
Leehans dan Desta tengah dalam perjalanan, dari penjara kota menuju pemukiman elit di kawasan distrik Omotesando. Leehans berselonjor dengan menyandar punggung sambil menahan kepala Desta yang tertidur di dadanya. Leehans memakhlumi bahwa Desta masih begitu lelah akibat pikiran yang tegang selama dalam penculikan. Juga pengaruh obat untuk radang luka di tumitnya, yang masih dan harus dihabiskan.
Memandangi wajah cantik menawan yang tengah tidur di pelukan, membuat bibir tegas Leehans mengukir senyuman. Teringat saat pertama kali berjumpa, melihat gadis belia berkerudung sedang berjalan naik menyusuri tangga saat malam, menuju lantai tiga tempatnya di gedung utama, di Jakarta.
Gadis belia yang tergesa berjalan sampai tidak menyadari adanya Leehans yang berdiri memperhatikan di samping ujung tangga. Leehans penasaran mengikutinya dan menunggu di depan ruang obat. Yang akhirnya Desta keluar dengan sangat ketakutan melihat Leehans dengan lampu dari ponselnya.
Dan bertemu lagi dengan gadis belia itu esok harinya saat wawancara, yang akhirnya mengenali Leehans sebagai sosok hantu di lantai tiga malam itu. Dan nyatanya Gadis belia itu cukup berprestasi hingga akhirnya lulus dari setiap seleksi yang diikuti. Leehans selalu tersenyum-senyum sendiri setiap mengingat kisah yang cukup lucu bersama istri belianya itu.
******
"Desta..Desta..." Leehans memanggil Desta lembut di telinganya.
Desta tergeliat, sadar dari pejam rapat matanya, mengerjap beberapa kali dan mendapati wajah tampan Leehans di matanya. Desta segera menegakkan tubuh, sedikit menjauh dari badan suaminya.
"Ayo turun." Leehans yang telah keluar mobil mengulurkan tangannya. Desta menyambut dan menyusul turun.
"Lihatlah, sudah sampai. Ini mahar dariku. Rumahmu." Mobil telah dibawa sang sopir pergi menepi di garasi belakang.
Desta mengerjapkan mata jernih terangnya. Memandang berkeliling pada rumah indah dengan bangunan super megah, pemberian Leehans sebagai mahar ijab qabul pernikahan.
"Ini milikku, otto Hans?" Desta memandang wajah Leehans dengan rasa penuh takjub. Takjub akan keindahan rumahnya sekaligus takjub pada kekayaan yang dimiliki suaminya.
"Apakah etis jika aku menganggap ini juga milikku?" Leehans memandang Desta dengan tatapan hangat mesranya.
"Apakah sangat menguras tabunganmu, otto Hans?" Desta masih diliputi rasa takjub. Rumah indah sangat megah itu terdapat kolam ikan yang memanjang serta banyak ditanam pohon bunga sakura di halaman luasnya.
__ADS_1
"Desta..kau terlalu banyak berfikir." Leehans maju melangkah agak meninggalkan Desta.
"Otto Hans! Kamu telah mengeluarkan uang sangat banyak untukku!" Desta berseru, Leehans berhenti dan berbalik menghampiri Desta di tempatnya. Keduanya tengah berdiri masih jauh dari rumah, dan sedang berada di tepi kolam ikan.
Kolam ikan sangat luas dan panjang, serta dibagi jadi dua bagian. Bagian sangat dangkal dan luas, serta bagian cukup dalam tidak terlalu luas. Mungkin di bagian dalam inilah Desta bisa berenang bersama beberapa ikan koi penghuni seluruh kolamnya.
"Kau pikir aku rugi? Aku justru untung banyak, Desta chan... Rumah ini ku maharkan untukmu, dan kau siapa? Kau adalah milikku seluruhnya. Jadi jawablah, siapa yang paling diuntungkan?" Leehans yang berdiri sangat dekat, terus tersenyum memandang tubuh Desta dari ujung kaki hingga pucuk kepalanya. Desta merasa geli dengan pandangan Leehans semacam itu.
"Kamu..otto Hans..otak bisnis!" Desta tersenyum dan membuang muka ke arah kolam ikan di sampingnya.
"Dan lagi, Desta... Jika hatimu tetap merasa kurang nyaman. Ku ingatkan padamu, hartamu cukup banyak. Setelah kau mempunyai harta tambahan saat enam bulan nanti, kau boleh meminta berapa total seluruh hartamu padaku, sekaligus berapa pengeluaranku untukmu. Jika kau ingin, kau boleh menggantinya padaku. Bagaimana? Apa sekarang hatimu sudah cukup tenang?" Leehans terus berusaha menahan senyum yang mengandung tawanya.
