Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Obrolan Leehans dan Benn # 73


__ADS_3

Benn yang tengah bersiap tidur di atas ranjang, kembali bangun karena suara ketukan di pintu kamarnya. Ternyata Leehans yang ingin berbicara empat mata dengannya.


"Ada yang ingin ku bicarakan padamu, Benn."


Leehans menatap saudara sekaligus sahabatnya itu dengan tatapan cukup hangat. Sedang Benn, yang juga tengah menyimpan banyak ganjalan di hati, mengajak Leehans masuk dalam kamar hanya dengan isyarat matanya.


"Bicaralah Hans" Benn berkata sembari duduk di sofa dalam kamar tamu itu.


"Apakah kau menganggapku pengkhianat?"


Leehans ikut duduk di samping Benn.


"Seperti itulah kira-kira. Tadinya aku kecewa denganmu."


Benn berkata sebenarnya, bagaimana perasaan hatinya saat berada di ruang makan barusan.


"Bukankah, sudah ku katakan alasanku dengan jelas?" Leehans menghempas punggung kokohnya ke sandaran sofa, dan meletakkan kepalanya di sana, matanya menatap langit-langit kamar.


"Memang. Tapi itulah, setelah kurenungkan, apapun alasanmu, itu hakmu. Ku sadari itu, Hans. Lagipula, Desta tidak sedang terikat denganku, juga dengan siapapun. Dan yang paling penting dia juga setuju menikah denganmu. Ku akui, kau memang hero Hans."


Benn menepuk-nepuk keras punggung Leehans berulang kali. Dan Leehans hanya diam menahan tepukan keras itu. Biarlah sepuas hatinya, Leehans memahami perasaan Benn yang sedang dilampiaskan pada punggungnya itu.


"Lalu, tak adakah alasanmu lainnya? Apakah hati batumu mulai lapuk karena pesonanya?" Benn bertanya dengan menampakkan senyum masamnya. Leehans yang baginya sudah mati rasa, dan kini hendak menikah itu, menurut Benn adalah kemajuan yang sangat luar biasa.


"Aku tak sudi menjawabmu. Waktu yang akan membawa perjalanan rumah tanggaku nantinya. Kita lihat saja nanti Benn."


Leehans berkata pelan, yang kemudian dipejamkan kedua matanya ke arah langit-langit.


"Lalu, apa rencanamu yang paling penting? Kau tak ingin membuka segel perjakamu itu padanya kan? Ku rasa, Desta pun jelas sama originalnya sepertimu..."


Benn sedikit terkekeh menyadari satu kenyataan yang cukup menarik untuk dibahasnya..


Tangan besar Leehans mengulur cepat ke arah kepala Benn. Ditoyornya kepala Benn dengan ujung jari-jarinya sampai tubuh Benn doyong mengikuti kepalanya.


"Kau bilang sudah tobat heh..! Kau bilang juga insaf? Masih doyan juga bicara tentang itu..? Bersihkan juga otakmu, baru tobat!"


Namun, bersamaan dengan tegurannya begitu pada Benn, Leehans juga ikut sedikit terkekeh. Gemas dengan omongan Benn yang sebetulnya tidak salah dan benar adanya. Begitulah memang lelaki, bicara yang apa adanya, tanpa rem dan tak perlu di saring lagi. Bahkan keduanya kini nampak tertawa berbarengan.

__ADS_1


"Jangan munafik Hans. Jika kau sedang ingin, lakukan saja. Asal jangan memperkosanya. Kau bisa ditinggal juga sepertiku jika memaksa."


Keduanya telah berhenti tertawa, Bahkan Benn berbicara dengan wajah sedikit serius. Bayang penyesalan hadir lagi di kepalanya.


Leehans tidak menanggapi perkataan Benn, lelaki itu kembali ke posisinya semula, dengan wajah menengadah ke langit-langit plavon kamar. Bayangan Desta tengah datang memenuhi isi kepalanya yang kacau.


"Benn."


"Apa?"


"Ada seseorang yang tengah ku pikirkan, mungkin dia akan kecewa dengan pernikahanku."


"Siapa? Shena?!"


Leehans tak menjawabnya, dipandangnya Benn sambil mengambil posisi duduk tegak.


"Daniel." Leehans menunggu reaksi Benn.


"Kenapa, apa hubungannya dengan Daniel?"


"Sama sepertimu." Benn terdiam sejenak, mencerna perkataan Leehans dengan benar.


"Lebih dari itu. Bahkan telah meminta Desta secara langsung untuk jadi ibu dari anaknya. Kau tidak tahu bukan?"


Benn menggeleng-gelengkan kepalanya. Terlihat tengah memikirkan dalam hal itu.


"Sempitnya dunia ini. Apakah wanita hanyalah Desta saja yang ada?" Benn berkata lirih sambil menoleh Leehans.


"Soal Daniel, abaikan saja. Aku yang akan bicara padanya. Bukankah tetap saja aku yang paling kecewa? Wasiat nenek jelas-jelas menyebut namaku, aku yang di tulis untuk menikah dengan Desta. Tapi aku justru menyia-nyiakan kesempatan besar itu. Dan kalian mengambil peluang dengan revisinya. Ah sudahlah, nasi sudah membubur."


Benn ikut memposisikan punggung dan kepalanya di sandaran sofa sama seperti yang Leehans sedang lakukan. Keduanya menengadah ke atas, tenggelam dalam lamunan masing-masing yang jauh.


