Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Benn dan Mangsa Barunya # 101


__ADS_3

Telah dua hari berlalu pasangan suami istri baru itu tinggal menempati rumah baru. Hunian elite di kawasan Omotesando benar-benar pilihan yang cocok untuk pengantin baru. Meski masuk dalam distrik di Tokyo, namun suasana perumaham sangat tenang, segar, dan nyaman. Jauh dari hingar bingar kota dan jalanan metropolitan. Sangat tepat sebagai solusi sementara untuk mereka berbulan madu.


Meski dalam masa hari-hari bulan madu, namun Leehaans tetap pergi bekerja ke perusahaan seperti biasa. Dia tidak ingin mengganggu urusannya serta tidak suka menumpuk pekerjaan. Seperti yang sudah-sudah, pekerjaan tertunda membuat tanggungan makin bertambah dan akan membuat kelabakan serta mood kerjanya memburuk berantakan.


Hanya Desta yang diwajikannya untuk berlibur dan menunggunya di rumah baru, di Omotesando. Desta menghabiskan harinya dengan nyaman ditemani satu orang security, satu tukang kebun, satu orang asisten wanita pengemas rumah serta satu asisten wanita pengemas dapur dan pakaian.


Sebenarnya Desta bisa saja melakukan sendiri semua pekerjaan tukang kebun, serta asisten rumah itu, terkecuali memang tidak untuk bagian security. Namun Leehans kata, melakukan semua itu justru akan terlihat serakah dunianya. Untuk apa memiliki uang berlebih, melimpah ruah dengan rizqi yang terus mengalir, tapi tidak sudi berbagi kerja dan pendapatan dengan orang lain? Jika sedekah jadi bantahan, tentu itu adalah perkara yang tetap dilakukan namun berlainan urusannya. Jika Leehans bilang begitu, lalu Desta bisa apa? Bahagia bukan?


****


Hari minggu yang cerah dan indah, Desta berenang bersama Leehans di kolam ikan koi yang bagian air dalam. Ikan-ikan koi dengan corak warna-warni itu bergegas mengungsi berduyun-duyun menuju bagian kolam air yang dangkal di sebelah. Seolah sedang menepi memberi ruang, dan tahu diri dengan adanya tuan mereka yang tengah kasmaran, dan memadu kasih di kolam air dalam. Kolam itu panjang dan lebar serta menyatu dengan kedalaman air yang berbeda.


Meski sebenarnya Desta dan Leehans tidak sedang mesra berlebihan. Hanya berenang kecil hilir mudik, bolak balik dan saling ikut-mengikuti. Dan Leehanslah yang banyak berperan sebagai ekor Desta. Begitulah... Ada tukang kebun yang sedang bekerja tidak jauh di tepi kolam air dangkal.


Sebenarnya juga ada kolam renang khusus di belakang bangunan megah berlantai dua itu. Namun Desta sedang tidak tertarik, dia ingin merasakan sensasi berenang di kolam ikan di halaman. Kolam ikan koi itu demikian luas, bersih, dan jernih nampak menggoda menyegarkan. Desta tak bisa menahan hasrat untuk menceburkan diri di sana. Leehans yang masih merasa lelah kurang istirahat, hanya pasrah menemani apa saja kemauan istrinya.


"Tidak dingin, Desta?" Leehans nampak menggosok-nggosok kedua lengannya dengan telapak tangan. Atasan baju renang Leehans, berpotongan hanya sebatas bahu. Desta menanggapinya dengan memandang Leehans sambil tersenyum agak masam.


"Kamu masih merasa dingin, otto Hans? Aku tahu.. Berenanglah sungguh-sungguh, jangan hanya mengikutiku. Lihathalah, aku tidak merasa dingin, jantungku telah bekerja sangat baik!" Desta mengambil air dengan tangkupan tangan dan mengalirkannya di leher belakang Leehans.


"Aarggh.... makin dingin Desta. Aku hampir tidak pernah berenang dengan wanita. Sekali berenang justru denganmu, aku tidak fokus, tubuhku tidak bisa bergerak bebas." Leehans bersuara agak lirih, tukang kebun itu masih di sana.


"Ha..ha..ha..Otto Hans pikir, aku terbiasa berenang dengan pria? Selain pelatih.., baru denganmu inilah begitu dekat... Lihatlah..., aku sangat professional bukan?!" Desta berseru sambil mengambang pergi dengan ayunan tangan dan kakinya. Desta terus menggerakkan tubuh seolah tanpa beban dan begitu ringan seperti kapas.

__ADS_1


****


Saat makan pagi sehabis berenang, Leehans mendapat panggilan selular dari Benn. Ternyata, Benn sedang dalam perjalanan menuju Omotesando dan sebentar lagi akan sampai.


Tak lama setelah meletak ponsel dari panggilan Benn, Daniel pun menelponnya.Rupanya, Daniel telah tahu Benn akan datang. Berhubung hari itu minggu, Daniel berniat datang bergabung, sekaligus ingin melihat rumah baru punya Desta.


