
Keduanya bangun lambat pagi ini, subuh yang hampir lewat ditunaikan dengan cara super kilat. Itupun jika bukan karena bunyi panggilan masuk di ponsel punya Leehans dari Benn, pasti mereka belum juga membuka mata. Terpaksa dialihkan sementara panggilan dari Benn di Indonesia itu.
"Halo, Benn. Ada apa kau menelponku di pagi buta?" Leehans tengah menelpon balik Benn, setelah siap dengan baju kerjanya. Telepon itu di terima dengan mode loudspeaker oleh Leehans.
"Pagi buta kau bilang? Lihatlah jam berapa di sana? Ha..ha..Kau jangan bilang semua waktu itu jadi pagi buta, kalian sudah tidur bersama?" Benn terdengar tertawa keras di seberang. Leehans pun nampak senyum-senyum atas ucapan Benn yang memang betul adanya.
Leehans telah rapi, sambil akan keluar kamar berangkat kerja, mendapati Desta tengah bersiap untuk melepas kemas sprei dan bed cover tempat tidur. Leehans segera mendekat dan duduk di tepi ranjang begitu saja.
"Hei..! Otto Hans, berdirilah! Aku akan melepas sprei ini dan mencucinya!" Desta nampak berseru dengan tingkah Leehans yang seolah menghalangi kegiatannya.
"Tidak perlu kau lakukan sendiri, Desta. Pegawai rumah ini yang akan mengurusnya." Leehans kukuh tetap duduk di tepi ranjang.
"Tidak..! Otto Hans lihat sendiri kan, di sini ada noda merah, darah itu bekas milikku. Jika mereka lihat, aku sangat malu. " Desta bersikeras melepasnya, didorong-dorongnya pelan bahu Leehans agar segera mengangkat badan besarnya dari kasur. Namun, Leehans justru menangkap tangan Desta dan mendudukkan istrinya di pangkuan.
"Desta, dengar ya..Aku memang sengaja agar mereka saja yang mengurus kebersihan sprei ini. Kau tahu, akibat penculikan biadab itu, rumor tentang dirimu sungguh cukup menyedihkan." Leehans berhenti bicara, sejenak mengambil nafasnya.
"Lalu..?" Desta mengalungkan kedua tangannya di leher Leehans.
"Mereka itu sudah lama bekerja di sini. Mereka sudah bagian dari rumah ini. Dan kasus yang menimpamu itu, sudah cukup membuat mereka ikut merasa sedih dan miris. Jadi, secara tidak langsung, noda itu adalah hal yang sangat bermakna. Itu adalah berita gembira, agar mereka juga ikut terhibur. Kau selamat dengan menjaga dirimu sebaik-baiknya. Aku sangat berterimakasih dan bangga padamu, Desta." Leehans meraih Desta lebih merapat padanya. Diciuminya Desta di pangkuan dengan sepuas hatinya begitu lama. Terlupa jika seseorang tengah menyimak semua dengan sangat jelas di telepon.
"Hai! Kalian begitu bahagia ya pagi-pagi buta begini?! Kalian mengacuhkanku! Kalian tidak menghargai perasaanku!" Benn seolah menghardik marah. Padahal nada bicaranya juga jelas terdengar sedang menahan keras tawanya. Ponsel yang tergeletak di atas ranjang itu bercahaya terang.
__ADS_1
"Heh Benn, kau masih ada? Maaf, aku lupa. Kau abaikan saja jika tak suka! Lalu, kenapa kau meneleponku pagi-pagi buta begini?" Leehans bercakap dengan Benn sambil diambilnya ponsel yang terlepas tak sengaja di kasur. Lalu sebelah tangannya digunakan untuk mengelus rambut Desta.
"Orang tuaku meminta agar aku mengunjungi kalian. Tapi mendengar kalian begitu bahagia, rasanya sangat malas. Jadi aku akan tiba di sana, lusa, itu demi rasa patuhku pada orang tua." Benn terdengar batuk-batuk kecil di telepon.
"Kau sakit, Benn?" Leehans merasa empati pada sahabatnya.
"Tidak, aku terlalu bergadang akhir-akhir ini." Suara Benn berubah serak tiba-tiba.
"Jangan membuatku khawatir, Benn. Kurangilah minum-minum tak gunamu itu. Kau bisa-bisa mati cepat!" Leehans sedikit mendekatkan ponsel di mulutnya. Rasanya tidak puas dengan hanya mengandalkan loudspeaker saja.
"Tidak, Hans. Aku memang tobat. Aku sudah sangat jarang minum-minum. Wanita pun aku sudah tak punya." Ucapan Benn terdengar merana. Leehans ingin tertawa mendengarnya. Desta sedikit tersenyum sambil memandangi wajah Leehans yang tampan.
