
Di antara seretan arus hasratnya, Leehans merasa tangannya menyentuh suatu benda keras yang mengganggu kenyamanan tangannya saat membelai kulit leher Desta yang lembut. Leehans sangat terganggu dengan kalung yang melingkar di leher dan sebagian menjuntai di dada halus istrinya.
Ingin disingkirkan jauh-jauh saja benda pengganggu itu dari tubuh sang istri. Saat melirik sekilas untuk melepas, amat terkejut dengan bandul kalung milik Desta yang melekat di lehernya.
"Destah..apa iniii.." Dengan sisa nafas yang memburu, Leehans menggelosor turun dengan kepala sebatas dada istrinya.
Desta mendongak sedikit terbangun, Leehans juga mendongak menatapnya sambil memegangi kalung di lehernya.
"Siapa yang memberi ini untukmu?" Leehans memelintir berulang kali bandul kalung yang diingatnya dengan sangat yakin.
"Seorang wanita yang punya, dia tak sadar saat ku rampas dari lehernya. Ternyata kalung itu tidak rusak dan aku memakainya."
Desta berkata sedikit dingin, didorongnya pelan dada Leehans yang masih lengkap dengan baju koko dan sarung, pakaian yang dikenakan saat sholat dzuhur berjamaah bersamanya. Leehans bergeser mengangkat tubuhnya dari atas Desta dengan perasaan yang berat. Desta sigap bergerak, duduk di tepi ranjang menjuntaikan kakinya.
"Siapa wanita pemakai kalung itu, Desta?!" Leehans bertanya dengan suara menyelidik, Leehans telah juga duduk di tepi tempat tidur bersebelahan dengan Desta.
"Saya kurang tahu, tapi wanita pemakai kalung itulah yang ikut mengantarku ke pulau Miyako dengan helikopter." Meski sebenarnya tahu, tapi Desta tak ingin gegabah menyebut satu nama. Desta ingin tahu reaksi Leehans seterusnya.
"Kenapa hal yang ini tidak segera kau katakan padaku, Desta?!" Leehans sedikit meninggikan suara, ada rasa sedikit geram pada istrinya. Bagaimana bisa hal sepenting itu didiamkannya. Padahal kalung itu bisa menjadi kunci dan barang bukti untuk melaporkan kasus besar yang telah menimpa keluarganya, khususnya sang istri sendiri.
"Maaf, aku masih bimbang otto Hans, wanita itu sepertinya sangat menyukaimu. Dia mengancamku. Jadi sebenarnya, aku takut dibawa diam-diam oleh mereka lagi." Desta menunduk, menyembunyikan wajahnya yang nampak tertekan.
Leehans tahu, istrinya pasti mendapat efek trauma, meski hanya sedikit sekalipun. Di ambil bahu Desta, ditarik sedikit berbalik menghadap wajahnya. Mata itu terlihat menangis, Desta buru-buru mengusap air mata yang keluar di pipi dengan tangannya.
__ADS_1
Leehans merasa bersalah menghardiknya. Hatinya lemah melihat Desta yang telah menangis diam-diam tanpa isakan.
"Maafkan aku, Desta. Aku paham perasaanmu. Aku mengerti pemikiranmu. Tapi kau tidak boleh terus merasa terancam seperti itu. Bukankah sudah ku bilang, apa arti bayangan di kaca kamar mandimu?" Leehans memperhatikan penampilan Desta yang nampak berantakan. Dada istrinya masih jelas terlihat, dress itu terbuka karena ulah tangannya. Leehans menutup kembali dress itu dengan menyatukan kancing-kancingnya hingga rapi seperti semula.
"Jadi, kita memang perlu berhati-hati, tapi jangan terlalu berfikir yang belum tentu akan terjadi. Pikirkan saja yang bagimu terasa nyaman dan ada. Dan paling penting, kau jangan merasa sendiri, ada aku, suamimu. Juga ada keluargaku, kami semua ada bersamamu sampai kapanpun. Peganglah kata-kataku ini, Desta. Kau mengerti?" Leehans menatap wajah cantik istrinya yang mengangguk dan masih sedikit berka-kaca di matanya. Leehans menyisir rambut lebat dan lembut di kepala istrinya dengan perlahan, menggunakan jari-jari tangannya yang besar dan panjang penuh rasa sayang. Lalu dibawanya Desta kedalam pelukan.
"Desta, maafkan aku. Aku akan pergi keluar sebentar. Mungkin aku akan sedikit sibuk. Akan ku usut tuntas pelaku penculikanmu secepatnya. Aku akan melapor ke polisi. Aku tak mau dia kabur setelah mendengarmu kembali dengan selamat." Desta mengangguk dan Leehans mencium kening Desta sesaat.
