
Leehans yang duduk menunggu di ranjang, terus menanti kemunculan Desta dari balik pintu kamar mandi. Leehans tahu, model baju bagaimana yang berjajar di gantungan almari baju miliknya. Dress dan gaun milik Desta itu tidak ada satupun yang menyerupai gamis, semuanya pendek.
Baju yang di tata ibunya setelah pulih dari sakit jantung yang kambuh. Saat merasa dirinya sudah kuat, dan perlu sebuah aktifitas tambahan. Leehans membiarkan ibunya hilir mudik keluar masuk ke dalam kamar guna menata semua baju milik Desta yang diambil dari hotel, yang telah disiapkan oleh Leezha waktu itu. Serta banyak dress baru tambahan, yang dipesan oleh ibunya sendiri dari beberapa butik di Tokyo.
Bahkan Leehans juga mempersilahkan ibunya, barangkali ada benda milik Desta yang ada di dalam kamarnya untuk dipindah dan ditata dalam kamar besar punya Leehans. Tidak pernah dikunci pintu kamar saat ditinggal pergi bekerja. Leehans tahu, ibunya akan terus hilir mudik membawa barang dari kamar Desta ke kamar dan menatanya.
Meski tidak banyak, tapi ibunya terlihat sangat repot dan sibuk karena fisiknya yang lemah. Pegawai rumah yang ingin membantu pun ditolak dan hanya berjaga mengawasi apa saja yang ibunya lakukan.
Meski baju-baju dress milik Desta yang digantung sama dalam almari miliknya membuat lemah dan tertekan, tapi Leehans tidak menampakkan dan terus mendukung kegiatan ibunya. Leehans berusaha terlihat terus kuat dan bersemangat untuk terus mencari Desta dihadapan ibunya.
Ceklek!
Pintu kamar mandi yang di pandangi dengan kepala berkelana ke mana-mana, kini akhirnya terbuka. Gadis cantik berambut coklat sepunggung, dengan kulit putih bersih serta wajah begitu cerah, nampak bejalan keluar mendekati Leehans.
Leehans menyambut dengan mengulurkan sajadah dan mukena yang dipeganginya sedari tadi. Jika tidak ingat dirinya telah terlanjur wudhu dan terkendala waktu, entah apa yang telah dilakukannya pada Desta saat itu.
Leehans seperti telah biasa melakukan, saat memimpin doa bersama Desta di akhir kewajiban sholatnya. Tak ada kekakuan dalam nada doa dan bacaannya.
Leehans memang sempat jadi anak masjid saat kanak-kanak hingga remaja, di lingkungan perumahan tempatnya tinggal di Jakarta. Bersama Benn dan Daniel, selalu bertiga menghabiskan waktu luangnya mengkaji ilmu agama di Masjid terdekat, pada beberapa ustadz yang memang mengabdi untuk mengajarkan agama di sana.
Dan ketiganya harus berpisah pada akhirnya. Saat usia mahasiswa, Leehans mengikuti orangtuanya tinggal menetap di Jepang demi urusan kerja dan bisnis keluarganya. Sampai akhirnya mengenal Shena, saat dirinya sedang merintis bisnis di usia mudanya. Shena, gadis asli Jepang berkeyakinan agama tempatan, sangat mempesona dan juga sedang memulai debutnnya sebagai artis pemula saat itu.
Meski Leehans sedikit lupa dengan urusan agama, namun sangat bagus masih dipegang teguh pesan guru mengkaji, untuk tidak main ranjang sampai benar-benar dinikahinya Shena, kekasih paling dicinta kala itu.
^^^^^^^^^
__ADS_1
"Desta!" Panggilan Leehans semakin membuat hatinya berdebar tak karuan. Memang, perkataan usil mertua dan kakak iparnya cukup mengganggu pikirannya. Apalagi kini Leehans telah membawa Desta ke dalam kamar pribadinya.
Sajadah yang baru dikemas, disimpan dengan rapi di tempatnya. Desta menoleh pada Leehans yang tengah memandangnya dari balkon. Berjalan ke tempat Leehans dengan hati bergemuruh serasa tak percaya. Yang selama ini hanya mampu memandang pemilik balkon dari kamarnya di seberang, sekarang telah nyata dirinya berada di balkon ini bersama pemiliknya.
"Desta, ke sinilah!" Leehans ingin Desta lebih mendekat, tidak hanya berdiri di depan pintu balkon. Desta mendekati Leehans dan berdiri diam di samping, dengan rasa semakin berdebar berada dekat suaminya.
"Kemari, ada yang ingin ku tunjuk padamu." Leehans menarik lengan Desta lebih menepi ke pagar balkon.
"Cobalah kau lihat ke arah balkonmu. Mungkin kau bisa nampak sesuatu?" Desta memandang Leehans sejenek. Ada ekspresi aneh dan senyum samar di wajah menawan suaminya.
"Apa yang nampak, otto Hans?" Desta mengalihkan pandangan mata ke arah kamarnya. Balkon kamarnya yang sepi, dengan pintu kaca tertutup, tapi tirai gorden terbuka sempurna lebar-lebar. Hanya kamarnya terlihat sidikit terang karenaa lampu terbiar tetap menyala. Dengan kaca-kaca jendela yang menerima pantulan sinar dari lampu kamarnya. Tunggu..Desta kini mulai paham apa maksud Leehans. Ya benar pasti itulah yang dimaksud sesuatu oleh Leehans.
