
Dua orang gadis muda sedang menikmati makan sore, di sebuah cafe kecil yang teduh. Ada beberapa menu yang sudah tersaji di atas meja, bakso, tahu lontong, sate ayam, dan rujak cingur. Sedang minuman yang mereka pilih cukup dua gelas besar saja, jus tomat dan jus mangga. Cafe itu terkesan asri dan nyaman, meski kecil tapi penataan perabot serta hiasannya mampu memanjakan mata pengunjung.
Desta yang sengaja memilih cafe dan menu itu, berharap Ajeng merasa nyaman, dan bisa menikmati makanan meski hanya sedikit dari beberapa menu yang ada. Semenjak ada janin dalam perutnya, Ajeng benar-benar tak mampu makan apapun dengan normal. Hanya bisa menelan satu atau dua sendok saja, dan itu sudah sangat beruntung baginya. Bahkan seringkali, makanan yang sudah susah payah dimasukkan ke dalam perutpun, terpaksa dikeluarkan lagi karena rasa mualnya yang dahsyat.
Namun usaha Desta sepertinya sia-sia , Ajeng hanya mengambil sebutir bakso, dan meminum jus mangganya satu kali teguk saja. Selebihnya Desta sendiri yang terpaksa mencicipi semua makanan yang ada di meja itu. Ajeng sudah merasa begitu mual serta pusing yang hebat. Desta bergegas membawa Ajeng kempali pulang ke kamar kosnya.
Tubuh Ajeng kini nampak kurus dan kering, hanya karena make up saja yang mampu menyamarkan ketirusannya. Sahabat Desta itu sekarang sudah tidak bekerja di Mall Ram***na lagi, dia terpaksa diberhentikan kerja oleh leader devisinya. Selain karena alasan beberapa hari tidak masuk tanpa kabar, performance Ajeng saat kerja juga buruk, waktunya habis untuk bolak balik ke toilet. Atasannya tidak bisa memakhlumi hal semacam itu.
Desta sangat prihatin dengan nasib sahabatnya, entah kenapa hari ini dia ingin menghabiskan waktunya bersama Ajeng. Namun Ajeng keberatan jika Desta berniat untuk menginap di tempat kosnya. Desta paham kenapa, tempat kos Ajeng memang terkesan kumuh. Ajeng merasa malu jika ada orang lain mendatangi tempat kosnya, meski itu adalah Desta sekalipun.
Sehabis sholat maghrib, Desta bilang ke Ajeng untuk keluar sebentar ke gang depan. Ajeng yang merasa tubuhnya lemah, hanya mengiyakan saja tanpa tahu Desta mau pergi ke mana. Ajeng terbaring lemah karena kurangnya asupan gizi untuk tubuhnya. Sedangkan untuk pergi ke dokter guna mendapat resep penanganan, Ajeng tidak punya cukup uang. Biaya ke dokter kandungan, beserta harga tebusan resepnya, pasti perlu cadangan uang yang aman. Ajeng yang serba prihatin, hanya bisa pasrah dengan nasibnya.
Desta telah kembali ke gang, di mana lokasi kamar kos Ajeng berada. Gadis itu bergegas masuk ke dalam kamar, khawatir terjadi apa-apa dengan sahabatnya. Ajeng yang sedang tertidur itu dibangunkannya pelan.
"Ajeng, ini ada beberapa vitamin dan suplemen makanan, bagus buat tubuhmu dan janin dalam perutmu. "
Desta memberikan sekantong belanjaanya pada Ajeng yang sudah terbangun sempurna itu.
"Di setiap kapletnya ada kok tulisannya, buat mual, pusing, penambah nafsu makan juga ada di situ Jeng. "
Ajeng hanya memegangi bungkusan itu tanpa mampu berkata-kata.
"Besok aku akan datang lagi, pokok sebelum aku berangkat, aku akan datang. "
Desta memegangi tangan Ajeng, diraihnya sebuah bungkusan kecil dari kantung gamisnya. Digenggamkannya kantung itu di tangan Ajeng.
__ADS_1
"Ajeng, aku sayang padamu, aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Berjanjilah untuk terus bersemangat menjalani hidup. Aktifkan ponselmu, jangan pernah dimatikan. "
Desta memandangi sejenak wajah Ajeng, lalu dipeluknya gadis itu.
"Itu ada sedikit uang untuk biaya hidupmu sementara, terimalah. Jika kamu udah merasa sehat, carilah tempat kos yang lebih baik, yang kamu merasa lebih nyaman. Doakan aku dalam bekerja di sana ya, aku tak kan melupakanmu."
Desta mempererat pelukannya, Ajeng diam-diam tak mampu menahan tangisnya, dia terharu dengan kepedulian sahabatnya itu.
"Sudah hampir isya Jeng, aku kembali ke yayasan dulu ya. Di meja ada bubur ayam, kamu harus makan yang banyak. Obat itu akan berpengaruh pada selera makanmu. "
Desta berpamitan pada Ajeng, meski rasa berat meninggalkannya dalam keadaan lemah begitu, tapi gadis itu yang menolak ditemaninya.
