Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Mrs. Lee Kritis # 67


__ADS_3

Leehans melajukan sendiri mobilnya membelah jalan raya, menuju rumah sakit terdekat dan terbaik dari rumahnya di Tokyo, The University of Tokyo Hospital. Kecepatan mobilnya sangat tinggi, berharap segera sampai untuk mendapat pertolongan bagi ibunya yang sedang kritis karena serangan di jantungnya.


Ayahnya memangku kepala ibunya dengan tegang dan terlihat berkomat kamit membaca doa agar istrinya selamat serta baik-baik saja. Desta duduk di sebelah Mr. Lee, memegani kaki Mrs. Lee dan memijatnya perlahan agar peredaran darah itu menjadi lebih lancar.


***


Mrs. Lee telah mendapat perawatan dengan tepat oleh dokter spesialis terbaik rumah sakit. Meskipun belum siuman, namun laju jantungnya terpantau cukup stabil. Leehans, Desta, dan Mr. Lee bergantian menjenguk ke dalam kamarnya.


Mr. Lee telah meminta sebuah ruang rawat VIP untuk Mrs. Lee, berupa pavilyun mewah yang nyaman. Sehingga dirinya juga bisa tenang beristirahat sambil menunggui istri tercintanya melewati masa kritis.


Kondisi genting seperti ini bukanlah sekali dua kali, namun Mr. Lee sudah seringkali menemani istrinya menghadapi situasi yang serupa. Meski begitu, rasa cemas tetap melanda tiap kali istrinya mendapat serangan seperti ini, demikian juga perasaan Leehans terhadap ibunya setiap kali kambuh.


Setelah mendapat perawatan kurang lebih dua jam, nyonya Yuri nampak membuka matanya perlahan. Leehans yang ada di sampingnya memegang tangan ibunya dengan rasa cemas bercampur rasa lega. Sedang Desta masih berada di mushola rumah sakit untuk sholat dzuhur bersama Mr. Lee.


Nyonya Yuri perlahan sadar dengan ingatannya kembali, sadar dengan masalah apa yang membuat jantungnya kambuh tiba-tiba hari ini. Tangannya disentak-sentakkan agar terlepas dari tangan Leehans yang memegangnya. Rasa kecewa kembali menghampiri nyonya Yuri pada jagoan andalannya itu.


Leehans yang memahami kemauan ibunya segera menjauhkan tangannya, agar ibunya merasa nyaman. Didapatinya mata wanita agung itu sedang berkaca-kaca menahan air matanya. Leehans benar-benar serba salah, duduk diam mematung adalah pilihan paling tepat saat ini.


Saat Desta dan ayahnya kembali ke pavilyun, Ibunya seakan menolak keberadaan Leehans dengan isyarat tangan menghalaunya. Lambaian tangan itu hanya tertuju pada Desta dan suaminya yang baru datang menghampiri. Mr. Lee nampak gembira dengan istrinya yang telah siuman. Destapun nampak tersenyum duduk di samping nyonya Yuri bersama Mr. Lee.


Leehans berundur dan duduk di sofa ruang santai pavilyun. Wajah cool itu nampak berkerut rapat, seperti berfikir serius tentang hal penting yang mengganggu pikiranya tiba-tiba. Hal itu berkaitan dengan keinginan sekaligus kemarahan ibunya tersebut.


***


Mrs. Lee hanya perlu perawatan semalam saja, dokter mengijinkan pulang sore ini karena kondisinya telah pulih dengan sangat cepat. Perhatian tulus Desta dan suaminya berpengaruh besar pada semangat jiwa dan kesehatannya.


***


Leehans tidak ikut menjemput ibunya, tapi menunggu kedatangan ibunya dengan standby di rumah saja. Saat Leehans mendekati dan hendak menyalami tangan ibunya, Leehans mendapat penolakan. Mrs. Lee hanya melengos membuang mukanya, tidak mau menatap wajah putranya itu.


Desta pun menatap matanya tanpa ekspresi sama sekali, melewatiny begitu saja tanpa sapaan apapun. Demikian juga ayahnya, hanya menjelingnya tajam dengan mukanya yang dingin. Leehans menghirup nafas dalam-dalam, lalu hanya mengikuti di belakang dengan diam.


