Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Pengantin # 78


__ADS_3

Hawa dingin dari air conditioner di hall megah hotel, menyelimuti acara pernikahan yang tengah berlangsung begitu meriah. Para tamu undangan menjamu selera dengan begitu banyak hidangan yang berlimpah ragamnya. Disertai alunan musik ornamental yang mengiringi jalannya acara jadi terasa makin syahdu.


Desta duduk diam, terlihat tenang dengan senyum indahnya. Namun, kenyataan hati sering tak sesuai dengan apa yang dinampakkan. Jantungnya tak mereda berdetak keras, rasa hati bergemuruh menahan gejolak di dadanya. Duduk sekursi begitu dekat bersama Leehans di pelaminan, membuat hati tegang tak terkira.


Leehans dan Desta telah berdiri, berterusan menyambut para tamu undangan yang menghampiri mereka di pelaminan dengan tersenyum. Para tamu tak putus-putus berdatangan, mengucapkan selamat pada keduanya. Meski terasa sangat lelah, namun mereka terlihat kompak bersandiwara, menyapa para tamu yang mendekat dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Kau penat?" Tiba-tiba Leehans berbisik di dekat telinganya. Kala itu tamu undangan sedang jeda menghampiri.


"Jujur saya lelah." Desta terus terang dengan rasa badannya. Namun, sangat tidak etis jika pengantin sebagai maskot dalam acara pernikahan, terlihat pergi sebelum acara habis usai.


"Bertahanlah. Ku rasa kau tidak mungkin pingsan hanya karena begini." Leehans memberinya semangat.


Tamu undangan kembali beriringan menuju kursi pelaminan, mengucapkan selamat pada Leehans dan Desta bergantian.Desta nampak terkejut mendapati pengacara Tauji Hiroshi bersama istri dan dua anaknya, serta Jenny pun bersama mereka. Keluaga kecil itu berjalan pelan di antrian menuju pelaminan.


Rupanya Benn telah mengundang mereka. Namun ayah Jenny, Daniel, tidak nampak hadir bersama-sama. Di manakah Daniel kini? Desta menduga-duga keberadaan Daniel sebenarnya.


Keluarga kecil itu telah sampai tepat di pelaminan. Tanhiya menyalami kedua pengantin dengan mengucap selamat, diikuti tiga bocil di belakangnya. Jenny berhenti agak lama, Desta sempat memeluk putri Daniel itu, yang entah di mana ayahnya. Dilepaskan Jenny dari dekapan dengan rasa berat di hatinya.


"Onti..Napa bukan sama papah Jinni?" Jenny terlihat heran memandang Leehans dan Desta bergantian, sebelum Tanhiya merengkuh gadis kecil itu dengan sayang di gendongannya.


Tauji telah berdiri tepat di hadapan, mengucap selamat dan berbisik pelan sebelum berlalu dengan terpaksa.


"Desta san...ku tunggu kedatanganmu enam bulan lagi... akan ku acc warisanmu.Oke?" Tauji Hiroshi berbisik dan melangkah maju memberi kesempatan di antrian belakangnya. Desta hanya termangu dengan tatatapan kosongnya, melepas kepergian keluarga Tauji Hiroshi dengan sedikit tidak rela.


"Apa kau berfikir mereka yang seharusnya jadi iparmu?" Leehans tiba-tiba menegurnya, saat tamu yang menghampiri kembali ada jeda.


"Daniel tidak datang, mutasinya telah lulus. Saat ini sedang bertugas. Kau rindu?" Leehans berkata dengan ekspresi sedikit dingin menoleh pada Desta.


"Apakah boleh?" Desta geram dengan Leehans, lelaki itu tidak memahami isi hatinya sedikitpun. Ditatap nanar wajah suaminya, menunggu jawaban akan pertanyaan dilemparkannya barusan.


"Apa boleh buat, Desta..." Leehans terdengar menggantung ucapannya. Kemudian kembali lirih bersuara, dan Desta telah mendengar dengan jelas.

__ADS_1


"Aku tidak ingin merampas jiwamu dengan pernikahan ini, aku hanya sedang meminjam ragamu sementara. Kau harus tetap mendapat kebahagiaanmu. Desta...katakan, jika iya... kau bisa menemuinya. Tapi aku yang akan mengantarmu. Jangan pernah menemuinya sendiri. Aku tidak mau kalian tertangkap awak media yang haus akan berita." Leehans memandangi wajah cantik itu dengan rahang yang mengeras.


