terbaik untuk malam ini.
Meski seorang muslim dan kadang berkerudung, namun Stella sangat akrab dengan dunia malam, sama halnya dengan Benn. Namun, Benn belum menyentuh alkohol dan perempuan, semenjak ada di Jepang. Tepatnya saat dia setuju dengan wasiat neneknya, untuk menikahi Desta. Terkecuali, saat dia bersama orang tuanya sedang bermalam di rumah kerabatnya di Tokyo, Benn menemani mereka minum bersama karena sedang bergembira.
Desta hanya sebagai pendengar setia diantara mereka. Dirinya mulai tidak nyaman dengan rencana Stella dan Hanina, untuk memasukkan sesi minum-minum, bersama air setan itu. Tapi berusaha ditenangkan hatinya, bahwa hal itu mungkin sudah biasa ada pada acara-acara mereka. Dirinya saja yang terlanjur mengiyakan ajakan Benn ke sini.
######
__ADS_1
π€π€π€Trims udah nge klik novel ini. srmoga tidak mengecewakan... Harao dukungannya... like. komen dan vote plus favoriteπππππππ