Ditatapnya tubuh ibunya yang telah berbaring di ranjang. Ayahnya tengah berada di kamar mandi setelah mengatur posisi tidur ibunya. Leehans sangat paham dengan kebiasaan ibunya ketika marah. Tak akan sudi menengok padanya sedikitpun.


Leehans terus menatap ibunya dengan ekspresi wajah seriusnya. Wajah tegang seperti sedang berfikir seduatu sangat berat. Sesekali rahangnya merapat keras lalu melonggar dan berulangkali seperti itu.


Puas memandang ibunya yang dirasa sudah dalam kondisi prima, Leehans segera meninggalkan kamar orang tuanya tanpa bersuara sepatahpun. Lelaki itu berjalan tenang menuju lantai dua ke kamarnya.


***


Leehans telah selesai merendam tubuhnya dalam bathup dengan air hangat cukup lama. Kini tubuhnya dirasa lebih nyaman setelah melakukan ritual mandi panjang itu. Dering ponsel terdengar cukup keras di atas ranjang. Segera diraihnya, ada nama 'Benn san' calling di layar ponselnya.


"Halo Benn..."


"Hans, bagaimana kondisi mommymu?"


Leehans sempat mengabari kondisi ibunya saat Benn menghubunginya kemarin. Benn juga memahami penyebab kambuhnya sakit jantung ibunya Leehans. Benn mengatakan akan sampai di rumahnya besok sore atau petang.

__ADS_1


"Sore ini sudah di rumah kembali. Hanya semalam saja perawatannya."


"Syukurlah. Ku harap mommymu segera pulih seperti semula Hans."


"Iya. Terimakasih Benn. Kau jadi datang?"


Leehans duduk di tepi pembaringan menunggu jawaban Benn, sambil membenarkan handuk kecil yang agak melorot dari pinggangnya. Leehans memang belum mengenakan baju sepotongpun.


"Tentu Hans. Aku datang dengan kedua orang tuaku. Mereka ingin menjenguk mommymu. Sekaligus membantuku meyakinkan Desta. Kau keberatan Hans?"


Benn terdengar sedikit ragu dengan pertanyaannya.


"Tidak masalah. Datanglah kapanpun kau ingin."


Leehans berfikir dan menyambung cepat ucapannya.


"Benn.." Aku ingin bicara."


"Tentang apa Hans?


"Ibuku sedang sakit, aku tak mau ada kebisingan. Apapun yang nanti dikatakan Desta..apapun yang akan terjadi setelah kedatanganmu, berjanjilah.. kau tidak akan membuat keributan di sini. Kau bisa Benn?"


Leehans berbicara sambil berjalan menuju ruang ganti pakaian. Diambilnya set dalaman, kemeja panjang warna abu-abu dan celana bahan warna hitam. Dibawanya ke tempat tidur untuk duduk kembali di ranjang, sambil mendengarkan jawaban dari Benn.


"Tentu Hans, jangan risau. Aku tidak gila lagi. Aku hanya tidak ingin mati berdiri karena penasaran sebelum mencobanya sekali lagi. Mungkin Desta tetap akan menanggapiku seperti waktu itu. Tapi apa salahnya mencoba bukan?"


Leehans menanggapi semua ucapan Benn dengan ekspresi sedikit gusar. Entah beban apa yang sedang mengganjal di benak lelaki menawan itu.


"Baiklah Hans.Ku rasa cukup pembicaraan ini. Ku tutup panggilanku. Bye Hans."


"Oke Benn. Sayonara."


Leehans menjauhkan ponsel dari telinganya. Samar didengar bunyi tuuut dari dalam ponsel, Benn telah mematikannya. Leehans merebahkan sebagian tubuh besarnya di ranjang dengan kaki menjuntai di bawah. Badan tidak berbaju itu seperti sebuah pahatan dengan nilai seni yang indah. Wajah tampan itu nampak kembali hanyut dalam pikirannya yang dalam.


