Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Dalam Penculikan 3 # 88


__ADS_3

Selama hayat dikandung badan, selama raga ada dayanya, dan jiwa masih punya kuasa, berpantanglah untuk putus dalam usaha. Berupayalah sekuat jiwa raga yang kau punya! Mungkin itulah jawaban dari Tuhan atas doa yang dipanjatkan saat sujudnya selama ini.


Dengan hati tak berhenti berdebar, menunggu kesempatan untuk pergi ke toilet, Desta terus melakukan tugasnya menyambut kedatangan tamu. Tamu tak kunjung sepi hari ini, telah biasa jika akhir bulan jatuh di akhir minggu.


Diah telah memberi kode untuk Desta agar ke toilet. Pagi ini, wanita tua itu mendandani Desta di kamarnya lebih awal dari biasanya. Dan Desta pun diantar lebih cepat juga ke ruang kaca setelah bersarapan. Saat sepi tamu di pagi itulah Desta pergi ke toilet meletak kertas pesannya. Rupanya Diah cepat melihatnya dan telah memberi balasan pesannya.


Kesempatan itu tiba sebelum tengah hari, Desta berhasil pergi ke toilet umum dan keluar kembali dengan wajah begitu cerah. Diah telah memberinya sebuah harapan besar yang menguatkan semangat jiwa raganya. Wanita itu berhasil melobi beberapa teman dari Indonesia, yang menyebar di beberapa pulau di Okinawa. Mereka bersedia dan berjanji untuk datang mencoba membawa Desta dari Miyakojima dengan rencana yang dianggap telah matang.


Pekerjaan hari ini terasa begitu ringan, tumit kaki yang kadang ngilu dan meradang tidak lagi begitu dirasakan. Semangat dan harapan membuat perkerjaannya hari itu mudah dan sangat menyenangkan. Ini adalah hari-hari akhirnya Desta berada di ruang VIP melayani tamu.


Tiga gadis Jepang yang tidak mau tersenyum padanya sekali pun, sebentar lagi tak akan pernah dilihatnya di kemudian hari. Desta memandangi mereka sangat hangat, meski mereka membalas dengan sorot mata yang sedingin salju malam hari. Desta tidak peduli, mereka akan menjadi bagaian tokoh kenangan berarti di perjalanan hidupnya. Dan sore ini adalah sore terindah yang dirasanya, selama melakukan tugas dalam menyambut tamu dalam ruang kaca VIP ini.


Saat jam kerjanya berakhir, lelaki itu mengikuti Desta di belakang seperti biasanya. Diam mengikuti Desta yang berjalan lambat di depannya.


"Jiro!" Lelaki besar itu menghadang lagi. Desta menghentikan langkahnya ingin tahu, apa yang akan dikatakan lelaki itu pada Jiro.


"Jiro, data gadis ini telah selesai. Aku akan membawanya malam ini. Menunggu heli datang, suruh dia bersiap!"


Oh Tuhan! Seperti tercabut jantungnya saat mendengar itu. Isi kepala Desta mendadak kosong seluruhnya. Tak bisa berfikir jernih apapun. Hanya berjalan menurut saat Jiro memasukkannya dalam kamar dan menyuruhnya bersiap. Desta kembali tidak meminta pergi ke kamar mandi sebelah, seperti kebiasaan tiap harinya sebelum masuk kamar.


"Ya! Halo" Jiro menghentikan gerakan tangan yang sedang memutar kunci di pintu kamarnya.


"Oke! Tidak masalah!" Lelaki besar itu menutup panggilan dan menoleh pada Jiro.


"Jiro! Heli yang ku sewa, datang besok sore, kendala teknis!" Jiro pun mengangguk dan menyuruh Desta untuk masuk. Desta yang ikut mendengar menolaknya, diam berjalan nenuju kamar mandi di samping kamarnya. Jiro diam menunggu di depan pintu kamar yang telah lebar terbuka.


****


Pagi ini, degup jantungnya berpacu keras, selaras dengan kerasahan yang terasa di hati. Desta bersiap menunggu kode yang akan diberikan Diah dengan hati terus berdebar. Hingga Jiro menjemputnya untuk istirahat siang pun, Diah belum juga nampak di ruang kaca sebelah mengkodenya. Harapan tetap ada, Desta menghabiskan bersih makan siangnya, untuk menghimpun tenaga, serta menunaikan dzuhur, namun tanpa mengambil tidur siang.


Jiro datang dan mengantarnya kembali ke ruang kaca VIP. Desta mengambil posisi berdiri, menghadap arah ruang Diah. Dan semakin berdebar saat melihat kelebat Diah di antara tamunya. Beberapa pemuda Indonesia nampak duduk pada satu meja di sana. Rupanya mereka telah datang, Diah benar-benar menepati janjinya.

