
Mr. Lee bisa bernafas lega sekarang, keputusan tinggal kembali di tangan Benn dan Desta. Apapun keinginan mereka berdua tentu akan jadi keputusan bersama. Mr. Lee memandang Benn tanpa mampu berkata-kata, tetapi pria tampan itu tiba-tiba mengalungkan tangan di lehernya dan memeluknya.
"Terimakasih, om telah memenuhi amanah nenek untukku. Tentang isi wasiat itu, aku sangat setuju om. Aku bersedia menikahi Desta kapanpun dan dengan alasan apapun."
Benn menjawab dengan sangat yakin sekali. Mr. Lee membalas pelukan Benn, lelaki muda yang sudah dianggap bagian dari keluarganya. Ditepuk-tepuknya punggung Benn dengan hangat, dia berharap Benn akan menerima Desta dengan ikhlas, bukan karena menginginkan warisan semata. Sambil melepas rangkulan Benn, kini mata yang mulai berkerut itu memandang Desta seakan bertanya.
Desta yang bingung harus bagaimana, nampak terisak karena kejutan ini. Tidak disangkanya akan memiliki rahasia besar dalam hidupnya. Tapi menikah dalam usianya yang sekarang sama sekali bukan rencananya. Apa alasan Benn menyetujuinya begitu saja, sedang baginya pernikahan bukanlah mainan.
"Apakah saya tidak memiliki saudara sama sekali tuan?" Desta bertanya dengan harapan besar pada Mr. Lee.
"Maafkan aku nak, aku benar-benar kurang tahu dengan keluargamu, sekilas tentang ayahmu, dia adalah anak asuh nenek Benn dan jatuh cinta pada ibumu yang juga berasal dari panti asuhan." Mr Lee berhenti sejenak.
"Tapi mengenai orang tuamu sekarang, aku sendiri yang akan mengambil perwalianmu, dan mungkin karena kesehatanku sedang tidak baik, beberapa perkara terhadapmu akan dilakukan putraku Leehans, kau keberatan? "
Mr. Lee menatap Desta dengan tulus.
Tatapan Desta beralih pada Leehans yang duduk di seberang, seakan butuh kepastiannya. Dan Leehans mengangguk kecil padanya, seakan telah tahu isi hati gadis itu.
"Soal perwalian saya tidak keberatan tuan, terimakasih atas kebaikan anda dan keluarga anda padaku. " Desta menjawab pertanyaan Mr. Lee dengan sendu. Namun dia belum bisa mengiyakan pernikahan dengan Benn. Hatinya masih terlalu shock. Dan lelaki itu memakhluminya.
Karena Benn dan Desta terlihat sudah lelah, Mr Lee menyudahi, serta menyuruh keduanya untuk istirahat. Leehans terlebih dahulu pergi menuju ruang kerjanya, diikuti Benn kemudian Desta, menuju kamar masing-masing.
**
Kamar yang ditempati Desta lumayan luas, kamar itu dilengkapi sofa, televisi, dan meja rias yang cukup besar. Sedang tempat tidurnya didesain terpisah di pojok ruangan. Kamar itu juga dilengkapi dengan balkoni mungil, yang di terasnya banyak tertata rapi tanaman hias sri rejeki, dengan bermacam corak pada daunnya. Mungkin tanaman hias itulah yang sedang trend dengan nama Aglaonema.
__ADS_1
Puas mengamati kamarnya, Desta mengambil minum dari sisa botol mineralnya diperjalanan tadi. Kemudian merebahkan tubuhnya dengan nyaman, begitu kepala menyentuh bantal, rasa kantuknya bekerja lebih cepat, matanya telah menutup mulai rapat.
**
Makan malam hanya dihadiri Benn, Desta ,Mr. Lee dan Mrs. Lee. Sambil mengambil makanan, Mrs. Lee mengatakan bahwa Leehans sedang menghadiri undangan dinner dari kolega untuk membicarakan urusan bisnis.
Benn duduk tepat dihadapan Desta, sesekali dipandanginya gadis cantik di hadapannya. Desta terlihat menggemaskan saat sedang mengunyah makanan di mulutnya. Pikiran Benn sedikit lari ke mana-mana melihat bibit sexy Desta yang bergerak- gerak indah itu. Kerudung Desta agak bergeser menampakkan sedikit anak-anak rambutnya yang berkilauan.
Desta sadar dengan perilaku Benn, namun berusaha diacuhkannya dengan fokus pada makanan di piringnya. Dirinya sudah sering dan terlatih untuk makan dengan cepat, niatnya ingin cepat pergi dari hadapan Benn. Hatinya begitu risih dengan pandangan Benn yang nakal itu padanya.
