
Daniel dan Jenny berpamitan pulang sebelum memasuki waktu maghrib. Ayah dan anak itu cukup lama berkunjung, Jenny selalu menolak dan merajuk saat diajak pulang oleh ayahnya. Karena kelelahan bermain bersama Desta, akhirnya Jenny tertidur di karpet bermandikan mainan di sekitar badannya.
Mrs. Lee juga ikut menunggui Jenny bermain. Namun karena efek baru meminum obat, ibunya Leehans itu tertidur di sofa dalam kamar permainan dengan posisi mengawasi Jenny saat bermain. Mrs. Lee terbangun karena Daniel menyapanya pelan untuk berpamitan.
"Eh ..Jenny, kenapa pulang..menginap sini saja ya..Daniel..." Mrs. Lee mengelus rambut dan kepala Jenny.
"Lain kali kita berkunjung lagi, jaga kesehatan ya, tante." Daniel menyalami tangan ibunya Leehans.
"Iya.., hati-hati di jalan ya Dan... Terimakasih kunjunganmu.." Mrs. Lee kembali mengusap rambut Jenny di gendongan kokoh ayahnya. Daniel mengangguk pada Mrs. Lee.
"Desta, kami pamit dulu. Jaga dirimu, jika kau tinggal di Omotesando, kunjungilah Jenny sesekali." Daniel menyalami Desta yang telah dihampirinya.
"Siap mas. Hati-hati mengemudi, salam buat kak Tanhia dan keluarga. Juga salam untuk Jenny, saat bangun nanti." Desta melepaskan tangannya dari berjabat tangan dengan Daniel.
Daniel berangkat pulang bersama putrinya dengan hati yang lapang. Baginya, jodoh bisa diusahakan dengan tangannya, namun letak jodoh juga bukan berada di tangannya. Daniel pun juga merasa gembira karena Desta telah ditemukan dalam keadaan sehat walafiat oleh suaminya.
*****
Hampir tengah malam Leehans kembali ke rumah induk dengan diantar oleh asistennya, Harry. Leehans bergeges menuju kamar besarnya di lantai dua dengan sangat bersemangat. Ingatan akan Desta yang telah tinggal bersama satu kamar, membuat kepalanya sering terganggu tidak fokus. Perasaan yang bahagia dengan rasa berdebar menyenangkan.
Leehans semakin merasa dalam mimpi, saat mengetuk pintu besar kamarnya, Destalah yang membuka pintu itu, sungguh sesuai dengan apa yang sangat diharapkan.
"Belum tidur?" Leehans mengulurkan tangannya, Desta sigap menyambut, dicium sekilas punggung tangan suaminya.
"Menunggu.." Jawaban Desta menggantung, tidak diteruskannya, justru diambilnya tas kerja di tangan Leehans.
"Menunggu...Kau menungguku, Desta?" Leehans tersenyum bersemangat.
"Menunggu kabar laporan polisi itu. Bagaimana, apakah lancar, otto Hans?" Leehans mengehela nafas sambil mengangkat kedua alisnya memandangi Desta.
"Jangan gusar, aku sudah mengurusnya. Percayakan semua padaku. Kau duduk manis di kamar saja menungguku, jangan menunggu kabar apapun." Leehans berdiri mendekati Desta di sampingnya.
"Desta, kau sudah mandi?" Leehans bertanya dengan ekspresi yang serius.
__ADS_1
"Ini pukul berapa, otto Hans?! Tentu saja sudah." Desta tersenyum sambil mengerlingkan matanya.
"Desta, aku mandi sebentar. Jangan tidur, tunggu aku. Sehabis mandi, bantulah aku bikin selusin Jenny. Apa kau mau?" Leehans memandang Desta dengan tatapan penuh makna. Desta tersenyum sedikit, wajahnya merona terlihat malu, tapi berani juga menganggukkan kepalanya.
Karena anggukan itu, Leehans melesat masuk kamar mandi dengan menyambar handuk kimononya. Desta mengulum senyum dengan hati berdebar cemas tak karuan. Belum-belum sudah merasa panas dingin di seluruh tubuhnya.
