Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Pengantin (sedikit 21+) # 79


__ADS_3

Leehans kembali bergeser maju mendekati, kini lelaki itu lebih merapat lagi padanya. Desta tak mampu bergerak sedikitpun, dengan hati bergemuruh hebat tak karuan, akhirnya hanya diam menunggu dengan apa yang akan dilakukan Leehans yang telah sangat dekat dengannya.


Nafas Leehans begitu tenang menerpa wajahnya. Terasa hangat dengan aroma maskulin berhembus mengenainya. Leehans begitu tenang bernafas, namun Desta susah payah mengatur nafasnya. Nafas yang hanya tersangkut lemah di lehernya. Ruangan yang temaram didukung warna cat dinding yang pekat, membuat jiwanya seperti tenggelam dalam lubang gelap yang jauh.


Saat sadar, terasa hidung dan bibir Leehans telah menempel lembut di dahinya, bibir itu begitu hangat mengenai kulit kening Desta yang halus. Dan dagu Leehans yang terasa sedikit kasar, telah juga menempel di hidung mungilnya. Desta seperti melayang dalam duduknya. Tidak pernah berani dibayangkan, bahwa Leehans akan memperlakukannya sebegini.


Leehans cukup lama mengecup kening licinnya. Desta hanya diam dalam duduk yang tegak, sambil tangannya masih dalam genggaman tangan Leehans. Lelaki itu menyudahi ciuman di keningnya, kemudian ditatapnya mata bening indah itu.


"Kau tidak ingin melepas kerudungmu?" Lehans menatapnya sangat dalam menembus ke jantung dadanya. Pertanyaan yang membuat bingung untuk menjawab. Desta hanya memegang erat ujung kerudung instannya yang lembut. Kepalanya menunduk, membuang pandangan dari Leehans yang terus menatap hangat wajahnya.


Karena sikap Desta yang enggan itu, Leehans menyimpulkan gadis itu keberatan. Sementara, baginya tidak masalah. Leehans cukup sadar, semua yang terjadi belakangan, berlaku serba mendadak. Gadis itu belum sepenuhnya menerima kenyataan yang ada. Desta telah membiarkan semua perilakunya barusan saja, itu sudah sangat bagus didapatnya.


Leehans melepas tangan Desta dari genggamannya. Kedua tangan besarnya berpindah pada kepala Desta dan mengangkatnya kembali tegak. Kepala berkerudung itu tidak lagi menunduk, tapi telah menghadapnya dengan tatapan bening yang indah.


Leehans memajukan lagi wajahnya dengan tangan tetap memegangi dua sisi kepala Desta. Biibir Leehans telah menempel kembali, kali ini di ubun-ubunnya. Bibir itu sedikit bergerak-gerak, Leehans sedang berdoa di pucuk kepalanya yang masih dilapisi kain keeudung. Desta kembali tegang, merasa dadanya kembali bergemuruh. Begini ternyata rasanya, rasa saat di cium pada ubun-ubun di kepala oleh suami saat pengantin baru.


Bibir Leehans menempel penuh di pucuk kepalanya. Bibir itu terasa bergerak-gerak, Leehans tengah berdoa. Apa yang diucap Leehans dalam doanya? Apa yang diharapkan lelaki itu dari pernikahan ini? Apakah Leehans bersungguh-sungguh dengan pernikahan tanpa cinta di hatinya? Hanya Desta sepihaklah yang menjalani pernikahan ini dengan rasa cintanya.


"Desta, aku telah lunasi apa yang ingin ku lakukan setelah menikahimu. Apa kau keberatan?" Pertanyaan Leehans telah membuyarkan lamunannya. Suara yang berat dan empuk itu membuat pikiranya kembali di kepala mungilnya.


"Tidak, tuan Hans." Desta menggelengkan kepalanya dengan cepat. Digesernya mundur sedikit tubuhnya. Jarak antara dirinya dengan Leehans kini telah agak leluasa.Ditatapnya wajah teduh itu. Leehans sedang mengenakan kemeja koko abu-abu dan sarung bergaris-garis dengan warna senada. Pecinya juga dengan warna senada, serasi dengan wajah tegasnya yang terlihat semakin cerah. Leehans benar-benar fans warna abu-abu. Namun warna itu membuat penampilan lelaki itu begitu memukau.

__ADS_1


"Maaf, saya keberatan melepas kerudungku. Apakah anda kecewa?" Desta kembali meneruskan bicaranya. Sebenarnya, Desta menyadari kesalahannya, tapi masih tidak siap melakukan perubahan.


"Aku tidak memaksa kau melepasnya Desta. Tapi aku ingin kau mau mencobanya perlahan, bagaimanapun aku suamimu. Aku berhak melihatmu, seutuhnya." Leehans mulai menampakkan keinginan terpendamnya.


