
"Bagaimana, tuan Hans? Apakah anda tetap akan mendukungku?" Desta mulai bersiap untuk mendengarkan segala aba-aba yang akan diberikan oleh wasit. Namun Desta sempat melihat anggukan kepala Leehans yang perlahan itu. Desta begitu bersemangat untuk menyelesaikan misi perlombaan renangnya kali ini. Bayangan akan tinggal mandiri di kawasan Omotesando, begitu menggiurkan baginya.
Wasit masih terlihat berdiskusi dengan panitia, Desta menggunakan kesempatan itu untuk lebih menguatkan ikatan kerudung di kepalannya. Sembari matanya berkeliling mengamati para rival dengan ekspresi wajah mereka yang tegang. Meski ini bukan kompetisi besar, tapi apapun levelnya, rasa tegang itu pasti ada.
Mata Desta menyapu wajah yang sangat tidak asing lagi. Ya! Nemo, gadis pantry itu berdiri siaga di sebelah paling ujung. Gadis itu tidak melihatnya.Sepertinya sangat fokus. Lalu disapukan lagi matanya pada para pendukung yang agak mengelilingi dekat kolam. Desta mendapati keluarga Lee sedang mengacungi jempol padanya. Desta mengangguk dan tersenyum. Leehans tidak ada di sana.
Lalu disapukan lagi matanya. Ada Leehans di sana, sedang berbincang dengan seseorang. Eh, Leehans sedang berbincang dengan Daniel, bersama Jenny digendongannya. Desta bertambah semangat saat Jenny melihat ke arahnya dan melambai tangan untuknya.
Desta tidak membalas lambaian itu, wasit telah mulai dengan aba-abanya. Sambil telinganya siaga mendengarkan instruksi dari wasit, Desta terus berdoa dalam hatinya. Hingga tibalah aba-aba wasit untuk semua peserta agar segera menceburkan diri dalam air.
Byurrr! Byurrr! Byurr ! Byurrr! Byurr! Jleburr! Suara benda beradu dengan air terdengar riuh tak beraturan. Leehans berkerut dahi memperhatikan Desta yang terjun ke air dan kini mulai berenang sangat indah. Leehans tidak mengenali gaya renang apa yang Desta pilih. Hanya dilihatnya tubuh gadis itu meliuk liuk indah dalam air. Meski gaya renang itu terkesan indah dan lamban, nyatanya posisi Desta telah berhasil melampaui beberapa rival di sisi kanan dan kirinya.
Apapun gaya renang yang dipilih Desta dalam kompetisi kali ini, yang jelas gerakan Desta sangatlah indah dan unik. Gamis birunya yang terseret mengambang dalam air, sekilas terlihat seperti ikan koki slayer yang sedang berlenggok dalam air. Adakah ikan koki slayer warna biru? Jika tidak, Destalah ikan koki slayer warna biru varian baru itu.
Pada putaran renang balik, Desta berhasil meninggalkan seluruh rivalnya di belakang. Dan semakin berjarak meninggalkan mereka saat mendekati garis finish. Bahkan Nemo pun, gadis pantry juara bertahan tiap tahun itu, harus takhluk di belakang Desta dengan jarak final yang sangat berarti. Akhirnya, Desta, si koki slayer birulah yang berhasil paling cepat menyentuh pinggir kolam.
"Onty juala!Onty juala! Holeee..Onty hebat!" Jenny bersorak-sorak sambil berjalan cepat menghampiri Desta yang duduk terengah di pinggir kolam. Gamis biru indahnya telah basah kuyub, begitu juga dengan kerudungnya, kini semua menjadi berair-air.
Jenny yang siap menghambur memeluk Desta berubah diam di tempat. Bocah pintar itu tidak mau memeluk Desta yang basah.
"Yaah..baju onty bacaah... " Jenny mengeluh dengan raut kecewanya.
"Hai Jenny....Onty rindu padamu. Onty akan peluk kamu sehabis ganti baju nanti yaa..." Desta memberi senyum hangatnya untuk Jenny, agar kecewa bocah kecil itu menghilang. Desta mulai bergerak serta beranjak berdiri dengan pelan. Desta merasa tubuhnya sedikit gemetar, mendadak perutnya sangat lapar. Mungkin lama tidak berenang, tubuhnya jadi kaget saat terkuras tenaganya demi jarak tempuh renang yang lumayan panjang itu.
Daniel yang menyusul langkah putrinya, telah sampai di samping Desta lebih dulu. Disusul Leehans, Mrs. Lee dan kak Leezha. Kemudian datang Benn dan Erik. Orang-orang yang datang mendekat semakin banyak. Memandang Desta dengan sangat takjub, disertai bermacam ekspresi berlainan dari wajah mereka.
