Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Kontrak Kerja # 35


__ADS_3

Saat hatinya resah menunggui Benn yang tengah terkapar, terdengar sayup suara klakson di luar sana. Desta merasa sedikit gugup, itu pasti suara mobil yang membawa Leehans, dia sudah tiba di villa dengan cepat.


Selang beberapa saat, terdengar derap kaki yang berjalan di luar kamarnya. Desta tidak mengenakan kerudung, gadis itu kebingungan mencari kerudung instannya, tapi seolah kerudung itu bersembunyi entah ke mana. Sekonyong tangannya meraih handuk mandinya, dan menutupkan di kepalanya begitu saja.


Tepat saat itu, Leehans telah berdiri di pintu kamarnya yang terbuka, Desta memang tidak menutupnya saat hendak keluar tadi. Leehans bergegas masuk, sempat melirik ke arah Benn yang terbaring di atas tempat tidur.


Leehans berjalan menghampiri Desta, menatap dengan mata penuh selidik, memandanginya dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.


Desta mengikuti setiap gerakan Leehans dengan matanya yang berkabut, ada rasa sendu terselip di hatinya.


"Bagaimana denganmu?" Leehans menanyakan keadaan Desta.


"Saya baik-baik saja."


Leehans mengangguk kecil atas jawaban itu, kemudian kembali menoleh Benn dan mendekatinya. Dirabanya wajah Benn, bantal yang mengapit tisu di kepala Benn disingkirkannya.


Terlihat olehnya kerudung Desta yang penuh bercak darah. Leehans mengambil ponsel dari sakunya, dengan senter ponsel, diamatinya luka di kepala Benn itu.


Leehans mengembalikan posisi bantal di belakang kepala Benn, lalu diteleponnya asisten Lucky yang sebentar lagi juga akan tiba di villa. Asisten Lucky adalah orang yang langsung dihubunginya, sesaat setelah Desta menghubunginya tadi.


Setelah selesai dengan panggilannya, Leehans menghampiri Desta, yang berdiri menatapnya dengan ekspresi begitu tegang.


"Apa yang sudah dilakukannya padamu?"


Leehans menanyai Desta dengan nada yang lembut, namun gadis itu hanya menggelengkan kepala lemah.


"Bagaimana kau memukulnya di sana?" Leehans bertanya lebih lembut lagi sambil menunjuk Benn di tempat tidur.


Desta memandangi Leehans sambil mencerna maksud pertanyaannya.


"Dia...Dia memaksaku di sana, aku hanya menjaga diriku, aku membela diriku..."


Desta berusaha tegas menjelaskan, meski suaranya sedikit bergetar. Gadis itu berusaha menyembunyikan tangisnya dari Lelaki di depannya itu.


"Ku pukul kepalanya dengan ini" Desta menunjukkan ponsel besar miliknya yang telah retak sangat parah, namun masih berfungsi dengan baik.


Leehans memperhatikannya dengan seksama, dipandanginya wajah Desta, ada kilat takut dibalik mata indah itu. Leehans mendekatinya, kedua tangannya menyentuh handuk yang telah melorot dari kepala gadis itu, ditariknya pelan hingga menutup seluruh rambut dan kepalanya.

__ADS_1


Kini hanyalah nampak wajah cantiknya, dengan kepala berbalut handuk. Tidak ada lagi anak-anak rambut yang terlihat berurai, dan berkilau dikepalanya.


Diperlakukan Leehans sedemikian, perasaaan Desta seakan terpanah oleh desir tak menentu. Rasa tersipu sekilas bergelayut di jiwanya. Namun kengerian yang menimpanya tadi, kembali bercokol dan meraja dalam hatinya.


Leehans berdehem kecil, sedikit manjauhkan tubuhnya tanpa mengalihkan pandangan dari gadis itu.


"Percayalah, tindakanmu itu sudah tepat."


Mendengar ucapan Leehans, ketegangan hati Desta sedikit terlepas. Ditatapnya mata tajam berkilat didepannya, mulutnya terlihat berbicara.


"Apakah akan ada polisi yang terlibat?" Desta bertanya ragu pada lelaki itu.


"Apakah kau ingin membuat laporan untuk perbuatannya?"


Pertanyaan lelaki itu seakan meyakinkan Desta, bahwa dirinya memang tidak bersalah, dan Bennlah tersangkanya. Desta menggelengkan kepalanya berulangkali, dia tak ingin memperpanjang masalah ini, harapnya ingin cepat kembali ke Surabaya. Semoga Benn tidak apa-apa dengan kepalanya.


"Bertenanglah, tukar penutup kepalamu itu dengan kerudungmu yang lain, dokter akan datang bersama Lucky."


Leehans tidak ingin melihat handuk itu melorot lagi dari kepala mungil Desta. Dengan patuh , Desta mengambil pashmina dari koper mini navynya, dan membawa masuk dalam kamar mandi untuk dikenakannya.


