Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Menikahlah Denganku # 68


__ADS_3

Dengan menambah kecepatan langkah kakinya, Desta mencapai pintu kamar dan menyelinap masuk ke dalamnya. Namun pintu itu tertahan kuat saat berusaha ditutupnya. Desta berbalik dan melepaskan pintu. Benar dugaannya, lelaki sejuta pesona itulah yang sedang menahan pintu kamarnya agar tidak menutup.


"Apa maksudmu tuan Hans!?"


Desta menahan rasa kesalnya dengan sikap Leehans yang agak aneh malam ini. Bahkan kini berdiri di depan kamarnya dengan maksud yang tak jelas.


"Maafkan aku, Desta. Aku ingin membicarakan hal lumayan penting denganmu. Boleh aku masuk?"


Leehans izin untuk masuk ke dalam kamarnya, namun bersikap seolah tidak perlu jawabannya. Mengabaikan Desta yang masih terkejut dengan pertanyaannya, Leehans bergegas melangkah maju dan masuk ke dalam kamar. Dengan cepat, ditutup pintu kamar dan berjalan melewati Desta yang berdiri mengawasinya.


Leehans berjalan di kamarnya menuju keluar balkon. Lelaki itu nampak berdiri menghadap keluar memunggungi Desta yang tengah menunggu penjelasan. Tak lama, Leehans berbalik dan masuk kembali ke dalam kamarnya.


Leehans telah berdiri di hadapannya. Pandangan yang tidak seperti biasa, pandangan yang tajam dan dingin kini perlahan memudar. Berganti dengan tatapan hangat dan sayu di sana, membuat kharisma Leehans semakin menawan.


"Desta, jawablah dengan jujur. Apakah saat ini kau takut padaku?"


Desta seperti terhipnotis, digelengkan kepalanya menjawab jujur pertanyaan Leehans.


"Apakah kau sedang bersiaga terhadapku?"


Mata indah bersinar itu menatap Leehans tanpa kedip, kembali digelengkan kepalanya pada Leehans.


"Bagus Desta. Percayalah, kau tidak perlu merasa takut padaku, tidak perlu bersiaga dariku. Kau akan aman denganku. "


Desta terus memandangi Leehans yang berkata cukup lembut padanya. Lelaki itu bergeser jauh mendekati sofa, dan duduk pelan di salah satunya.


"Bersikaplah ramah padaku Ta.. Mendekatlah kemari."


Desta memahami, dengan sikap Leehans yang tidak seperti biasa, memang ada hal penting yang akan disampaikannya. Perlahan didekatinya sofa, duduk tepat di depan lelaki itu, bersiap mendengar penjelasan darinya.


"Desta, perkataanku ini... jika kau anggap serius, aku memang sangat serius, tapi jika kau anggap hanya lelucon, itu tidak masalah."


"Langsung bicara sajalah tuan Hans. Saya tidak sabar."


Desta ingin segera to the point dengan tujuan Leehans sampai menerobos dalam kamrnya.


"Baiklah kalo itu maumu."


Leehans nampak terdiam sebentar, meperhatikan Desta dalam-dalam.


"Desta.. menikahlah denganku."

__ADS_1


Leehans tidak yakin dengan reaksi yang akan ditunjukkan Desta atas pinangannya barusan. Ya, Leehans benar-benar telah meminang gadis itu.


Ditatapnya lekat-lekat gadis itu, bersiap dengan segala respon yang akan keluar dari bibir cantiknya. Apakah menangis, berteriak atau bahkan mengusirnya. Leehans duduk dengan tegang. Bersiap menerima resikonya.


Tapi, reaksi terburuk yang siap didapatnya tidak juga meluncur. Desta memberi ekspresi di luar dugaannya. Mata indah yang bening itu tetap bersinar tanpa kedip, menatapnya dengan mimik tidak percaya.


"Anda tidak patut bercanda dengan perkataan semacam itu tuan."


Leehans menangkap ada getaran di suara gadis itu.


