
Nafas Leehans berubah memanas dengan deru yang memburu. Bibir kenyal lembut yang dilumat dan dihisapnya banyak kali itu tak akan pernah ada habisnya. Bahkan kini semakin terasa memenuhi di sela bibir dan lidahnya. Leehans semakin tidak puas, bahkan ingin mengunyah dan memakan bibir itu saja rasanya.
Desta terengah dengan nafas tersengalnya. Permainan lidah dan bibir Leehans di bibirnya terasa menggelitik menyenangkan. Tubuhnya yang semula tegang, kini berubah lunglai dengan rasa geli yang menggelora, menyebar ke seluruh bagian tubuhnya.
Desta yang semula hanya pasrah menerima pagutan Leehans di bibirnya, kini mulai ingin membalas meh..lhummhat bibir Leehans dengan lebih tidak sabar. Seperti khawatir dan tidak ingin jika Leehans akan menghentikan kegiatan panas mereka saat itu.
Bagaimanapun, Desta tengah memendam rasa cinta pertama yang sesungguhnya pada Leehans. Bersentuhan fisik yang intim dengan lelaki itu, tentu akan mudah membakar rasa cinta menjadi gelora hasrat dan nafsu yang membara di jiwanya.
Leehans telah mengubah posisi Desta jadi benar-benar duduk di pangkuan menghadapnya. Tangan Desta telah mengalung rapat melingkar di leher Leehans, dengan wajah mereka yang terus saling menempel tanpa jarak. Desta telah meniru dengan cepat, cara memainkan lidah dan bibirnya di bibir lelaki itu. Sepertinya, Desta telah tenggelam kesadarannya, dan akan pasrah dengan apapun yang akan Leehans lakukan pada dirinya. Desta benar-benar telah rela meletak rasa cinta sepenuhnya pada Leehans sekaligus suaminya.
Leehans terasa kehabisan nafasnya, dengan perlahan direnggangkan sedikit ciuman Desta dari bibirnya. Kini ada sedikit jarak di antara mereka.Leehans memandangi wajah cantik itu tanpa bosan.
"Benar kau tidak pernah berpacaran?" Leehans bertanya dengan suara sangat parau. Desta menggeleng dengan sisa nafas yang masih terengah.
"Belum pernah di cium?" Desta kembali menggeleng, wajahnya telah memerah, ada getar indah dengan pertanyaan Leehans yang rasanya cukup privacy baginya.
"Akukah orang pertama yang kau rasa ?" Leehans kembali bertanya dengan suara semakin parau. Desta kembali menganguk sambil menunduk, terasa malu menatap mata tajam itu, wajahnya semakin memerah berlomba dengan rona merah di bibirnya.
Leehans tak tahan lagi, diraihnya kembali tengkuk leher Desta, dirapatinya bibir indah sensual itu dengan gelora hasratnya.Dibelai dan diremasnya rambut hitam yang terasa halus dan licin di jari tangannya.
Desta kembali pasrah, menikmati lumh..mhatthan lembut Leehans dibibirnya dengan perlahan.Sesekali Desta membalas menyesapnya. Keduanya tengah berperang bibir, dengan bunyi basah berdecapan yang terdengar jelas di ruang hotel sunyi itu.
Trriiiing...........!!!!!!!!!
Bunyi bell dari pintu kamar hotel terdengar nyaring tiba-tiba. Desta terkejut, perlahan kesadarannya berangsur kembali ke raganya. Tubuhnya segera merenggang dari pelukan Leehans. Dengan sangat malu, Desta segera berjingkat turun dari pangkuan Leehans. Duduk menunduk serba salah, dengan hanya memilin jemari tangannya di pangkuan.
Leehans meraup wajah dengan kedua telapak tangannya, dan mengacak rambutnya jadi lebih berantakan. Terlihat berusaha mengatur nafasnya untuk kembali tenang. Disentuhnya sebentar celana di bagian paha juga kemeja di dadanya, kedua bagian itu telah lembab.
Diliriknya sebentar Desta yang duduk diam di sofa sampingnya, rasanya gemas sekali melihat Desta diam menunduk malu begitu. Leehans beranjak menuju pintu untuk membukanya. Madam Sharon telah berdiri sambil membawa beberapa paper bag, Leehans segera menerimanya dan mengangguk pada sekretarisnya itu.
