Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Dalam Penculikan 1 # 86


__ADS_3

Sepertinya hari menjelang pagi, meski di luar terlihat masih gelap. Desta terbangun setelah sempat tertidur beberapa jam. Coba pasrah sementara akan nasibnya pada sang pencipta, membuat hati jadi lapang dan tenang. Desta akan akur sebentar pada keadaan, dan yakin kesempatan baik pasti datang kemudian.


Kletak..kletak ..cekrek..


Seseorang membuka pintu kamar yang dikunci dari luar, Desta memang seperti dikurung dalam kamar itu.


Lelaki semalam telah berdiri tegak di pintu kamar. Diam menunggu agar Desta keluar mengikutinya. Dengan tanpa bicara, Desta mencoba memahami bahasa isyarat lelaki itu. Meski jika lelaki itu bicara dalam bahasa Jepang padanya, Desta akan lebih mudah mengerti. Tapi Desta diam saja, tetap berpura-pura tidak mengerti apapun.


Desta diantar ke kamar mandi di luar sebelah kamar. Kesempatan itu dipergunakan sebaik mungkin untuk membersihkan diri, digunakannya potongan kecil sabun mandi yang ada. Dengan hanya berkumur tanpa gosok gigi, Desta selesai dengan urusan mandinya. Desta keluar dengan gamis dan hijab yang semalam, lelaki itu masih berdiri sabar menunggu di luar.


Sebelum dimasukkan kembali ke kamar, lelaki itu memintanya berganti baju dengan kimono dalam bahasa isyarat. Desta mengangguk, lelaki itu menutup pintu dan mengunci kembali.


Lelaki itu datang memberi makan saat tengah hari. Desta menerima dengan sangat rasa yang lega, perutnya memang sedang begitu lapar saat itu . Makanan semalam yang basi karena tidak dimakan, dikembalikannya pada lelaki itu. Lelaki itu nampak tidak suka namun diambilnya juga.


Tiba-tiba lelaki itu masuk ke dalam kamar dan mengambil bungkusan berisi kimono semalam. Ditumpahnya semua kimono di atas kasur dan memandangi Desta. Lelaki itu mendekati Desta, lalu menarik gamis dan hijabnya kasar, sepertinya marah karena Desta belum juga bertukar kimono.


Lelaki itu pergi setelah Desta berjanji akan memakai kimono itu sebentar lagi, setelah makan. Desta sempat bimbang saat perutnya telah terisi penuh makanan. Ragu untuk bertukar kimono seperti yang diucapkan, diakuinya rasa lapar memang mampu menipis iman.


Kletek..kletek...cekrek!


Lelaki itu telah muncul lagi di luar pintu dan nampak marah memandang Desta tetap dengan gamisnya. Dengan tergesa, masuk dalam kamar dan ditarik kuat gamis Desta, hingga tubuh itu terhuyung jatuh di atas kasur. Diambilnya salah satu kimono dan dilemparkannya ke arah muka Desta. Lalu lelaki itu kembali mengawasinya di pintu luar kamar.


Merasa tidak ada pilihan, Desta menutup pintu kamar dan lelaki itu menepi menutupnya. Desta buru-buru melepas gamis dan mengganti dengan kimono warna senada dengan gamisnya. Merah dan hitam bunga- bunga.


Cekrek..! Tepat sekali, lelaki itu membuka pintu saat Desta baru selesai memasukkan tangan ke lengan bajunya. Desta menghirup nafasnya dalam-dalam, serasa menang dalam sebuah peelombaan.

__ADS_1


Tapi lelaki itu tiba-tiba masuk kamar dan menarik kuat kerudungnya. Jarum pentul berjatuhan ke lantai kamar dengan kerudung di pegangan lelaki itu. Rasanya begitu terhina karena perlakuannya. Tapi Desta menahan perasaan agar tidak menumpah air mata di depan lelaki itu.


Lelaki itu hendak pergi dengan membawa gamis dan kerudung, mungkin hendak dibuangnya. Dengan panik Desta memegangi dan mempertahankan keduanya hingga tubuhnya mulai terseret oleh tarikan gamis di tangan lelaki itu.


Tiba-tiba lelaki itu menghentikan tarikannya. Desta menyangga tubuhnya dari terjerembap di atas lantai. Lelaki itu melepas gamis dan melemparkan begitu saja ke arah Desta.


Direngkuhnya gamis terakhir pemberian Leehans itu dan dipeluknya. Desta tak bisa menahan sedihnya. Gadis itu menangis tersedu-sedu, terasa sangat rindu dengan pemberi gamis itu. Desta sangat rindu ingin bertemu saat itu.


Desta terus menangis sambil mencari sesuatu. Dijumpainya kalung milik Shena yang masih tersimpan aman di kantung gamisnya. Juga pin berlian indah hadiah dari Erik, masih tersangkut aman di bagian dalam gamisnya.


