
Perempuan berambut harum itu telah memeluknya dari belakang, wajahnya sangat dekat dengan telinga Leehans. Siapa perempuan yang berani berperilaku seintim ini padanya? Leehans menoleh cepat sambil melepasnya kasar, tangan halus itu terlepas dari melingkari lehernya.
Sudah diduganya siapa, ya Shena adalah orangnya. Leehans memicingkan mata tajam pada Shena, namun dibalas dengan ******* senyum pesona menggodanya. Wanita berkulit sangat putih itu mendekati Leehans dan berbicara sedikit manja padanya.
"Hai Hans.. Dunia yang sempit ini terlalu memahami perasaan rinduku terhadapmu."
Shena berusaha menyentuh telapak tangan Leehans, tapi segera ditepis lelaki itu dengan kasar.
"Seharusnya kau tau diri, jangan sentuh aku lagi sedikitpun."
"Aku tidak memiliki lelaki lain Hans. Kaulah yang selalu di hatiku. Aku telah lama bercerai dari pernikahanku, aku tidak bisa berpaling darimu Hans. Aku selalu ingin bersamamu."
Shena berbicara pilu pada Leehans dengan mata yang berkaca-kaca. Shena seperti wanita yang sangat lemah saat itu. Itulah Shena, wanita cantik dengan suaranya yang lembut. Lelaki manapun akan iba padanya jika melihatnya begitu.
Apakah hati Leehans yang berubah dingin dan lama membatu akan meleleh begitu saja? Mengingat betapa memuja dirinya dulu pada Shena, namun ditinggal tanpa kabar begitu saja, saat hatinya masih sayang-sayangnya pada wanita itu.
***
Jenny sepertinya telah bosan mengelilingi seluruh isi toko, balita cantik berusia tiga tahun itu nampaknya mulai lelah.Daniel yang memahami kondisi putrinya, segera meraih tubuh mungil Jenny dan menggendongnya. Desta berniat membelikan beberapa susu instan kemasan untuk Jenny.
"Mas, tunggu sini bentar ya, ku belikan Jenny susu kemasan, apa Jenny boleh minum seperti itu?"
Desta pamit pada Daniel, dokter ganteng itu sudah dipanggilnya dengan sebutan mas atas permintaannya sendiri. Daniel mengangguk dengan maksud Desta yang sangat pengertian.
"Terimakasih Ta, Jenny sangat menyukainya."
Desta mengangguk, dan segera berlalu menuju sebuah rak di depan, yang sempat dilihatnya beberapa susu kemasan tersusun rapi di sana. Desta menemukannya, dan memasukkan beberapa kotak dengan ukuran sedang ke dalam keranjang belanja.
Desta hendak membayarnya di kasir, saat tanpa sengaja melihat Leehans tengah duduk di halaman toko. Lelaki itu tidak sendiri, bersama seorang wanita sangat cantik yang sedang bermanja padanya. Oh, rupanya dia adalah Shena.
Bahkan Shena tengah mengalungkan lengannya di leher Leehans dengan mesra. Kepala mereke saling menempel, terlalu intim, Desta jadi malu sendiri. Desta sgera beringsut pergi setelah menyelesaikan pembayaranya di kasir.
Daniel masih menunggunya di tempat semula, dengan Jenny yang terlihat sudah mulai mengantuk. Putrinya itu kembali membuka lebar matanya, saat tahu Desta telah kembali dengan sekantong plastik berisi susu instant kemasan. Desta merasa gembira dengan respon yang Jenny tunjukkan dengan pemberiannya.
"Terimakasih ya tante cantik, maaf hari ini kamu justeru banyak mengeluarkan uangmu."
Daniel berucap segan pada Desta.
"Tidak masalah mas, saya suka banget anak-anak. Saya juga terimakasih, dikasih peluang untuk membelikan Jenny sesuatu."
Desta berbicara tulus pada Daniel.
"Desta.. Bisakah lain kali kita bertemu lagi?"
"InsyaAllah mas, tapi saya tidak janji ya. Atau jika Jenny ingin, mas Daniel bisa antar Jenny ke tempat saya, di rumah Leehans."
__ADS_1
Desta menawari sebuah kunjungan untuk Jenny, yang diterima Daniel sebagai peluang untuk mendekati gadis itu.
"Benarkah? Aku akan mengajak Jenny ke tempatmu dalam waktu dekat."
Daniel mengatakan rencananya dengan nada bersemangat. Keduanya kemudian beriringan menuju pintu keluar toko TV Asahi, yang justeru semakin malam semakin ramai oleh pengunjung.
Dipelataran toko, telah padat dengan banyak kendaraan pengunjung yang berjajar terparkir rapi. Desta melarikan bola matanya menyusuri pelataran yang luas itu, namun orang yang dicarinya tak nampak seujung kukupun. Mungkin mereka tengah berkencan...?
"Kau ingin pergi ke mana lagi Ta? "
Desta nampak tak fokus dengan pertanyaan Daniel. Pikirannya sibuk dengan keberadaan Leehans yang hilang tak berjejak. Daniel memahamai gelagat tubuh gadis itu, Desta seperti anak ayam terlepas oleh induknya.
"Apa yang kau pikir? Leehans? Jangan khawatir, jika dia tak datang, aku yang antar pulang."
Leehans telah mengirimi pesan untuk Daniel, lelaki itu akan datang setelah urusanya selesai.
Ucapan Daniel perihal Leehans itu, justeru membuat hati Desta semakin gundah gulana.
Namun melihat ayah dan anak yang berdiri menatapnya itu, membuat perasaannya iba. Desta tak ingin terlihat galau, yang akan membuat hati keduanya jadi tidak bersemangat.
