Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Menunda Interview #06


__ADS_3

Mengobrol bersama Maya sangat menyenangkan hatinya. Hingga tak terasa waktu sudah menjelang maghrib, mereka bergegas kembali ke kamar masing-masing untuk sholat.


Sambil menunggu waktu isya, Desta membuka laptopnya. Untuk mengasah kembali pengetahuan dan teori ilmu perbankannya. Bagaimanapun dia sangat menyukainya.


Malam pukul 19.25 WIB mulai terasa dingin, maklum, hujan turun deras mengguyur Jakarta. Suasana ruang makan begitu hangat, sambil makan malam dengan menu sangat banyak, mereka kembali saling berkenalan dan bercerita. Keakraban cepat terjalin di antara mereka.


Desta kembali kekamar dengan perut terasa penuh. Bunyi klunting dari hpnya menandakan ada pesan wa yang masuk. Diambilnya hp dari atas bantal dan dibukanya pesan wa itu, sambil melepaskan kerudung dari kepalanya.


"Besok berkumpul di Aula kembali, untuk tes tertulis tepat pukul 7 pagi, tidak boleh terlambat."


Asisten Lucky.


Karena perutnya terlalu kenyang itulah yang bikin Desta cepat mengantuk, dia memilih segera tidur saja, toh dia sudah belajar sedikit tadi. Rezeki tak kan kemana, daripada dipaksakan belajar terus dia lambat bangun, malah dipatuk ayam kan rezekinya.. hhehehe.


Pukul 7 pagi tepat setelah sarapan bersama, semua peserta sudah berkumpul dalam aula. Menunggu kedatangan asisten Lucky dengan perasaan yang agak gugup. Meski diadakan tiap tahun, tapi ini adalah yang pertama untuk mereka.


Asisten Lucky memasuki aula, dan segera membagikan sebendel kertas kepada tiap-tiap peserta, dengan soalan yang sama. Waktu yang diberikan untuk mengerjakan soal, hanyalah empat puluh menit mulai dari sekarang.


Ruang aula itu terasa sunyi seketika. Dengan bersungguh-sungguh dan berlomba dengan waktu, mereka terlihat serius untuk mengisi jawaban setiap soal dengan tepat.


Desta mengisikan tiap poin jawaban dengan pasti dan tenang, karena memang tak ada kesempatan untuk bersikap ragu-ragu. Waktu berjalan dengan cepat, timer yang disett oleh petugas telah berbunyi dari audio spiker di pojok ruang.


Asisten Lucky segera berdiri, mengambil semua bendel soal beserta jawaban dari semua meja peserta.


Peserta diizinkan bersantai sambil menunggu pengumuman hasil nilai tes mereka. Lima orang dengan hasil tes terbaik, akan diumumkan pukul dua belas siang. Mereka akan dipanggil untuk interview langsung dengan direktur Bennard selepas makan siang.


Tepat tengah hari, dengan berkumpul dimeja makan, nama-nama pemenang mulai diumumkan melalui audio spiker. Semua hening dengan hati berdegup, memusatkan pendengaran pada audio spiker yang ada di pojok atas ruang makan.


"Perhatian kepada seluruh peserta semua, inilah lima nama yang akan melanjutkan interview setelah makan siang.."



Desta Galerie Aisha


Linda Amara

__ADS_1


Rika Sidempuan


Reni Wijaya Afandi


Devina Putri



" Selamat kepada nana-nama yang telah disebutkan, jangan lupa untuk bersiap melakukan interview habis ini."


Desta sedikit terkejut sebentar, namun perasaanya segera kembali seperti biasa, meski dalam hatinya mengucap syukur berulangkali. Baginya kejutan begini sudah biasa.


Namanya sudah sering dipanggil dalam beberapa kemenangan sebelumnya saat masih bersekolah. Suasana kembali hangat, kala mereka saling mengucapkan selamat sambil memeluk dalam senyuman.


Acara makan siang sudah lama selesai, peserta yang namanya tidak disebut telah kembali ke kamar mereka. Namun ke-5 peserta yang tinggal, tidak kunjung dapat panggilan interview.


Kegalauan itu hilang tatkala asisten lucky datang dan menghampiri mereka. Namun bukannya memanggil, asisten Lucky justeru membawa kabar bahwa acara wawancara ditunda besok. Semua diminta kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.


Sementara di sebuah restoran mewah bagian ruangan VIP, terlihat dua orang pria yang sama-sama berparas menawan tengah berbincang akrab mengenai hal penting.