"Kau paham,Desta..?" Leehans bertanya sedikit lembut. Desta hanya memandang wajah hampir sempurna itu tanpa kedip. Hatinya menjuntai, wajah Leehans seakan penuh sihir di matanya. Perlahan mengangguk dengan isi kepalanya yang kembali mulai kosong.


Acara selasai tepat pukul sembilan malam. Para kerabat telah berpamitan, tak satupun yang tinggal. Mereka adalah orang-orang sibuk, bermacam pekerjaan senantiasa menunggu di tempat kerjanya.


Begitupun pasangan pengantin baru, Desta dan Leehans, keduanya tidak lagi nampak di pelaminan. Kursi raja ratu sehari yang mewah dan empuk, telah kembali kosong semula seperti saat baru datang. Ruangan super luas itu kini hanya tinggal para pegawai dari pihak W.O. yang sedang berkemas.


#####


Kamar hotel pilihan yang khusus di persiapkan untuk menyambut pengantin baru, sangat besar dan luas, menyamai ukuran apartemen. Dekorasi warna kamar adalah abu-abu dan navy. Cat dinding itu masih baru, namun beraroma segar dan menenangkan. Cat pilihan dan sangat ramah pada lingkungan, dengan harga yang luar biasa.


Warna abu-abu adalah favorit Leehans, sedang navy adalah warna favorit Desta. Sudah bisa dipastikan, kamar pengantin itu, Leezha lah yang mengaturnya.


Desta telah berada di kamar luas itu sendirian. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hanya duduk di sofa dengan tegang, menunggu datangnya Leehans dengan hati tak karuan. Hatinya berdegup menunggu apa yang akan terjadi kemudian.


Desta telah mandi, gamis pengantin telah dilepaskan dan digantinya dengan gamis ganti yang disimpan dalam bag tangannya. Desta bersyukur, Leezha tidak mengambil gamisnya, mungkin Leezha terlupa. Karena, Desta menemukan beberapa dress dan kimono baru terlipat rapi dalam almari, di luar kamar mandi. Kimono dan dress cantik dengan potongan pendek di bagian tangan atupun bagian bawahnya. Desta tak berminat memakai baju seperti itu. Terlebih, akan datang Leehans di kamar itu bersamanya.


Keinginan Desta untuk mendapat kamar sendiri tanpa Leehans, ditolak mentah-mentah oleh ibu dan anak itu dengan serempak. Desta pasrah dimasukkan dalam kamar oleh keduanya. Namun belum sempat masuk ke dalam, Leehans mendapat panggilan telepon dan kemudian pergi entah ke mana. Leehans berkata akan menyusulnya belakangan.


Kini Desta sedang mengamati suasana kamar pengantin mewahnya. Ada tulisan di dinding menuliskan namanya dan Leehans, berisi ucapan selamat dan doa bahagia.Desta tidak tahu, apakah harus mengaminkan tulisan itu ataukah mengabaikannya.


Matanya bergeser ke arah tempat tidur. Ada sepasang angsa putih yang saling menempelkan paruhnya seperti sedang berciuman. Angsa yang dibentuk dari seni melipat selimut yang terlihat sangat rapi dan indah. Di atas tempat tidur, bertaburan bunga mawar merah bercampur bunga melati putih, yang wanginya semerbak mengikuti hembusan udara dalam kamar.


Terdapat sebuah lilin besar warna merah dalam wadah uniknya dan siap dinyalakan. Melihat semua itu, hati Desta berdesir. Rasa hatinya bercampur baur tak terlukis dengan kata dan kalimat. Ada tanya besar di benaknya. Apa yang harus dilakukannya? Bagaimana seharusnya bersikap pada Leehans? Apakah Leehans akan meminta haknya sebagai suami terhadap istrinya?


Memikirkan hal itu, kepalanya terasa berat, kantuk mulai menyerang tanpa ampun. Kelopak matanya perlahan-lahan telah turun dan menutup rapat-rapat. Desta tertidur dalam angan panjangnya. Raganya lelah setelah digunakan seharian pada rangkaian acara pernikahannya.


****


Pukul sebelas malam, Desta terbangun karena dirasa hidungnya tengah disentil-sentil jari tangan. Matanya terbuka lebar, Leehans telah berdiri menjulang di depannya.

