Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Iya .. Saya Sudah Dijemput # 19


__ADS_3

Setelah membayar di kasir, Leehans membawa kantung-kantung berisi gamis mahal itu di satu tangannya. Dengan langkah cepat, dihentikan kaki panjangnya di salah satu eskalator dan menoleh pada Desta yang hampir membenturnya.


"Ada lagikah yang ingin dibeli? Aku kurang tahu apa saja yang kau perlukan untuk acaramu nanti. " Leehans bertanya sungguh-sungguh pada gadis di belakangnya itu.


"Tidak ada lagi tuan. " Desta tidak ingin merugikan Leehans lebih besar lagi.


Mereka berjalan keluar butik menuju mobil. Supir Leehans yang tertidur di belakang kemudi terbangun mendengar pintu mobil yang dibuka oleh Leehans. Desta disuruhnya masuk terlebih dahulu ke dalam mobil. Gadis itupun hanya diam menurut dan duduk begitu saja. Leehans berdehem bermaksud menyuruh Desta bergeser menepi, sisa kursi itu terlalu sempit untuk badan Leehans yang besar. Desta segera menepi total ke jendela mobil, dia pikir tuan Leehans akan duduk di depan bersama sopirnya.


Duduk berdua dengan Leehans di kursi mobil yang terasa sempit, membuat perasaan Desta jadi tidak nyaman. Leehans yang memahami ekspresi gadis itu, segera berpura-pura tertidur dengan menyandarkan punggung di kursi sambil menutup rapat matanya. Desta melirik Leehans yang diam tak ada gerakan, diberanikan melirik wajah lelaki itu, ditolehnya, Leehans telah tidur.


Ada bersit iba dihatinya, tuan Hans pasti lelah. Desta yang harusnya kerja padanya untuk meringankan beban, justru diberinya cuti tiada batas. Bahkan menambahi beban Leehans. Berapa banyak rupiah yang sudah dikeluarkan Leehans untuk keperluannya? Desta jadi terharu, mengingat serta menghitung berapa kira-kira kerugian Leehans karenanya.


Leehans yang menyadari kerunsingan Desta, pura-pura terbangun membuka mata. Leehans meminta supirnya, mencari sebuah restaurant Indonesia karena perutnya merasa lapar.


Beberapa ratus meter di depan, mobil berhenti di sebuah rumah makan besar dengan banyak menu dari Indonesia.


Rumah makan berlabel halal dengan nama Bintang Bali itu terlihat ramai. Banyak pengunjung yang nampak seperti orang Indonesia, sedang menikmati hidangan yang dipesan. Desta menyukai suasana ini, kerinduanya dengan segala benda berbau Indonesia, seakan langsung terobati tepat pada sasaran.


Leehans memesan makanan, tiga porsi rendang daging sapi dan tiga minuman teh madu jahe hangat. Desta tidak memilih menu apapun, diserahkannya pilihan itu pada Leehans. Sang sopir yang menolak duduk bersama, juga sekedar mengikuti apapun pilihan majikannya.


Rendang daging sapi pilihan ini rasanya begitu lezat dan empuk. Seperti tidak akan kenyang jika dimakan karena begitu enaknya. Betapa rendang adalah pencapaian yang luar biasa untuk leluhur orang Padang yang telah berhasil meramunya.


Saat fokus dengan rendangnya, ponsel Desta berdering, Benn tengah meneleponnya. Desta mengangkatnya.


"Assalamualaikum." Desta mengucap salam.


"Desta, Sopir sudah menjemput? Sudah sampai di rumah?" Benn bertanya dengan penuh perhatian tanpa menjawab salam dari Desta.


"Iya tuan Benn, saya sudah dijemput, jangan khawatir. "


"Ok Des, aku mungkin akan pulang malam, aku dan orang tuaku sedang mampir di rumah saudara kami dekat Narita, jadi jangan menungguku. " Desta mengiyakan permintaan Benn dengan anggukan kepalanya.

__ADS_1


"Mimpi yang indah, aku selalu merindukanmu. Bye calon istri, selamat malam. " Benn menutup panggilan dengan menggombalinya. Desta hanya diam tanpa respon dan menutup telepon, menyimpan ke saku gamisnya.


Dilihatnya Leehans juga menyimak panggilan Benn barusan. Pandangan mereka bertemu, tak ada kata-kata dari keduanya. Lalu kedua pasang mata itu menyerah, menunduk, tangan mereka meraih gelas teh masing-masing dan meneguknya hingga habis. Desta merasa tubuhnya mulai menghangat, terasa ringan meskipun perutnya telah terisi penuh.