"Tidak, Desta. Ini sama sekali bukan candaan. Aku bersungguh-sungguh ingin menikahimu. "


Desta meremas tangannya, memastikan perkataan Leehans bukanlah mimpi. Leehans berkata ingin menikahinya, memang seperti mimpi di siang bolong. Tidak yakin dengan kebenarannya.


"Begini Ta, kau paham kondisi ibuku. Kau cukup mengerti kemauannya. Dia selalu berharap denganmulah aku menikah."


"Dan pagi kemarin, kau lihat juga berita murahan itu. Berita yang hanya dibuat-buat. Ibuku terguncang karenanya. "


"Gosip itu sangat merugikan. Reputasiku, juga nama baik keluargaku benar-benar tercoreng. Aku merasa bersalah, pasti ayahkupun diam-diam juga tertekan. Maka itulah, telah ku pikirkan, cara terbaik mengabaikannya adalah dengan menikah denganmu, Desta."


"Setidaknya dengan waktu enam bulan. Dan setelah waktu itu, kau bisa menarik danamu seluruhnya. Kau bebas setelah itu. Kau berhak melakukan apapun keinginanmu setelah enam bulan. Jadi pernikahan ini harus saling bermanfaat, untukku juga untukmu."


Desta memperhatikan setiap kata-kata yang keluar dari bibir menawan itu. Kedengarannya sangat menarik, tapi bukankah ini semacam nikah kontrak, bolehkah?


Leehans menyipitkan mata dan memajukan sedikit tubuhnya.


"Jika kau keberatan. Kita lanjutkan jadi selamanya. Bagaimana?"


Selamanya?! Ah, perkataannya terdengar menarik sekali, Desta justeru semakin bertambah gundah sekarang. Jadi, apa tujuan sebenarnya Leehans ingin menikahinya?


"Intinya, aku tidak menekanmu Desta. Minimal kita akan menjalani pernikahan dalam enam bulan. Jangan khawatir, dalam masa itu, aku jamin , aku tak akan berbuat hal-hal yang bisa merugikanmu."


Leehans seolah meyakinkan Desta, agar gadis itu merasa aman dan bersedia dinikahinya.


"Apakah setelah enam bulan, aku akan berubah kaya dan boleh pulang ke Surabaya?"


Pertanyaan Desta kali ini membuat Leehans terdiam cukup lama. Meski sedikit geli, namun soalan itu memang wajar ditanyakannya.


"Tentu kau akan kaya. Selain aku akan menafkahimu, kau juga berhak memiliki sebagian hartaku. Dan paling penting, kau telah bisa menarik seluruh danamu sesuai syarat yang tertera itu. Setelahnya jika kau ingin, aku bisa mengantarmu kembali ke Surabaya."


Leehans mengatakan hal-hal penting itu dengan suaranya yang berat.

__ADS_1


"Atau jika kau berminat, kau bisa tetap bekerja padaku, dengan sesekali pergi ke Indonesia. Bukankah waktu itu kau sudah punya uang cukup banyak?"


Desta terus memikirkan kesempatan manis di balik tawaran Leehans untuk menikahinya. Bukankah lelaki ini yang telah membuatnya bergemuruh, berdegup, cemas, kecewa, bersemangat dan bahkan menangis sekalipun. Apakah itu cinta? Apakah dirinya telah jatuh cinta padanya?


Jika memang benar-benar telah jatuh cinta pada lelaki itu, bukankah ini kesempatannya? Tapi bagaimana dengan perasaannya? Lelaki itu tidak punya perasaan cinta seperti dirinya. Leehans telah kembali bersama kekasihnya, Shena yang cantik mempesona itu. Kuatkah hatinya melihat mereka berdua kala bersama? Kuatkah dirinya menyembunyikan rasa cinta sepihaknya?


