
Hingga habis malam pun, tiada tanda-tanda akan kedatangan Leehans di villa itu. Desta berfikir mungkin lelaki itu tidak begitu saja langsung mengunjunginya. Bisa jadi dia pergi ke gedung utama, atau bahkan sudah bertemu dengan Benn dan menertawakan nasibnya? Secara mereka adalah sahabat sekaligus bersaudara.
Memikirkan kemungkinan itu, membuat semangat Desta justru berlipat. Dia harus bisa mendapat kemerdekaan diri, apapun caranya. Desta membuka ponsel di tangannya, mencari kontak Leehans dan memanggilnya. Tapi ponsel di seberang sedang tidak aktif. Apakah Leehans tidak jadi datang? Bukankah seharusnya sudah sampai berjam-jam yang lalu? Desta akhirnya tertidur kelelahan.
***
Ini hari ke sepuluh keberadaan Desta di villa ini. Meski dirinya bebas beraktivitas apapun, selama dalam pagar tinggi bangunan itu, namun rasanya seperti menunggu hukuman gantung dari penjara. Tiga hari ini Desta berusaha menghubungi Leehans, bahkan Benn, tapi keduanya bisu, ponsel mereka kompak tidak aktif.
Pernikahan yang dibilang Benn tinggal beberapa hari lagi, lelaki itu benar-benar tidak peduli perasaannya. Bahkan sempat memberi pesan untuk Desta lewat asisten Lucky. Asisten itu menyampaikan, bahwa Desta akan dijemput dua hari lagi untuk dibawa ke Hotel tempat acara berlangsung.
Desta sangat marah, hampir merutuki wasiat yang dibuat nenek Benn yang membuatnya terjerumus dalam masalah rumit ini. Namun segera disadarinya kembali bahwa sekali lagi semua terlanjur karena kecerobohannya.
Tengah hari itu, dengan perasaan galau berat dan tubuh seakan lunglai, Desta mengerjakan sholat dzuhur dengan khusyuk. Memanjatkan doa panjang dengan bermacam permintaan. Antara semangat dan putus asa, namun harapan itu tidak boleh padam.
Desta duduk termenung di tepi ranjangnya. Mencoba berfikir, barangkali ada cara yang aman untuk melarikan diri dari villa ini. Rasanya sudah tidak tahan lagi seperti ini. Hanya duduk diam tanpa berperang, seperti orang bodoh saja.Bukankah di rekeningnya sedang ada uang yang banyak? Leehans telah mentransfer uang padanya dengan jumlah yang sangat- sangat cukup, cukup untuk apa saja!
Di sela lamunannya, terdengar nada panggil dari ponselnya. Dengan rasa penasaran dan penuh harapan disambarnya ponsel itu dari atas bantal.
Leehans! Tertera nama Leehans memanggil di layar ponselnya. Karena gugup dan gerakannya terlalu cepat, jarinya justru menyentuh tanda merah yang mematikan sambungan telepon lelaki itu. Desta panik, takut terlepas , segera didialnya balik panggilan tadi, ada nada tersambung dan panggilannya diterima seseorang dari sana.
"Assalamualaikum."
Desta memberi salam super cepat, seperti ada kekuatan ajaib mengaliri tubuhnya.
"Waalaikumussalam, kau ingin meneleponku? " Terdengar suara khas itu di sana.
"Anda di mana, maukah tuan Hans menemuiku di villa? Saya benar-benar ingin bicara. "
Desta sangat berharap dalam kegusaran.
"Aku sudah tahu apa yang ingin kau bicarakan, Benn sudah mengatakan semuanya padaku. " Terdengar sahutan berat dari seberang.
"Itukah yang membuat anda tidak datang ke villa mengunjungiku? "
Perasaan Desta seakan kehilangan harapan tiba-tiba. Perasaan terlepas dari seseorang yang akan jadi pembelanya. Lelaki berkuasa yang mulai dipercayainya, kini perlahan akan berpaling menjauhinya.
__ADS_1
"Anda jahat, anda brengsek, anda sama pengecutnya dengan Benn!"
Desta mendadak marah karena kecewanya pada lelaki itu.
"Perwalian macam apa yang anda janjikan waktu itu!? "
Desta meluapkan isi hatinya yang mulai dilanda harapan kosong.
"Saya tidak butuh apapun saat ini. Ambil saja semua hak warisku sebagai ganti pembiayaan kalian padaku selama ini. Jika kurang, anggap saja aku berhutang dan akan ku usahakan untuk cepat ku lunasi! "
Desta berbicara dengan berapi-api, kini sudah merasa tidak perlu begitu sopan lagi pada siapapun. Sebutan saya itu, sudah dibuangnya berganti kata aku.Karena rasa emosinya, hilang sudah sikap halus, lembut, dan ceria, seperti sifatnya yang nampak selama ini. Perempuan saat marah dan kecewa, tajam taringnya akan keluar melebihi pisau belati.
"Dengarlah Desta, di sini aku sedang berfikir, tindakan apa yang adil ku lakukan untukmu. Mengingat Benn adalah sahabat dan juga saudaraku. Dia sudah berjanji, akan meninggalkan kebiasaan buruknya itu padaku. Dan pacarnya itu, yang kau lihat itu, sudah juga dia tinggalkan. Percayalah, ini untuk kebaikan bersama Desta. "
"Hallo .. Ta.. Desta!? "
Mendengar penjelasan Leehans, Desta justru merasa semakin lunglai. Perasaan sedih putus harapannya, kini tak bisa lagi ditahan tangisnya. Desta menangis tersedu-sedu. Juga perasaan kesal pada Leehans, tidak konsisten sebagai walinya. Perwalian yang seharusnya bisa adil berdiri di tengah.