Mereka sudah mulai melanjutkan perjalanan pulang. Tiba-tiba, Desta ingin meninggalkan kenangan indah sebelum pulang. Ditolehnya Leehans yang mulai tertidur itu, hatinya sedikit ragu, tapi dia ingin sekali. Diberanikannya memanggil lelaki itu dengan agak keras.


"Tuan.. "


Karena suara Desta, lelaki itu langsung bergerak dan membuka mata.


"Ada apa, kau ingin beli sesuatu? "


Desta menggeleng cepat.


"Apakah kita akan melewati sebuah Masjid?" Desta bertanya penuh harap.


Leehans langsung mengangguk dan bicara pada sopir dalam bahasa Jepang, sopir itupun juga mengangguk.


Leehans mengambil peci di laci mobilnya. Lalu turun memasuki Masjid, menyusul Desta yang telah hilang dari pandangan. Gadis itu sedang mengambil wudhu di belakang.


Desta menyelesaikan sholatnya dengan khusyuk, dirinya berada di bagian ruang khusus jamaah perempuan. Desta keluar Masjid dengan hati tenang dan nyaman. Bersamaan dirinya, Leehans juga baru keluar dari pintu bagian laki-laki.


Desta termangu melihat Leehans dengan pecinya, wajah lelaki itu terlihat cerah dan segar. Tidak biasanya Leehans berpeci begitu, benar-benar menawan. Desta menunduk dan merasa malu dengan penilaiannya. Dilangkahkan kakinya memasuki pintu mobil. Leehans mengikuti dan kembali duduk di sebelahnya. Peci itu sudah dilepas dan disimpan kembali di tempat semula.


**


Mereka sampai pukul 8.30 malam.Sopir mengemudi mobil dengan kecepatan sedang saja. Desta dan Leehans memasuki rumah disambut Mrs. Lee. Perempuan yang masih terlihat cantik itu, sangat ingin tahu dengan gamis-gamis dalam kantung belanjanya. Tapi Leehans telah menegur lembut ibunya.


"Mom, Biarkan dia istirahat. Besok saja mommy lihat apa yang dibelinya. " Mrs.Lee mengiyakan perkataan putranya dengan senyum-senyum mengerti. Disuruhnya Desta segera istirahat saja.


Setelah gadis itu tidak nampak lagi, disusulnya Leehans yang menuju kamarnya. Dipeganginya tangan putra bungsunya itu. Keduanya berhenti di pintu kamar Leehans yang masih tertutup.

__ADS_1


"Itu.. Kamu menemaninya beli pakaian ya?Jujur, mommy shock denganmu hari ini. "


Mrs. Lee berkata sambil mengedip-ngedipkan matanya dengan lucu. Leehans geli dengan ibunya.


"Benn pergi ke bandara, terus siapa yang mengambilnya dari butik itu, mom? " Leehans tahu orang tuanya juga baru pulang dari sebuah acara. Hanya saja dirinya lebih lambat sampai di rumah. Jadi ibunya seakan menangkap basah dirinya pergi bersama Desta.


"Biasanya kamu juga tidak peduli apapun haaah.. " Mrs. Lee bicara sambil menowel dagu anaknya dengan genit. "


"Daddy yang meminta aku mewalikannya dengan baik, mom. " Leehans segera membuka kamar dan mencium pipi ibunya sebelum hilang di balik pintu.


"Hah anak ini, jangan sampai lah berebut dengan Benn. "


Mrs. Lee melangkah pergi, sambil menggumam penuh khawatir pada anak lelaki kesayangannya.


**


Desta merebahkan diri setelah selesai rutinitasnya di kamar mandi. Dia berusaha tidur dengan mendengarkan lagu sholawat dari sabyan gambus. Entah, meskipun grup musik itu telah menimbulkan banyak gosip tak sedap, Desta tetap menyukai isi album dari grup itu.


Nyanyian di ponselnya berhenti, berganti dengan bunyi sebuah pesan masuk dari Benn.


"Turun salju lebat malam ini, kami menginap dirumah saudaraku di Tokyo, jadi jangan khawatir. "


"Iya. Hati-hati saja, salamku untuk keluargamu semua di sana"


Desta membalas pesan Benn dengan menahan ngantuk.


"Akan kusampaikan pada mereka, calon istriku."


Desta tidak membalas lagi pesan Benn, matanya sudah sangat berat, diapun tertidur.


####

__ADS_1


πŸ€—πŸ€—πŸ€—Trims udah ngeklik novelku.. terus pantau novelku yaa... love you...πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ™πŸ™βœŒ


__ADS_2