Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Perlombaan # 81


__ADS_3

"Asisten Harry, tolong tulis saja namaku di lomba yang ku sebut tadi." Desta tidak munuliskan namanya, karena Desta tak selalu memegang pena seperti Harry.


Leehans dan Benn merasa terkejut pada Desta yang mengajukan dirinya dengan sangat percaya diri. Begitupun dengan yang lain, yang duduk di meja itu. Tapi melihat ekspresi tenang yang Desta tunjukkan, mereka jadi penasaran akan kemampuan Desta pada jenis lomba yang disebutnya tadi.


"Desta, kau tidak main-main kan?" Benn adalah orang pertama yang bereaksi. Merasa dialah yang menunjuk Desta dengan tujuan bercanda.


"Kenapa Benn? Kau meragukan kemampuanku?" Desta sedikit tersenyum, dipandanginya Benn yang masih termangu melihatnya.


"Kau bisa berenang?" Benn kembali bertanya. Sambil matanya sekilas memandang pakaian gamisnya.


"Aku tidak akan mempermalukan diriku, Benn. Setidaknya kupastikan untuk sampai di garis finish dengan selamat. Kau lihat sajalah nanti." Desta memandang meja sejenak. Berbagai hidangan telah di sajikan di meja mereka dengan bermacam menu dan olahan. Diambilnya sebotol yoghurt dan diminumnya hingga setengah, lalu diambilnya beberapa irisan apel ke dalam piring kecil dan mulai dimmakannya.


"Baiklah, Harry. Tulis saja namanya di lomba berenang dan bernyanyi. Segera serahkan pada panitia, agar nama kita segera dapat panggilan." Leehans tidak suka menunggu giliran terlalu lama. Sebisa mungkin, diupayakannya agar terhindar dari hal semacam itu. Terlepas siap ataupun tidak.


Asisten Harry telah pergi membawa kertas itu untuk menemui panitia. Sedang Benn dan Leehans pergi menyapa ke beberapa meja yang berisi beberapa tamu penting lainnya, sedang menjamu selera.


Kini meja itu hanya berisi Desta dan pengusaha muda dari negara Brunei. Sedang madam Sharon sedang pergi ke toilet yang entah terletak di mana.


"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga kalian cepat di beri banyak anak yang lucu." Pengusaha muda berwajah cukup tampan itu memperkenalkan diri dengan nama Erik, Ali Tan Erik. Seusia Benn, 28 tahun. Erik bercakap menggunakan bahasa Melayu modern yang mudah dimengerti oleh Desta.


"Terimakasih, tuan Erik. Semoga juga, anda segera menikah seperti kami." Desta membalas keramahan Erik disertai senyum cerianya.


"Sepertinya aku justru akan semakin sulit untuk menikah." Erik memandang Desta dengan lekat.


"Why? Kenapa bisa begitu tuan Erik?" Desta kurang paham dengan maksud lelaki itu.


"Sorry Desta.. Karena setelah bertemu denganmu, aku ingin menikah dengan gadis sepertimu." Erik terdiam dengan terus menatap Desta, yang nampak berfikir dengan ucapan seriusnya itu.


"Ahaha... Tuan Erik, berarti anda akan lebih cepat untuk menikah. Jangan khawatir, ada begitu banyak perempuan yang sepertiku di luar sana, bahkan lebih baik segalanya dari saya. Model seperti saya ini, begitu pasaran dan mudah dijumpai." Desta menanggapi cepat ucapan Erik padanya itu.Sesaat Desta teringat akan Alex yang juga berkata serupa begitu padanya. Apakah Erik juga akan sebrengsek Alex?


"Desta, menanglah dalam lomba yang kau ikuti nanti. Akan ku berikan hadiah menarik untukmu. Jadi kau harus bersemangat, aku mendukungmu!" Erik mengulurkan tangan pada Desta untuk memberikan semangatnya. Desta sedikit ragu, namun disambutnya juga tangan Erik, agak segan jika bersikap acuh pada rekan bisnis Leehans yang telah datang jauh dari luar negara.


Bersamaan itu, telah berdiri di sisi meja, Benn dan Leehans yang kembali dari lawatan pada tamu-tamunya. Menyadari hal itu, Desta berusaha cepat melepas dari berjabat tangan dengan Erik. Leehans dan Benn telah duduk kembali di kursi masing-masing.


"Apa yang sedang kalian berdua diskusikan?"

