Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Kencan # 59


__ADS_3

Rumah ini sepi, pasangan Lee belum kembali juga dari Osaka.Belum ada kabar apapun tentang kepulangan mereka. Desta rindu dengan ibunya Leehans itu.


Gadis modis bergamis itu bergegas mencari Leehans di teras, namun tidak ada. Ternyata Leehans telah standby bersama mobilnya di halaman. Desta telah ditunggu Leehans lima belas menit yang lalu dalam mobil, bersama salah seorang sopir keluarganya. Kini mereka duduk bersebelahan di kursi belakang sopir.


"Maaf, sudah menunggu saya. "


Desta menoleh Leehans sambil merapikan cara duduknya. Leehans meliriknya sesaat, mematikan ponsel dan menyimpan dalam saku kemejanya.


"It's okay Desta. "


Leehans berkata adem kali ini, tidak seperti dugaannya. Desta tersenyum, suka dengan Leehans yang tidak kesal padanya, dia sabar menunggu kali ini. Leehans kebetulan menangkap senyum ceria gadis itu.


"Apakah kau bahagia dengan kencanmu ini? "


Desta heran dengan pertanyaan Leehans, baru menyadari, benarkah ini kencan, kencan bersama Danielkah maksudnya?


"Tentu saya gembira tuan Hans, saya memang jarang keluar saat malam hari. "


Desta berusaha menunjukkan kegembiraannya, wajah cantiknya memang nampak cerah berseri.


"Apakah kau pernah berkencan sebelumnya? "


Kencan? Kenapa hanya kata kencan saja yang ada di otaknya? Apakan Leehans benar-benar berharap aku menerima tawaran Dokter Daniel itu? Heemmh...


"Hal semacam ini.. tidak terhitung lagi pada saya. "


"Apakah tuan Hans belum tahu apa itu kencan? "


Desta mengembalikan kata kencan itu pada Leehans semula, ada senyum di bibirnya. Tapi Leehans memandang Desta dengan Jenaka.


"Ya sepertimu dengan Daniel itu. "


Desta tahu, Leehans memang asal-asalan saja menanyakan itu padanya.


"Kau bilang kencan semacam itu sudah tak terhitung? Benarkah? Bisa kau sebutkan dengan siapa saja itu? "


Desta lebih menyukai pertanyaan Leehans kali ini.

__ADS_1


"Beberapa dosen saya..... beberapa senior saya... beberapa teman saya.. "


Desta tertawa kecil, ingat masa-masa menyenangkan itu, dan perkataannya barusan memang benar adanya. Saat kuliah, Desta ibarat bunga melati yang wangi, dan dikerubuti banyak kumbang. Baik yang serius ingin menikahinya ataupun yang hanya menembaknya jadi pacar, memang tak terhitung. Belum kisahnya saat SMP dan SMA, beberapa kejadian lucu tentang tembak-menambak cinta yang dialaminya.


"Tapi bertemu dengan mereka, tak pernah saya sebut sebagai kencan. "


"Bukankah mereka serius denganmu? "


Leehans tertarik untuk mengetahui sisi lain gadis itu.


"Bagi saya, baru disebut kencan jika kita ada hati, sama-sama menyukai orang yang mengajak kita berjumpa. Jadi ringkasnya, saya belum pernah berkencan sekalipun. "


Desta tersenyum masam, sambil matanya menerawang jalan di depannya. Ada semburat merah di pipi mulusnya, saat menoleh Leehans yang diam-diam tertawa dengan ucapannya.


"Jadi beberapa kali kau pergi dengan Benn waktu itu, bagimu bukan kencan? "


Kali ini, Desta hanya menggelengkan kepalanya pada Leehans. Leehans teringat Benn, sahabatnya itu terlihat bersemangat setiap akan pergi atau sepulangnya dari berjalan keluar dengan Desta.


"Gilang... kalian tidak berkencan? "


Leehans tiba-tiba teringat pada pria gagah di Surabaya, yang berniat menikahi Desta, dan berdedikasi baik itu.


"Saya sudah menganggap mas Gilang seperti kakakku. Jadi meski saya sering keluar dengannya, tak ada pikiran apapun. Tak menyangka mas Gilang ada niat menikahiku... "


Kembali ada sesak di dadanya, Gilang adalah sosok lelaki baik. Semenjak hari itu, Desta tidak pernah berbicara dengannya lagi.


"Kau ingin berjumpa lelaki itu?"


Desta diam, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Untuk apa tuan Hans, saya telah mengecewakannya. Mungkin mas Gilang tidak ingin bertemu saya. Dan saya sudah terbiasa tanpa sesiapapun, hanya faktor keberuntungan yang membuat saya ada di lingkungan orang-orang baik sekarang, seperti anda dan keluarga anda misalnya.. "


"Desta, apakah bagimu aku orang yang baik? "


Desta menatap Leehans dalam-dalam, perlahan menganggukan kepalanya berulang kali. Anggukan itu membuat Leehans sedikit tertekan. Desta tidak marah padanya, bahkan gadis itu tetap manganggapnya sebagai pelindung.


