
Leehans berjalan cepat meninggalkan Shena yang membatu menatapnya. Langkah kakinya yang panjang, berayun cepat di antara naungan pohon sakura menuju gedung perusahaannya di seberang jalan.
Seorang security sedang menahan Desta di depan pintu gedung. Karena tak bisa menunjukkan Id Card perusahaan yang diminta security, Desta memilih berhenti di sana, menunggu Leehans yang diyakininya akan segera tiba. Benar saja, tak lama muncul lelaki gagah yang ditunggu datang melenggang ke arah tempatnya.
Security yang menahan Desta mendekati bos besarnya. Penjaga tegas itu berbicara sesuatu, sambil sesekali menunjuk Desta yang diam memperhatikan mereka. Leehans mengatakan pada penjaganya agar mengenali Desta, dan memberikan akses untuk gadis itu kapanpun. Leehans menjamin bahwa Desta akan segera memiliki Id Card, untuk mempermudah pekerjaan penjaganya.
"Maaf nona Desta, silahkan anda masuk. "
Security itu membungkuk pada Desta dan mempersilahkannya mengikuti Leehans untuk masuk. Desta pun membalas kehangatan security itu, dengan memberi sedikit senyuman dan anggukan kecil kepalanya.
Memasuki perusahaan, Desta kembali berjalan mengikuti Leehans di belakang. Keduanya hanya saling membisu, hingga masuk berdua ke dalam lift khusus bagi para pimpinan direksi.
Hawa dalam ruangan lift terasa hangat. Ruang sempit dari besi kotak itu memang tertutup, hanya berganti udara saat pintunya terbuka saja. Itupun sangat jarang, mengingat pengguna yang keluar masuk hanyalah beberapa. Dan Leehans sendirilah orang yang paling sering menggunakan, selain sekretaris dan asisten pribadinya.
Desta merasa gerah ditubuhnya, lift ini terasa bergerak sangat lamban. Terlebih hanya berdua saja dengan Leehans di ruang sesempit ini. Desta tak sengaja memandang Leehans, dan lelaki itu tertangkap oleh matanya sedang menatap tajam kepadanya, Desta sedikit canggung pada Leehans yang terlihat semakin tampan itu.
"Kenapa tadi terburu-buru? Kau pergi denganku, pulang kau di depanku. "
Leehans memecah keheningan, dengan menyindir Desta yang tidak menunggunya saat di resto tadi. Desta tak punya alasan, hanya merasa tidak nyaman bersama lelaki yang sedang berurusan dengan mantan kekasihnya itu. Sehingga dengan niat memberi kesempatan, maka dia pergi duluan meninggalkan mereka berdua di sana.
Tak menyangka dapat kritikan langsung dari Leehans, Desta tak mampu beralasan, hanya membalas tatapan dalam Leehans dengan segan.
"Kenapa? Kau tidak nyaman? Ingin memberi kesempatan padaku agar berbicara padanya? "
Desta merasa di adili atas kekeliruan yang semula tak disadarinya. Gadis itu kembali menatap mata Leehans dengan diam. Ingin mengucap maaf, tapi mulutnya terasa sukar dibukanya. Tak sadar gadis itu menggigit bibir meronanya sebagian, gadis itu berusaha mengurangi gundah di hatinya. Desta nampak semakin menawan saat gundah begitu. Mata beningnya, bersinar indah menatap mata Leehans yang berkilat.
Leehans semakin tajam menatap wajah itu, bibir seksi menggemaskan itu bergerak menarik sekali. Saat ini, Leehans seperti melihat seorang peri itu kembali, peri penyihir yang mengosongkan kesadarannya. Kilatan tajam mata lelaki itu telah berubah redup bergairah. Leehans yang merasa tubuhnya memanas, bergerak sangat cepat merapati tubuh Desta tanpa sadar, sebuah keinginan liar dari dalam tubuhnya mengambil alih kendalinya. Nafas dalamnya telah berubah menjadi nafas memburu yang panas.
Desta merasa tubuhnya kian panas seketika, Tubuh besar Leehans yang menempelnya tiba-tiba, seakan menelan dirinya tak tersisa. Tangannya sempat menahan dada itu, mendorongnya menjauh namun sia-sia, kini wajah Leehans yang memerah itu mendekati wajahnya. Desta panik sekali, hatinya bergemuruh kencang. Tubuh Leehans yang merapat padanya, jelas terasa di setiap bagian tubuhnya. Sekilas bayangan dengan apa yang akan dilakukan Leehans padanya, justru membuatnya lemas tak bertulang. Desta telah berubah lemah dan tak berdaya melawannya.
__ADS_1
Ting ! Pintu lift telah terbuka dan semakin terbuka lebar. Desta kembali mendapat kekuatannya, tangannya telah bersiap mendorong dada Leehans darinya.
"Jangan salah sangka, aku hanya tidak suka kau berfikiran, aku akan menerimanya lagi bersamaku. "
Lelaki itu berkata tepat di depan wajahnya, bahkan bibir itu bergerak-gerak hampir menyentuh bibirnya. Dengan sisa nafas panas yang menyapu wajah Desta, saat Leehans berbicara begitu dekat di wajahnya. Dan aroma maskulin dari mulut Leehans, membuat Desta makin terasa tanpa tulang di tubuhnya, lunglai.