"Bagaimana kalau kita mengunjungi Mori Art Museum? Saya ingin sekali pergi ke sana sedari dulu.."
"Kau pernah dengar tempat itu?"
Daniel nampak menyimak perkataan Desta, sambil tangannya membetulkan posisi Jenny yang ternyata telah lelap.
"Wah, Jenny tidur mas."
Desta semakin iba melihat Jenny tertidur di gendongan ayahnya. Balita itu tidak pernah melihat wajah ibunya semenjak kelahirannya. Sosok penting yang telah melahirkan balita itu telah tiada dengan cara yang mulia setelah persalinannya.
"Kita lain kali aja pergi ke Mori Art Museumnya mas, Jenny tidur. "
Desta membatalkan requestnya untuk mengunjungi museum pameran seni, hasil karya seniman modern dan kuno dari Jepang dan Internasional, di lantai ke 52 Mori Tower.
"Aku bisa tetap menggendongnya, bagaimana?"
Daniel nampak keberatan saat rencana pergi ke museum itu batal.
"Kita tunda aja mas. Jenny kan tidur."
Daniel terdiam, teringat alasannya siang tadi pada Leehans, memang alasan tadi bukanlah atas namanya, tapi dengan alasan Jennylah yang merindukan gadis ini. Hahhh .. kau ini Hans, gaya comblangmu buruk sekali!!
Lalu di mana lelaki itu? Bagus tidak usah datang, biar dirinya saja yang mengantar Desta untuk pulang.
"Oke Ta, kita tunda saja ke atasnya. Tapi berjanjilah, jika Jenny menginginkan, kau akan bersedia?"
__ADS_1
Daniel ingin gadis itu memberikan waktu lagi di kemudian hari.
"Iya mas. Aku janji buat Jenny."
Desta mengangguk menyanggupi dengan senyum tulus cerianya yang manis. Melihat senyuman indah itu, Daniel makin bersemangat akan mengambil hati Desta secara perlahan.
"Trims Ta, kau mau memahami Jenny."
Tangan Daniel bergerak akan menyentuh kepala Desta karena gemas. Tapi Desta cepat menghindarkan kepalanya dari tangan Daniel. Gadis itu menghindari sentuhan di kepalanya dari sembarang orang. Baginya, ayah Jenny pun adalah masih orang asing.
***
Leehans dengan diam-diam mengamati interaksi antara Desta dan Daniel. Keduanya tidak menyadari kehadirannya yang sedari tadi diam berdiri di tempatnya. Dua orang itu benar-benar tengah asyik saling berbincang.
"Eghheemm...!!"
Leehans berdehem sambil melangkah mendekati keduanya. Daniel menoleh padanya dengan ekspresi sedikit kecewa. Harapan mengantar Desta pulang, jadi pupus seketika.
Lain halnya dengan Desta, gadis itu menyambut kedatangan Leehans dengan wajah ceria seperti biasanya. Sebenarnya Desta tengah menyembunyikan kegembiraan hatinya saat itu. Leehans tidak perlu berlama-lama berdua dengan Shena di suatu tempat, lelaki itu telah kembali untuk menjemputnya.
"Jenny sudah tidur, apa kalian ingin tambahan waktu lagi untuk kencan ini?"
Leehans bertanya dengan wajah jahil pada Daniel, dia sengaja ingin menggoda sahabatnya itu. Diliriknya sekilas Desta di sebelahnya yang nampak manyun. Leehans paham, Desta tidak menyukai pertanyaan semacam ini.
"Hai Hans, apa urusanmu telah beres? Kau bisa memperpanjangnya, aku yang akan mengantar Desta pulang.Bagaimana?"
Deniel berkata sedikit masam pada sahabatnya itu.
"Sudah mas, Jenny tidur. Lain kali kita ajak Jenny keluar lagi. Sepertinya akan turun salju, mas Daniel cepat bawa Jenny ke mobil. Aku akan pulang dengan tuan Hans saja kali ini."
Desta berkata menengahi. Daniel seketika luluh dengan perkataan Desta padanya. Lelaki itu mengangguk, dan berjabat salam untuk pulang lebih dulu bersama putrinya. Desta sempat membelai lembut rambut Jenny sebelum dibawa ayahnya pergi masuk mobil, bocah tiga tahun itu benar-benar menggemaskan.
Daniel melambaikan tangan pada gadis cantik itu sebelum meluncur ke jalan raya. Kini mobil yang berisi anak dan ayahnya itu telah jauh. Leehans terus mengamati Desta yang termangu di tempatnya. Diajaknya gadis itu masuk ke dalam bangunan Mori Tower.
Desta mengikuti langkah panjang Leehans dengan hati penasaran. Dia tidak ingin bertanya ke mana tujuan Leehans membawanya masuk gedung Mori Tower. Langkahnya bersemangat, isi gedung itu benar-benar mecengangkan. Maha karya manusia dengan hasilnya yang luar biasa.
Leehans membawanya memasuki sebuah lift. Selain mereka, juga turut masuk beberapa orang ke dalam untuk menggunakan lift bersamaan. Ruang besi ini mulai penuh dengan pengguna.
Saat Desta berusaha menepikan diri menghindari gesekan orang, sepasang tangan menarik lembut bahunya. Desta terkaget dan menelusuri pemilik tangan itu. Ternyata Leehanslah yang menarik bahunya lebih menepi lagi.
Kini Leehans dan Desta telah saling berhadapan. Rupanya Leehans bermaksud mengasingkan Desta dari serbuan pengguna lift. Leehans membentengi tubuh Desta dengan menarik ke balik tubuhnya.
###
π€π€π€ Trims dah ngikuti karyaku hingga ke sini. Harap ninggal like, komen dan favorit yaaa.. Salam Ramadhanππππͺπͺβ
__ADS_1