
Capek mengharapkan Ryuka kembali, namun tak ada tanda-tanda gadis itu segera datang. Desta akhirnya tertidur dengan rambut indahnya lepas tergerai. Rambut lurus sebahunya itu hitam legam dan berkilau, pertanda rambut yang sehat bernutrisi. Meski berhijab, namun Desta rajin merawat rambutnya dengan creambath dan memberi vitamin untuk rambut.
Desta yang tertidur sangat pulas, terbangun saat didengarnya ketukan keras di pintu penginapannya. Diliriknya jam di dinding, pukul dua dini hari, Ryuka akhirnya datang juga. Segera melangkah menuju pintu dan dibukanya pintu yang tadi sengaja Desta kunci.
Pintu telah terbuka , belum sempat didapatinya Ryuka, namun seseorang telah menerobos masuk ke dalam dan menarik tangannya dengan kasar. Pintu ditutup kembali, kemudian dikunci sosok itu. Desta menyadari, seseorang itu bukan Ryuka, melainkan Alex yang sedang mabuk dan mencengkeram kuat tangannya.
Meski ketakutan dan panik, namun Desta berusaha tenang dengan menduga-duga apa yang akan Alex lakukan padanya. Alex berusaha meraih kepala Desta sambil ditariknya tangan gadis itu.
"Menunggu gadis semacam kamu begitu lama, aku tidak sabar lagi. Bagaimana jika denganmu saja cantiiiiiik... "
Alex menggumam dengan bahasa inggrisnya yang patah-patah.
Namun Desta berhasil mengalihkan kepalanya dan menahan tarikan tangan Alex dengan perpegangan kuat pada kusen pintu. Kali ini Desta merasa beruntung, namun Alex adalah lelaki bertubuh besar, jika Alex benar-benar berniat jahat , dirinya tak akan mampu melawan.
"Alex tenang, kamu kebanyakan minum, ingatlah bahwa aku tunangan Benn, saudaramu. "
Desta berusaha menahan Alex agar tidak bertindak lebih jauh lagi.
"Aku tak peduli, kau cantik sekali, ku rasa Benn tidak akan keberatan. "
Alex sedikit terkekeh penuh makna.
Bersamaan itu, tubuhnya yang besar mendekat pada Desta, tangan Desta berusaha mendorong dan menahan gerakan badan Alex.
"Ayolah sweety jangan munafik, buka saja topengmu. "
Alex kembali berusaha meraih tubuh Desta.
__ADS_1
"Alex stop it! Help ! Help!"
Upaya Desta mengulur waktu rupanya sia-sia. Kini dirinya benar-benar panik saat dorongan tangannya sama sekali tak ada pengaruhnya untuk Alex.
Tubuh Alex tiba-tiba terdiam di tempatnya saat daun pintu itu digedor keras dari luar. Desta merasa cengkeraman di pergelangan tangannya sedikit longgar, segera disentakkannya dengan kuat hingga genggaman Alex terlepas.
Desta berlari acak masuk ke kamar yang paling dekat dari jangkauan, dan segera mengunci pintunya. Ini kamar Stella, Desta bersyukur gadis itu meninggalkan anak kunci tetap tergantung di pintu kamarnya.
Alex kesal dengan targetnya yang telah terlepas, kini kamar itu telah terkunci. Niat ingin membuka paksa pintu itu gagal karena pintu cottage digedor semakin keras. Alex menuju pintu dengan geram, siapa yang telah mengganggunya, bukankah semua telah mabuk dan tertidur?
Pintu itu kini terbuka lebar, sosok tubuh yang tak kalah tinggi dan besarnya dari Alex tengah berdiri dengan tatapan garang di depan pintu. Alex terkejut mendapati Leehans telah berdiri di depannya, tak disangka lelaki gila bisnis ini sudi datang menyusul seperti yang dia janjikan kemarin.
"Kau apakan gadis itu? " Leehans menahan marahnya dengan sangat.
"Aku tidak melakukan apapun. "
"Kau hanya belum melakukannya, karena aku tiba-tiba datang bukan? " Alex diam saja dengan raut menyesal.
"Pergilah, dan bersiaplah berurusan denganku. " Leehans mengintimidasi Alex.
Dengan rasa muak yang dalam, disuruhnya Alex pergi. Karena ini masih jam malam, Leehans tak ingin ribut terlalu lama yang bisa membangunkan para penghuni cottage lainnya.
