
Leehans perlahan mendekat dan duduk di kursi kosong di antara mereka. Desta menarik tangannya yang tak sadar masih dalam genggaman tangan Daniel. Daniel melepas tangan itu meski terpaksa. Desta perlahan memandang Leehans yang sedang mengacak rambutnya menjadi lebih berantakan. Dia terpaku memandang wajah lelah Leehans yang justru semakin nampak mempesona di matanya.
"Hai Dan, sudah lamakah? Mana Jenny?"
Leehans menatap Daniel dengan mata berkilat seperti biasa.
"Lumayan lama, Hans. Jenny bersama mommymu di dalam. Desta bilang, kau kembali besok?"
Desta memang mengatakan bahwa Leehans akan pulang besok seperti yang madam Sharon bilang padanya.
"Ku percepat semuanya.Syukurlah, semua bisa beres."
Leehans menerangkan sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Bisnismu apa kabar, lancar?"
Daniel menatap sahabatnya yang nampak letih. Kali ini Leehans meraup wajahnya perlahan dengan telapak tangan.
"Begitulah, sesuai harapanku."
Leehans menjawabnya datar. Sambil mendongak ke atas, memandangi langit hitam di atas taman. Tak sekalipun menoleh ke arah Desta yang sedari tadi melihat padanya.
"Sepertinya lusa Benn akan datang, Desta sudah tahu."
Mendengar perkataan Daniel, Leehans langsung meluruskan wajah dan menatap Daniel.
"Kapan dia meneleponmu?" Kemarin dia juga memberitahuku, ku bilang tak usah datang. Rupanya jadi juga."
Leehans sudah menduga hal ini, Benn memang keras kepala. Diliriknya wajah Desta sekilas, Leehans kembali menatap lurus ke depan.
"Desta ingin keluar dari rumah ini, dengan tetap bekerja di keluargamu tentunya."
Seketika Leehans menolehkan kepalanya memandang Desta. Rahangnya nampak mengeras dan matanya menyipit menatap gadis itu.
"Benarkah apa yang Daniel katakan, Desta?"
Leehans bertanya dengan mengeluarkan suara baritonnya.
"Betul tuan Hans. Saya tak ingin melihatnya!"
Desta menjawabnya dengan sangat yakin.
"Kau pikir Benn tak akan menemukanmu?"
Leehans memandanginya sejenak, seakan tengah berfikir keras dengan keinginan Desta kali ini.
__ADS_1
"Tempat paling aman adalah tetap di rumah ini, kau harus belajar menghadapinya. Jangan tunjukkan kelemahanmu Desta. Ingat, Aku dan keluargaku ada di belakangmu."
Daniel memperhatikan perkataan Leehans yang dirasanya memang benar. Sebenarnya dirinya juga ingin menawarkan diri, tapi hunian yang telah dipilih bersama putrinya masih belum siap dengan masalah dokumen yang agak berbelit. Tidak mungkin juga Desta berminat tinggal bersama keluarga kakak iparnya.
"Ku rasa yang dikatakan Hans memang benar Desta. Paling ideal adalah tinggal di sini sementara. Kau tinggal di luar justru membuat Benn bersemangat menjumpaimu."
Daniel dan Leehans mempunyai pendapat yang sama. Desta hanya diam merenungi nasehat dua lelaki dewasa itu padanya. Baiklah, memang benar semua yang dikatakan mereka. Mungkin setelah masalah ini selesai, Desta bisa meneruskan niatnya untuk mencari tempat baru. Selain agar belajar hidup mandiri, rasanya malu juga berlama-lama hidup menumpang, seperti benalu saja.
"Baiklah tuan Hans dan mas Daniel, saran kalian benar, aku setuju untuk sementara menumpang tinggal di rumah ini. Tapi tidak seterusnya, sayapun segan berlama-lama jadi benalu di sini. Selanjutnya, saya berencana akan mencari rumah kontrak, kamar sewa, ataupun apartemen sederhana untuk saya tinggali selama saya bekerja di kantor anda tuan Hans."
Desta berbicara sambil menatap Leehans dan Daniel bergantian. Entah, sejak rasa kecewanya pada Leehans, dan membuatnya berlinang air mata kemarin. Hatinya menjadi lebih sensitif, semakin sadar dengan siapa dirinya di sini. Khawatir jika dirinya ternyata hanyalah benalu selama ini.
"Kenapa tiba-tiba kau berkeinginan begitu?"
"Hanya ingin saja tuan Hans."
Leehans sangat heran dengan pikiran Desta yang tiba-tiba ingin pergi dari rumahnya. Bukankah orang tuanya tidak pernah mengusiknya dan telah berusaha membuat gadis ini nyaman tinggal di sini? Apakah karena sikap ibunya? Ibunya yang terlalu gencar mengompori dirinya bersama Desta? Ataukah karena Daniel? Mereka nampak bermesraan saat dia datang. Leehans menghirup nafasnya dalam-dalam. Kembali ditengadahkan wajahnya ke atas, menatap langit gelap tanpa bintang satupun di sana.
"Hans... Ku dengar mantanmu di sini, ada tayangan di televisi. Kau ada bertemu?"
Mendengar pertanyaan Daniel, Desta memandang Leehans, lelaki itu juga sedang menoleh padanya. Leehans membuang pandangannya ke arah Daniel. Wajah letihnyanya nampak mengeras menatap dokter tampan itu.
"Dia terus mengejarku."
Leehans kembali menatap langit gelap di atas sana.
Daniel memandang iba pada sahabatnya, lelaki yang kehilangan rasa cinta bersamaan dengan kepergian kekasihnya bertahun-tahun yang lalu. Daniel juga tidak lupa bagaimana keterpurukan Leehans kala itu. Hidup segan, matipun tidak.