__ADS_1


Desta semakin sering melihat ke ruang kaca sebelah dengan diam-diam dan setenang mungkin. Tak ingin tiga gadis Jepang curiga karena mengendus gerak matanya. Terutama gadis tanpa kimono yang berdiri di seberangnya.


Momen yang diharap datang, Desta tengah mencuri pandang saat Diah berjalan membawa baki menghadapnya, Diah telah menyampaikan kode tak kasat mata. Desta hanya melihat Diah sekilas, seolah tak ada makna dalam tatap matanya.


Menunggu beberapa saat, Desta berkesempatan pergi ke toilet saat tamu yang datang telah berhenti. Bergegas masuk toilet, dan menyelinap masuk ke kamar biasanya. Dua orang gadis Indonesia telah siaga menunggunya di dalam. Menyambut Desta dengan arahan untuk diam menurut dengan rencana mereka. Rupanya mereka telah sangat paham dengan rahasia toilet ini.


Desta hanya diam dan bekerjasama saat keduanya melucuti kimono Desta. Meski hati berdegup penasaran, Desta hanya pasrah dengan terus berharap. Dengan gerak super cepat, keduanya telah menyulap Desta menjadi sosok yang berlainan dari saat Desta masuk dalam toilet.


****


Seorang gadis Indonesia berpenampilan modis keluar dari toilet. Di susul gadis belia berkaca mata sangat cantik dan tak kalah modisnya berada di tengah, sedang di belakang muncul gadis modis Indonesia lagi keluar yang terakhir. Kemudian berjalan agak merapat dengan santai, sambil bercakap-cakap ringan dalam bahasa inggris yang halus.


Ketiganya bergabung dengan beberapa pemuda Indonesia yang tengah menunggu di pintu keluar. Lalu bersama-sama pergi meninggalkan rumah makan megah itu dengan sesekali bercanda berkelakar. Begitu santai tidak mencurigakan sama sekali.Semakin lama langkah mereka semakin cepat mendekati bibir pantai dengan posisi agak tersorok menepi.


Sebuah helikopter dengan seorang pilot tengah menunggu mereka dan siap menerbangkannya menuju kota Tokyo. Seluruh pemuda dengan jumlah sembilan orang, telah duduk terengah dalam badan helikopter di kursi masing-masing.


Sang pilot mulai menerbangkan helinya, dan terbang rendah melintasi perairan pulau Miyakojima yang terlihat sangat indah dari atas. Namun sayangnya, seluruh penumpang yang dibawanya sedang menikmati degupan jantung mereka yang berpacu lebih cepat dari biasanya.


Perjalanan telah lewat hampir satu jam lamanya, masih ada dua jam lagi untuk sampai di kota Tokyo. Seluruh penumpang tetap saling diam dengan perasaan yang mulai sedikit tenang, bahkan di antaranya ada yang terlihat mulai mengantuk.


"Ya..ya..Sinyal diterima!" Pilot berbicara keras dalam bahasa Jepang. Terlihat fokus mendengarkan sesuatu dari alat yang dipasang di telinganya.


"Benarkah?!! Oke! Informasi dimengerti!" Pilot nampak melepas alat itu dari telinganya.


Semuan pemuda Indonesia kembali berdegup memperhatikan sang pilot berkomunikasi.


"Maaf, penumpang heli yang terhormat. Adakan di antara kalian yang bernama Desta Galeria Aisha ?!" Pilot nampak menunggu dengan mata sambil terus mengawasi hamparan udara di depannya, sesekali melirik monitor di depannya.


"Jawablah, saya mohon saudara! Jika ada, kita dalam bahaya besar, kita harus kembalikan pemilik nama itu pada pemiliknya. Jangan libatkan saya dalam bahaya. Saya mohon!!!" Sang pilot berbicara dalam nada yang penuh kecemasan.


Radar telekomunikasi kembali berbunyi, sang pilot kembali memasang sinyal suara di udara ke telinganya.

__ADS_1


"Iya. Saya paham dan mengerti!" Sang pilot kembali melepas alat itu.


"Dengar, aku tak ingin kita semua celaka hanya karena membantu satu orang. Aku orang Jepang, keluargaku terancam karena tindakan kalian. Mereka masih memberi kesempatan. Serahkan perempuan yang bernama Desta itu!"


"Apa kalian sudah tidak ingin bertemu dengan keluarga di negara asal kalian?!" Sang pilot mulai nampak marah.


