Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Maasss.... # 62


__ADS_3

Terus dipandanginya punggung kokoh yang menjauh bersama kaki panjangnya itu. Hingga Leehans lenyap, menyelip di balik pintu kamarnya di ujung lorong lantai dua. Desta masih terus memikirkan pertanyaan Leehans yang mungkin hanya sekedar keisengan lelaki itu padanya.


"Tentang kepergianmu ke Mori Art Museum bersamaku malam ini, apa bagimu juga bukan kencan?"


Desta terngiang kembali dengan pertanyaan Leehans sebelum pergi meninggalkannya barusan. Apa maksud lelaki tipe serius itu bertanya hal sensitif begitu padanya. Lalu apa jawaban yang tepat diberikan, jika Leehans ternyata serius bertanya? apakah iya, apakah bukan? Tentu Desta pun tak ingin memberi jawaban, bukankah Leehans bilang tidak menyukai jawabannya?


****


Di salah satu kamar di lantai dua, kamar paling besar di antara kamar-kamar lainnya, Leehans sedang membentangkan dirinya di atas kasur empuk. Perasaannya sedikit gusar, ada sedikit kecemasan yang mengganggu ketenangannya.


Shena terlalu gencar mendekatinya. Sebagai artis dan model berkelas, tentu semua gerakannya tak luput dari pantauan pihak pemburu berita yang menyemut di sekitarnya. Namun Shena tidak mengambil berat hal ini, wanita itu terlalu memikirkan keinginannya sendiri.


Leehans yang namanya dan nama keluarganya tidak kalah mentereng dari seorang artis, tentu juga akan jadi sasaran empuk para wartawan pencipta berita itu. Apalagi jika dirinya nampak sedang bersama dengan artis sekelas Shena di khalayak umum. Dapat dipastikan dirinya jugalah subjek utama yang akan diperankan di halaman utama media-media penyebar gosip.


Hal itu bukan pikiran Leehans semata. Telah terbukti kejadian tentang hal itu barusan. Saat Shena tengah menjumpainya di TV Asahi itu, Leehans mendapati beberapa wartawan tengah memotreti dirinya bersama Shena. Leehans yakin dengan apa yang akan ditulis mereka di beritanya esok hari, bahkan malam inipun bisa jadi. Terlebih mereka berdua adalah mantan pasangan kekasih, yang pernah mempunyai cerita pedih sebelumnya.


Tak terima akan jadi bahan gosip yang panas. Leehans terpaksa menggiring para wartawan itu ke rumah makan yang sepi dan bernegosiasi. Leehans keluar uang tidak sedikit hanya untuk mencegah mereka menurunkan berita miring tentangnya, meski foto-foto yang mereka dapat itu nyata adanya.


Leehans berharap tidak ada kejadian seperti ini yang akan terulang. Shena telah diperingatkan keras olehnya untuk tidak datang lagi, terlebih di depan umum. Leehans tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika wanita itu muncul lagi. Datang dengan wartawan yang mengikutinya. Sedang Leehans tidak mau terus jadi sapi perah, namun juga tidak ingin merusak reputasi baiknya, juga keluarganya.


****


Pagi ini Mr. Lee dan Mrs. Lee telah kembali mengisi kursinya semula di acara sarapan pagi. Desta nampak rapi dengan gamis modernnya yang modis warna biru tua. Penampilannya semakin cerah dengan kerudung biru mudanya yang matching dengan warna kulitnya.


Nyonya Yuri sebentar-sebentar memandang Desta dengan senyum sumringahnya. Wanita separuh baya itu sangat suka melihat gadis berhijab yang cantik dan modis seperti Desta. Andai masih muda, rasanya ingin juga memilih model fashion seperti cara Desta memadu padankan setiap busananya. Hasilnya terlihat pas dikenakan dan nyaman dipandang mata.


"Ommooo Desta san... tidak melihatmu dua hari saja, hari ini kamu makin cantik, mommy selalu suka dengan penampilanmu."


Suara ibunya Leehans yang nyaring terdengar di seluruh sudut ruang makan yang luas itu. Mr. Lee menatap istrinya sebentar lalu memandang Desta beberapa saat. Kemudian kepalanya terangguk sedikit mengiyakan perkataan istrinya.


Memang benar, Mr. Lee juga mengakui kecantikan Desta. Pantas saja Benn sangat menggilai gadis ini. Dan lelaki yang sudah dianggapnya anak sendiri itu tetap menginginkan Desta hingga sekarang. Mr.Lee selalu tahu dengan apa yang terjadi.


"Tuan dan Nyonya... bagaimana perjalanan anda? Juga sopir itu, apanya yang terluka?"


Desta menanggapi pujian Mrs. Lee itu dengan senyuman manisnya, dan tertarik dengan keadaan terkini sopir pribadi mereka.


"Sangat menyenangkan Desta. Beberapa hari lagi sopir kita akan masuk kerja lagi."


"Lain kali kau ikutlah Leehans ke Osaka. Ada neneknya di sana. Pemandangannya juga sangat indah, tempat yang nyaman untuk honeymoon."


Nyonya Yuri tersenyum-senyum kembali memandang Desta lalu berganti pada Leehans yang juga tengah meliriknya sangat tajam. Nyonya Yuri tidak mempedulikannya.


"Bagaimana pekerjaanmu Desta? Apakah Leehans memberi pekerjaan susah untukmu?"

__ADS_1


Kali ini Mr. Lee yang bertanya padanya.


"Saya sangat menyukai pekerjaan baru saya, tuan Lee. Tuan Hans sangat baik, saya akan terus belajar darinya."


Mr. Lee manggut-manggut dengan jawaban Desta. Mr. Lee sangat puas dengan putranya yang bisa diandalkannya itu.


