Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Bagaimana Menemukanku? # 92


__ADS_3

Leehans yang sambil merenung dengan pandangan setengah kosong, kembali tersadar saat Desta telah lenyap ke dalam kamar mandi. Ada yang aneh di renungannya. Ya, cara jalan Desta terlihat tidak biasa. Kaki itu seperti terseret-seret saat berjalan. Dengan khawatir dan penasaran, Leehans berdiri dan mendekati kamar mandi. Menunggu di salah satu kursi depan pintu dengan gusar.


Ceklek!


Tidak terlalu lama, Desta nampak keluar dari balik pintu. Penampakan visual yang sama sekali bukan Desta, gadis cantik dengan rambut di cat warna coklat dengan panjang di bawah bahu,bergelombang di ujung, beserta poni smart tipisnya. Leehans terkesiap, Desta terlihat seperti gadis endorse milenial tanpa hijab. Pantas untuk segala macam endorse, bisa shampoo, serum skincare, Lipstik, cat rambut, atau bahkan gamisnya.


Dengan termangu, Leehans berjalan pelan mendekati gadis itu. Wajah Desta yang basah nampak cerah dengan mata bersinar yang indah. Sejenak Leehans lupa akan derita gadis itu selama dalam tangan penculikan mafia yang membuat hatinya merasa besalah sepanjang waktu.


"Otto Hans, jangan dekat! Aku ingin shalat, begitu lama ku tinggal waktu untuk itu!" Desta tiba-tiba berseru siaga dari tempatnya. Leehans diam mematung, memandang Desta dengan mata berkilat seperti biasa. Diusap wajah yang tegang dengan sebelah telapak tangannya.


"Aku membawa peralatanmu bersamaku, ku rasa kau akan perlu." Leehans sedikit mundur, agar Desta berjalan maju di depannya.


Benar, kaki sebelah kiri itu hanya ujungnya saja yang dipakai, Jalannya berjinjit.


"Desta, ada apa dengan kakimu?" Leehans berjalan di belakangnya.


"Sedikit sakit, ada luka kecil di tumit." Desta berkata dengan nada datar tanpa tekanan.


"Apa sebab lukamu itu?" Leehans terus berada di belakangnya.


"Saat aku mau kabur dari mereka, tapi aku gagal. Orang yang menjagaku itu tidak pernah lengah. Desta duduk di kursi, depan meja rias.


"Otto Hans, peralatan apa saja yang kamu bawa? Alat sholatku juga, tidak?" Desta nampak menunggu.


Leehans terlihat menyeret koper baju dan membukanya, lalu didekatkan pada Desta. Desta segera memilahnya. Beberapa potong baju milik Leehans, nampak tas tali miliknya, lalu mengambil mukena yang nampak menyembul bersama sajadah. Desta menutup dan menepikan koper, bergegas ke pojok kamar dan menunaikan isya'nya di sana.


***

__ADS_1


Dokter khusus yang disediakan pihak hotel, telah datang dan selesai mengobati luka di tumit Desta. Luka itu dioperasai kecil, dan tidak perlu dijahit, hanya di lekat magic perban antiseptik yang bisa mempercepat pengeringan luka. Desta juga menerima beberapa macam obat yang harus diminum dan dihabiskan.


Leehans sedang menerima telepon di lobi, saat dokter berpamitan dan keluar. Desta yang telah meminum obatnya dari tadi kini mulai mengantuk. Direbahkan dirinya di atas tempat tidur. Hatinya merasa nyaman dan lega tak terkata. Rasa kantuk yang dirasa kali ini, adalah kantuk paling nikmat yang dirasa setelah dua bulan lebih berada pada suasana hati yang cemas. Kembali bersama di samping Leehans, membuat perasaan yang selalu aman di jiwa.


***


Mata yang tertutup karena terhanyut ngantuk, mendadak terbuka. Merasa kepalanya sedang diusap-usap lembut oleh Leehans. Ditolehnya sedikit, Leehans tengah duduk menyandar di belakangnya.


"Desta..Kau sudah tidur?" Leehans memanggil dengan terus mengusap kepalanya.


"Iya..tapi aku bisa dengar." Desta sedikit lebih memiringkan kepala pada Leehans.


"Apakah orang-orang keji itu menyentuhmu? Berapa kali mereka telah menodaimu? Apakah banyak?"


Suara Leehans terdengar lirih dan sedikit parau saat menanyakan hal itu. Desta terdiam mencerna perkataan Leehans. Tidak terlalu paham dengan maksudnya.