Dokter itu nampak mengeluarkan perlengkapan jahit lukanya dengan sigap. Dokter itu sudah menduga keadaan Benn, dari informasi yang disampaikan oleh Lucky ditelepon.


Desta keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang rapi, mendapati Daniel tengah menangani luka Benn dengan mulai menjahitnya. Desta berdoa menunggu dengan perasaan harap-harap cemas. Dokter itu nampak terlatih dengan apa yang dikerjakannya.


Hampir setengah jam, Daniel selesai dengan tugasnya. Selama waktu itu, Leehans , Lucky, serta Desta, menunggu kerja dokter itu dengan suasana hening. Mereka kembali bernafas lega, setelah Daniel terlihat membuka sarung tangan sterilnya.


"Apakah serius?" Leehans mendekati Daniel yang duduk di samping Benn.


Daniel hanya tertawa kecil, kemudian berdiri dengan santai sambil melirik Desta sekilas.


"Kita tahu kebiasaannya, dalam kasus ini, dia habis minum banyak, hasratnya sedang on tanpa pelepasan. Bisa dikatakan keadaan shock head sekaligus shock body."


"Seharusnya dia tidak pingsan, anggap saja dia terpaksa tidur. Gadis ini sebenarnya sedang bernasib baik saja."


Leehans dan Daniel hampir bersamaan menatap ke arah Desta, gadis itu kemudian memalingkan wajahnya serba salah. Daniel menaikkan sebelah alisnya pada Leehans sambil tersenyum miring. Leehans membalasnya dengan jelingan tajam sambil mengedikkan bahunya saja.


Leehans dan Daniel sempat bersekolah di tempat yang sama, demikian juga dengan Benn. Mereka bertiga cukup akrab satu sama lain. Akhirnya mereka harus saling berjauhan karena terpisah oleh kewarganegaraan. Lagipula lanjutan pendidikan yang mereka pilih, saling berbeda minat dan berlainan bidang.

__ADS_1


Di usianya yang juga 30 tahun, Daniel sudah menjadi seorang single parent. Dirinya jadi hot daddy 3 tahun lalu, ketika istrinya bertaruh nyawa melahirkan buah hati pertama mereka. Nyonya Daniel mengalami pendarahan terus menerus, dan gagal menerima transfusi darah dengan tepat.


***


Leehans melihat Desta yang tengah menyeret koper navy mininya dari dalam kamar. Gadis itu merasa telah bebas sekarang, keinginannya hanya satu, mengobati sakit rindunya dengan kembali ke Surabaya.


"Saya pamit kembali ke kota asal saya, ke Surabaya tuan Hans."


"Maaf selama ini saya hanya merugikan anda, sekaligus terimakasih dengan segala bantuan yang anda berikan pada saya."


Desta berpamitan kepada Leehans, ada rasa hampa di hatinya saat berkata dan memandang lelaki itu. Mendengar perkataan gadis itu, Leehans memicingkan matanya sambil menoleh sekilas, kemudian kembali menatap Desta dalam-dalam.


"Kenapa kau begitu cepat ingin pergi?" Leehans memandanginya.


"Saya tidak sanggup bertatap muka dengannya lagi."


Desta berkata sambil sedikit menolehkan kepala ke arah kamarnya, di mana Benn tengah tidur di dalamnya.


"Kau tidak bekerja dengannya, tapi denganku." Leehans mengingatkan posisi Desta.


"Tapi tidak mungkin untuk menghindari bertemu dengannya."


Desta benar-benar enggan untuk bersemuka dengan Benn lagi.


"Kau aman bekerja padaku, Benn tidak akan berani macan-macam lagi padamu, ku jamin itu."


Leehans terus memberi Desta kepastian agar gadis itu merasa yakin. Desta memandang wajah Leehans dengan mimik memohon.


"Saya pernah katakan pada anda tuan Hans. Impian saya yang tidak ingin jauh dari Yayasan dan Surabaya."


Desta pernah berkata demikian, saat sedang wawancara oleh Leehans waktu itu. Hans masih mengingatnya, lelaki itu menganggukkan kepala.


"Lalu bagaiman dengan kontrak kerjamu waktu itu, kau telah bertanda tangan, dan masih berlaku hingga dua tahun ke depan. Apakah kau akan ingkar?"


Desta menunduk dalam, perkataan Leehans ini memang benar adanya, kali ini soalan lelaki itu benar-benar membuatnya mati kutu.


Desta paling tidak suka dengan ingkar janji.Tapi secara tidak langsung, dirinya akan jadi pengkhianat jika tidak mematuhi kontrak kerja. Desta tidak ingin seperti itu, kini kebingungan melanda hatinya.

__ADS_1


__ADS_2