Keadaan kembali hening, semua hanyut dalam piring masing-masing. Nyonya Yuri memandang Leehans yang menunduk dengan sendoknya. Bagaimanapun sebalnya, Leehans adalah anak lelakinya yang tetap dirindukan.


"Heehh Hans...Kau ini tidak menanyakan kabar kami hah?! Bagaimana pekerjaanmu?"


Nyonya Yuri tidak tahan untuk lama-lama mendiamkan putranya itu.


"Heeem...Nanti malam aku akan terbang ke Brunei Darussalam, Mom.."


Leehans meletakkan sendok yang habis dipakainya. Ditatapnya sekilas Desta yang juga tengah menatapnya.


"Lusa aku akan pulang. Desta, kau berangkat bersama sopir, Sharon akan membimbingmu."


Desta mengangguk dengan arahan Leehans padanya.


"Semalam kalian dari mana?"


Mr. Lee tau semalam Leehans dan Desta pulang bersama dari luar. Namun terlalu lelah untuk bangun menyambut keduanya. Dia tahu, putranya itu masih tetap berusaha mendapat calon suami untuk gadis itu.


"Bertemu Daniel."


"Untukmu?"


Mr. Lee semakin mengejar jawaban putranya.


"Desta."


Desta nampak mengerling ke arah Leehans.


"Bukan tuan, maksudnya anak mas Daniel yang ingin saya jumpai. Bukan mas Daniel."


"Ah..Desta san... Kau bahkan sudah memanggil Daniel dengan mesra.. Maaassss....."


Nyonya Yuri menggoda Desta yang terlihat semakin manis saat pipinya memerah. Wanita setengah baya itu tertawa cekikikan memandang suaminya. Mr. Lee juga nampak menahan senyumnya. Leehans hanya memandang ibunya dan Desta dengan ekspresi menunggu.


"Mas Daniel yang meminta saya memanggil begitu, Nyonya. Saya tidak ada hubungan apapun dengannya."


Desta berupaya meluruskan kebenarannya pada ibunya Leehans. Rasanya risih sekali dengan ejekan itu.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kau juga panggil dia maasss... hah??"


Nyonya Yuri menunjuk ke arah Leehans. Tidak peduli dengan jelingan tajam putranya itu padanya.


Desta menunduk jengah dengan godaan ibunya Leehans. Diliriknya Lelaki yang diharap bersuara membelanya, namun Leehans hanya diam saja memandangnya. Apakah dia juga ingin ku panggil mass saja? Seperti yang disarankan ibunya barusan? Ah...hhahaha.. itu tidak mungkin..hhahhahaa. Desta jadi ikut cekikikan namun hanya berani dalam hatinya.


"Sudahlah mom, aku pergi kerja."


Leehans beranjak dari kursi makannya. Dipandangnya Desta dengan maksud menyuruh segera mengikutinya. Agar ibunya itu tidak lagi bisa meledeknya ataupun pada Desta. Leehans merasa serangan ibunya kali ini semakin tidak tahu malu.


***


"Jika dalam dua hari ini Daniel ingin menemuimu, kau bisa di antar sopir. Atau suruh saja Daniel datang ke rumah."


Leehans berkata dengan nada sungguh-sungguh pada Desta, seperti seorang ayah yang berpesan untuk putrinya. Desta hanya mengangguk mengiyakan ucapan Leehans. Lelaki itu akan pergi jauh ke luar negeri. Negara yang berdekatan dengan Indonesia. Apakah kepergiannya hanya sendiri? Dengan siapa dia pergi? Apakah dengan Shena...?


***


Desta masih menggantikan tugas sebagai asisten. Diawalinya dengan mengambilkan secangkir kopi yang disiapan petugas di pantry.


Petugas pantry itu seorang perempuan. Gadis yang masih muda, sepertinya kurang dari usianya. Desta banyak menggunakan bahasa isyarat dengannya. Gadis asli Jepang itu tidak bisa berbahasa inggris. Prestasi terbaiknya adalah, masih memahami apa makna yes dan no, selebihnya tidak sama sekali.


Desta membuat sendiri secangkir kopi untuk dirinya. Sudah lama rasanya tidak menyeruput minuman satu itu. Dulu saat kuliah, rasanya kurang bersemangat jika mengawali pagi di kampus tanpa air nikmat itu.


Desta membawa dua buah cangkir kopi menuju ruangan Leehans. Diliriknya lelaki yang tengah mencermati laptop karjanya itu dengan wajah superiusnya. Diletakkan cangkir milik Leehans di meja, dan dibawa miliknya menuju ruang kaca. Madame Sharon sudah standby dengan komputernya di sana.


"Desta."


Tuan besar menghentikan langkahnya. Gadis itu berbalik badan, menatap menunggu pada Leehans.


"Apa yang kau bawa?"


"Kopi tuan Hans."


"Apakah sama dengan punyaku?"


"Emm..iya sama. Tapi ini buatan saya sendiri. Made in Desta."


"Bawa punyamu ke sini. Tukar dengan cangkir ini."


Leehans memerintahnya kali ini. Desta tanpa bicara melakukan apa yang diminta Leehans padanya.


"Apa kau keberatan? "

__ADS_1


"Tidak, mudah-mudahan anda suka dengan kopi buatan saya."


Desta berkata sopan pada Leehans. Baginya tidak masalah, justru ini kesempatannya mencicipi kopi yang diracik khusus buat Leehans setiap harinya. Asli kopi racikan gadis Jepang. Desta membawa kopi Leehans menuju ruang kaca dengan makin bersemangat. Leehans melirik gadis dalam ruang kaca itu, dipeganginya cangkir kopi buatan Desta, lalu diseruput kopi itu dengan wajah penasaran.


__ADS_2