Dua benda itu sangat berharga di saat dirinya sedang tidak memiliki siapa-siapa dan mempunyai apa-apa. Desta akan menggunakan kedua benda itu dengan fungsi dan momen yang berbeda. Dengan keyakinan, dirinya harus selamat dari tempat itu. Dilipatnya gamis dan kerudung itu dengan begitu rapi dan disimpan di bawah bantalnya.


Kletek..kletek...cekrek! Lelaki itu lagi... Namun datang bersama seorang wanita Jepang agak tua. Wanita itu masuk dengan membawa sebuah kotak, yang seperti berisa sebuah set make up.


Desta terseret kantuk teramat sangat, tenggelam dalam pejaman mata yang lekat. Jemari halus yang mengusap-usap wajahnya seperti alunan lagu nina bobox yang menyihir kesadarannya.


Matanya terbuka serentak saat merasa terhentak-hentak di kepala. Rupanya tangan wanita itu sedang menarik-narik rambut dan menyanggulnya dengan gaya Shimada, yaitu sanggulan khas ala Jepang.


Wanita itu terdiam puas memandang penampilan Desta dari riasannya. Diambilnya tangan Desta, dan berjalan keluar kamar menuju rumah makan. Model rumah makan itu nampak menakjubkan di siang hari. Sangat luas sekali dan berkelompok-kelompok, ada papan tulisan di tiap petak-petaknya, karena tulusan kanji, Desta tak paham artinya.


Dengan rasa bercampur di hati, perasaan was-was, takut, sedih dan penasaran, Desta yang kini berkimono tanpa kerudung di kepala, tengah dihadapkan pada seorang lelaki lain yang sedang duduk memperhatikannya. Dan lelaki kecil yang biasa mengawasinya, berada di samping lelaki baru itu dengan berdiri. Rupanya lelaki yang duduk itu adalah boss rumah makan mewah itu.


"Pakaikan dia penutup wajah. Sangat bahaya menampakkan wajahnya." Lelaki Jepanh yang duduk itu memerintah lelaki kecil dalam bahasanya.


Lelaki kecil memberi Desta face mask lebar dari kain lembut beberapa lembar pada tangannya. Hati Desta bersorak gembira dan segera mengaitkannya di telinga. Rasa tidak nyaman karena tidak lagi berkerudung, sedikit berkurang dengan menutupi sebagaian wajahnya dengan masker kain itu. Desta benar-benar bersyukur.

__ADS_1


"Ditaruh mana dia bos?" Boss duduk itu menatap Desta menilai.


"Letak saja di VIP. Larang dia tidak bersuara saat melayani tamu!" Lelaki kecil itu memberi kode Desta agar jangan pernah bersuara. Desta hanyalah mengangguk.


"Apa dia tidak bisa bicara sama sekali?" Bos duduk memandang Desta tajam.


"Mungkin bisa english bos, tapi aku tidak bisa." Lelaki kecil itu tidak bisa berbahasa inggris. Desta bergembira, ini adalah sebuah peluang, entah itu kapan.


"Dari dulu kau tidak mau belajar. Bodoh!" Lelaki duduk itu melempar pensilnya ke arah lelaki kecil, namun sigap ditangkap olehnya, dan dikembalikan semula ke hadapan boss duduk itu.


*****


Desta dibawa lelaki kecil ke sebuah ruang kaca berbentuk kotak. Sebuah ruang makan transparant tembus pandang yang sangat mewah dan bersih. Hanya ada beberapa meja dengan tamu yang sedikit. Di sana telah ada dua orang gadis Jepang berkimono, bersanggul sepertinya tanpa masker. Serta seorang lagi gadis Jepang berpakaian biasa namun sopan, juga tidak bermasker.


Mereka hanya memandang dingin kedatangan Desta tanpa ada keramahan. Sepertinya semua pelayan tamu di sini memang harus menjaga mulut untuk tidak bersuara. Lelaki kecil itu berbicara pada ketiga pelayan Jepang itu dengan sedikit lirih.


"Ajari anak baru ini. Awasi gerakannya, jika mencurigakan, cepat melapor." Ketiganya hanya mengangguk sambil mengawasi Desta dengan dingin.


Serombongan tamu dengan wajah bule, memasuki ruang makan VIP itu. Gadis tanpa kimono menyuruh Desta untuk mengikutinya dengan menggunakan isyarat matanya. Desta bergegas mengikuti di belakang, untuk segera menyambut tamu di pintu masuk. Gadis Jepang itu membungkuk sangat rendah, Destapun ikut membungkuk. Mereka masuk tanpa mempedulikan penghormatan yang dilakukan gadis Jepang itu dan Desta.


###########


###########


❤❤❤❤❤❤ Terimakasih beloved readersku!!!!... Trims atas keloyalan like kalian untuk karyaku...love youuuu!!!❤❤❤🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2