
Gilang telah membawanya meluncur membelah jalan raya, kali ini yang dibawanya adalah mobil sport warna merah miliknya sendiri. Makhlum, orang tuanya adalah orang berada yang cukup terpandang di kotanya.
Selain itu, Keluarga Gilang merupakan donatur resmi di yayasan Bina Amanah, yang rutin mengantar donasi cukup besar setiap bulannya.Sehingga yayasan tidak segan memberi apresiasi padanya berupa peluang kerja sebagai wakil ketua yayasan.
Gilang Hendrawan, pria mapan berusia 27 tahun dan berwajah serupa Achmad Megantara itu, tengah berencana melepas masa bujangnya. Dia mendambakan gadis baik-baik, berakhlak dan berpendidikan seperti Desta.
Gilang cukup tahu perkembangan Desta belakangan ini. Semenjak dirinya bekerja di Yayasan 3 tahun lalu, sehabis menyelesaikan pendidikan terakhirnya di negara Singapura. Gadis itu telah mampu menarik perhatiannya sebagai lelaki.
Gilang diam diam telah lama berminat pada Desta, mengingat gadis itu mempunya pribadi yang baik dan menyenangkan, terlepas bagaimana asal usul gadis itu. Lagipula, untuk urusan kehadiran wali murid di masa akhir kuliah Desta, Gilanglah yang banyak berperan mendampingi untuk urusan perwaliannya.
***
Gilang membelokkan mobilnya di sebuah rumah makan daerah wonokromo, Surabaya. Warung khas milik bu Yeyen, yang terkenal dengan menu andalannya, rujak cingur.
Desta sangat menyukai rujak cingur, dan Gilang sangat tahu tentang ini. Dia menduga, mungkin selama 2 bulan kepergian Desta ke Jepang itu, bisa jadi menu inilah yang akan disukai gadis itu.
"Hah, kita akan makan rujak cingur kah mas, wah trims banget mas Gilang, aku suka!"
Desta histeris dengan kejutan kecil itu.
"Mas masih ingat ndak, terakhir beliin aku rujak cingur kapan?" Desta cengengesan.
Waktu itu, Gilang menjemputnya sehabis ikut lomba renang di daerah Kenjeran, Surabaya. Dan pulangnya, Desta memilih makan rujak cingur sebagai ucapan selamat Gilang, atas kemenangan yang diperolehnya.
Desta begitu bernafsu menyuap rujaknya, dan buru-buru menghabiskannya, makhlum habis berenang, tenaganya telah terkuras habis, sedang panitia lombanya sedikit pelit. Saat itu, Desta cegukan hingga berjam-jam lamanya, setelah habis rujak dua porsinya dengan cepat.
Mengingat hal itu, Gilang hanya tersenyum kecil memandang Desta.
"Kali ini kau harus habiskan rujakmu pelan-pelan, aku malu membawa gadis yang cantik, namun cara makannya kayak musang."
__ADS_1
Desta makin cengengesan dengan jawaban gilang seperti itu.
" Apakah waktu itu aku bukan gadis cantik?" Desta bertanya jenaka.
" Waktu itu kau masih bocah di mataku." Gilang menjawab serius dengan ekspresi yang dalam.
Desta tidak membalas lagi ucapan Gilang kepadanya, lebih memilih memperhatikan daftar menu minuman yang akan jadi favoritnya. Desta memilih jus buah naga, dan memilihkan jus jambu untuk Gilang, seperti permintaan lelaki itu.
Selesai makan, Gilang kembali meluncurkan mobilnya menuju taman malam Bungkul, yang juga masih di sekitaran Wonokromo. Desta begitu bergembira memasuki taman yang sangat ceria ini.
Gilang mentraktirnya dengan menaiki berbagai wahana yang jadi pilihan Desta. Gilang pun juga ikut menaiki wahana itu bersama Desta. Sesekali Desta memintanya untuk memotret dirinya, dengan bermacam background dan gayanya yang fotogenik, dengan ponsel Desta sendiri.Namun Gilang juga menyelipkan ponsel miliknya untuk memotret Desta.
Puas berputar di sekeliling lokasi taman Bungkul, Gilang menginginkan Desta untuk menyebutkan sebuah lokasi lagi yang diinginkannya. Seperti niatnya semula, gadis itu ingin pergi ke pasar malam Kodam, untuk berbelanja bermacam oleh-oleh bagi anak-anak yayasan.
Gilang melajukan mobilnya ke arah pasar Kodam, yang masih di area Wonokromo juga.
Pasar itu buka hingga malam, bahkan jika ramai pengunjung, bisa tutup sampai lewat tengah malam.