Desta tidak menyadari keadaan dirinya. Baju gamis dari bahan sutra yang dipakainya, telah menempel lekat di tubuh indahnya. Bentuk badan Desta terlihat jelas dengan beberapa gunungan yang tercetak sempurna, nampak menonjol di sana sini. Saat begitu, Desta terlihat seperti jelmaan dari Dewi asmara yang telah muncul dari dalam air. Dan dengan wajah dan gamis birunya, Desta nampak begitu mempesona.
Leehans menyadari situasi, begitu juga Mrs. Lee.
"Hei Hans..Cepat bawa Desta ke kamar! Dia bisa pingsan kedinginan!" Mrs. Lee berseru.
Leehans telah bergerak cepat, Jas yang telah di lepasnya, diselimutkan ke punggung Desta yang sekaligus mampu menutup di bagian dadanya.
Leehans memegang sebelah pergelangan tangan Desta lalu ditariknya pergi menjauh, berjalan menuju kamar pengantin yang mereka tinggalkan semalam. Leehans tidak menyadari bahwa tubuh Desta telah banyak mengeluarkan keringat dingin. Dianggapnya, kulit Desta yang basah itu adalah sisa-sisa air kolam yang menempel di tubuh gadis itu.
__ADS_1
*****
Mereka berdua telah berada dalam kamar kembali. Desta yang terasa setengah sadar karena lapar, memegangi lengan Leehans sangat erat.
"Tuans Hans..Saya sangat lapar." Desta berkata dengan pandangan berubah sayu. Berharap, Leehans akan jadi dewa penolong dalam mendapat apapun makanan untuk dimakan secepatnya.
"Desta.. Kau parah sekali, kenapa tidak katakan itu dari tadi?" Leehans sadar, tangan Desta terasa gemetar dan begitu dingin dalam kamar hangat ini. Serta ada bulir-bulir keringat, menitik keluar di dahinya.
Leehans mendudukkan Desta di sofa, lalu menghubungi seseorang dari telepon pararel yang tersedia di setiap kamar hotel. Bembicaraan itu berlangsung singkat, Leehans segera meketakkan telepon itu di tempat semula.
Tak ingin gadis itu masuk angin, Leehans meminta Desta segera menukar baju basahnya.
"Saya lupa tidak membawa gamis lagi." Desta menggeleng kuat, sambil tangannya meremas baju gamisnya.
"Bagaimanapun, kau harus mengganti bajumu. Jangan merepotkanku Desta, aku tak mau kau masuk angin." Leehans mencoba membujuknya. Tentu saja ancaman Leehans itu berhasil. Desta tidak mau membuat Leehans repot karena dirinya.Desta telah merasakan, kondisi tubuhnya memang sedang tidak baik-baik saja.
Desta berjalan ke kamar mandi dengan kepala yang terasa cukup pusing. Sebelum masuk, dihampirinya almari dan disambarnya sembarang baju paling atas, lalu dibawanya masuk dalam kamar mandi.
Desta mandi kilat di bawah guyuran air shower yang hangat. Tidak ingin berlama-lama, karena semakin berat menahan rasa lapar di perutnya. Dicarinya handuk, hanya ada selembar handuk tergantung dekat wastafel. Cukup lebar, segera dililitkan di badannya yang tidak berpakaian.Apakah Leehans juga menggunakan handuk yang sama? Desta tersenyum, ada rona merah di pipinya.
Desta telah selesai berpakaian, baju yang dipilih, ternyata dress kimono berlengan pendek dengan panjang hanya sedikit di bawah lutut. Desta merasa begitu cemas, dengan penampilan seperti itu, membuatnya enggan untuk segera keluar, Desta hanya terus bersandar di balik pintu kamar mandi. Gadis itu merasa frustasi, kegalauan melanda hatinya.
"Desta!" Panggilan Leehans terdengar tepat dari balik pintu. Desta semakin serba salah dengan hati yang berdegup.
"Desta, apa kau pingsan? Cepatlah keluar, makanan sudah datang!" Leehans kembali berseru padanya.
"Iya..! Sebentar lagi!" Desta mencoba mengeraskan suaranya.
Dalam kamar mandi, Desta sedang menutup handuk di kepalanya. Tak ada waktu lagi untuk mengulur. Makanan itu sudah datang, Desta harus mengisi perutnya segera. Daripada pingsan di sini, itu merepotkan. Lagipula, tidak salah jika Leehans melihatnya tanpa kerudung, Leehans adalah suaminya. Desta lalai akan hal itu.
Ceklek! Desta perlahan keluar dari dalam kamar mandi.