Mendengar itu, Desta tidak bisa berkata apapun. Hanya wajahnya yang nampak sedikit memerah. Leehans mengerti perasaan gadis itu.


"Baiklah, kita abaikan dulu tentang ini. Kau bisa sambil memikirkannya." Leehans tidak ingin membuat Desta jadi tertekan.


"Bagaimana perasaanmu saat ini?" Leehans kembali bertanya. Lelaki itu telah duduk bersila menghadapnya.


"Saya....tentu saja rasanya lega. Semua berjalan lancar. Saya berhasil melaluinya tanpa hambatan." Desta berbicara dengan terus menatap wajah Leehans


"Apakah itu, tuan Hans?" Desta mengerutkan dahinya.


"Ulang tahun perusahaan. Kebetulan tepat di hari pernikahanku. Tapi aku tidak ingin menggabungkan keduanya. Aku tak mau merampas kegembiraan para pegawaiku. Jadi aku akan merayakannya besok." Leehans menerangkan pada Desta.


"Lalu, saya harus bagaimana? Apakah hanya berdiri di samping anda ke manapun?" Desta menerka dengan apa yang harus dilakukannya.


"Betul Desta. Kau hanya perlu memperlihatkan wajah gembiramu pada semua tamuku. Jangan sekalipun kau terlihat cemberut." Leehans membenarkan sambil sedikit tersenyum pada Desta. Senyum itu benar-benar memikat. Desta ingin Leehans tersenyum saja sepanjang waktu. Namun nyatanya hal itu justru jarang nampak dari wajah lelaki itu.


"Desta, beberapa tamuku itu adalah orang penting. Kau boleh sesekali menimpali obrolan kami. Tapi kau jangan coba-coba tebar pesona dan memikat mereka." Leehans tersenyum samar dengan sedikit masam padanya.

__ADS_1


"Saya tidak pernah melakukan hal semacam itu, apa anda pernah mendapati saya bersikap begitu?" Desta jadi kesal dengan perkataan Leehans padanya.


"Nyatanya kau adalah gadis kecil yang nakal" Leehans beranjak berdiri sambil menyentil ujung hidung runcing Desta yang mungil. Leehans masuk ke dalam kamar mandi setelah melepas peci dan meletakkan di atas almari depan kamar mandi.


Desta berfikir, apa yang harus dipakainya untuk menghadiri acara perusahaan esok hari? Sedang yang ada hanyalah gamis yang hanya melekat di badannya. Tidak pantas jika dipakainya lagi esok hari. Tidak mungkin juga memakai baju gamis pernikahannya yang tadi. Tentu akan terlihat konyol meski itu tetap indah dipakainya.


Desta pergi ke almari di depan kamar mandi. Dilihatnya isi dalam lemari, mana tahu ada gaun gamis yang pantas dipakainya. Desta memilah-milah baju demi baju itu dengan antusias dan penuh harapan. Namun tidak juga ada baju yang pantas baginya. Baju-baju yang disediakan untuknya, tak satupun ada yang panjang. Hemm.. memang akan berapa hari kak Leezha akan mengurungnya di sini?


"Huh..tak ada satupun!" Desta bergumam putus asa. Disaat hendak menutup pintu almari, mendadak sepasang tangan besar telah menyelusup di dua sisi pinggangnya. Merambat maju ke perut ratanya. Desta terkejut, berusaha melepaskan diri dari pelukan itu.


Pemilik tangan itu adalah Leehans. Kini telah menguci tubuhnya dengan kedua tangan memegang diam di perutnya. Desta serba salah dan mati gerakan. Tubuh Leehans yang tertutup sarung lembut itu telah menempel rapat di bagian belakang tubuhnya.


Jantung Desta berdegup sangat kencang. Leehans telah melingkarkan tangan di perutnya, dan memeluknya sangat erat, jadi semakin rapat melekat lagi padanya. Meski belum pernah diperlakukan begini oleh siapapun, tapi dapat dirasakannya semua bagian tubuh Leehans bagian depan itu dengan sangat sedetailnya.


Rasanya tegang sekali, tubuhnya menjadi semakin aneh dirasakan. Tulang-tulangnya seperti akan meleleh perlahan. Tubuhnya menjadi memanas tiba-tiba. Terlebih nafas Leehans berhembus hangat mengenai pipinya. Wajah Leehans telah mulai menyentuh pelipis wajahnya dari belakang. Nafasnya berhembus cepat dan memanas.


#######


πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜šπŸ˜š


Maaf... belum sampai di adegan bucin ya..beloved reader harap bersabar..tapi akan ada kok waktunya untuk bucin dewasa... Hehhehe...tapi belum nyampek yeeeerr... Terimakasih telah menyimak novelku hingga ke sini.. Harap terus dukungannya..relakan like kalian untukku... wassalamπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€

__ADS_1


__ADS_2