Mr. Lee dan Mrs. Lee nampak senyum-senyum melihat kelakuan Benn yang demikian. Padahal gadis cantik itu sudah melindungi diri dengan membungkus tubuhnya sebaik mungkin, tapi nyatanya hal-hal seperti itu tidak mempan untuk Benn.
**
Hampir tengah malam Desta belum juga tidur, matanya terasa perih karena terlalu lama menatap televisi, namun kantuk itu masih jauh juga menghampirinya. Dibuka pintu balkoni dan ditekannya tombol lampu agar menyala. Lampu menyala dengan remang-remang.
Matanya beralih ke sebuah balkon di samping kiri yang terpisah dua balkon dari kamarnya. Nampak lampu balkon itu dinyalakan. Sosok pria keluar dari kamar dan duduk di kursi balkon. Lelaki itu menoleh, menatap lama padanya. Desta mengenalinya, Leehans, pasti baru pulang dari pertemuan bisnis di salah satu hotel di kota Tokyo sebagaimana yang ibunya bilang. Desta tidak tahu harus menyapa bagaimana, jaraknya terlalu jauh dari balkon tempatnya, sedang ini sudah larut, berbisik tak terdengar, berteriak pun tidak sopan.
Dengan gusar, matanya terus mengawasi Leehans. Lelaki itu nampak berdiri memunggunginya, kepalanya menunduk memainkan hp dengan sebelah tangannya. Merasa diacuhkan, Desta memilih masuk ke dalam kamar. Lampu balkon dimatikannya, menutup pintunya tanpa ia kunci, hanya gorden pintu yang kemudian dirapatkannya.
Desta merebahkan diri di tempat tidur super lebar yang empuk sekali. Ditutupi tubuhnya dengan selimut tebal yang terasa lembut dan begitu hangat. Harusnya dengan rasa nyaman itu, matanya cepat merasa ngantuk, namun matanya tetap dalam mode siaga. Diraihnya telepon genggam yang sempat terdengar klunting sesaat tadi. Ada notifikasi pesan masuk di aplikasi whatsappnya, rangkaian nomer yang belum ada nama di hpnya. Nomer asing darimana malam begini, Desta penasaran.
"Cuaca sedang buruk, sebaiknya cepat tidur." Desta mengetik dalam balasan.
"Siapa? " Ditunggunya.
__ADS_1
"Leehans." Desta cepat mengetik lagi.
"Apakah lelaki saja yang boleh bergadang?" Menunggu balasan.
"No debat."
Balasan terakhir dari Leehana itu diikuti notifikasi 'offline'. Meski ada rasa dongkol yang tipis dihati, Desta memilih akur dengan pesan terakhirnya Leehans.
Ditutupnya aplikasi whatsapp, mengganti dengan video game online kesukaannya. Berharap bisa tertidur dengan permainan di ponselnya.
**
Hawa pagi jauh lebih dingin dari waktu malam, pukul 5.45 pagi, Desta baru menyelesaikan sholat subuh. Dipakainya sweater longgar dan tebal, dia ingin bersenam bersama pasangan Lee di halaman belakang sesuai ajakan mereka semalam.
Dihalaman belakang, sudah menunggu pasangan Lee dan beberapa pegawai, dengan pakaian olahraga mereka. Instruktur senam tiba hampir bersamaan dengan dirinya.
Pukul 8 pagi, acara senam baru akan dimulai. Mereka mengikuti gerakan instruktur senam dengan diiringi musik yang diputar sedikit keras.
Instruktu senam itu warga asli dari Jepang, berkulit seputih salju dan bentuk tubuhnya bak gitar spanyol. Dengan baju senam press body, tubuhnya bergerak-gerak indah mengikuti putaran musik. Hawa dingin menggigit ini seolah tidak mempan di kulitnya yang putih. Desta merasa dirinya tidak memiliki kemampuan apapun, hanya dirinya yang mengenakan sweater tebal dan panjang di moment seperti itu.
Senam aerobik berlangsung kurang lebih sejam lamanya. Setelah dirasa cukup istirahat, acara pagi itu dilanjutkan dengan sarapan bersama. Makan pagi ini bertambah satu kursi lagi yakni instruktur senam, yang dipanggil Miss Meenami. Miss Minami telah bertukar baju dengan sebuah dress, yang bisa dibilang lebih sopan dari kostum senamnya tadi. Namun dress itu tetap tak mampu menyimpan paha putihnya yang mulus.
#####
π€π€π€ Terimakasih udah nyimak novel ini..
__ADS_1
Harap dukungannya ya reader.. tinggalin like, komen atau vote dan favorite yeeer... arigato..ππππππββπͺ