"Desta, terimakasih, jaga dirimu baik-baik. "
***
Sampai di yayasan Bina Amanah, Desta mampir ke dapur untuk meletakkan sekantong jumbo kemasan Donat yang dibawanya. Saat perjalan pulang tadi, dirinya sempat membeli beberapa box besar donat kentang, di gerai donat tepi jalan yang cukup ramai pembelinya. Rasanya anak-anak di yayasan akan menyukai donat, dengan berbagai model topping yang lucu begitu.
Setelah nenyerahkan donat itu pada kepala dapur, bu Ranti, Desta mengambil makan malamnya di dapur itu dan menghabiskannya dengan cepat. Setelah mencuci bersih piringnya di wastafel dapur, Desta bergegas pergi sambil menyambar sebotol kecil air mineral kemasan. Karena adzan isya telah lama berkumandang, gadis itu ingin cepat sampai dalam kamarnya.
Untuk sampai ke kamarnya, Desta akan melewati teras yang ada tangga penghubung dengan ruangan untuk tamu, yang sekarang ditempati oleh Leehans itu. Dari jauh, mata Desta menangkap siluet seorang lelaki tengah berdiri di teras yang temaram di sana. Semakin mendekati teras, semakin jelas bahwa lelaki itu berdiri menghadapnya, dan ternyata dia adalah Leehans.
Kini Desta hendak memasuki lorong kecil menuju kamarnya, yang berada tepat di sebelah teras tangga. Ditolehnya Leehans hendak disapanya, lelaki itu seperti berjalan ke arahnya.
"Mari tuan Hans, selamat malam! "
__ADS_1
Desta cepat menyapanya, dan buru-buru berlalu ingin meninggalkan lelaki itu di belakangnya. Habis aktivitas di luar rumah seharian, Desta tahu dirinya sedang dekil saat ini. Sedang dia begitu paham dengan Leehans, Lelaki itu selalu menginginkan kebersihan di sampingnya.
"Berhenti, Desta! "
Seruan Leehans benar-benar menghentikan langkahnya, gadis itu berhenti di tempat itu seketika. Dalam hitungan detik, Leehans telah berdiri menjulang di depannya. Leehans nampak masih mengenakan setelan jas, lengkap dengan dasinya. Wajahnya yang letih, tidak mampu menutupi auranya yang cool dan menawan. Meski penampilannya terlihat agak kusut, namun Desta masih mencium bau wangi yang segar dari lelaki di depannya itu. Entah parfum model bagaimana yang dipakai oleh Leehans di badannya itu.
"Apakah perlu waktu seharian untuk antri mengambil KTPmu? "
Leehans nampak meneliti penampilan Desta, yang sebenarnya masih terlihat rapi dan sedap dipandang, seperti yang dilihatnya pagi tadi.
"Ku beri waktu setengah jam, ada hal sangat penting yang akan dikatakan Gilang padamu. Datanglah ke ruanganku, jangan lupa bersihkan dulu dirimu. "
Leehans sedikit menyentil ujung hidung Desta yang kecil dan runcing itu dengan jarinya, sebelum melenggang pergi, meninggalkan Desta yang sedang termangu menatapnya itu. Gilang? Mas Gilang...Dia akan mengatakan hal sangat penting padanya, apakah itu?
***
Dengan perasaan bahwa dirinya kini bersih dan segar, Desta keluar kamar lagi sehabis mengerjakan sholat isyanya. Didongakkan kepalanya, ruangan di seberang atas kamarnya itu sangat terang benderang sekarang. Apakah Gilang juga ada di atas sana?
Desta mengamati kamar Gilang yang selalu nampak gelap belakangan ini. Maknanya penghuni kamar itu, tidak sedang berada di kamarnya. Belakangan ini, Gilang memang terlihat datang kerja dari luar. Mungkin Gilang pulang dan pergi kerja dari rumahnya, seperti yang dilihatnya pagi tadi.
Handle pintu ruangan besar itu, telah mulai diputarnya, dan terbuka agak lebar menampakkan orang - orang yang terdiam memandang kehadirannya di depan pintu.
Benar, di sana sudah ada mas Gilang yang duduk di sofa sedang menatapnya. Tapi di sebelah sofa lelaki itu, duduk bu Hartini yang juga nampak sedang menunggunya. Justeru Leehans yang tidak nampak batang hidungnya. Bu Hartini melambai tangan padanya, dan mengisyaratkan untuk duduk di sampingnya.
Desta memberi senyum indahnya ke arah bu Hartini, kemudian tersenyum lagi memandang Gilang yang terus saja memperhatikan dirinya. Desta hendak duduk di sofa sebelahnya bu Hartini, ketika Leehans keluar dari pintu kamar dan juga langsung duduk di sofa sebelah Gilang. Ke empat orang itu saling pandang sejenak dalam diam. Desta semakin tidak paham, kenapa dirinya bisa ada diantara para petinggi yayasan yang terhormat itu.
__ADS_1