"Otto Hans, apakah Benn segera kembali ke Indonesia?" Desta mengunyah makanan sambil menatap Leehans di seberang meja.


"Sepertinya tak akan lama, mengingat ini akhir tahun, biasanya perusahaan sangat sibuk." Leehans menatap istrinya menyelidik.


"Ada apa?" Leehans meletakkan sendok di piring yang telah kosong .


"Aku sangat ingin berjumpa Ajeng, aku tak pernah bisa berbicara dengannya." Desta sambil memainkan layar ponselnya.


"Setelah kasusnya selasai, kita akan ke Surabaya beberapa hari. Kau bisa menyusun rencanamu dari sekarang." Leehans sangat cepat mengambil keputusan. Tidak tahan membiarkan Desta terlihat gundah gelisah begitu.


"Desta, tolong ubah sebutanmu itu. Gunakan kata penjahat.., penculik.., atau sebut namanya saja. Jangan hubungkan lagi denganku." Leehans menatap Desta begitu serius, mata tajamnya berkilat namun tetap memandang hangat pada Desta.


"Maaf, otto Hans, maksudku wanita itu... Aku malas jika harus selalu menghadiri persidangannya." Desta berkata terus terang.


"Itu bisa ku atur Desta. Akan ada pengacara kita." Leehans memberi solusi agar Desta merasa tenang. Desta mengangguk, keduanya melanjutkan perbincangan dengan topik yang lain.


***

__ADS_1


Daniel datang lebih cepat beberapa saat dari kedatangan Benn. Kali ini Jenny tidak ikut bersama ayahnya. Gadis kecil itu mengikuti saudara-saudara sepupunya ke taman kota dari pagi buta.


Sedang Benn, ada perbedaan dari kunjungannya kali ini. Benn datang dengan membawa seorang lagi, bukan wanita atau pun salah satu sepupunya. Leehans telah hafal semuanya. Tapi seorang lelaki asing, berwajah tampan dan berkulit putih bersih.


Sekilas nampak biasa sebagaimana lelaki yang sempurna. Namun begitu dia berbicara untuk izin pergi ke toilet, logat suara yang terdengar telah menunjukkan bagaimana lelaki itu. Daniel, Desta dan Leehans saling berpandangan tak percaya. Bahkan Benn pun nampak cengengesan memandang ketiganya.


"Benn..! Darimana kau dapatkan dia? Apakah seperti itu mangsa barumu?!" Daniel tak bisa menahan rasa heran, begitu lelaki feminim itu menghilang menuju kamar mandi.


"Aku bosan dengan kehidupan monotonku. Aku ingin mencari rasa baru dan sensasinya!" Benn terang-terangan tanpa terlihat rasa bersalahnya. Leehans merasa heran, antara geram, gemas namun juga ingin tertawa.


"Itu yang kau bilang tobat, Benn? Jangan main-main, Benn! Kau berpuasa dari semua wanitamu, tapi kau buka tubuhmu untuk lelaki semacam itu. Ingatlah, Benn! Dunia akan kiamat!" Leehans mencoba menyadarkan sahabatnya.


"Ah..sudahlah Hans. Kau nikmati saja hari-hari madumu, nikmat bukan?!" Benn memandangi Leehans dan Desta bergantian, lalu mulai bicara lagi.


" Kalian tenanglah Hans, Daniel. Aku tak akan pernah hanyut karena dia. Aku hanya main-main dengannya. Aku hanya berbelok sedikit sambil menanti jodohku yang sebenarnya. Aku melakukan inipun terinspirasi darinya!" Benn tersenyum penuh makna sambil menudingkan telunjuknya pada Desta.


"Apa, Benn?!" Desta begitu terkejut dengan tudingan Benn padanya.


"Kau ingat Rika, kan. Kekasih sejenismu itu, Desta?!" Benn nampak tersenyum memandang wajah cantik milik Desta.


"Aku tidak pernah jadi kekasih Rika. Aku tidak sepertinya. Jangan salah paham kau Benn!! Lalu bagaiamana kabar Rika sekarang?" Desta mengabaikan tuduhan Benn padanya. Desta mulai paham sifat Bennard.


"Ku lihat dengan bertukar-tukar pasangan sejenisnya, gadis itu nampak bahagia." Benn nampak memandang jauh.. menunggu orang yang izin ke toilet itu datang.

__ADS_1


Daniel memperhatikan Benn yang berbicara bersama Desta, dengan sesekali geleng-geleng kepala. Sedang Lehans, kembali mengingat nama wanita yang di sebut-sebut oleh mereka barusan. Sosok Rika dengan kelakuan anehnya saat itu. Beberapa kali didapatinya Rika sedang menatap Desta penuh minat dan hasrat tersembunyinya.


" Lepas makan siang, aku akan pamit, Hans. Aku telah memesan Hotel." Benn tersenyum penuh makna. Benn bersikap begitu terang-terangan tanpa malu. Begitulah Benn, nakal dan tengil sedari kecil!


__ADS_2