Leehans bergegas memasuki penginapan dan mencari Desta, satu kamar tidur dan satu kamar mandi yang sudah dilihatnya, namun kosong tanpa gadis itu. Kini ada satu ruangan lagi yang dalam keadaan terkunci, Leehans yakin bahwa Desta ada di dalam kamar itu.
Dikamar milik Stella, Desta masih berusaha menenangkan dirinya. Meski sayup-sayup terdengar percakapan dua lelaki, dirinya tidak paham, karena keduanya menggunakan detail bahasa Jepang. Yang pasti salah satunya adalah si gila Alex, dan siapa seseorang yang menggedor pintu cottagenya sekaligus telah menyelamatkan dirinya dari perbuatan Alex?
Ketakutan kembali datang saat pintu kamar tiba-tiba diketuk dari luar. Desta berdiam dan keringat dingin mulai keluar di tubuhnya. Ketukan itu berhenti sejenak dan terganti dengan suara yang sangat dikenalinya.
__ADS_1
"Desta keluarlah sebentar, Alex sudah pergi. " Suara Leehans seperti guyuran es dijantungnya, yang mengubah rasa takut jadi keterkejutan.
Serta merta diputarnya anak kunci, dan dibukanya pintu itu dengan rasa lega yang tak terkira. Disambutnya tubuh tinggi besar di depannya dengan mata berkaca- kaca. Rasa syukurnya berubah jadi tangis sesenggukan di depan lelaki itu. Sejenak dihempasnya rasa sesak selama ini dengan tangisnya yang menumpah ruah mengalir jatuh di pipinya. Desta seakan hilang rasa malunya sejenak di hadapan lelaki tampan itu.
Leehans mengamati Desta tanpa mampu berbuat apapun. Dibiarkannya gadis itu menangis sepuas hati di depannya. Bukankah itu cara perempuan mendapat nyaman perasaannya?
Tangis Desta telah mereda, dirapikan matanya dengan tangan pada posisi masih menunduk. Perlahan diangkat kepalanya memandang wajah Leehans. Keduanya saling menatap lama, kini Desta mulai merasa malu dan menunduk lagi. Tak tahu bagaimana harus berucap terimakasih pada lelaki itu. Desta kembali terkejut saat kepala Leehans mendekati wajahnya.
"Jangan menangis lagi, matamu hampir tidak terlihat, tapi rambutmu sangat indah Desta, mana penutup kepalamu, apakah Alex yang melakukannya? "
Leehans berbisik di telinganya.
Kini Desta lebih terkejut lagi, benar-benar malu pada lelaki itu, dia berlari masuk secepat mungkin dalam kamarnya. Leehans yang terus mengawasi gerakan Desta, seperti melihat peri cantik yang berlarian dengan rambut indahnya yang berkilau. Leehans berharap gadis itu tidak mengalami efek trauma atas kejadian yang menimpanya barusan.
Sebenarnya Leehans tidak berniat menyusul Benn dan Desta ke pantai. Namun matanya tidak bisa cepat terpejam, lagipula saat makan malam mommynya juga terus-terusan membujuknya untuk ikut pergi ke pantai. Diapun berangkat setelah lewat tengah malam, dan mengemudi mobilnya sendiri dengan kecepatan penuh menuju pantai Morito, sebagaimana yang diinfokan oleh Benn petang tadi.
Tiba di lokasi, dilihatnya beberapa sepupu Benn tengah tertidur di bangku-bangku cottage. Nampaknya mereka barusan pesta minum alkohol, berserakan botol-botol , gelas dan bungkus makanan di sekitar mereka tidur.
Leehans berniat menelpon Benn, namun sebelum panggilan itu tersambung, dia melihat Alex nampak keluar dari salah satu cottage dengan gelagat yang tidak biasa. Segera di matikannya sambungan telepon pada Benn, dia melangkah mengikuti arah perginya Alex.
Alex nampak berhenti di salah satu cottage yang terlihat lengang. Pria itu mendekati pintu dan mengetuknya dengan keras. Tak berapa lama, pintu terbuka dan nampak seorang gadis yang sangat cantik dengan rambut hitam sepinggang. Leehans seperti tidak asing dengan gadis itu, hatinya terkesiap begitu sadar siapa gadis yang membuka pintu itu. Terlebih saat Alex mencengkeram tangan gadis itu dan menutup pintu dengan tergesa. Leehans paham apa yang terjadi.
####
π€π€π€ Terimakasih udah klik novel ini..
Harap fukung author..tinggalkan like. komen dan vote πππβ€β€
__ADS_1