Leehans telah keluar dari kamar mandinya begitu cepat. Entah mandi atau tidak, itu meragukan. Hanya terlihat rambut basah, berbau harum dan baju tadi sudah bertukar dengan handuk kimononya. Lelaki itu memang rupawan di segala kondisi.
Leehans menghampiri meja sofa dan meneguk sebagian air mineral dari sebuah botol air. Lalu berbalik cepat menuju arah ranjang, yang sudah ada Desta tengah duduk di tepinya. Desta menyambut dengan hati yang benar-benar berdebar.
"Desta , kali ini aku harus benar-benar melakukannya. Kau siap?" Leehans yang telah duduk merapatinya, merasakan tubuh den ekspresi Desta begitu tegang. Leehans berbisik sesuatu di telinga Desta yang kemudian mengangguk. Keduanya nampak memejam mata dengan bibir komat-kamit, mungkin tengah memanjatkan doa, doa pasutri sebelum em el.
"Sebenarnya aku merasa takut otto Hans, tapi aku penasaran." Desta telah membuka mata, dia berkata jujur dengan apa yang sedang dirasanya. Leehans termenung sejenak mendengar ucapan Desta kali ini.
"Penasaran....Kau tidak pernah membayangkan?" Desta menggeleng terlihat malu. Leehans mulai menarik dan mendorongnya untuk benar-benar terbaring di tengah ranjang.
"Lalu, apa yang pernah kau tahu tentang kegiatan ini?" Leehans juga telah mulai menciumi seluruh wajahnya.
"Tapi aku pernah juga melihatnya. Ajeng suka memutar videonya di kamar asramaku." Desta tersenyum mengenang kekonyolan itu bersama Ajeng, sahabatnya yang jauh berfikir dalam tentang hal itu, hingga akhirnya Ajeng hamil tanpa tahu siapa ayah dari anak yang di kandung.
"Tentu saja ingin." Desta benar-benar jujur dengan pertanyaan Leehans.
"Lalu..?" Leehans terus berusaha melepas seluruh pakaian Desta satu persatu.
"Tentu juga harus ku tahan, demi seorang jodoh yang akan jadi suamiku." Desta terus berbicara hingga tidak ada ketegangan yang dirasa saat Leehans benar-benar melepaskan seluruh kain di tubuhnya. Desta hanya pasrah dan sedikit bergerak ataupun bergeser agar pekerjaan Leehans lebih mudah untuk melepas bajunya.
"Desta, apakah mafia-mafia itu tidak kurang ajar padamu?" Leehans bertanya sambil memandangi seluruh permukaan tubuh polos Desta yang mulus memabukkan.
Bahkan bagi Leehans, tubuh istrinya nampak lebih indah dari sosok Kate Winslet yang pernah dilukis telanjang, saat berperan sebagai Rose dalam film Titanic yang telah ditonton beberapa kali bersama kawan-kawannya.
"Tidak..sama sekali. Mereka.. tidak sekalipun.. menjamahku. Hanyah.. melukaiku sekalih di tumit., saat akuh..gagal kabur." Kalimat Desta keluar tersendat saat Leehans mengusap lebut seluruh permukaan kulit tubuhnya.
"Jadi ini em el pertamamu? Dan akukah yang menjawab penasaranmu akan rasa malam pertama, Desta?" Leehans memandang lekat wajah Desta sambil membuka pakaiannya sendiri sampai habis tak sebenangpun tersisa.
__ADS_1
"Iyah..otto Hans, tapi inih.. bukan em el bagimuh.. Hanya aku yang merasa cintah.. padamu, kau tak pernah berkata cintah..padakuh.." Desta kembali berkata tersendat sambil meremas rambut Leehans. Leehans mulai menyapu seluruh bagian tubuh dengan lidah dan mulutnya.
"Ah..Destah.. Terimaksih, kau mencintaiku? Kau.. memang gadis kecil nakal tidak ada pengalaman. Jika aku tidak cinta padamu. Aku tak akan mau menikahimu. Aku juga tak akan sudi berada di atas tubuhmu ini sekarang." Leehans merapatkan tubuh sampai tiada jengkal sedikitpun dengan tubuh istrinya. Ditutupnya mulut segar Desta itu dengan bibir dan lidahnya.