Gilang mengamati nominal belanja Desta yang tidak tanggung-tanggung. Beragam belanjaan itu, dibeli Desta dalam jumlah yang sangat banyak untuk setiap jenisnya. Gadis itu membayarnya tanpa menawar atau meminta diskon, seperti kebiasaanya sebelum ini.
Gilang beranggapan, Desta telah mendapat gajinya yang lumayan untuk pekerjaannya di Jepang. Gilang merasa ikut bangga dengan kesuksesan gadis itu, tapi ada sebersit rasa gusar di hati, mengingat Desta akan kembali bekerja di sana.
Belanjaan Desta telah terkumpul begitu banyak, hingga keduanya meminta seorang porter pasar, untuk membawakan barang-barang itu menuju mobil di parkiran. Desta merasa lega, telah mendapat semua yang ingin dibelinya, yang akan diserahkan untuk anak-anak di yayasan.
"Sepertinya kau akan menjadi idola anak-anak itu Desta."
Gilang menahan tawa, sambil menata belanjaan itu kedalam ruang mobilnya hingga penuh dari ujung bagasi sampai kursi di depan. Ada banyak boneka kecil, aksesoris, mainan anak , sandal, dan begitu banyak jajanan serta sanck berbagai merek.
"Kan tidak tiap hari mas, aku cuma berbagi rezeki aja. Akupun dulu juga sering mengharap hadiah seperti ini."
__ADS_1
Desta sedikit ingat masa kecilnya dulu di Yayasan.
"Carilah pekerjaan di sini saja Desta, tidak bisakah?" Gilang membawa mobilnya,sambil menoleh Desta sesekali.
"Inginnya sih begitu, tapi ndak mungkin mas, kan aku dah cerita sama mas Gilang."
"Apakah nilai kontrak kerjamu itu bernilai tinggi?"
Gilang bertanya lembut, khawatir jika Desta akan tersinggung.
"Aku ndak tahu pasti mas, tapi tuan Leehans, anak Mr Lee itu, orangnya sangat disiplin."
Desta teringat akan Leehans, sebenarnya lelaki itu demikian baik dan tulus. Hanya saja pembawaannya tegas dan datar, membuat visual lelaki itu terkesan dingin. Desta menghela nafasnya dalam dan membuangnya.
Gilang berharap Desta tidak usah kembali ke Jepang. Andai mungkin, dia ingin menebus kontrak kerja yang mengikat pujaan hatinya tersebut. Namun bagaimana cara mewujudkan niatnya itu?
***
Dengan hati yang gembira, Desta telah merebahkan diri di kamar barunya, meski ada sedikit rasa bernostalgia tentang kamar lamanya yang sebenarnya dia rindukan. Namun apapun itu, dia telah ikhlas, toh kamar barunya jauh lebih menyenangkan dari kamar lamanya di sana.
Gilang, mas Gilang... Lelaki itu tetap baik padanya dari dulu, sejak dirinya masih mengeyam ilmu di bangku kuliah. Dulu, lelaki itu memperlakukannya seperti seorang kakak pada adiknya. Destapun merasa nyaman, dan berperilaku apa adanya, tanpa perlu jaga image apapun di depan mas Gilang.
Desta mengenang di saat-saat terakhir kuliahnya, proposal yang telah dia jilidkan, dan terjadwal presentasi hari itu pada dosen killernya, malah tertinggal di meja makan karena lupa. Padahal hari itu hujan deras, dan presentasi akan dimulai beberapa menit lagi.
Satu-satunya orang yang dia harap sebagai dewa penyelamat hanyalah Gilang Hendrawan, asisten ibu Hartini, sekaligus wakil yayasan Bina Utama, alias mas Gilang.
Lelaki itu datang juga meski sedikit telat dari jadwal presentasinya. Gilang rela menyusulkan proposal keramatnya, di tengah hujan deras dan petir menyambar. Lelaki itu sampai dengan wajahnya yang sembab kemerahan, ternyata lelaki itu sedang demam sangat tinggi.
Saat itu, Desta sangat terharu dengan pengorbanan Gilang, yang merasa bertanggung jawab atas dirinya. Kebaikan lelaki itu akan dikenangnya hingga kapanpun, tak peduli apakah Gilang hanya baik pada dirinya saja atau pada semua orang.
__ADS_1
Namun sekarang, cara Gilang memperlakukan dirinya, beda jauh dari caranya yang dulu. Cara Gilang berbicara padanya, menatap dirinya, mengingatkan Desta pada sikap Benn padanya waktu itu.
Benn bersikap begitu, dan dengan terus terang mengatakan minat dan hasrat padanya sebagai lelaki dewasa. Apakah mas Gilang juga begitu, apakah dia ada minat terhadap dirinya?