Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Samsak # 58


__ADS_3

Balkon kamar Leehans terasa nyaman disaat sore, angin meniup dari halaman taman belakang melewati balkon, masuk berhembus ke dalam kamarnya. Sudah lama rasanya Leehans tidak begini, duduk bersandar santai dengan kaki berselonjor nikmat ke depan. Sambil wajahnya menerima hembusan angin sore yang sepoi-sepoi, Leehans tidur sebentar guna melepas lelahnya.


Leehans merasa kelelahan sehabis olahraga tinju samsak di balkon kamarnya. Benda serupa guling yang tergantung di balkonnya itu, telah menemani tumbuh kembangnya dari remaja, hingga dirinya kini telah jadi orang. Alat itu sangat penting untuknya, meski telah beberapa kali digantinya dengan yang baru.


Andai bernyawa, mungkin samsak itu telah jadi kekasih utama Leehans. Mulai dapat mimpi basah pertamanya di usia remaja, hingga kini dirinya telah kelewat dewasa. Tinju samsak itulah akhir dari sasaran pelampiasannya, setelah Leehans mendapat puncak nikmat dari setiap pelepasannya di toilet. Benda berjasa itulah yang membantu menjaga keperjakaannya, hingga usia Leehans telah hampir melewati tiga puluh tahun.


Seperti sore ini, Leehans habis melakukan aktivitas itu. Pelampiasan dari serangan hasratnya yang mendadak datang siang tadi. Ditahan rasa itu hingga dibawanya pulang, yang dituntaskan dalam toilet kamarnya, dan berakhir pada samsak di balkon kamarnya itu. Leehans tak berhenti menyesali tindakan brengseknya pada Desta siang tadi. Terlihat acuh di depannya, namun rasa malu dan bersalah pada gadis itu, benar-benar bergelayut membebani hatinya.


***


Di kamar luas dengan desain unik dan banyak hiasan tergantung indah di dinding, Desta baru selesai menunaikan sholat ashar. Desta nampak segar dengan rambut terurai yang habis dicucinya. Bau harum shampoo dan harum sabun mandinya, berbaur menyebar di udara kamar.


Desta merasa sejuk saat angin taman dari balkon berhembus ke dalam kamarnya. Semilir angin mengenai permukaan kulitnya yang lembab. Segera menuju balkon untuk menutup saja pintunya. Sambil meraih pegangan pintu, pandangan matanya beredar ke arah balkon Leehans.

__ADS_1


Di sana, nampak pemilik balkon itu tengah duduk di kursi model landai, mungkin baginya serasa di pantai. Leehans nampak memejamkan mata, mungkin dia tengah tidur. Desta makin berani mencuri pandang ke balkon itu lagi.


Leehans tidak memakai baju atasan, perut dan dadanya kelihatan. Lelaki dengan kulit coklat cerah itu terlihat macho saat sedang tidur sekalipun. Meski detail menawan badan Leehans tidak terlihat jelas, Desta merasa dadanya jadi susah bernafas. Bahkan karena memandangi lelaki itu, dirinya juga lupa mengambil kembali nafasnya.


Ish..! Desta mengedip -ngedipkan kelopak matanya, ditarik lagi pintu balkon yang telah lama dipegangnya. Ditutupnya pelan pintu itu, seolah takut menimbulkan suara yang mungkin bisa membangunkan Leehans. Setelah di dalam, Desta membanting dirinya di atas tempat tidur. Ingin tiduran juga seperti apa yang dilakukan lelaki itu sekarang.


***


*Cepatlah turun, ku tunggu di bawah*


*Tunggu tuan Hans, saya ketiduran, baru mulai bersiap*


Desta menyempatkan membalas pesan itu, tidak berharap pengirim pesan itu berganti meneleponnya.

__ADS_1


*Kau sedang apa? *


*Maksudku apa kau masih lama lagi? *


Pesan itu segera di ralat cepat oleh Leehans. Desta tersenyum, bergegas mengunci kerudungnya dan membalas kembali pesan itu.


*Mohon bersabar sebentar tuan Hans*


*Aku tak ingin ayah Jenny kecewa melihatku*


Entah apa maksud Desta dengan balasan pesannya menulis begitu. Yang jelas tidak ada balasan lagi dari Leehans. Desta sedikit menyesal dengan pesan terakhirnya, lelaki itu tidak berminat merespon sedikitpun. Desta menggunakan sedikit make up di wajahnya dengan kurang bersemangat, namun masih ingin terlihat lebih cantik lagi malam ini.


***

__ADS_1


πŸ€—πŸ€—πŸ€— Terimakasih buat yang udah mampir hingga episode ini.. mohon dukungan buat saya πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ. Harap ditinggalin, like, komen, favorite atau saran kritiknya ya.. πŸ™


__ADS_2