Salah satu dari mereka adalah direktur Bennard, dan lelaki yang duduk dihadapanya adalah CEO Leehans, yang baru datang dari Jepang mewakili ayahnya.


Bennard heran kenapa sahabatnya ini datang sendiri, yang biasanya selalu mengiringi ayahnya.


"Kali ini asam lambungnya parah. Dokter kami tetap tidak mengizinkannya pergi terlalu jauh." CEO Leehans menyeruput kopinya.


"Hari ini seleksi interview tertunda, tolong lanjutkan besok, aku tidak bisa , karena harus menemani kekasihku pemotretan diluar kota. "


"Hah! Kau tidak pernah berubah! "


Leehans menggerutu dengan kebiasaan Benn yang gemar mengikuti wanita.


"Bucin.. Huahahaha!! "


Benn terkekeh atas jawabannya sendiri, dia tahu Leehans tidak pernah mempunyai teman wanita, hatinya sudah tertutup untuk satu orang di sana yang sudah menikah.

__ADS_1


Leehans hanya mendengus masam dengan ledekan Benn, baginya jika dia menghendaki mana-mana wanita, tinggal sebut saja sudah dapat, namun hatinya tidak ingin.


"Pilihlah wanita, besok saat interview kau bisa cuci mata, gadis-gadis muda itu nampak menyenangkan, sambil menyelam teguklah air. " Benn kembali menggoda Leehans.


"Jangan sembarangan, mereka amanah ayahku dan aku akan membawa dua orang terbaik untuknya. "


"Baiklah terserah, lakukan sesuai rencanamu. Aku sudah menelepon Lucky untuk mengirimkan sopirnya kesini menjemputmu."


" Sorry, aku terpaksa meninggalkanmu demi meetting sore ini, jadi kau jangan menangis. "


"Cih, cepatlah pergi dariku. "


Leehans menanggapi geram ledekan Benn padanya. Matanya memicing sinis mengantar langkah Benn, menuju latar parkir mobilnya.


Leehan dan Bennard bisa dikatakan saudara jauh, nenek mereka adalah saudara kandung. Meski keduanya beda usia, Benn lebih muda dua tahun, namun keduanya mengenyam pendidikan dengan waktu bersamaan, dan disekolah yang sama.


Karena waktu kecil, Benn yang keras kepala, ingin selalu bersamaan dengan Leehans ke manapun. Membuat orang tua dan gurunya bekerja ekstra keras, untuk mensiasati ketertinggalan usianya.


Meski tidak tinggal berdekatan, keluarga mereka cukup sering saling mengunjungi. Mereka mulai jarang berjumpa saat ibu Leehans memutuskan menetap di Tokyo.


Leehanspun memilih mengikuti orang tuanya, dan mulai membangun bisnisnya sendiri di negara itu, hingga sukses seperti sekarang.


Sedang perusahaan dan yayasan, yang telah dirintis keluarga ayahnya bersama keluarga Bennard di Indonesia, dia percayakan sepenuhnya kepada Bennard, yang kebetulan anak tunggal dikeluarganya.


Sedang orang tua Bennard, sudah tidak ingin ikut campur lagi dalam bisnis itu, mereka lebih suka membuka penginapan dan restoran di daerah puncak.


Hanya ayah Leehans yang masih sering wara-wiri ke Indonesia, dan kadang sering mengajaknya ikut serta. Ayahnya juga kerap memintanya mempelajari sistem bisnisnya, yang dipercayakan kepada Bennard.


Berhubung dahulu orangtua ayahnyalah pencetus ide kerjasama, sekaligus pemilik saham terbanyak, pimpinan utama tetap berada di tangan mr Lee, yakni ayah Leehans, dan Leehans sendiri sebagai CEOnya untuk pelengkap struktur manajemen bisnisnya.


Joni, sopir yang diutus asisten Lucky telah sampai direstaurant dan segera menghampiri Leehans.


"Apa kabar tuan Leehans, selamat datang. "


Leehans membalas dengan anggukan kecil dan segera beranjak sambil membawa tas kecil yang berisi laptop kerjanya. Joni mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang membelah jalan raya menuju gedung utama.

__ADS_1


Joni sedikit menambah kecepatan laju mobilnya agar segera sampai, sebelum jalan raya ini macet dipenuhi kendaraan pegawai yang pulang kerja pukul lima. Dia tak ingin terjebak dan membuat majikan yang dibawanya ini merasa waktunya terbuang.


Mobil berhenti pelan didepan gedung utama, Joni membunyikan klakson dan perlahan gerbang besi itu terbuka dan kembali menutup dengan otomatis.


__ADS_2