__ADS_1


Leehans bertanya santai sambil menatap datar pada rekan bisnisnya, Erik.


"Aku hanya ingin memberi istrimu hadiah dari hasil perlombaan yang diikutinya nanti." Erik menjawab apa adanya dengan sama santainya.


Leehans mengangguk kecil sambil memandang istri di sampingnya sebentar. Wajah itu nampak cerah dan gembira. Hadiah apa yang dijanjikan Erik untuknya? Leehans bertanya-tanya penasaran.


Leehans mempelawa semua teman semejanya untuk melanjutkan makan dengan segala menu yang tersedia di meja mereka. Desta telah menghabiskan tiga biji buah pisang hijau yang manis, serta daging ikan bakar beberapa potong. Desta ingin mengisi perut dengan makanan bermanfaat, sebagai sumber energinya agar tidak habis tenaga saat berenang dalam lomba.


Leehans memperhatikan semua yang diambil Desta sebagai menu pilihannya. Leehans juga seorang yang hobby berenang, sehingga telah paham dengan aturan konsumsi jenis makanan sebelum melakukan kegiatan renangnya. Nasi adalah satu dari banyak jenis makanan yang ikut di coretnya saat memilih menu makan.


Untuk memberi sambutan inti pada acara ini, Leehans kembali meninggalkan mejanya. Lelaki itu menuju atas panggung untuk memberi sambutan sebagaimana pidato seorang pimpinan yang memberikan apresiasi pada seluruh pegawainya yang telah memberi dukungan untuk perusahaan dalam memncapai kesuksesan bersama. Juga atas tersrlenggaranya acara ini yang berjalan lancar dan sesuai dengan harapannya.


####


Seluruh pegawai yang ada dan semua tamu yang hadir, kini tengah menikmati hiburan di atas panggung. Sambil menikmati bermacam sajian yang dihidangkan oleh pihak hotel, yang diisi tukar secara berkala.


Akan ada berbagai macam pertunjukan, di antaranya nyanyian musik dari artis nasional yang disewa, teater drama, puisi, tarian, serta pembacaan puisi dari sumbangan partisipasi beberapa pegawai perusahaan itu sendiri.


####


Harry telah pergi ke bagian dalam hotel dengan beberapa peserta tanding catur yang lainnya. Karena permainan catur memerlukan daya fokus super nyaman dan terkadang cukup lama, maka pertandingan itu di adakan di ruang tertutup, dalam ruang hotel bagian dalam


Leehans bersiap mendapat panggilan namanya di perlombaan memanah. Sangat banyak pegawai yang mengerumuni area lomba memanah, yang juga diadakan tidak di atas panggung, namun di luar ruangan. Karena sebagian mereka tahu,bahwa pemilik perusahaan sekaligus bos mereka akan ikut dalam pertandingan memanah.


Ini adalah hal sangat langka, seorang bos besar, rupawan dan berstatus pengantin baru, turun langsung untuk bergembira membaur bersama seluruh pegawainya dari segala devisi yang ada. Leehans adalah sosok bos yang jadi idaman seluruh karyawan. Pesonanya tidak luntur meski sudah menjalani sebuah pernikahan.


Perempuan keluarga Lee juga nampak mendekati arena lomba memanah. Mereka berdiri agak jauh dari tali pembatas. Karena sedikit berbahaya, arena itu benar-benar dijaga dan disterilkan dari hilir mudik pegawai agar tidak mengganggu jalannya pertandingan.


Desta nampak berdiri di antara keluarga Lee lainnya, memperhatikan Leehans yang telah dipanggil maju oleh panitia. Mereka berdiri tidak terlalu jauh dari tempat Leehans yang tengah bersiap membidik dengan set alat panahnya. Pengamatannya terganggu saat Mrs. Lee menepuk bahunya pelan.


"Desta, apakah semalam Leehans sudah memanahmu dengan tepat? Apakah dia hebat memanah hah ? Ayo berilah sedikit kode, kami sangat penasaran! " Mrs. Lee berkata sambil mengerling jenaka pada Desta. Bicaranya sedikit keras diantara suara bising kumpulan para pegawai. Desta bingung dengan kode apakah yang harus diberikan. Hanya tersenyumlah yang bisa Desta berikan saat itu pada ibunya, kakaknya, serta neneknya Leehans. Sedang Mr. Lee dan suami kak Leezha tetap duduk di kursinya sambil ikut mengawasi.