Leehans diam berdiri di seberang sana. Lelaki itu terus mendengar isak tangis Desta yang mampu menyentuh ketegarannya. Perasaan Leehans mendadak sangat iba pada gadis itu. Leehans mengambil nafasnya dalam-dalam sebelum kembali berbicara.
Ucapan Leehans barusan seperti aliran listrik untuk Desta, tubuhnya yang lunglai mendadak segar dan bersemangat berkali lipat.
"Aku ingin kembali ke kota asalku, aku ingin pulang! "
"Keluarkan saya dari villa, bawalah saya pergi! "
Setelah berkata cepat begitu, Desta kembali menangis tersedu-sedu. Meski Leehans dianggapnya setali tiga uang dengan Benn, tapi kembali terselip rasa percaya pada lelaki itu. Desta seolah tanpa segan menunjukkan bagaimana lemah dirinya di hadapan Leehans.
"Baiklah, tolong hentikan tangisan bisingmu itu. Aku akan menemui Benn dan bicara tentang itu malam ini. Kau bersabarlah di sana. "
"Istirahatlah, aku akan menutup telepon. Kau mengerti Desta?"
Leehans mengakhiri bicaranya, tanpa menunggu jawaban Desta. Telepon itu telah dimatikannya.
Desta segera berdiri dengan sejuta semangat yang kembali mengaliri jiwanya. Ada harapan besar untuk segera terlepas dari masalah ini.
__ADS_1
***
Leehans menyandarkan punggung di kursi kerjanya yang besar. Dahinya berkerut samar, mengingat kembali tangisan Desta di seberang. Dirinya paling tidak tahan mendengar tangis perempuan di dekatnya.
Perempuan yang sering dijumpainya menangis adalah ibunya. Meski dia tahu itu kategori tangisan buaya, hatinya tetap tidak tahan melihatnya. Ibunya itu kerap menangis pura-pura, menginginkan menantu dan beberapa cucu dari Leehans. Meski rasanya sudah bosan, tapi tangisan buaya ibunya tetap membuat gusar di hati Leehans.
Desta, siapakah gadis itu baginya? Apapun artinya, gadis itulah yang membuatnya lebih cepat mendatangi Indonesia, meski itu adalah permintaan ibunya. Namun dirinya seperti kerbau dicocok hidungnya saja dengan arahan ibunya kali ini. Leehans berangkat menyusul Desta dengan alasan harus mewakili ayahnya dalam perwalian gadis yatim piatu itu. Entahlah, Leehans merasa bersemangat saja melakukannya.
Tapi saat Benn menjemput dan membawanya ke gedung utama, lelaki itu memohon membantu demi kelancaran pernikahannya dengan Desta. Karena itulah alasan Leehans menunda menjumpai gadis itu. Meski akibatnya, dia harus sedikit berbohong jika ibunya menanyakan tentangnya.
Benn berjanji pada Leehans yang nampak marah dengan kelakuannya. Benn masih menjalin hubungan bersama Inca. Padahal sebelum pertunangan dulu, Leehans telah menegaskan untuk meninggalkan siapapun kekasihnya, untuk menghormati calon istrinya, Desta.
Leehans telah mendapati kelakuan buruk Benn yang tidak berubah. Leehans telah menangkap basah Benn sedang berbuat mesum bersama Ryuka di pantai Morito waktu itu. Dan Leehans kembali memberinya kesempatan pada sahabatnya itu.
Dan sekarang Benn kembali membuat kesalahan yang diakuinya sendiri, dan bersumpah tidak akan mengotori dirinya lagi demi Desta. Benn begitu memohon dukungan dari Leehans sebagai sahabatnya, sekaligus perwalian calon istrinya.
Leehans hanya ingin mengambil keputusan dengan adil untuk keduanya. Maka itulah dia menunda nenjumpai Desta, dan menghindari komunikasi dengannya. Namun siang tadi, tiba-tiba hatinya tergerak untuk lebih mempedulikan keinginannya. Dengan penuh pertimbangan, akhirnya Leehans menelepon gadis itu.
Sudah diputuskannya untuk meminta Benn membatalkan pernikahan itu. Dan meminta Benn untuk segera mengabarkan pada orang tuanya. Sekarang bukan jaman Siti Nurbaya yang main jodoh-jodohan seperti dulu. Apalagi pihak perempuan seakan diintimidasi dan ada unsur paksaan. Pernikahan macam ini tidak boleh diteruskan. Mengenai biaya pernikahan yang sudah keluar, Leehans akan memberi kompensasi sangat besar. Ganti rugi untuk materi dan imateri yang akan dikeluarkan dari keuangan pribadi keluarganya sendiri.
Leehans membuat panggilan telepon kantor untuk Benn.
"Hai Hans, ada apa?" Suara Benn terdengar kecil, mungkin sedang di luar kantornya yang bukan di gedung utama.
"Ada hal yang ingin kubicarakan, pulanglah lebih awal. "
Leehans menjawabnya.
"Bicaralah saja sekarang, aku sedang santai, sebentar lagi ada meetting. " Suara Benn masih terdengar kecil.
"Bicara setelah pulang saja, ku tunggu Benn. Oke. "
Leehans segera menutup telepon , malas ada perdebatan lagi dengan Benn. Bayangan isak tangis Desta kembali membuat beban di hatinya.
*****
__ADS_1
***""Terimakasih sudah nyimak karya saya.. Mohon dukungan like, fav dan komentar ya... makhum anak baru.. author pemula.. banyak salah di sana-sini.. tapi masih lumayan bisa dipahami kan... kan.. kan.. ?ππ***""