"Ah.. Otto Hans! Jadi selama ini aku nampak olehmu?!" Desta begitu malu, rasanya Leehans telah begitu mempermalukan dirinya. Siapa yang tak malu, seluruh isi dalam kamarnya nampak terpantul sangat jelas di kaca jendela kamar mandi, yang memang tak pernah kembali ditutupnya. Desta merasa aman dengan teralis besi sangat rapat serta gorden tebal yang melapisi kaca jendela kamar mandinya.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau isi kamarku bisa nampak dari sini di kaca itu?!" Desta memprotes sikap Leehans yang sengaja mempermalukannya.
"Jika malam hari, apakah masih nampak?" Desta penasaran dan cemas dengan apa yang akan Leehans jawabkan.
"Coba pikirlah, Desta. Meski agak mendung, tapi ini siang hari. Bagaimana jika malam hari, kau mengerti?" Leehans memandang wajah Desta yang memerah dengan menahan tawanya.
"Apa aku sering terlihat olehmu, tuan Hans." Desta merasa menyesal, sangat malu pada dirinya sendiri dan juga sebal sekali pada Leehans.
"Tidak, aku hanya kebetulan menemukan posisi itu. Cobalah bergeser dari situ." Leehans mengarahkan Desta dengan santai. Ditariknya lagi bahu Desta agar bergeser dari posisinya. Benar, setelah Desta bergeser sedikit saja, bayang di kaca itu menjadi buram dan kosong, hanya samar ada pantulan dedaunan di kejauhan. Entah, rumus pantulan kaca mana lagi yang cocok untuk menjelaskan sebab permainan pantul kaca di jendela kamar mandinya. Sehingga seluruh isi kamarnya bisa terlihat dari balkon Leehans di posisi yang tadi.
"Kenapa tidak memberi kode saja agar aku menutup kaca jendela itu?" Desta seperti terus menyalahkan Leehans dengan penemuan konyol yang merugikannya.
__ADS_1
"Hah..Desta.. Lalu jika aku merindukanmu, aku harus apa? Datang saja ke kamarmu.. begitu?" Leehans bergerak mendekat, mulai merapati tubuh Desta di samping.
"Aku menunjukkannya padamu, hanya ingin agar kau ingat, bahwa senyaman apapun yang kita rasa, tetap ada bahaya yang mengancam dan mungkin akan menghampiri kita suatu saat. Kau paham?" Leehans berkata sambil menempelkan bibirnya di daun telinga Desta yang kecil.
"Tapi tetap saja aku malu, tuan Hans..." Desta merasa geli di telinga. Leehans kini menggesek hidung dan bibir di daun telinganya.
"Malu pada siapa? Hanya aku yang memiliki balkon ini, dan hanya aku yang tahu posisi itu. Dan aku itu siapa? Aku sekarang suamimu, Desta..."
"Tapi ..saat itu ...tak ada hubungan, kita...orang lain.. tuan Hans.." Desta berkata terputus-putus, sambil menahan rasa geli di telinganya.
"Aku tak pernah melihatmu sangat detail, kau pikir aku lelaki mesum? Aku tak mau menumpuk terlalu banyak dosa karena mengintipmu, Desta..." Leehans sedikit menjauhkan diri dari Desta, ditarik tangan itu melewati pintu balkon dan membawa masuk ke dalam kamarnya.
Leehans sudah tidak tahan, hasratnya telah datang seperti ombak yang menerjang. Dipeluknya tubuh indah itu sangat erat. Wajahnya mendekat disertai kecupan mesra di seluruh wajah istrinya. Bibirnya mendekat hangat di bibir Desta yang harum.
Desta membalas pelukan Leehans lebih erat dan menyambut bibir itu bersemangat. Bibir itu saling mellumhat dan saling menyesap berterusan tak pernah ada habisnya. Leehans mempererat pelukan dengan sebelah tangan mulai menelusuri seluruh punggung Desta. Jemarinya merambat turun mengelus seluruh bagian pinggang serta pinggul Desta sangat lembut terkadang menekan dan menariknya cukup kuat karena gemas.
Desta yang merasa getar geli dan tubuhnya menghangat di mana-mana tak mampu bersuara. Bibirnya begerak-gerak tiada kata karena Leehans terus memainkannya dengan bibir dan lidah yang belum pernah dilepas sesaatpun.
"Ah.. tuan Hans.." Desta menyebut suaminya saat Leehans melepasnya dan mendorong lembut tubuhnya hingga jatuh pelan ke ranjang tempat tidur.
"Hilangkan kata tuan, Desta... aku tidak suka.." Leehans kembali menikmati bibir dan mulut Desta begitu lama, yang tak pernah dapat puas dirasakannya.
Desta merasa bingung saat jemari Leehans mulai memegangi bagian dadanya berulang-ulang dan mulai membuka kancing-kancing dress di bagian dadanya. Rasa berdebar dan degupan indah tak terkata karena gerakan tangan Leehans di dada, membuatnya pasrah dengan rasa harap atas apa yang akan Leehans terus lakukan di tubuhnya.
Leehans terus menciuminya, sambil sebelah tangan mengelus-ngelus sangat lembut kulit lehernya yang halus dan jenjang. Tangan Leehans turun perlahan ke daerah dada yang kini telah membuka lebar dengan dress tersingkap tanpa kancing. Nampak dua gundukan indah telah menyembul sebagian membentuk belahan cukup gelap dan dalam di atas dadanyah.
__ADS_1
Tangan Lehans masih terus membelai pelan kulit leher dan dadanya. Hal itu telah cukup mampu membuat Desta terpejam setengah melayang, pasrah dengan apapun tindakan Leehans yang akan dilakukan padanya.
"Destah..apakah inih..." Suara Leehans terdengar serak dan terengah di depan wajahnya. Leehans terasa bergerak menurunkan tubuh hingga sebatas dadanya.