
Leehans sampai di bandara Narita - Tokyo, Jepang, pukul 6 pagi waktu setempat. Selisih waktu antara Jakarta dan Tokyo adalah 2 jam, sekarang di Jakarta masih pukul 4 pagi.
Perjalanan selama kurang lebih 7 jam itu sudah sangat biasa baginya. Menempuh perjalanan ke berbagai negara dengan durasi terbang yang panjang, secara tidak langsung telah melatih daya tahan tubuhnya lebih baik lagi.
Dengan sopir pribadi yang telah menjemputnya dari bandara,dia tiba di rumah besarnya dengan disambut ibunya tersayang. Setelah melepas rindu sebentar dengan ibunya, dia menuju kamar untuk mandi dan bertukar pakaian.
Meski dirinya berusaha hati-hati saat perjalanan di luar, bagaimanapun sekarang sedang musim wabah dan virus. Leehans tak ingin tubuhnya terjangkiti oleh penyakit apapun.
Mr. Lee tengah duduk termenung saat putra bungsunya masuk ke ruang kerjanya. Segera diperbaiki duduknya sambil meluruskan punggung.
"Bagaimana perjalananmu. "
Mr. Lee bertanya dengan seksama kepada anak lelaki kesayangannya yang duduk dihadapannya. Dia tidak berbicara dalam bahasa Jepang, tapi menggunakan bahasa Indonesia.
"Alhamdulillah, lancar ayah, ada apa ayah menyuruhku pulang lebih cepat? "
Leehans memang berencana kembali ke Jepang 2 hari lagi.
"Ada hal penting yang ingin ayah sampaikan."
" Ayah telah bersalah selama ini, sangat sibuk dengan urusan ayah sendiri sehingga melupakan sebuah wasiat yang sudah lama ayah sanggupi."
Mr. Lee berkata dengan nada sendu, sambil tangannya meraih laci mengeluarkan sebuah kertas dan diulurkannya pada Leehans. Leehans meraih dan membaca kertas itu dengan seksama. Rupanya sebuah surat wasiat, yang menyangkut nama-nama orang yang begitu dikenalnya.
Makan malam keluarga Lee berlangsung hangat, dengan sajian yang beraneka macam. Dari makanan, buah-buahan, serta berbagai minuman yang bervariasi.
"Aku sangat ingin tahu, bagaimana keadaannya, apakah anak itu tumbuh dengan baik? " Mr Lee bergumam sambil menatap Leehans. Leehans nampat terdiam dan menghirup nafas lalu menghembuskannya.
__ADS_1
"Tenanglah ayah, anak itu baik-baik saja dan tumbuh menjadi gadis yang sehat dan sangat rupawan. " Akhirnya Leehans mulai berkata terus terang pada ayahnya.
"Bagaimana kau tahu?" Mr Lee bertanya antusias, sambil menepuk pelan pundak Leehans.
"Dia sudah terikat kontrak kerja denganku ayah. "
"Maksudmu dia ternyata salah satu pegawaimu? " Mr. Lee sangat antusias.
"Tidak, tapi aku telah selesai meneruskan keinginan ayah, mengambil dua pelajar terbaik dari yayasan kita di Indonesia, dan dia menjadi salah satu dari dua orang yang terpilih. " Leehans menjelaskan pada ayahnya.
Mr. Lee nampak terkejut, tapi rasa haru membuatnya tak mampu berkata-kata, sekaligus bangga dengan kinerja putra bungsunya ini. Diusapnya mata yang berkaca-kaca itu dengan punggung tangannya.
Ingat belasan tahun lalu saat nenek Benn menemui ibu mertuanya dalam keadaan sakit, untuk menyampaikan sebuah wasiat. Namun Ibu mertuanya menyerahkan wasiat itu padanya, karena merasa kesehatannya sudah tidak baik lagi.
Namun surat penting itu hanya disimpannya saja hingga ia lupa bertahun- tahun lamanya. Sampai akhirnya teringat dan segera disampaikannya kepada Leehans, berharap putranya itu mampu membantu mengurusinya dengan bijak.
Malam sudah hampir berganti pagi, namun Leehans masih terjaga di ruang kerjanya. Selain kerjanya yang menumpuk, matanya sama sekali tidak terasa kantuk. Pikiranya juga terus menimbang langkah tepat bagaimana yang mesti dilakukannya?
**
Bahkan untuk pulangpun, Benn harud dijemput asisten Lucky dan diantarkan ke villa besar ini. Minuman beralkohol beraneka level dan para wanita pilihan yang disediakan di pesta liburan kemarin, membuatnya larut pada kesenangan sesaat.