Leehans yang tidak jauh duduk dari mereka, seketika menoleh saat menangkap suara ibunya yang cukup berisik itu. Leehans yang sedang fokus memposisikan busur panahnya agar tepat membidik di target utama sasaran, merasa terganggu oleh pertanyaan ibunya pada Desta. Ibunya yang tidak pernah bosanΓ  merongrong ketenangan mereka dengan berbagai pertanyaan konyolnya.


"Mommy!" Leehans memanggil ibunya dengan tajam. Mrs. Lee memandang putranya yang gagal melepas anak panah dari busurnya.

__ADS_1


"Ayo Hans...Lepaslah panahmu..Kami sangat mendukungmu..!!! Leehans sangat gemas pada ibunya yang seolah tidak sadar akan kesalahannya.


"Diamlah sebentar, mom! Suaramu sangat menggangguku !" Mrs. Lee seketika diam dengan jelingan tajam Leehans padanya.


Leehans kembali fokus pada sasaran panah di busurnya. Dirasanya telah terbidik sempurna, maka Leehans melepaskan anak panahnya. Anak panah itu tepat menancap di target utama sasaran, hanya bergeser beberapa milisenti saja, namun tetap bisa terlihat sempurna. Semua bertepuk tangan dengan riuh, kekaguman mereka pada bos pimpinan itu semakin bertambah.


###


Acara kembali hanyut dalam pertunjukan meriah di atas panggung. Beberapa lagu dan atraksi yang di tontonkan berhasil sangat menghibur. Leehans sangat bangga dengan para pegawainya yang telah bersemangat ikut partisipasi dalam beberapa persembahan.


Saat tengah hari, acara akan dihentikan sementara oleh pihak panitia untuk bersantai . Setiap meja akan dibagi sebuah kunci dengan bertulis nomor hotel, agar mereka bisa beristirahat di dalamnya. Sebelum benar-benar down time, acara akan ditutup dengan perlombaan renang di kolsm renang raksasa. Panitia memanggil nama-nama peserta yang berjumlah dua belas orang untuk bergegas langsung menuju kolam renang.


Keluarga Lee serta orang tua Benn nampak terkejut mendapati nama Desta kena sebut. Mereka bergegas menuju kolam renang untuk memastikan. Benar Desta dengan gamis biru indahnya itu tengah bersiap untuk berada sebaris di antara peserta lainnya.


Desta sedang memasukkan kain pelapis gamis ke dalam celana gamisnya. Lalu mengikat lebih erat dua tali ikat celana yang ada di bagian pinggangnya. Desta tidak mau celana itu tiba-tiba lepas dari tubuhnya,karena tekanan air yang timbul saat berenang. Desta mempersiapkan dirinya begitu lihai seolah itu adalah hal yang biasa dilakukannya.


Diabaikannya banyak pasang mata yang fokus memperhatikan persiapannya. Desta tidak merasa malu sama sekali. Kerinduan hati untuk berenang telah menutup segala rasa hatinya dari apapun. Desta melangkah percaya diri menuju barisan, bergabung dengan peserta lainnya.


"Desta!" Suara Leehans memanggil namanya. Desta menunggu Leehans yang tengah mendekatinya.


"Ada apa tuan Hans?" Desta menatap suaminya itu ingin tahu.


"Berusahalah, aku juga akan memberimu hadiah, apapun permintaanmu!" Leehans berbicara sedikit berbisik .


"Apapun? Benarkah?" Mata indah Desta berbinar-binar seketika. Leehans mengangguk meyakinkannya.


"Aku ingin tinggal di rumah yang ku dapat, di Omotesando." Seketika Leehans diam, bibirnya terkatup rapat-rapat. Mata tajamnya merenung Desta dalam-dalam.


"Bagaimana, tuan Hans? Apakah anda tetap akan mendukungku?" Desta mulai bersiap untuk mendengarkan segala aba-aba yang akan diberikan oleh wasit. Namun Desta sempat melihat anggukan kepala Leehans yang perlahan itu. Desta begitu bersemangat untuk menyelesaikan misi perlombaan renangnya kali ini. Bayangan akan tinggal mandiri di kawasan Omotesando, begitu menggiurkan baginya.


######


πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—Beloved readersku.. harap dukungannya... Tetap relakan like kalian untuk author kaleng-kaleng ini yeeeeer..


Terimakasih usah nyimak novel ini hingga ke sini." πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™βœŒ

__ADS_1


__ADS_2