Meski dirinya juga hampir sama, namun Daniel bersyukur, setidaknya pernah mengecap manisnya menikah dan berumah tangga. Serta bagaimana indahnya memiliki seorang putri yang sangat dicintainya. Apalagi kini hatinya telah mulai bisa mengingat nama seorang perempuan lagi selain nama istrinya. Desta. Namun Daniel juga tidak yakin dengan balasan perasaan pemilik nama itu padanya.
Leehans yang tidak merespon pertanyaan Daniel untuknya, justru memejamkan matanya sangat rapat. Kini kedua telapak tangannya bahkan telah di jadikannya bantalan untuk kepalanya.
Desta memandang Leehans dengan bermacam perasaan. Ada rasa iba dan desir bahagia, bahagia telah melihat lelaki itu kembali, namun secuil rasa sakit dan hampa kecewanya itu masih terasa di hatinya. Desta ingin menatap Leehans lebih lama lagi dengan leluasa. Namun segan akan kedapatan Daniel, gadis itu membuang kegusaran pada jemari tangannya yang lentik dan halus serta meremasnya tanpa sadar.
"Ontyyyyy...!!!"
Keheningan mereka buyar karena panggilan Jenny yang berlari ke arah Desta, dengan nyonya Yuri mengikuti di belakang. Desta menyambut Jenny dengan kedua tangan terentang dan memeluknya. Lalu digendongnya Jenny berjalan berkeliling dalam taman sambil besenandung kecil.
Ayah Jenny memandang interaksi keduanya dengan raut bahagia. Harapannya semakin tebal pada gadis baik itu agar bersedia menerima dirinya.
Di antara kebisuannya, Leehans meperhatikan gadis kecil yang terlihat nyaman dalam gendongan Desta. Sebelum akhirnya berdiri menghadapi Mrs. Lee yang terkejut dengan keberadaannya kembali di rumah ini.
"Kau ini ya... pergi-pergi tanpa pamit, sekarang pulang-pulang pun tak ada bilang."
Kali ini Mrs. Lee tidak merangkul Leehans seperti biasa saat anaknya baru pulang. Wanita itu hanya memegangi bahu Leehans sambil memandang kesal padanya.
__ADS_1
"Heh Hans.. mana.. kau bawa calon istri tidak?"
Ibunya kembali menanyakan hal yang tidak disukainya.
"Tidak ada."
Tetap juga dijawab pertanyaan ibunya dengan malas. Sambil matanya melihat sesekali ke arah Desta dan Daniel bergantian. Ibunya kembali menunjukkan wajah masam jenakanya pada Leehans. Leehans mengalihkan pandangan dari wajah ibunya yang cukup menyebalkan akhir-akhir ini. Bagaimanapun rongrongan gencar ibunya itu sangat mengganggu ketenangannya.
Leehans beralasan untuk mandi, demi menghindari ledekan ibunya yang bisa meluncur menyerangnya kapan saja. Lelaki itu berbasa basi sebentar pada Daniel dan menghampiri Jenny di gendongan Desta. Rupanya Jenny mulai mengantuk. Tapi balita itu berubah cerah lagi, saat Leehans memberinya sebuah angpau berisi ribuan yen di dalamnya. Leehans mengusap pelan rambut Jenny, dan berlalu tanpa memandang Desta sesaatpun.
***
Daniel telah meninggalkan rumah kediaman keluarga Lee bersama Jenny. Balita itu tertidur pulas saat Desta mengembalikan pada gendongan Daniel, dengan mimik gembira di wajah tembamnya. Desta melepas Jenny dengan harapan akan berjumpa lagi kemudian.
***
Sehabis menunaikan ibadah isya'nya, Desta telah bersiap tidur di atas ranjang. Namun, sebuah suara ketukan di pintu kamar membuatnya terbangun kembali. Diraihnya kerudung instant warna pastel dan dipakai pada kepalanya.
Dengan ingin tahu siapa gerangan, bergegas tangannya membuka gagang pintu kamar. Rasa kantuk yang diderita raib seketika, saat Leehans terlihat telah berdiri tepat di depan pintu kamar, lelaki itu memandang dengan ekspresi sedang menunggu. Desta mengamati penampilan Leehans yang nampak cool dengan aroma wangi maskulin, lelaki itu telah membersihkan diri dan menukar pakaian menjadi lebih santai.
"Apakah Daniel telah resmi melamarmu kembali?"
Desta mengalihkan mata dari merenungi Leehans, pertanyaan itu dicerna sesaat, lalu dianggukkan kepalanya.
"Kau menerimanya?"
Leehans seakan mendesak untuk menjawab.
"Saya masih berfikir. Setidaknya saya telah yakin, bahwa mas Daniel tidak seperti Benn yang brengsek."
Kali ini Desta ingin menggantung jawaban, sedikit ingin tahu tanggapan apa yang akan diberikan Leehans padanya.
"Tapi kalian telah nampak begitu mesra, apakah begitu masih berfikir?"
Leehans bertanya dengan nada yang menyindir. Desta paham maksud ucapan lelaki itu, teringat saat tangannya digenggam Daniel dan Leehans sempat melihat keadaan itu.
"Kemesraan itu tidak saya sengaja, sebenarnya bukan seperti yang anda pikirkan tuan Hans."
Kali ini Desta menyangkal sindiran Leehans. Rasanya tidak terima dengan tuduhan yang telah dilempar Leehans padanya, padahal semua itu tidak sepenuhnya benar.
####
π€π€π€ Terimakasih sudah mengikuti kisah karyaku hingga ke sini. Terimakasih buat yang terus support saya.
Harap dukungan untukqu.. tinggalin like. vote. komen dan favorite. Love love love dari author ππππβ
__ADS_1
Selamat berpuasa#