Benn dikagetkan oleh dering panggilan masuk di hpnya, tanganny mencari-cari hp itu di saku celanya. Sambil terpejam diterimanya panggilan telepon, dan disimaknya bicara si penelepon di seberang. Panggilan itu berlangsung lama, hingga mampu memulihkan kesadaran Benn sepenuhnya.
Benn tidur terlentang sambil memandangi langit-langit kamarnya dengan ukiran plavon pvc yang mewah. Pikirannya tertuju pada Leehans yang memintanya datang ke Jepang melalui panggilan telepon barusan. Benn diminta berangkat membawa serta Desta bersamanya ke Tokyo.
Sedang Rika bertugas standby di gedung utama untuk bekerja di bawah arahan asisten Lucky.Meski Benn kurang mengerti, kenapa Rika tidak ikut serta ke Jepang menemui Mr. Lee, tapi justeru tinggal di sini membantu Lucky. Itu akan ditanyakannya nanti.
__ADS_1
Benn menelpon asisten Lucky untuk mengurus dokumen keberangkatanya bersama Desta ke Jepang. Dia ingin administrasi itu selesai dengan cepat. Hatinya penasaran dengan perkataan Leehans, bahwa ini hanya murni urusan keluaraga. Urusan apa sebenarnya?
**
Siang itu di gedung utama lantai dua, Desta sedang mendapat telepon dari asisten Lucky, bahwa dirinya harus bersiap, karena akan diberangkatkan ke Jepang malam ini namun tanpa bersama Rika. Meskipun heran kenapa Rika tidak ikut, tapi Desta enggan bertanya, asisten Lucky nampak terburu-buru dalam panggilannya.
Saat makan malam yang telah disiapkan oleh pegawai gedung, Desta menyampaikan rencana keberangkatannya itu kepada Rika. Rika nampak bingung, kenapa dirinya tidak diikut sertakan.
"Maafkan aku kak, tapi akupun kurang mengerti, bisa jadi kita akan bergiliran menemui Mr Lee, mungkin salah satu dari kita diperlukan tenaganya untuk menyelesaikan pekerjaan di sini sementara. "
Desta menguraikan alasan yang cukup rasional.
"Aku mengerti Des, sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, nikmati perjalananmu kali ini, jangan lupa kirim ke sini foto-foto selfiemu setiba kamu di sana, oke. "
Rika berkata sambil menyentil gemas hidung kecil Desta yang runcing. Desta kaget, ada rasa keberatan saat mukanya disentil Rika, meski hanya sekilas namun dia tidak rela.
Tapi bagaimanapun, sebentar lagi dirinya akan berangkat ke Bandara dan meninggalkan Rika sendirian disini, ada sedikit iba dihatinya. Iba!? Bukankah akupun juga belum tentu bernasib mujur? Siapa juga yang tahu, jika Mr. Lee ternyata seorang yang killer, bisa jadi bukan? Desta bermonolog dengan hatinya sambil mengunyah makanan dimulutnya.
Tepat pukul 7 malam, Desta keluar dari kamarnya, dan kembali menyeret koper mininya setelah ditelepon asisten Lucky untuk bersiap di teras. Tas jinjingnya dia lipat dan diselipkan ke dalam koper, karena kamarin isinya yang sebagian besar hanyalah bahan makanan, telah habis beberapa hari yang lalu.
Bersamaan dengannya, Rika juga keluar dari kamarnya, menghampiri Desta sambil tangannya mengambil pegangan koper begitu saja, lalu dibawakannya ke bawah. Desta hanya diam menurut dan mengikutinya dari belakang.
Mereka tiba diteras saat Joni terlihat sedang memanasi mobil. Asisten Lucky tidak terlihat batang hidungnya.
Desta berniat ingin cepat masuk dalam mobil, karena dirasanya udara begitu dingin.Dia berpamitan singkat kepada Rika.
"Kak aku berangkat dulu, sampai jumpa. " Belum sempat kakinya melangkah, tubuhnya telah dipeluk Rika begitu cepat. Desta gelagapan dan panik, didorongnya kuat-kuat badan Rika, tapi pelukan Rika makin kuat.
__ADS_1
Meski sudah meronta sepenuh tenaga, Desta tidak bisa melepaskan dirinya, justru tiba-tiba tangan Rika sudah menyelusup di balik kerudungnya, dan membelai lembut tengkuk lehernya. Sekonyong-konyong Desta jadi meringis dan sekali lagi mendorong kuat pinggang Rika. Tubuhnya terpisah dari pelukan Rika bersamaan dengan suara berat yang mengejutkannya.
"Sudah cukupkah perpisahan hangat kalian itu?"