"Aishiteru, otto Hans..!!" Sejenak Desta melepas ciuman dan berbisik terengah di telinga Leehans.
"Ottoh..Hans..Apakah ini juga em el pertamamu?" Desta masih meloloskan bibirnya dari buruan lidah Leehans.
"Iya..Semua sama denganmu.. Sudah Desta, diamlah, jangan bicara apapun lagi. Aishiteru too, Destaah.. Bersuaralah jika kau merasa ingin bersuara karena perlakuanku padamu kali ini." Leehans kembali membungkam mulut Desta dengan mulutnya. Sambil memeluknya dengan rapat.
Keduanya telah saling hanyut dalam arus hasrat yang deras. Sekuat ombak lautan yang dahsyat, menerjang hebat wilayah pantai hingga hancur berantakan.
Kamar besar, senyap, dan nyaman itu hanya berisi suara-suara erotis yang keluar dari ******* keduanya yang cukup histeris. Bahkan suara yang keluar dari bibir Desta, benar-benar melebihi keinginan yang Leehans harap dari bibirnya.Dan itu menambah semangat Leehans untuk membawa istrinya menuju puncak nikmat impian keduanya.
Itu adalah making love pertama kali bagi mereka. Leehans melakukannya dengan sabar dan tidak buru-buru. Karena tak ada pengalaman satu kalipun, Leehans sempat kesusahan dan nampak ragu, bagian yang mana yang harus diterjangnya. Ada kekhawatiran jika miliknya akan masuk sesat serta maju salah arah. Bahkan, Desta sebagai pemilik zona pun masih kebingungan menunjuk di mana salah satu titik yang sedang diperlukan keduanya.
Leehans yang terus mencoba dengan sabar dan selalu bersemangat, berhasil menemukan titik itu. Berupaya menembusinya sambil membuat sakit perih yang Desta rasa jadi lebih tersamar bahkan hilang sama sekali.
Keduanya berhasil berlayar di samudera nikmat tiada bertepi. Sampai keduanya mencapai puncak nikmat dengan jiwa yang melayang bersama terbang mengudara. Dan sesaat kembali bersama terjun mendarat dengan sempurna.
Desta terengah dengan cengkeraman kuat tangannya di kulit punggung Leehans yang lembab dan basah. Leehans sedikit menggelosor di atas tubuhnya dengan nafas terengahnya.
"Apakah rasa penasaran yang kau pendam sudah terpenuhi?" Leehans yang telah pindah merebah di samping, bertanya sambil memeluk tubuh istrinya.
"Apakah hanya aku saja yang penasaran, kau tidak pernah penasara, otto Hans?" Desta menoleh wajah Leehans di sampingnya.
"Iyaa.. aku bahkan jauh lebih penasaran darimu, bahkan aku jauh lebih berat untuk menahannya selama ini." Leehans membalas tatapan Desta sangat mesra sambil tersenyum amat tampan.
"Apakah sudah tidak penasaran lagi?" Desta bertanya sambil membuang mukanya ke atas pada langit-langit kamar.
"Justru semakin penasaran berlipat-lipat, apakah kau mau mengulangnya?" Leehans mempererat pelukannya.
"Oh.. tidak otto Hans.. aku tidak ingin berlebihan. Biarkan aku istirahat." Desta menyingkirkan tangan Leehans yang mulai bergerak-gerak di tubuhnya. Lalu beranjak cepat, mengambil kimono milik Leehans dan dipakainya. Berjalan sedikit lambat ke kamar mandi tanpa sedikitpun mengeluh. Desta tidak ingin bermanja dengan suaminya sekalipun.
__ADS_1
Sedang Leehans memandang bahagia punggung sang istri hingga hilang dari tatapan. Wajahnya tak pernah kehilangan senyum sebentarpun. Senyum rasa puas sepenuh harapannya. Harapan untuk segera diberkahi dengan karunia selusin Jenny di rahim istrinya!