"Mommy ingin cepat melihatmu, dia menelepon tadi. Aku khawatir kesehatannya kembali terganggu. Jadi, aku sudah memesan tiket kita. Besok kita kembali." Leehans berkata di sela-sela ruang rambutnya. Hawa dari bicaranya terasa hangat di kepala.


"Sebenarnya aku sudah menyewa kamar ini untuk beberapa hari. Aku ingin mengajakmu berkeliling Macau. Tapi terpaksa ku batalkan. Kau tidak apa-apa? " Leehans menggenggam lembut tangan Desta.


"Iya. Tidak apa-apa otto Hans. Akupun lebih memilih bertemu dengan mommy lebih cepat. Aku ingin dia selalu sehat." Desta mengeluarkan suaranya lebih lirih.


"Terimakasih Desta. Maafkan aku.." Leehans mengeratkan pelukannya. Rasanya sangat nyaman memeluk Desta sedemikian rapat. Hal yang disukainya belakangan ini.


"Otto Hans.." Desta tidak lagi ingin tidur.


"Ada apa?" Leehans terus mendengarkan.

__ADS_1


"Aku ingin tahu, bagaimana kalian menemukanku?" Desta selalu penasaran dengan hal menarik itu. Tidak tenang jika belum merasa terang. Leehanspun sedikit mengendurkan pelukan dan menampakkan wajahnya, tidak lagi tertutup rambut Desta. Leehans mulai bercerita sesungguhnya dengan tetap tidur menyamping memeluk Desta.


****


Di sebuah kamar hotel dengan lantai berlainan, namun sama atap dengan hotel yang ditinggali Leehans, Gilang tengah merenung di balkon kamar. Beberapa kartu dan dokumen ada di genggaman tangannya. Dokumen dan data diri palsu milik Desta yang telah diberikan mafia itu, sebagai orang yang terdaftar namanya untuk menjamin kebebasan Desta.


Telah sebulan lebih Gilang berada di kota Tiongkok, mewakili ayahnya untuk menyambung bisnis. Awalnya berjalan normal, hingga Leehans menghubungi dan membicarakan masalah hilangnya Desta. Leehans meminta untuk mencari Desta di daerah Macau, kota penempatan hampir seluruh korban perdagangan dengan identitas yang baru.


Leehans tidak akan berhasil mendapatkan Desta, karena dokumen Leehans akan terekord sama dengan data asli Desta. Kejahatan itu mereka tutupi serapi mungkin. Mereka tidak menerima calon pembeli dengan latar belakang yang sama dengan wanita yang mereka miliki.


Dan hanya Gilanglah orang yang memiliki syarat rekord yang boleh menjamin Desta. Serta tidak mungkin Gilang mengacuhkan nasib Desta yang sedang tanda tanya.


Namun Gilangpun tidak memiliki akses memasuki tanah hiburan Macau, namanyapun begitu bersih. Gilang tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu. Tentu tidak dipercaya jika tiba-tiba dia muncul begitu saja dan mencari barang belian.Tapi ternyata Gilang memiliki seorang teman yang dulu pernah mencari ilmu bersama, sanggup membantunya mengurusi hal itu.


Dan akhirnya, Gilang ditunjukkan pada sebuah link data rahasia, berisi foto dan data-data barang baru yang akan dikeluarkan bulan depan. Dengan hampir putus asa, Gilang dan temannya menemukan foto dan data diri Desta yang telah palsukan.


Namun, Desta telah dijadwal untuk didatangkan bulan depan, bukan saat ini. Dengan negosiasi yang samar dan lama, akhirnya kesepakatan mengeluarkan Desta lebih cepat, diluluskan. Dengan syarat,


manaikkan label harga Desta menjadi lebih mahal beberapa kalinya. Gilang langsung menyetujui syarat itu.


Leehans yang mendengar kabar adanya Desta di salah satu agen wanita malam Metro Macau pun begitu terkejut dan antusias. Seberapa mahal tebusan untuk Desta, Leehans mengikuti dan ingin Gilang segera membayarkannya.


****


Sekarang masalah Desta telah selesai. Namun tidak dengan masalah hati Gilang. Rasa cinta di hati yang dengan susah berusaha dikuburnya, kini kembali siuman dan makin lebih menyedihkan.


Betapa tidak nyamannya menyukai istri orang, begitu tidak tenangnya mengharap milik orang. Betapa tersiksanya menjaga barang titipan punya orang. Itulah yang dirasakannya saat menjumpai dan menerima Desta dari mafia itu kemarin. Dan kini, Gilang sangat merindukan wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2