"Desta..."

__ADS_1


Desta tercekat mendengar panggilan Leehans, baru kali ini lelaki itu memanggilnya cukup lembut. Desta menatap Leehans antusias.


"Desta... Atas kejadian siang tadi, aku ikhlas minta maaf, aku telah kurang ajar padamu. Aku khilaf. "


Lelaki itu bicara dengan memandang Desta sungguh-sungguh, bahkan badannya sedikit berbalik menghadap Desta.


"Jangan khawatir tuan Hans, saya paham kenapa anda bersikap demikian padaku. "


"Anda sedang menginginkan Shena. Tolong jangan pernah perlakukan saya begitu lagi. "


Leehans hanya diam dengan perkataan Desta kali ini, segera dibenarkan posisi duduknya menyandar kursi. Dalam samar cahaya mobil, lelaki itu nampak kembali dingin, rahangnya mengatup lebih keras dan merapat.


Desta menyadari hal itu, bertanya-tanya di hatinya, apakah ada ucapannya yang salah?


***


Perjalanan mobil itu berakhir di kawasan Rappongi Hills, Tokyo. Sopir menghentikan mobil, dekat dengan TV Asahi. Ternyata Daniel dan putrinya, Jenny, telah menunggu mereka di resto terdekat untuk segera makan malam.


"Apa kabar Desta? Terimakasih bersedia datang. "


Daniel menyalami Desta dengan genggaman hangat tangannya, setelah bersalam kawan dengan Leehans sebelumnya. Jenny yang digendong Daniel, nampak tak sabar mengulurkan sebelah tangannya pada Desta.


"Alhamdulillah sehat..., sama-sana dokter Daniel. "


Desta melepaskan genggaman Daniel, diulurkannya kedua tangannya untuk menyambut tangan Jenny. Kini balita imut itu telah berpindah badan, dari badan besar ayahnya bertukar ke badan langsing Desta yang harum.


Daniel nampak gembira dengan kehangatan Desta pada putrinya. Jenny terlihat sangat bahagia dalam gendongan Desta. Selama ini Jenny hanya berbagi kasih sayang dari Thania dengan, dua lelaki kecil putra Thania sendiri. Mungkin putrinya ingin memiliki seorang ibu untuknya sendiri tanpa terbagi-bagi. Daniel begitu iba dan merasa bersalah dengan putrinya itu.


Setelah selesai acara makan malam, Jenny mengajak Desta dan ayahnya memasuki toko boneka di TV Asahi. Toko ini mayoritas memajang pernak pernik visual, dari tokoh keluarga besar acara film Doraemon, dan beberapa tokoh kartun lainnya.


Desta membelikan Jenny boneka Sizuka pilihan bocah imut itu dengan uangnya sendiri. Desta juga menambahkan tokoh Nobita dan Giant untuk diberikan pada sepupu Jenny, anak Tauji Hiroshi di rumah. Biasanya anak kecil suka berebut barang baru, apapun wujud barangnya.


Daniel memandangi kehangatan Desta pada putrinya, gadis itu memohon padanya untuk membayar boneka-boneka itu sendiri dengan uangnya. Melarang pembayaran yang akan dilakukan Daniel di kasir. Daniel hanya patuh, dan kembali mengikuti dua perempuan beda usia itu, kembali berkeliling dengan setia.


Leehans yang tidak tertarik dengan isi toko Asahi itu, duduk di luar sambil mengamati keakraban mereka. Sesekali mereka bertiga tertawa gembira bersama. Leehans menunggu ingin tahu, saat ketiganya hilang di balik lorong toko. Lalu kembali memandangi saat ketiganya nampak lagi dari balik lorong toko.


Jika orang awam yang melihat keakraban antara Desta dan Jenny, serta Daniel yang siaga mengikuti. Orang-orang itu akan menilai mereka, seperti keluarga harmonis yang sangat bahagia. Desta yang nampak muda, cerah dan cantik, bersama Daniel yang gagah dan tampan, serta Jenny yang manja, terkombinasi serasi dan sedap dipandang. Leehans terus mengawasi ketiganya tanpa bosan dengan kilat mata tajamnya.

__ADS_1


Leehans yang sedang serius dengan pandangannya, tersentak saat sebuah tangan halus melingkar di bahunya, wajah harum itu juga hampir menempel di daun telinganya. Ditolehnya sedikit perempuan yang memeluknya dari belakang itu. Siapa perempuan yang berani berperilaku seintim begitu padanya!?


__ADS_2