Desta membungkam, membuang pandangannya dari tatapan mata Leehans yang kembali nampak dingin padanya. Desta menyembunyikan nafas terengahnya dari lelaki itu, perlahan dijauhkan tubuhnya, terlepas dari lelaki itu. Dengan menghimpun sisa tenaga yang ada, dilangkahkan kakinya keluar dari lift dengan cepat. Meninggalkan Leehans yang berdiri mematung di belakangnya. Leehans memandang hampa punggung Desta, perlahan ikut keluar dengan langkahnya yang gontai serba salah.
***
Desta kembali ke ruangan kaca dan meneruskan tugas menumpuk yang disiapkan oleh sekretaris Leehans, madam Sharon. Dengan bersemangat, disambungnya lagi pekerjaan yang disukainya itu. Desta nampak tenggelam dalam file-file itu di ruang kaca. Leehans sesekali melirik keadaan gadis itu, apa yang dikhawatirkannya tidak terjadi. Desta nampak baik-baik saja dan tak ada tanda-tanda kemarahannya.
Leehans nampak menatap laptop kerjanya, yang padahal pikirannya jauh melayang memikirkan sesuatu.
Desta yang menurutnya sedang pobhia menikah itu, nampak baik-baik saja dengan kelakuan khilafnya barusan. Leehans sangat menyesal, kini lelaki itu merasa benar-benar merutuki kelakuan gilanya pada gadis itu.
Lamunan Leehans buyar saat mendapat sebuah telepon dari Daniel.
"Tolong aku Hans, aku ingin mengajak Desta keluar makan malam. Jenny merindukannya. Kau bisa membantuku mengaturnya? "
"Munafik, benarkah putrimu itu yang rindu? Bukan ayahnya? "
Leehans menertawakan alasan Daniel yang mengada-ada, terdengar Danielpun tertawa kecil di seberang sana. Keduanya tertawa dengan perasaan yang berlainan.
"Baiklah, akan ku coba bicara padanya, jangan kuatir Dan.. " Leehans mengalah, dia memahami keinginan sahabatnya itu.
"Trims Hans, beri aku kabar bagus secepatnya. "
"Kau tenang saja. Sampai jumpa"
__ADS_1
Leehans meletakkan ponsel itu kembali ke mejanya, masih banyak sisa kerjanya yang menumpuk di meja.
***
Diperjalanan pulang dari kantor, Desta masih terlihat canggung jika tanpa sengaja bertemu pandang dengan mata Leehans. Desta sedikit kecewa dengan dirinya sendiri, tidak mampu untuk memprotes perilaku lelaki itu terhadapnya. Justru kini, keduanya bersikap seolah tak ada kesalahan apapun yang pernah terjadi di antara mereka berdua.
"Apakah kau lelah? "
Desta menoleh lelaki disampingnya itu.
"Tidak sama sekali, saya suka. "
Desta sedikit tersrnyum.
"Jenny merindukanmu. Ayahnya ingin kau menemuinya malam nanti, Desta . Kau mau? "
Leehans menyampaikan keinginan Daniel dengan ekspresi datarnya, bagaimanapun tak ingin memaksa gadis itu untuk pergi. Desta mengernyitkan dahinya memandang Leehans yang fokus pada kemudinya ke depan.
"Dengan siapa? "
Desta tak ingin menemui Daniel sendirian. Leehans menolehnya sekilas.
"Kau ingin sopir atau aku yang antar?" Tapi ku rasa Daniel akan menjemputmu. "
"Bagaimana kalau anda saja yang mengantar saya menemui Jenny? "
Desta tak tahu, meski ada kejadian tegang barusan, tapi kepercayaannya pada Leehans belum juga berkurang. Meski tetap ada was-was di hatinya, jika terulang seperti kejadian itu lagi padanya.
"Baiklah, aku akan mengantarmu. Lepas maghrib ini bagaimana? "
__ADS_1
Desta mengangguk setuju. Jam berapapun asal Leehans yang bersamanya, Desta akan tetap merasa aman. Desta tak habis pikir dengan hal itu, ada rasa khawatir terhadap dirinya sendiri. Takut terhanyut, takut terjerumus, jadi derita karena perasaanya sendiri pada lelaki itu. Sedang lelaki itu seperti Venus baginya. Bersinar terang nampak dekat di matanya, tapi terlalu jauh untuk di sentuh tangannya.
Lelaki itu pasti masih menyimpan rasa untuk mantan kekasihnya, Shena. Leeahans hanya menutupi perasaan sesungguhnya, dirinya terlalu gengsi untuk menerima Shena kembali bersamanya. Desta begitu yakin akan hal itu. Kejadian barusan, apa yang dilakukan Leehans padanya, adalah pelampiasan kerinduan hatinya pada Shena, kekasih yang baru menemuinya. Sebersit kecewa itu melintas di hatinya.