***


Hembusan angin membawa rasa dingin menusuk tulang. Di luar nampak salju putijh turun beruntun, menyebar jadi hamparan putih yang kian menebal. Gadis jelita itu tengah bergelung dalam selimut tebal di atas pembaringannya dengan nyaman.


Meski terlihat tenang dan nyaman, namun di hatinya tengah dilanda gundah gulana tak menentu. Leehans dan ayahnya telah berkata akan mengurusi semua hal yang menyangkut segala pernak-pernik dan dokumen pernikahanny yang mungkin sedikit rumit, mengingat dirinya berasal dari luar negera Jepang. Desta hanya perlu besiap dengan beberapa tanda tangannya pada lembaran-lembaran dokumen pernikahannya saja.

__ADS_1


Mrs. Lee juga mengatakan akan mengurus semua keperluan acara pernikahan keseluruhannya dengan sempurna. Dan Desta hanya di minta bersiap saja menjalani pernikahanya dua hari mendatang dengan persiapan stamina yang cukup.


Desta hanya berfikir, bagaimana mengabari bu Hartini, sedang pernikahan ini demikian mendadak. Apakah ibu ketua itu bisa hadir? Rasanya begitu sedih, di moment terpenting seperti ini, Desta tak memiliki orang Dekat satupun untuk menemaninya. Baginya, meski ini terdengar sperti pernikahan sementara, tapi ini juga moment yang sangat indah di hidupnya.


Ajeng? Ajeng tak pernah bisa dihubunginya. Entah bagaimana Ajeng sekarang. Apakah kehamilannya baik-baik saja? Terakhir berjumpa, Desta telah meninggalkan amplop berisi lima belas juta rupiah di tangan Ajeng. Desta berharap, uang itu bermanfaat untuk hidup Ajeng dan kehamilannya sementara. Namun setelahnya, Ajeng tak pernah bisa dihubunginya.


******


Leehans dan Desta di minta Mrs. Lee untuk datang ke sebuah butik, khusus baju pengantin dari desainer kenamaan di Tokyo. Untuk menentukan model pilihan, sekaligus mengambil ukuran tubuh keduanya dengan tepat.


Desta pergi bersama seorang sopir keluarga Lee dan ditemani ibunya Benn saja. Leehans akan menyusulnya kemudian, setelah urusan pekerjaanya selesai. Hari ini Leehans melarang Desta untuk pergi bekerja bersamanya.


Sedang Mrs. Lee begitu sibuk mengurusi persiapan acara pernikahan keduanya. Meskipun telah menyerahkan pada tim wedding organizer yang telah dibayarnya sangat mahal, tapi Mrs. Lee tetap ingin terlibat langsung dalam tim wedding organizer dalam merancangnya.


Desta telah melihat-lihat hampir seluruh pilihan koleksi di butik itu. Sebenarnya hanya ingin melihat sebagian saja , namun nyonya Donha terus menarik tangannya untuk terus berkeliling. Setelah puas memilih, pilihan Desta jatuh pada sebuah gaun pengantin indah yang didesain untuk pengantin berhijab. Warna gaun itu putih berkombinasi dengan soft pink yang indah. Desta begitu anggun dan mempesona saat mencoba gaun itu di tubuhnya.


Desainer itu masih belum kembali dari luar kota, tapi dua asistennya sangat profesional dalam melayani keperluan gaun Desta. Saat Desta sedang di ambil ukuran tubuhnya di bagian tertentu, mereka terus memuji tubuh Desta yang cantik dan propoaional. Nyonya Donha juga terkadang ikut menimpalinya dalam bahasa jepang.


Desta mengerti dengan obrolan itu, tapi mengabaikannya dan terua fokus dengan pengambilan ukuran pasa badannya.


"Wah ukuran pinggang dan pinggulnya sangat bagus, pasti gaun yang dipilihnya akan terlihat indah di tubuhnya."


Seorang asisten bermata sipit memuji Desta dalam bahasa Jepang.


"Hhiihii, betul. Calon suaminya sangat beruntung memilikinya. Pasti suaminya akan sangat menyayanginya nanti ya.Mudah-mudahan mereka akan cepat mempunyai anak."


"Jadi ingin tahu bagaimana rupa calon suaminya."


Mereka benar-benar sedikit bergosip dan saling menimpali. Dipikir Desta yang sedari tadi diam dan dari Indonesia, tidak mengerti obrolan mereka. Hanya Desta kurang bisa menyahutinya.


"Calon suaminya sudah datang. Kalian lihat baik-baik, apakah masih kurang sempurna?"


Sebuah suara berat yang seksi mengejutkan Desta dan dua asisten itu. Nyonya Donha tidak terlihat, karena sedang berada dalam toilet di ujung belakang butik.


Nampak Leehans berdiri tegak di depan pintu ruangan tempat mengambil ukuran. Lelaki dalam obrolan mereka telah berdiri lama di situ tanpa mereka sadari. Calon suami Desta yang ternyata terlalu tampan itu, membuat dua asisten designer menjadi bungkam tanpa kata seketika dengan saling berpandangan.


######

__ADS_1


๐Ÿค—๐Ÿค—Terimakasih telah menyimak hingga ke sini.. Love dari author... Jangan lupa relakan like kalian untuk menyenangkan hatiku. Agar aku tetap bersemangat meski tidak banyak yang mendukungku...kalianlah penyemangatku.. maaf aku belum sempat membalas apapun komentar kalian.


Tapi kalian sudah di hatiku..โคโค๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜š๐Ÿ˜ญ


__ADS_2