***


Kamar nyaman dan hangat itu nampak temaram, adzan maghrib baru berlalu dari putaran live di ponselnya. Desta baru mengenakan gamis dan belum mengenakan kerudung. Gadis itu sehabis menunaikan sholat maghrib di kamarnya.


Ponsel Desta berbunyi sekali, bunyi nada pesan di whatsappnya. Sebuah pesan dari 'Hans san."


"Aku ingin makan malam di luar denganmu."


Desta membaca isi pesan itu dan mematung sejenak.


"Ibu anda sedang tidak sehat, sebaiknya standby di rumah saja."


Desta terpaksa menolak ajakan Leehans, yang sebenarnya pesan itu membuat hatinya dag dig dug tak menentu.

__ADS_1


"Hanya sebentar, kita akan segera kembali."


Pesan barusan semakin membuat hatinya bergemuruh. Apakah Leehans sedang memohon padanya? Sebenarnya apa maksud Leehans mengajaknya dinner di luar?


"Maaf tuan Hans, saya enggan."


Tak ada balasan lagi dari Leehans, hati Desta sedikit kecewa. Sebenarnya ada rasa bahagia dipaksa keluar bersama lelaki itu. Tapi keadaan nyonya Yuri itu tidak boleh diabaikannya.


***


Keduanya bertemu pada acara makan malam yang hanya bertiga dengan Mr. Lee. Leehans dan Desta nampak saling membisu. Hanya sesekali ditangkapnya mata Leehans yang kerap mencuri pandang padanya.


"Apakah nyonya telah makan, tuan?"


Desta berusaha memecah kesunyian di meja makan itu. Mr. Lee menangguk sambil memandang Desta sebentar.


"Mungkin sekarang sudah tidur, obatnya sedang bekerja."


Mr. Lee bicara pada gadis itu dengan nada yang hangat. Menoleh pada putranya sebentar, lalu kembali menghabiskan isi piringnya dengan bergegas. Setelah minum air putih di gelasnya, lelaki berumur yang masih nampak sisa tampan di wajahnya itu, mulai berdiri meninggalkan meja makan tanpa bersuara. Ayah Leehans itu berjalan cepat menuju ruang kerjanya.


Desta yang merasa canggung dengan lelaki di hadapannya, juga bergegas menghabiskan sisa airnya lalu berdiri.


"Permisi tuan Hans, saya duluan ke atas."


Desta berkata tanpa memandang wajah lelaki itu, sejak berita mengenainya muncul di televisi bersama kekasihnya pagi tadi, hati Desta seakan tak berbentuk saat memandang lelaki itu. Ada rasa sakit terselip diam-diam di hatinya.


"Desta!"


Leehans berseru memanggilnya, ditolehnya lelaki itu dengan enggan.


"Bagaimana kalau menemaniku jalan-jalan sebentar saja?"


Kali ini Leehans berdiri dari kursinya, Desta tidak ingin berhadapan dengannya.


"Maafkan tuan Hans, saya ingin di kamar saja."


Desta berkata kemudian membalikkan badan meninggalkan Leehans, yang tengah mencerna kata-katanya.


Desta merasa ada langkah kaki yang mengikuti di belakangnya. Dapat diduga siapa seseorang yang berjalan di belakang itu. Dengan menambah kecepatan langkah kakinya, gadis itu mencapai pintu kamar dan menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Namun pintu itu tertahan kuat saat berusaha ditutupnya. Desta berbalik dan melepaskan pintu itu. Benar dugaannya, lelaki sejuta pesona itulah yang sedang menahan pintu kamarnya agar tidak menutup.


#####


πŸ€—πŸ€—πŸ€— Terimakasih buat beloved reader yang menyimak novelku hingga ke sini.. Terimakasih yang telah memberi komen. like .vote.hadiah .favorite dll.


Harap terus dukung novel ini yaaaa.. tinggalkan like.komen dan vote. Terimakasiih..πŸ˜šπŸ˜šπŸ˜šπŸ˜šπŸ™πŸ™πŸ’ͺπŸ’ͺ✌✌


Selamat berpuasa😍

__ADS_1


__ADS_2