Tapi, bukankah Leehans mengatakan pernikahan itu hanyalah enam bulan? Apakah enam bulan itu lama, ataukah justru terlalu singkat untuk pernikahan. Apakah benar pernikahan ini akan saling menguntungkan? Apakah justru dirinya harus makan hati, menjadi topeng bagi Leehans bersama Shena? Bagaimana jika rasa cintanya semakin besar dalam enam bulan itu?


Desta sangat banyak pertimbangan, kini warisan dengan nilai milyaran itu seperti tidak penting lagi baginya. Masalah perasaan spihaknya pada Leehanslah yang mendominasi pikirannya. Sepertinya, menikah dengan Leehans adalah sebuah resiko besar jika diterimanya.


Deheman lirih Leehans menyadarkan Desta dari renungan panjangnya.


"Bagaimana Desta, apa kau setuju menikah denganku?"


Leehans ingin mendengar tanggapan Desta secepatnya. Jika setuju, Leehans akan segera menikahi gadis itu dalam waktu dekat, untuk membungkang segala tudingan gosip di seluruh media yang beredar. Sehingga nama dan reputasinya kembali cemerlang seperti semula.


Selain itu, Leehans ingin membuktikan pada orang tuanya, terlebih pada ibunya bahwa berita yang sempat trending itu hanyalah gosip belaka. Desta adalah perempuan yang tepat sebagai pilihan satu-satunya. Gadis itu sedang memerlukan sebuah pernikahan untuk urusan dana wasiatnya. Lagipula Desta jugalah calon mantu idaman ibunya selama ini.


"Maaf tuan Hans. Saya belum ingin menjawabnya. Setidaknya berilah saya waktu memikirkannya. Meski ini hanya sementara, tapi menikah adalah keputusan besar yang harus saya pertimbangkan benar-benar."


Desta mengatakan hal itu dengan tenang. Rencana pernikahannya dengan Benn yang gagal waktu itu, cukup memberi pelajaran berharga untuknya.


Leehans menyandarkan punggung di sofa, menghembuskan nafas berat dari hidung mancungnya. Hemm...Ternyata begini rasanya melamar seorang perempuan. Terlebih jawaban itu masih digantung tanpa kejelasan. Rasanya ingin dijawab sekarang saja. Tapi itu tidak mungkin, akan jadi sebuah paksaan jika begitu.


Leehans memandangi Desta yang sedang memainkan ujung-ujung jari kukunya sambil menunduk. Wajah sendu ayunya itu semakin menyadarkan Leehans agar mampu lebih bersabar. Tanggapan adem yang dinampakkan Desta itupun cukup jadi keberuntungan bagi Leehans. Tak ada tangisan ataupun penolakan langsung dari Desta seperti yang sudah-sudah selama ini, meski dirinyapun kini juga sedang digantung oleh gadis itu.


"Akan ku tunggu putusanmu, Desta. Tapi jangan terlalu lama. Segera katakan secepatnya. Jangan lupa, ibuku sangat menyukaimu."


Leehans berkata sambil mengangkat tubuhnya dari sofa. Sepertinya tak ada yang perlu diperbincangkan lagi sementara. Leehas melangkah menuju pintu. Sebelum keluar, Leehans berbalik memandang Desta yang mengikutinya di belakang.


"Segara beri aku jawaban. Jangan lama-lama. Aku hanya ingin mendengar jawaban bagus darimu."


Leehans menatapanya dengan hangat, lelaki itu menyempatkan diri menyentil ujung hidungnya yang runcing. Sekali lagi Desta tidak sempat mengelak. Tindakan Leehans selalu tidak bisa di sangka-sangka. Seperti lamarannya kali ini misalnya. Desta mematung melepas kepergian Leehans dari kamarnya.


#######


πŸ€—πŸ€—πŸ€— Terimakasih terus menyimak kisah Leehans Desta hingga ke sini.


Mohon terus dukungannya.. harap tinggalin like, komen, vote dan favorite yeeer.


I love you so much.. 😘😘😘πŸ’ͺβœŒπŸ™

__ADS_1


Selamat berpuasa.❀


__ADS_2