"Trims madam, akan ku ganti lewat rekeningmu." Leehans segera menutup pintu kamarnya, setelah madam Sharon mengangguk sambil permisi.
Desta tidak terlihat lagi duduk di sofa. Leehans menduganya mungkin sedang mengembalikan handuk ke kamar mandi. Dan benar, Desta keluar dari sana dengan sikap nampak kikuk, merasa malu dengan dress pendeknya.
__ADS_1
"Desta." Leehans memanggilnya. Desta memandang Leehans yang telah berdiri mendekatinya. Desta pun menunggu diam di tempatnya.
"Ambillah, pilih yang sesuai untukmu." Desta menerima beberapa paper bag dari Leehans. Entah apalah isi di dalamnya. Desta membuka salah satunnya dan memeriksanya. Oh, baju gamis! Leehans telah memesankan untuknya beberapa gamis melalui madam Sharon.
Desta merasa mendapat harta karun. Benda yang paling diinginkannya saat ini telah ada di tangannya. Wajahnya terlihat cerah menatap Leehans yang terus memandangnya.
"Terimakasih, tuan Hans." Desta telah berbalik dan akan meluncur masuk ke dalam kamar mandi.
"Desta!" Leehans kembali memanggilnya. Desta berbalik lagi, mendapati Leehans berjalan kembali ke arahnya. Leehans mengulurkan sebuah paper bag lagi padanya. Desta menerima dengan rasa bertanya, apa lagi yang dibelikan Leehans untuknya?
"Tukar juga dalamanmu. Celana dan bajuku jadi ikut basah karenamu." Leehans berbisik menggodanya.
Auwauwauw..!! Perkataan Leehans membuatnya ingin menghilangkan diri saja saat itu. Desta berbalik, melesat masuk ke dalam kamar mandi. Rasanya telah hilang harga dirinya di depan lelaki itu. Tapi memang benar, harga diri apa lagi yang masih dimilikinya sekarang? Leehans telah membawanya hanyut dalam pelukan, bahkan dibalasnya paghuttan lelaki itu dengan lebih tanpa malu lagi. Ah, biarlah! Semua telah terjadi. Yang penting, apa yang dilakukannya bersama Leehans, itu bukan dosa, mereka sudah menikah, bahkan bisa jadi sebuah ibadah.
Desta telah mandi kembali agar tubuhnya terasa lebih segar, serta ingin menghilangkan segala efek yang tertinggal akibat sentuhan Leehans kepadanya. Diambilnya paper bag terakhir yang diberikan Leehans, beberapa set dalaman ada di dalamnya. Desta memilih sebuah set dangan warna kesukaannya.Navy!
Desta telah rapi mengenakan pilihan gamisnya. Gamis indah dengan kombinasi warna hitam dan merah polos, serta kerudung segi tiga warna merah, yang dimodifikasinya menjadi model kerudung yang menempel indah di kepalanya. Desta begitu anggun dan terlihat sangat modis, penampilannya itu sungguh nyaman dipandang mata, bahkan dengan hanya sebelah mata sekalipun.
Hanya tinggal wajah cantik polosnya yang kini perlu sedikit polesan. Desta keluar kamar mandi dengan lebih percaya diri dan rasa nyaman di hatinya. Dilihatnya Leehans sedang duduk santai di sofa sambil bermain ponselnya.
Polesan pada wajahnya telah selesai dengan waktu yang singkat. Terakhir, dispraykannya sedikit parfum beraroma lembut dibeberapa bagian pada baju gamisnya. Penampilan Desta telah lengkap sempurna dengan tidak berlebihan. Desta merapikan peralatan make up ke dalam tas talinya semula. Ingatannya pada Jenny, membuatnya ingin segera kembali ke tempat acara dan menemui bocah itu.
Jantungnya serasa tertarik, saat sebuah tangan kembali memeluknya dari belakang. Leehans kembali melakukan hal itu lagi. Desta membiarkan tangan itu dengan penuh kesadaran dirinya.Dirasainya tubuh Leehans kembali merapatinya seperti yang dilakukannya pertama kali kemarin. Wajah itu menempel hangat disisi kepala tepat di telinganya.
"Tuan Hans, cukup. Tolong menjauhlah." Desta berusaha untuk terus mempertahankan kesadarannya.
