
Seluruh peserta kembali berkumpul di ruang aula, ini mungkin jadi pertemuan terakhir mereka. Karena sehabis acara serah terima bonus dari Mr. Lee nanti, semuanya kecuali Desta dan Rika, mereka akan dihantar balik ke yayasan masing-masing.
Pintu aula dengan tinggi lebih dari dua setengah meter telah terbuka sempurna. Sosok lelaki berkulit putih yang mereka kenal dengan direktur Benn, berjalan dengan gagah melewati pintu menuju tengah aula. Wajah dan penampilannya yang hampir sempurna, bikin hati siapapun yang melihat jadi meleleh.
Disusul lelaki setengah baya dan biasa mereka panggil asisten Lucky. Kemudian masuk pria ketiga yang bagi mereka nampak asing. Badannya tinggi tegap dan atletis, dengan kulit coklat cerahnya serta ekspresi wajah cool namun rupawan luar biasa.
Dia Leehans, meski beberapa kali mengikuti ayahnya mengunjungi Indonesia, namun tidak pernah ikut masuk yayasan. Karena ayahnya sudah cukup ditemani Benn dan Lucky.
Baginya lebih efisien mempelajari yayasan dan bisnisnya di Indonesia itu, dari gedung utama melalui link dan email. Sedang ayahnya lebih suka turun langsung di lapangan.Patutlah jika sekarang tiada yang mengenali siapa dirinya, dan itu tidak masalah untuknya.
Para gadis di ruangan itu, seperti mendapat suntikan imun segar, memandang direktur Benn dan lelaki asing itu, seakan tak ada rasa bosan. Namun benak mereka tetap bertanya, dimana Mr. Lee yang sedang mereka tunggu itu?
Pembagian bonus diawali dengan pembukaan ramah tamah dari asisten Lucky. Dia menjelaskan bahwa Mr. Lee terpaksa batal datang, karena sakit dan meminta maaf karenanya. Mengharap doa dari semuanya, untuk kesehatan beliau.
"Sebagai wakilnyanya, maka pembagian bonus akan diserahkan lanngsung oleh Tuan muda Leehans. Sekaligus perkenalan diri darinya, beliau adalah anak lelaki satu-satunya Mr. Lee."Asisten Lucky menerangkan.
Sekarang semua paham, siapa lelaki gagah yang tengah duduk di tengah aula itu. Lelaki itu mulai berdiri mengikuti asisten Lucky, yang mulai memanggil satu persatu nama peserta, guna menerima amplop berwarna coklat berisi bonus rupiah itu. Leehans menyerahkan amplop kepada tiap-tiap perwakilan yang maju ke depan, setelah nama mereka disebut asisten Lucky.
Mereka sangat senang ketika Leehans juga mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Terimakasih atas keikut sertaannya. " Lehans menyalami mereka.
"Kami lebih berterimakasih lagi tuan Leehans. "
Nama Desta disebut paling terakhir setelah nama Rika Sidempuan. Desta terharu dan berterimakasih saat mendengar ucapan selamat dari asisten lucky atas keberhasilanya.
Dengan senyum terukir tipis yang membuat wajahnya semakin manis dia bergeser langkah kearah Leehans. Namun saat dirinya sudah siap menerima haknya, tuan muda itu mengisyaratkan untuk pergi ke meja direktur Benn.
Dengan sedikit ragu, didekatinya direktur Benn yang terlihat menunggunya. Lelaki itu tersenyum begitu hangat menatap dirinya, tidak lagi sinis seperti hari pertamanya kemarin.
"Selamat atas kemenanganmu, apakan kamu sudah benar-benar siap ikut dengannya?" Benn bertanya dengan tanganya menunjuk kearah Leehans, sedang matanya tak lepas menatap Desta.
"Yang saya pahami, saya akan bekerja kepada Mr. Lee, sedang beliau berada di Jepang. Apakah saya memang akan pergi bersama Tuan Leehans? " Desta menjawab sedikit bingung.
__ADS_1
"Baiklah, kamu memang pantas, tidak rugi yayasan tempatmu mengirim dirimu. "
Desta tersenyum dan berkata terimakasih pada direktur Benn.
"Desta Galerie Aisha. "
Benn menyebut nama lengkap Desta, sambil menyerahkan sebuah amplop coklat serta dua buah sertifikat, dan dua amplop lagi warna putih. Tangan besarnya yang halus terulur ke arah Desta, gadis itu menyambutnya, mereka bersalaman beberapa saat sambil saling melempar senyum.
