
Sepasang mata itu terus mengikuti gerak-gerik badannya, hingga akhirnya Desta menghilang di balik pintu kamarnya. Lelaki yang diam-diam menginginkan Desta sedari lama. Kepulangan gadis itu kali ini, tidak ingin disia-siakannya begitu saja.
Lelaki itu adalah mas Gilang, Gilang Hendrawan, wakil ketua yayasan yang telah merencanakan sesuatu yang penting, antara dirinya bersama Desta. Bertekad untuk meminang Desta, menjadikannya pendamping hidup Gilang selamanya. Begitu besar harapan lelaki itu terhadap Desta, demi masa depannya yang dibayangkannya akan berjalan indah dengan gadis itu.
***
Pagi ini, Desta telah bersiap untuk meluncur menuju kantor dukcapil, guna mengambil kartu e-ktp nya yang dijanjikan siap hari ini. Desta juga ingin menemui Ajeng di Mall tempatnya bekerja. Nyatanya gadis itu tidak menemuinya lagi, setelah kemarin berjanji untuk datang kembali ke yayasan.
Gadis itu terlihat anggun dengan gamis modis warna krem. Serta kerudung warna coklat susu, dan sepatu sandal coklatnya juga simpel namun serasi.Menutup pintu kamar dan menguncinya. Berjalan nyaman dengan santai, sembari menikmati udara pagi yang segar dan cerah, secerah suasana hatinya sàat ini.
Desta sampai di halaman luas itu menuju pintu gerbang, untuk menunggu taksi yang telah di pesannya. Gadis itu berhenti saat berpapasan dengan bu Hartini, sedang bersama Leehans yang berjalan di sampingnya.
"Selamat pagi bu... pagi tuan Hans. " Desta menyapa keduanya dengan senyum cerianya.
Bu Hartini membalas senyum manisnya, serta menghentikan langkah memperhatikan dirinya. Sedang tuan Hans itu ikut berhenti dan memandangnya tanpa ekspresi apapun. Namun wajah cool lelaki itu bikin Desta betah untuk meliriknya.
"Pagi-pagi sudah cantik begini, mau ke mana Ta? " Bu Hartini semakin memperhatikan penampilannya.
"Saya mau ke kantor dukcapil bu... ngambil KTP yang kemarin belum jadi.. "
Desta menjawab pertanyaan bu Hartini dengan lembut. Karena berfikir taksi yang dipesannya akan segera tiba, diapun segera pamit pada keduanya, disalaminya punggung tangan bu Hartini dan diciumnya tangan itu. Kepada Leehans, dia anggukkan kepalanya agak dalam, sambil melempar senyum manisnya pada lelaki itu. Leehans membalasnya dengan anggukan kecil tanpa membalas senyumannya sekalipun.
Sebuah taksi berhenti tepat di luar pintu gerbang, Desta bergegas berjalan mendekatinya, tak ingin taksi itu menunggunya lama. Namun sebuah mobil sport warna merah telah berheti tepat di belakang taksi online itu. Nampak seorang lelaki keluar dari pintu sopir, lelaki itu adalah Gilang.
Desta yang hampir mencapai posisi taksi, terhenti langkahnya karena seseorang yang memanggil namanya. Gilang telah berdiri gagah di sampingnya, tersenyum menawan memandanginya.
"Taksi ini menunggumu kah Ta, mau ke mana? "
Gilang memperhatikan penampilan Desta, gadis itu bertambah menarik saja pagi ini.
"Mau ngambil E KTPku ke dukcapil, mas Gilang mau kerja? pagi banget berangkatnya mas? "
__ADS_1
Desta balik bertanya, heran dengan Gilang yang begitu rajin hari ini. Diliriknya ke halaman yayasan, bu Hartini dan tuan Hans masih nampak berdiri di sana dan memandanginya.
"Malah aku off hari ini, aku ngambil cutiku, ada urusan penting. "
"Aku antar saja ke dukcapilnya ya Ta, tanganmu masih sakit kan? "
Tidak perlu menunggu Desta menjawab, Gilang mendekati taksi yang sabar menunggu itu. Pria itu terlihat bicara sesuatu dengan sang sopir taksi. Gilang nampak mengeluarkan dompetnya, dan mengambil empat lembar uang biru, lalu mengulurkan pada sopir taksi. Gilang berjalan mendekati Desta kembali, dan taksi itu perlahan berjalan menjauh.
"Ayok ku antar Ta, taksimu dah ku ganti. "
Gilang ingin Desta menurut dan mau diantarkannya, lelaki itu sedikit menepuk bahu gamisnya agar bergerak mengikutinya. Desta yang terpaku dengan kepergian taksi orderannya, hanya bisa mengekor di belakang Gilang. Desta masuk mobil yang pintunya dibuka oleh Gilang, gadis itu tanpa suara duduk di depan dengan pikiran yang seolah kosong.
