
"Hei gadis kecil, kau tidak mau menemani tamu kehormatan ini untuk minum?"
Deg! Suara berat lelaki yang didengarnya itu, Desta sangat hapal siapa empunya di luar kepala. Reflek tubuhnya membalik untuk memastikan siapa lelaki yang bicara di belakangnya. Benar dugaannya, lelaki pemilik suara seksi itu adalah Leehans. Jadi tamu penting yang dimaksud bu Hartini adalah Leehans!?
"Maaf, andakah tamu kami tuan Leehans?"
"Apa kabar?" Senang berjumpa anda kembali."
Desta berusaha menyamarkan keterkejutan hatinya. Disapanya Leehans dengan seramah mungkin, dengan memamerkan senyum indah dari gigi putihnya. Dan Leehans juga terus memandanginya, dengan menaikkan kedua alis tebal hitamnya sambil mengulum senyum.
"Kau tidak waspada terhadapku?"
"Jadi kemarilah, duduk sebentar bersamaku."
Leehans berkata sambil menunjuk sofa di dekat jendela, melangkah mendekati sofa dan duduk di sofa yang paling panjang.
"Sini temanilah, aku lelah sekali."
Leehans menepuk sofa empuk itu, dan bergeser di ujung sisi tepi sofa. Bermaksud memberi ruang, agar Desta tidak canggung untuk duduk bersamanya. Namun gadis itu hanya diam sejenak ditempatnya berdiri, lalu meraih nampan berisi cake , puding, serta secangkir kopi, untuk dihidangkan di atas meja sofa di depannya.
Desta justru duduk di single sofa sebelahnya Leehans. Tangan kanan di pangkuan, ditutupi dengan lipatan kain gamisnya lalu ditumpangi tangan kiri yang menyilang di atasnya. Leehans terus memperhatikan tingkah laku gadis ayu di sebelahnya itu.
"Aku ingin minum kopi dengan buah jeruk itu."
Leehans memintanya dengan ekspresi muka yang lelah. Desta menatapnya, ada sedikit ragu di wajah gadis itu.
"Anda habis melakukan perjalanan, anda lelah bukan?, sebaiknya jangan makan jeruk dengan kopi, perut anda akan bermasalah, lebih baik makan bersama puding saja tuan Hans."
Desta berkata dengan yakin dan hati-hati, tidak ingin menyinggung perasaan tamu penting ini. Sambil tangan kirinya terulur mengeluarkan cangkir kopi, bersama tatakannya dari dalam nampan. Kopi itu diletakkan lagi di atas meja dengan perlahan.
"Lalu kenapa makanan tak berguna itu kau tunjukkan padaku?"
Leehans menunjuk ke arah keranjang buah, yang ditaruh Desta di atas meja kecil di sana.
"Tentu saja semua itu sangat bagus untuk masuk ke perut anda, tuan Hans. Tapi mesti ada jeda antrian untuk memakannya, agar tidak ada efek setelahnya."
Desta menjawab dengan meyakinkan, seakan sebal dengan Leehans yang tidak mau mengerti. Leehans hanya menahan senyum sambil mengangkat sebelah alisnya ke atas, sepertinya pancingannya berhasil.
Desta mengulurkan tangan kiri serta memajukan dirinya lagi, mengiris puding serta cake jadi bagian yang kecil. Diambilnya dalam piring kecil yang ada di nampan, lalu disodorkannya pada Leehans, semua dilakukan dengan tangan kirinya tanpa hambatan.
__ADS_1
"Kau lebih memanjakan tangan kananmu, itu kurang sopan."
Leehans memprotes perilaku Desta yang mengandalkan tangan kirinya itu. Dari awal ia perhatikan, gadis itu hanya memfungsikan sebelah tangannya saja. Leehans bukannya tidak sempat melihat, bahwa punggung tangan kanan gadis itu ada perban menempel lebar.
"Maafkan tuan Hans, bukan kemauan saya, tangan kanan saya sedang terluka, dan masih terasa meradang."
Desta tidak enak hati, diangkatnya punggung tangan kanan yang diperban itu, diulurkannya ke depan, agar Leehans dapat melihatnya dengan jelas. Leehans hendak menyentuh tangan itu, namun Desta segera menarik tangannya kembali dengan cepat. Dia khawatir lelaki itu menyentuh lukanya, yang pasti menyebabkan rasa ngilu dan sakit.
"Kenapa bisa cidera begitu?"
Leehans menurunkan tangannya sambil melirik perban di tangan Desta. Kemudian diambilnya cangkir kopi di meja, lalu diseruputnya sekali. Diletakkannya lagi cangkir itu bersama tatakannya ke atas meja semula. Kembali dipandanginya Desta yang mematung, dengan mata berkilatnya yang tajam.
"Diserang jambret." Desta mejawab singkat.
"Ceritakan dengan jelas, jangan menyuruhku mengira-ngira kejadian yang menimpamu itu."