"Sertifikat dan amplop ini adalah hadiah dari perlombaaan ini, yang satu berikan kepada temanmu, Rika. " Benn berkata sambil menyodorkan sebuah buku formulir.
"Tanda tanganlah di sini. "
Destapun menandatangini formulir itu pada kolom bawah tanpa niat membaca apapun. Dirinya ingin segera kembali ketempatnya semula, membawa amplopnya dan bergabung dengan teman-temannya yang lain.
Benn mengambil kembali buku itu dan menyimpannya.
"Apakah sudah cukup Tuan? " Desta bertanya gusar.
"Kembalilah." Ben menjawan tanpa memandang Desta.
"Terimakasih Tuan, permisi. "
Desta tersenyum samar, dan berlalu dengan menunduk. Leehans membalas sapaanya dengan hanya mengangguk kecil , sambil melihatnya berlalu.
Desta mengantarkan titipan Benn tadi, ke kamar Rika Sidempuan yang letaknya persis di seberang kamarnya. Gadis dempal itu terlihat biasa saja mendapat tambahan hadiah yang berupa sertifikat dan uang itu. Saat Desta berbalik badan hendak kembali ke kamarnya, Rika menarik cepat pergelangan tanganya. Desta sidikit kaget, namun diam mengikuti Rika masuk ke dalam kamarnya.
"Duduklah Des, anggap saja juga kamarmu, kemarilah. " Rika mengisyaratkan Desta untuk duduk di ranjangnya.
"Trims kak Rika, tapi aku duduk sini saja, gerah. " Desta memilih duduk di kursi meja rias.
Cuaca Jakarta sore ini memang masih cukup panas, sudah hampir seminggu tidak diguyur hujan. Dikatakan musim panas, namun sesekali dalam beberapa hari, hujan masih turun deras. Sepertinya dua musim di Indonesia ini sudah bermutasi sifatnya.
Rika membuka amplop berwarna coklat yang diberikan Tuan muda Leehans. Ada nota tertulis Rp 3.000.000,- lalu dibukanya lagi amplop warna putih, ada nota tertulis Rp 10.000.000,- .
__ADS_1
"Lihat Des, lumayan hadiah yang mereka beri, sore nanti kita bisa belanja ke mall sebelah"
Desta geli dengan ajakan itu, dipungutnya kertas nota yang dijatuhkan Rika ke lantai. Ada tulisan yang menyerupai pesan
*Ranking 2*
*Rika Sidempuan*
*Selamat memulai kerja bersama Mr. Lee*
Desta memandangi Rika sambil geleng-geleng. Jantungnya kaget saat tiba-tiba bahunya dirangkul Rika dengan erat, semakin gerah dia rasakan.
"Desta mana amplopmu, ayo buka saja, aku ingin tahu berapa punyamu! "Tubuh dempal Rika memepetnya, tangan besarnya turun menggerayangi lengan tangannya.
"Gerah kak, lepaskan! " Desta risih dengan gesekan tubuh Rika, ditepisnya kuat dan diseret tubuhnya menjauhi Rika. Dibenarkanya posisi kerudungnya yang agak tertarik kebelakang sedikit, menampakkan anak rambutnya yang berkilau.
"Maaf , aku ingin membukanya di kamar saja. Permisi kak. "
Desta bergegas keluar kamar sambil mendekap amplonya. Rika bernafas kasar sambil menutup pintu kamarnya. Membanting tubuhnya ke atas kasur.
Sebenarnya tidak masalah bagi Desta membuka miliknya bersama Rika, tapi sikap Rika yang kurang sopan, agak membuatnya terkejut dan membuatnya tidak nyaman.
Akhirnya dia mengeluarkan hp dan menelepon bu Hartini melalui media wattshap. Panggilan tersambung dan cepat diangkat oleh bu Hartini. Nada gembira terdengar dari seberang telepon, mereka saling berbincang penuh rindu.
Desta banyak bercerita sambil matanya berkaca-kaca, suara bu hartini semakin membuatnya rindu. Bu Hartini sangat bahagia saat tahu Desta keluar sebagai Juara dan akan pergi bekerja ke Jepang.
Diam-diam di seberang sana, ibu milik banyak orang itu menangis. Rindu tapi tidak akan sempat bertemu. Desta menyadari isakan lirih bu Hartini, diapun mengalihkan bicarannya.
"Ibu ingin tahu tidak, berapa banyak uang yang aku dapat dari kemenanganku ini? " Desta berusaha mengubah suasana sedih itu menjadi bahagia.
*****
π€π€π€ Terimakasih sudah mampir...
__ADS_1
Harap dukungannya... tinggalin author dengan lije, komen dan favorite ya...πππππͺ