"Ha..ha..ha.. Ah, sudahlah Hans. Tutuplah telponmu. Aku mau ke toilet, mulass!" Bersamaan terdengar langkah berderap dari ponsel Benn di seberang. Leehans menutup telepon dari Benn dan mengantongi ponsel ke dalam saku jasnya. Desta yang sudah turun dari pangkuan, kembali ditariknya dan diciumi sepuas hati. Keduanya berciuman begitu lama, tak peduli terlambat kerja.
***
Leehans dan Desta turun bergabung di meja makan, saat anggota keluarga Lee yang lain selesai dengan sarapan pagi mereka. Namun, mereka tidak bubar pergi begitu nampak pasangan pengantin baru yang lama tak bertemu itu datang bergabung.
"Hai.... Adik-adikku, kalian sepasang pengantin baru yang lama terpisah dan baru semalam bersatu...Apakah kalian merayakan sesuatu?" Leezha, orang pertama yang menyapa dengan usikannya yang nyaring dan ceria. Reynaf, sang suami yang duduk di seberang, menahan senyum melirik istrinya.
Desta menanggapi dengan senyum sipunya saat mengambil nasi dan lauk di piring. Sama halnya Desta, Leehans pun nampak tersenyum simpul menanggapi usikan kakak perempuan satu-satunya yang dimiliki itu.
__ADS_1
"Heih..betul yang dibilang kakak kalian. Jam segini baru turun kalian ya.. Apa saja yang kalian kerjakan semalaman hah? Heih... Narutoku...jawab mommy, cepat.." Mrs. Lee berkata sambil memandangi Leehans dan Desta bergantian.
"Heih... Narutoku...jawab.. jujur saja sama mommy, cepat.. Apa yang mommy tak tahu dari kamu, haaah?" Mrs. Lee kembali mendesak saat jawaban yang di tunggu dari putra bungsunya itu tak kunjung terdengar.
"Betul Hans.. Apa kau mempunyai kabar yang bagus?" Mr. Lee yang selalu nampak diam, sebenarnya selalu memikirkan segalanya. Mendengar bicara ayah di sampingnya, Leehans mendiamkan sendok di tangan dan memandang ibunya. Ada senyum samar yang diberikan untuk sang ibu tercintanya.
"Ah.. baiklah! Mommy periksa saja isi kamarku." Leehans berkata dengan nada penuh makna. Desta terbatuk kecil mendengar jawaban Leehans yang duduk di seberang depannya.
"Aduh..duuuh.. Haaaans. Yang lebih spesifik dong naaak.. Kamarmu itu besaaaar..luaaas.. Masak mommy harus memeriksanya. Kalo capek gimana? Dokter melarang keras mommy kecapekan.." Ucapan ibunya itu seperti ancaman. Leehans kembali tersenyum simpul pada ibunya.
"Mommy lihat saja bed coverku!" Leehans berkata on point pada ibunya, Leehans benar-benar jadi anak mama yang sedang bermanja. Diliriknya Desta, kini wajahnya lebih merona menahan rasa malu. Sebenarnya tidak tega, tapi diputuskan bahwa itu perlu dilakukan.
Begitu mendapat jawaban yang di tunggu, Mrs. Lee dan Leezha melesat cepat, keluar dari zona ruang makan. Dibawa sekali tiga orang pegawai laundry keluarga, menaiki tangga ke atas menuju kamar Leehans.
***
Tak terlalu lama, Leezha dan Mrs. Lee telah kembali turun, di ikuti tiga orang pegawai laundry yang tengah mengusung segala kain pelengkap tempat tidur. Mereka membawa sprei, bed cover dan sarung bantal guling yang dilipat begitu rapi. Mereka berlima nampak senyum-senyum penuh makna.
"Haaa..Desta, mommy sangat puas denganmu. Mommy bangga padamu, Leehans tidak salah memilihmu. Naruto mommy sangat beruntung memilikimu. Benar tidak Leezha?" Leezha yang sedang cekikikan mengangguk-angguk dengan pertanyaan ibunya. Anak dan ibu itu benar-benar setali dua uang!
Saat itu ekspresi Desta telah benar-benar merah merona, di jeling suaminya dengan mata melebar yang lucu. Leehans hanya tersenyum menatapnya. Leehans sudah merencanakan hal ini, karena dirasanya memang perlu. Berbagi kebahagiaan dengan orang-orang terdekat, terutama ibunya yang pasti sedang merasa bergembira. Dan ini akan jadi rahasia intim rumah tangganya yang pertama dan terakhir kali untuk dibukanya pada pihak luar yang bersangkutan.
__ADS_1