Leehans tidak puas dengan jawabam pelit Desta, dia ingin mendengar lebih banyak lagi cerita dari gadis itu. Desta sebenarnya sedang malas mengulang lagi cerita yang sama hari ini, tapi mengingat siapa lelaki di hadapannya itu, segera disusunnya kembali kejadian sebenarnya, tanpa pengurangan ataupun penambahan sidikitpun.
Leehans nampak fokus menyimak semua cerita dari mulut Desta, dengan bibir merahnya yang bergerak-gerak cepat itu. Gadis itu sangat lancar berbicara, seakan mengejar waktu dengan malam yang semakin larut.
"Jambret seperti itu, bisa terkejar olehmu?"
Leehans tertarik dengan bagian cerita Desta yang ini. Desta tersenyum bangga dengan dirinya, seoertinya kali ini dia mulai bersemangat menanggapi percakapan dengan Leehans.
Desta tersenyum sambil nyengir menatap wajah Leehans.
"Gerak gerik dan perilakumu itu, aku percaya kau pandai berlari."
Sekilas, Leehans mengingat keberanian Desta saat melumpuhkan Benn di Villa waktu itu. Sebaiknya dirinya menghindari mengungkit Benn, gadis itu pasti sangat tidak nyaman jika mengingat kejadian itu lagi.
"Lalu, kerugian apa saja yang kau tanggung dari jambret itu?"
Leehans menangkap kebingungan di wajah Desta yang terlihat agak gelisah itu.
"Semua dokumen saya tidak ada, tapi sudah saya urus dan dapatkan gantinya lagi, tinggal kartu identitas saja yang belum."
Desta terdiam sejenak, lalu kembali berbicara dengan pelan sambil menatap Leehans.
"Dan uang itu..seluruh tabungan sisa pengeluaranku selama di sini, ikut dibawa dalam tas itu.Jadi..."
__ADS_1
Desta menggantung kalimatnya, memalingkan muka sebentar, kembali menatap mata hitam Leehans.
"Saya memakai uang milik tuan Hans yang ada di akunku beberapa juta. Maafkan saya."
"Tapi tentu akan saya ganti, saya akan menggantinya setelah mendapat gaji berikutnya dari anda."
Desta berkata sungguh-sungguh dengan mimik penyesalan pada lelaki itu. Leehans justru tertawa kecil mendengar itu.
"Bukankah dari awal sudah ku bilang, gunakan saja uang itu, aku tidak akan kekurangan uang meski uang itu kau habiskan."
Leehans mengatakan itu, sambil megambil puding kecil dengan sendok lalu memasukkan ke dalam mulutnya.
"Anda ikhlas?, saya tidak jadi menikah dengannya."
Desta menghindari menyebut nama itu.
"Bukan salahmu."
Leehans menimpali dengan singkat.
"Ku rasa sudah larut, pergilah ke kamarmu, jangan lupa minum obatmu."
Leehans berdiri dan mempersilahkan Desta untuk keluar. Lelaki itu membuka pintu dan menunggu Desta di luar pintu. Desta bergegas keluar dan melewati Leehans. Namun berhenti sejenak dan berbalik pada lelaki itu.
"Semoga anda bisa beristirahat dengan tenang malam ini."
"Saya tidak menyangka bahwa tuan Hans benar-benar sampai di sini."
Leehans tidak menanggapi ucapannya, hanya berdiri tegak sambil mengisyaratkan Desta untuk segera pergi. Desta mengerti, dengan diam, dibungkukkan badannya sedikit dan berbalik melangkah, benar- benar berlalu dari hadapan Leehans. Terdengar suara langkah gadis itu menuruni anak tangga dengan cepat.
***
Anak tangga itu habis di teras samping ruang kantor. Desta bisa melihat di dalam ruagan kantor itu, masih nampak bu Hartini di depan komputernya. Ada rasa iba di hatinya untuk wanita tangguh itu.
Seorang janda dengan ke tiga anaknya yang dibesarkan sendirian, hingga mereka duduk di sekolah tinggi di kota ini. Bu Hartini telah menjanda sejak Desta duduk di Bangku SD. Suaminya yang seorang kepala batalyon, wafat saat bertugas di Timor Leste.
Desta selalu ingat, saat itu bu Hartini mengangis pilu. Kabar duka itu jadi perbincangan hangat di srluruh keluarga yayasan Bina Amanah, termasuk dirinya bersama Ajeng yang mulai menginjak remaja.
***
__ADS_1
Desta telah sampai di depan kamarnya, sebelum menghilangkan diri ke dalam, sempat ditolehnya ruang hunian tamu yang ada di atas kamarnya. Lampunya masih menyala terang, mungkin Leehans belum ingin tidur.
Desta tidak menyadari, ada sepasang mata yang terus mengikutinya dari tadi. Dari dirinya dibangunkan oleh Bu Hartini, hingga sekarang telah kembali ke dalam kamarnya. Sepasang mata itu mengawasinya dengan penuh selidik, terlebih saat Desta berada agak lama di ruang atas bersama tamu penting itu.