__ADS_1


"Anda sudah kembali?" Desta terkejut mendapati lelaki itu telah datang.


"Apakah kau menungguku?" Leehans duduk di sampingnya begitu saja, jarak mereka begitu dekat.


Desta sadar, Leehans sudah lama datang ke kamar. Lelaki itu nampak segar, sepertinya habis mandi, bajunya telah bertukar dengan kimono tidur yang menempel pas di badannya. Dengan duduk rapat begini, tubuh Leehans beraroma sangat wangi, harum maskulin tercium kuat di hidung Desta yang mungil dan runcing.


"Desta, bangun dan berdirilah." Leehans berkata lagi, karena Desta hanya diam mengamatinya dengan diam. Desta tidak juga berdiri.


"Desta, dengar... Aku ingin kau mengikutiku. Bersihkan dirimu. Berwudhulah sekarang juga. Kau paham kan?" Leehans kembali berkata, namun Desta justru terlihat bingung.


"Mengertilah, Desta... Aku ingin menunaikan shalat Zifaf, shalat sunah malam pengantin. Kau jangan takut, aku tidak akan memaksamu. Meski aku berhak menyentuhmu, aku tidak berniat memperkosamu. Percayalah, kau akan selalu aman bersamaku. Aku akan mengendalikan diriku. Kecuali... jika kau juga menginginkannya, kau merelakannya untukku." Leehans berkata dengan ekspresi yang serius, wajahnya tegas dan rahangnya mengeras. Leehans memandang Desta dengan mata tajam berkilat-kilat begitu dekat.


Desta merenungkan perkataan Leehans. Apakah jaminan itu, jika malam ini Desta menyerahkan dirinya untuk Leehans? Sedang Desta tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan Leehans padanya. Yang Desta tahu Lelaki itu tidak mencintainya. Bagaimana jika akhirnya bercerai setelah Desta mengurus warisannya? Pernikahan ini terjadi tanpa cinta. Desta akan menjadi janda. Janda yang hilang mahkotanya. Desta tidak menginginkan itu, Desta ingin tetap bersih meskipun telah bercerai dengan Leehans.


"Tunggulah tuan Hans, saya akan ke kamar mandi.Setelah itu kita akan shalat berjamaah." Desta berdiri dengan sigap, langkah kakinya berayun menuju kamar mandi dengan cepat.


Desta telah bersiap dengan mukena ditubuhnya, berdiri tepat di sebelah Leehans agak di belakang. Leehans mulai berniat dan mengatur gerakannya. Desta mengikuti gerakannya di belakang sesuai bacaan yang didengarnya. Leehans melakukan sunah dua rakaat itu hanya dengan surat Al Fatikhah tanpa menambah dengan surat lainnya.


Bacaan doa yang panjang dibaca Leehans dengan sayup dan samar, namun Desta tetap mengaminkannya meski tidak jelas didengarnya.


Sunah itu telah selesai. Desta memandangi punggung lebar di depannya dengan hati berdebar. Punggung tak bergerak itu tiba-tiba berputar dan menangkap mata indahnya. Leehans mengunci tubuhnya dengan mata tajam yang menatap hangat wajahnya.


Desta berdebar-debar tak mampu bergerak saat Leehans beringsut mendekatinya. Lelaki itu mengulurkan tangan ke arahnya, Desta pun menyambut tangan itu. Telah paham dengan maksud Leehans, segera di tempelkan bibirnya sekilas pada punggung tangan itu.


Leehans kembali bergeser maju mendekati, dan lebih merapat lagi. Desta tak mampu bergerak sedikitpun, dengan hati bergemuruh hebat tak karuan, akhirnya hanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan Leehans yang telah begitu dekat dengannya. Nafas Leehans begitu tenang menerpa wajahnya. Terasa hangat dengan aroma maskulin berhembus mengenainya. Leehans begitu tenang bernafas, namun Desta begitu susah nengatur nafasnya. Nafas yang hanya tersangkut di lehernya.


#######


❀❀❀❀


Beloved readers..trims udah tetap mengikuti... sorry mengecewakan..bab ini tergantung..tapi udah over limit kata-kata... tunggu bab selanjutnya ya....

__ADS_1


Jangan lupa Relakan like kalian untukkuπŸ˜šπŸ˜šπŸ˜šπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2