Leehans terus menunggu Desta keluar, dengan bersandar pada alamari depan kamar mandi. Kini dilihatnya seorang gadis sangat cantik berdiri didepannya dengan canggung. Dress pendek warna hitam dengan hiasan bunga-bunga warna merah yang melekat ditubuhnya, sangat serasi dengan kulit putih yang nampak di bagian tangan, lengan dan kakinya.
"Saya ingin makan." Pandangan Leehans terhenti dengan teguran lirih Desta yang menggambarkan rasa malunya.
__ADS_1
"Di meja, cepat makanlah, Desta." Leehans menjawab dengan santai, agar Desta tidak terlalu bersikap tegang di depannya.
Leehans mengikuti Desta berjalan menuju meja sofa. Terus memandang tubuh istrinya dari belakang. Punggung cantiknya berayun pelan saat berjalan. Pinggang ramping itu kontras dengan pinggulnya yang indah. Dress hitamnya menutupi paha namun menampakkan kaki jenjangnya yang putih, dan sangat menggoda saat melangkah. Leehans merasa justru dirinyalah yang sedang menahan ketegangan saat ini.
Karena fokus dengan makanan di piring yang dirasanya lezat, Desta tidak peduli dengan handuk di kepala yang mulai miring, saat mulutnya bergerak mengunyah makanan. Handuk itu semakin membuka, menampakkan sebagian rambut hitamnya yang berkilauan.
Leehans yang terus berdiri di sampingnya, merasa risih dengan pemandangan itu. Tapi ditahannya hingga Desta selesai dengan urusan perut sepuasnya.
"Desta." Leehans duduk mendekati Desta yang sudah mengosongkan isi piringnya, gadis itu tidak berminat menambah lagi sedikitpun.
"Iya." Desta menatap Leehans di sampingnya.
"Lepaskan handukmu, tidak usah berkerudung jika hanya ada aku bersamamu." Leehans berkata dengan nada meminta.
Desta merasa tersentuh, ada sedikit rasa iba dan kesadaran di hatinya. Dibiarkan tangan Leehans yang terulur menyentuh handuknya. Leehans mengambil handuk dari kepalanya.
Serta merta, rambut hitam berkilaunya jatuh terurai menutup hingga punggungnya. Desta menahan nafas menatap Leehans di sampingnya dengan sedikit rasa malu. Lelaki tampan itu hanya diam memandangnya dengan sayu tanpa kedip.
Wajah cantik mempesona Desta terlihat sempurna dengan rambut hitamnya yang panjang. Leehans seperti melihat sebuah lukisan nyata dan menggoda, terpampang di depannya. Bibir merona sensual itu sangat menantang dan membuatnya tidak tenang. Leehans begitu gelisah menahan gelora hasrat yang kerap ditahan dan kini kembali datang untuk menyiksanya.
Perubahan wajah Leehans yang pias memerah, dengan gelisahnya itu, Desta telah memahaminya. Desta ingin menghindar, diambilnya handuk dari tangan Leehans itu sambil berdiri, dengan niat mengembalikan ke kamar mandi. Namun handuk yang telah ditariknya hingga setengah itu, tiba-tiba ditarik Leehans kembali ke arahnya. Tak urung tubuh Desta jatuh menubruknya.
Tangan Leehans langsung meraih tubuhnya, hingga setengah duduk dipangkuan lelaki itu. Kepala Desta yang ada di bahu dan menengadah menatapnya, membuat Leehans hilang kendali, bibirnya dengan cepat menyambar bibir sensual yang jadi fantasinya selama ini.
Leehans tak ingin kehilangan kesempatan kedua kali. Segera mengulum bibir lembut itu dan melu-mat sepuas hatinya tanpa peduli persetujuan pemiliknya. Bibir indah itu adalah milik istrinya, tidak ada hukum yang melarang untuk menyentuh menikmatinya. Leehans merasa bebas melakukan itu.
Desta mematung tak berkutik dengan perlakuan Leehans dibibirnya.Tangannya diam memegang kuat bahu Leehans dengan rasa sangat tegang. Terasa bibirnya disesap Leehans dengan kuat namun sangat perlahan dan lembut tiada henti. Desta merasa jiwanya kembali hanyut ke dalam lubang gelap yang jauh, dengan rasa raga yang tegang dan memanas. Tangannya sebelah yang dipegang Leehans kini keduanya telah saling meremas tak beraturan tanpa henti.
#####
π€π€π€π€ Duhai beloved reader...trims udah menyimak episodenya hingga dimari... kalianlah penyemangat othor jiwa raga πππβ€
Tetap mengharap dukungannya..relakan like dan komen kalian apapun itu...πππβπ
****Note: Adegan pasutri yang ku tulis itu kurang greget ya? Kadang aku segan juga menulisnya, tapi yang baca pasti perlu penambah imun kan ya? Hhehehe. bingung akunya... ****
__ADS_1