Desta semakin bingung dengan perasaan dalam dada. Tapi maksud ucapan Leehans memang benar. Hati itu jauh lebih tenang sekarang. Setidaknya masih ada harga diri di depan Leehans. Meski lelaki itu suaminya, tapi Desta cukup malu jika terlalu bergantung segalanya pada Leehans.
Desta mendekati Leehans yang jauh lebih tinggi darinya. Desta berjinjit dan berusaha mengalungkan tangan di leher suami tampannya. Cup! Desta mencium cepat pipi Leehans. Cup! Mencium lagi lebih cepat di bibir tegas Leehans.Lalu dipandanginya mata Leehans dengan senyum tersipunya.
Leehans dan Desta saling berebut bibir dengan agresif dan sangat bersemangat. Berdiri merapat saling berciuman di tepi kolam ikan yang luas dan dangkal. Ikan-ikan koi dalam kolam hilir mudik bergantian seperti mengerti dengan saling sapa mengabarkan. Menyambut kedatangan sepasang tuan yang sedang kasmaran berdiri di tepi kolam ikan.
"Desta.. Ayo kita lihat isi rumahmu di dalam." Leehans yang melihat kelebat security berjalan dengan sopir, segera merenggangkan Desta dari peluknya. Leehans tersadar dan tidak suka jika keintiman bersama sang istri menjadi sebuah tontonan diam-diam.
Leehans begitu gesit saat membawa pergi Desta menuju rumah barunya dan menyelinap cepat masuk ke dalam ruangan. Desta sempat terpesona dengan isi perabot dan dekorasi dalam rumahnya. Namun tidak sempat terlalu mengamati, karena Leehans buru-buru menarik tangannya masuk ke dalam sebuah kamar yang besar.
Kamar milik berdua yang terasa sejuk dan sangat nyaman didiami. Terdapat alamari besar, televisi lebar, serta set sofa empuk yang mewah di dalamnya.
Leehans pergi ke kamar mandi dan keluar sebentar kemudian. Bergantian dengan Desta yang juga menggunakan kamar mandi sedikit lebih lama dari Leehans.
__ADS_1
Leehans yang resah menunggu, segera menarik Desta ke tempat tidur begitu istrinya keluar dari kamar mandi. Segera dirapati tubuh Desta dan dibaringkan di atas tempat tidur. Bibir penuh yang indah itu dengan cepat kembali di tempeli dengan bibir miliknya.
"Desta, sementara kita honeymoon di rumah kita bergantian. Di rumahku... dan sekarang di rumahmu." Leehans sejenak menjauhkan wajah istrinya untuk berbicara.
"Aku mengerti otto Hans." Desta telah lebih hanyut ke dalam gairah bersama suaminya. Segera dirangkul kembali leher keras Leehans dan dipaguti bibir tegas milik Leehans dengan bibirnya.
Kamar baru yang biasanya sepi lengang tanpa penghuni itu telah mulai terdengar bising oleh suara des..sahh..han..dan err..rang..ngan.. keduanya.
"Desta..kau lapar?" Leehans mendongak bertanya diantara kesibukan mulut dan tangannya di tubuh sang Istri.
"Sedikit....tapi aku sangat kuat.. teruskan ..otto hans.. aku tak tahan.." Ucapan Desta tentu seperti siraman pertamax pada nyala api yang berkobar di tubuh Leehans.
Leehans telah membuat keduanya tak berbenang sehelaipun yang menempel di badan. Leehans begitu lihai dan gesit melakukan pekerjaan yang baginya sungguh menyenangkan.
Dua tubuh polos tanpa tutup itu telah rapat lekat dan menyatu. Keduanya tengah mengudara menuju nikmat raga yang tak pernah terbantahkan. Rasa penasaran berkelanjutan meski tak terhitung lagi berapa kali telah dilakukan.
****
Keduanya telah terkulai lemas lunglai serasa tak bertulang. Leehans tetap memeluk Desta dengan erat di balik selimut hangat berdua.
"Penasaran?" Leehans bergeser turun dan rebah di samping badan Desta.
"Iya..semakin.. " Desta menganguk membenarkan.
"Lagi?" Leehans seperti masih berharap.
__ADS_1
"Mau..tapi makan dulu.." Desta dan Leehans tersenyum bersaman dengan ekspresi penuh makna. Hanya mereka berdualah yang paham betul apa arti dan maunya!