Bu Hartini melihat dari kejauhan dengan hati yang menebak-nebak, perlakuan Gilang yang perhatian pada Desta. Sedang Leehans memandang mobil merah yang melaju perlahan itu sambil mengernyikan dahinya dan kedua matanya menyipit.
***
Leehans memperhatikan iphonenya yang menampakkan sebuah data entry di yayasan Bina Amanah. Nama Gilang Hendrawan menjadi perhatiannya. Lelaki lajang, berusia 27 tahun, anak tunggal dari keluarga terpandang di kota Surabaya. Keluarganya adalah donatur tetap yayasannya, dengan jumlah sumbangan yang cukup besar.
Leehans menarik nafasnya dalam-dalam, sambil tak lupa menaikkan kedua alisnya agar syaraf otaknya sedikit longgar. Kembali dipandanginya foto lelaki berkharisma di layar iphonenya itu. Gilang Hendrawan, nampaknya lelaki yang cukup baik, mapan dan sesuai dengan pendidikannya yang tinggi.
Konsentrasi Leehans terpecah saat sebuah panggilan masuk di ponselnya yang lain. Ada nama 'Benn san' calling di layar ponselnya.
"Konnichiwa."
Leehans memberi salam dalam bahasa Jepang, yang bermakna halo kepada Benn di seberang.
"Hai'. Kau sudah sampai di sana? Kau benar-benar tidak ingin mengajakku?! "
Benn bertanya dengan tidak sabar pada Leehans yang telah meninggalkan dirinya. Benn memang ingin ikut Leehans ke yayasan ini, untuk menemui Desta yang tetap jadi obsesinya hingga sekarang. Dan nyatanya, lelaki itu telah sampai di sana tanpa memberitahu dirinya.
"Aku tidak mau ada kegaduhan dengan kedatanganku di sini. "
__ADS_1
Leehans menyampaikan alasannya pada Benn yang diam menunggunya bicara.
"Kau pikir aku tolol, aku bukan anak kecil. " Benn terdengar geram pada sahabatnya itu.
"Lalu apa yang telah kau lakukan pada gadis itu kalau bukan tolol?! "
Leehans begitu geram pada Benn yang tidak juga jera dengan perilakunya.
"Kau ingin membuat gadis riang itu jadi depresi?! Hei Benn, jagalah sikapmu, tidakkah kau kasihan padanya, dia tidak punya orang tua tempat bersandar seperti kita, pakailah hati dan otakmu sedikit saja! "
Suara Leehans terdengar nyaring di ruangan yang senyap itu.
"Justeru itulah, aku ingin melindunginya, aku ingin memilikinya, menikahinya! "
Benn adalah lelaki gigih yang keras kepala. Dan sifatnya ini sering membuat orang dekatnya merasa tidak nyaman padanya. Selama ini hanya Leehanslah yang bisa bertahan dengan sikapnya,sekaligus Leehans jugalah sahabat yang diseganinya.
"Kau jangan lupa satu hal Benn, Desta sudah membatalkannya, terlebih dengan kelakuanmu yang hampir memperkosanya. Dia sudah begitu baik tidak melaporkanmu ke polisi. Pikirkan itu dan berhenti mengganggunya! "
Leehans benar-benar habis kesabarannya kali ini, bagaimana bisa Benn tidak merasa malu dan begitu keras kepala menginginkan Desta. Padahal sebelum ini, Benn begitu gampang berganti wanita semudah dia membalik telapak tangannya sendiri.
"Hei Hans, kali ini aku benar-benar menyukai wanita itu, aku tidak akan putus asa, aku akan mendapatkannya. Ku mohon mengertilah, aku sedang mabuk waktu itu."
Benn terdiam sejenak.
"Dan waktu di villa itu, saat aku bangun, kau telah menghukumku, kau puas menghajarku tanpa ku balas sedikitpun, apa itu masih kurang? "
Leehans tidak menjawab apapun dengan pembelaan Benn untuk dirinya. Sesaat lelaki itu nampak berfikir sesuatu.
"Kau tidak perlu menyusulku ke sini Benn, besok pagi aku akan terbang ke Jepang bersama Desta. Dia masih bekerja dengan keluargaku. Kau cukup bekerjalah dengan baik di Jakarta. "
"Akan ku tutup panggilanmu. "
__ADS_1
Leehans segera mematikan panggilan Benn begitu dia selesai berbicara. Tak ingin terhanyut emosi oleh perbincangannya dengan Benn di telepon. Perlahan disandarkan punggungnya di kursi sofa yang terasa nyaman dan harum.
Seseorang yang sedari awal mengikuti pembicaraan Leehans di telepon, perlahan menjauhi pintu ruangan khusus untuk tamu itu. Berjalan pergi menuruni tangga dengan perlahan, lalu menghilang di balik pintu kantor yayasan yang ada di samping tangga. Kini sesorang itu telah gamblang dengan kejadian yang sebenarnya.