"Akan ku bawa kalung ini sebagai bukti kuncimu. Kau harus doakan aku, agar dimudahkan urusannya." Leehans menyibak rambut Desta yang menutupi leher belakang, dan dilepasnya kalung berlian itu.
"Jangan khawatir, akan ku ganti barang rampasanmu ini dengan yang jauh lebih bagus dari ini." Leehans tersenyum, Desta membalas dengan senyuman sedikit malu. Keduanya saling tersenyum.
Leehans telah bertukar pakaian dan bersiap keluar dari kamar. Asisten Harry yang telah ditelepon, telah sampai dan menunggunya bersiap di bawah.
"Ya...Ada apa?" Leehans sambil merapikan rambut di kepalanya.
"Wanita yang memakai kalung itu, yang membuangku ke pulau Miyakojima adalah Shena, kekasihmu!" Desta mengatakan hal itu dengan sedikit berseru. Ada rasa emosi di hatinya.
"Ya.. Aku sudah tahu. Dan ingat satu hal, dia hanya mantan, bukan kekasih." Leehans mendekati Desta, menyentil hidungnya dan mencium bibirnya sekilas, Leehans tidak ingin melakukannya lebih lama.
Leehans segera keluar dengan membawa kalung yang pernah dihadiahkan untuk Shena. Hadiah terakhir yang diminta Shena di hari ulang tahunnya. Kalung itu dibelinya sepasang atas permintaan Shena yang setengah merayu manja padanya.
Kalung yang masing-masing berinisual huruf H, dipegang Shena dan inisial S di tangannya. Kalung yang dibeli dengan mengeluarkan hampir seluruh simpanan uangnya, di kala Leehans masih sebagai pebisnis pemula. Leehans memberi sukarela dengan segala rasa cintanya yang gila.
__ADS_1
Kalung inisial huruf S yang ada padanya itu sekarang telah tiada. Entah ibunya buang, atau dijual di mana, saat Leehans sedang hilang jiwa ketika putus cinta dengan Shena.
"Hans..!!" Seruan ibunya menghentikan langkah cepat Leehans.
"Hans, Daniel dan Jenny datang ingin bertemu kalian. Jenny ingin berjumpa Desta." Ibunya mengabarkan kedatangan sahabatnya itu dengan buru-buru.
"Iya mom, aku akan menemuinya. Akan ku telepon Desta, agar dia turun menyusul menjumpai Jenny." Leehans menepuk sayang bahu ibunya dengan pelan.
***
Leehans telah menceritakan semuanya pada Daniel, sahabat yang selalu mengikuti perkembangan kabar Desta padanya. Dan sahabatnya itu langsung datang setelah menyelesaikan tugas dokternya hari ini. Jenny nampak tak sabar menunggu kedatangan Desta. Ekspresi harap-harap gembira tergambar jelas di wajah cerianya yang gimbul.
"Jenny..!!" Desta datang memanggil Jenny dengan rentangan tangan mengarah pada balita cantik itu.
"Mas Daniel, apa kabar?!" Desta memeluk Jenny sambil menyapa ayah bocah itu. Wajah Desta bersinar gembira, tidak menyangka kedatangan ayah dan anak itu begitu cepat. Ketiganya bercakap-cakap ringan dan terlihat riang gembira. Seperti keluarga harmonis yang lama tak berjumpa dan saling begitu rindu.
Leehans yang tengah ditunggu Harry di sampingnya, hanya diam memandangi ketiganya dengan ekspresi tak menentu. Saat Harry menegurnya untuk segera berangkat, Leehans justru mendekati mereka.
"Desta.. Habis urusan ini, akan ku bawa saja kamu ke rumahmu di Omotesando, akan ku berikan kau selusin Jenny!" Desta terkesiap, diliriknya sekilas Daniel di sampingnya dengan malu. Leehans justru memandang Daniel dengan sedikit tersenyum.
"Dan, jika mereka berdua telah bosan melepas rindu, sebaiknya kau cepat pulang saja. Doakan juga urusanku lebih mudah." Leehans berkata datar pada Daniel sebelum dirinya berbalik berjalan pergi bersama Harry. Namun sempat juga di berinya Jenny, ribuan yen dalam genggaman tangan bocah itu.
"Sudah pergilah, kau tenang saja. Semoga urusanmu lancar!" Daniel berseru dengan senyum masamnya. Daniel sangat sadar, sekarang sudah tak mungkin lagi ada celah untuknya di antara Desta dan Leehans. Meski getir, diterima kenyataan itu dengan lapang sepenuh dada. Ikut bersyukur, Leehans, sahabat perjaka lapuknya itu telah mengakhiri masa lajang dengan gadis terbaik pilihannya.
__ADS_1