"Desta...berilah aku sebentar saja." Leehans lebih merapatkan lagi tubuhnya.
"Tuan Hans, waktu istirahat sudah habis. Saya tak ingin dandanan ini berantakan. Harry telah menulis namaku di kontes menyanyi. Anda tak ingin divisi anda kena kartu merah bukan?" Desta mulai khawatir Leehans tidak akan mendengarnya.
"Akulah yang memberikan hadiahnya. Kau lupa Desta?" Leehans membelai pipinya berulang kali, lalu mengelus ujung hidungnya dengan sangat lembut, bukan menyentilnya!
"Bukan masalah hadiah. Apa anda tidak malu telah bersikap egois? Ingatlah pegawai serta relasi anda yang mungkin sekarang sedang menunggu. Professionallah, tuan Hans." Desta mencoba melawan rasa yang timbul dari semua sentuhan Leehans di tubuhnya.
__ADS_1
"Adakah alasan lain yang membuatmu bersemangat kembali pada acara ini?" Leehans seperti mendengar rahasia lain di hatinya.
"Saya ingin bertemu Jenny. Jenny dan mas Daniel pasti sedang menungguku." Desta tidak ragu mengatakan alasannya. Leehans sendiri yang memberi peluang untuk bertemu mereka waktu itu.
Leehans justru semakin lebih menempelkan dirinya pada Desta. Hal itu membuat Desta mulai merasa getar geli di mana-mana. Semua bagian di tubuhnya perlahan mulai menghangat.
"Kau selalu gembira memanggil mass Danielmu itu. Apakah kau tidak ingin memanggilku selain tuan? Aku bosan mendengarnya. Aku bukan lagi tuanmu, Desta." Leehans membelaikan tangannya di perut Desta yang rata. Seperti menegaskan siapa dirinya bagi gadis itu.
"Lepaskan saya dulu." Desta menahan rasa geli di perutnya.
"Apa kau sudah punya panggilan untukku? Jangan panggil aku mass. Aku tak mau sama dengan mas Danielmu itu." Leehans belum melonggarkan pelukannya sama sekali.
"Iya. Sudah ada. Sekarang lepaskan saya." Desta sedikit terbata mengucapkan kalimatnya. Rasa geli di mana-mana itu telah mulai menyiksanya.
Leehans menempelkan wajah di bahu punggungnya dan bernafas dalam-dalam di sana. Lalu dilonggarkan tangannya dan merenggangkan pelukannya dengan perlahan. Bahu Desta diraihnya dan diputar balik pelan menghadapnya.
"Panggil aku." Leehans memandangnya dengan wajah sedikit gelap.
"Apapun?" Desta mengamati wajah Leehans yang semakin tampan di matanya. Leehans mengangguk.
"Otto....Otto Hans." Desta berkata sedikit malu, merah wajahnya kembali samar terlihat.
Leehans menaikkan kedua alisnya, mendengar sebutan Desta untuknya itu membuatnya menahan senyum. Tapi tidak apalah, Otto adalah panggilan yang disebutkan oleh istri kepada suaminya. Dengan makna yang umum dan bukan makna spesial, tapi panggilan otto terasa jauh lebih baik daripada sebutan tuan yang selalu disebutkan Desta padanya.
"Baiklah Desta. Panggillah aku begitu.Aku suka mendengarnya." Leehans tersenyum hangat pada istrinya. Jemari panjang itu kembali menyentil hidung Desta mengejutkan.
"Tunggulah ottomu sebentar. Sebentar lagi kita keluar bersama." Leehans berlalu menuju kamar mandi dan lenyap ditelan pintu.
Desta perlahan menuju sofa dan duduk di sana menunggu Leehans. Sisa gemuruh hati masih terasa kuat di dadanya.
Desta Mengambil ponsel dan dibukanya chanel YouTube. Mencari referensi lagu Sayonara yang akan dinyanyikannya. Desta mulai mengasah ketajaman kemampuannya dalam bernyanyi. Teringat akan Ajeng, dengan Ajenglah dulu begitu sering dinyanyikan bersama lagu Jepang favorit mereka itu.
#####
__ADS_1
#####
β€β€β€β€Beloved readers..trims dah menyimak hingga dimari.. Tetap hadiahkan like kalian buatku yeeeerr... otor menunggu lik dan komen dari kalian.. Arigato..ππππβ