"Kalian ingin kita semua mati hah?!" Sang pilot sudah benar-benar tidak sabar. Seluruh pemuda Indonesia masih membisu dengan ekspresi yang tegang.


"Saya! Sayalah Desta! Kembalikan saya!" Desta tidak tahan lagi, salut dengan solidaritas dan persaudaraan dari pemuda Indonesia yang kuat. Tidak ingin mereka terkorban karena menyelamatkan dirinya. Mereka adalah pemuda masa depan bangsa yang berkualitas dan mempunyai keluarga di tanah air. Desta percaya dengan kesungguhan ucapan pilot itu bukanlah ancaman belaka. Desta telah merasakan sendiri kesadisan mafia itu di tumitnya.


"Desta! Apakah hanya setakat itu upayamu?!"Seorang lelaki Indonesia tampan berkulit putih nampak bersuara dari kursinya. Seperti merasa sia-sia dengan keputusan yang diambil gadis yang tengah diupayakan nasibnya itu.


"Maaf mas. Aku berterimakasih dengan kalian, saudaraku semuanya. Telah berkorban besar demi aku. Tapi kalian harus percaya, mafia yang telah menahanku itu memang sadis dan tidak pernah hanya menggertak. Ancaman mereka itu serius. Aku mohon, kalian berdoalah untuk keselamatan kita..khususnya doakan aku..!" Desta kembali duduk dengan lurus, pasrah pada sang pilot yang mulai merubah arah terbang helikopternya.


Lelaki Indonesia tampan itu akhirnya diam kembali dengan mukanya yang merah padam menahan emosi, entah marahnya untuk siapa. Hanya dipandanginya gadis berkulit indah yang cantik jelita, berkaca mata itu dengan iba tak berdaya.


Ya, gadis cantik berkacamata dan modis itu adalah Desta. Rambut sepunggung yang di warna coklat, dengan gelombang di ujungnya menyempurnakan penyamarannya. Berpakaian ala gadis milenial yang modis, membuat penampilan Desta nampak modern sempurna. Sama sekali bukan Desta selama ini.


Sayang, pengorbanan besarnya akan berakhir sebentar lagi. Dan seperti sia-sia saat sang pilot telah benar-benar mendarat di daratan pantai di sisi lain kepulauan Okinawa. Tidak jauh, terlihat sebuah helikopter juga telah berhenti di sana menunggu kedatangan heli itu.


Desta segera menyalami teman-teman baru yang berjiwa mulia itu. Dua orang gadis yang telah mendandaninya di kamar toilet dipeluknya erat-erat.


"Mbak..terimakasih ..titip kimono dan potongan rambutku ya, aku akan mengambil secepatnya. Doakan aku pasti selamat." Desta melepaskan pelukan dan bergeser menyalami keenam lelaki Indonesia itu dengan erat. Dan yang terakhir adalah lelaki tampan yang tadi bersuara untuknya.


"Mas, terimakasih ya. Semoga kalian semakin sukses. Salam terimakasihku untuk mbak Diah. Ini mas, terima ya... tolong jual saja. Bagikan untuk semua yang terlibat pada misi penyelamatanku. Terutama mbak Diah. Mudah-mudahan hadiah kecil ini cukup bernilai dan berguna. Doakan terus agar aku selamat ya mas." Desta segera berbalik dan mulai turun dari heli, mafia besar yang dikenalinya itu telah menunggu tepat di bawah tangga heli.


Sedang pemuda tampan di dalam heli tadi, menatap pin indah berlian yang dikelilingi mutiara itu dengan bingung dan penuh ketakjuban.


*********


Desta telah terbang kembali dibawa helikopter yang berlainan ke udara. Mafia besar itu duduk di belakang. Sedang di dampingnya duduk lelaki asing yang pasti juga seorang mafia sepertinya. Mafia disampingnya nampak berulangkali memandangnya dengan sangat gelisah.

__ADS_1


Dan pilot yang di depan itu, bukanlah pilot yang membawa Desta malam itu, saat pertama datang ke Miyakojima. Tapi pilot mafia lain yang dibawa mafia besar bersama helikopternya sekalian.


"Joseph! Jaga sikapmu! Kau jangan macam-macam dengan gadis di sampingmu itu! Kita sedang mengantarnya ke Maccau. Sebentar lagi, aku akan menerima bayaranku yang fantastis, jadi singkirkan tubuhmu darinya jauh-jauh!" Mafia itu terdengar menghardik. Rupanya dia melihat kecemasan Desta, saat Joseph menyentuhkan kakinya di betis Desta yang terlihat sebagian.


__ADS_2