Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Menebus Desta Dari Leehans #43


__ADS_3

Seseorang telah mendengar seluruh percakapan Leehans di telepon bersama Benn. Kini seseorang itu telah mengerti semua yang dialami Desta saat kepergiannya, selama dua bulan mengikuti seleksi itu. Selain merasa sangat iba, dirasanya kini Desta sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya dengan baik. Terlebih ada sorang pria berkuasa, yang jelas kebaikannya, dan bisa melindungi gadis itu. Maka dia ingin menyampaikan sesuatu, yang disimpannya selama ini pada Desta.


***


Leehans baru saja kembali dari luar untuk makan siang. Sejujurnya di kota yang baginya cukup asing ini, dia ingin di temani Desta untuk keluar makan, namun dari yang ibu ketua bilang, gadis itu belum kembali. Leehans lupa untuk memesan pada Desta agar segera membeli ponsel baru. Tanpa ponsel di tangan gadis itu, sungguh satu kerepotan tersendiri untuk Leehans.


Sebenarnya Leehans ingin mengunjungi yayasan ini dihari terakhir Desta cuti saja. Namun belum ada seminggu, saat dirinya ingin berbicara pada gadis itu, ponsel yang dihubunginya sama sekali tidak terkoneksi. Karena rasa penasaran, Leehans menghubungi telepon kabel di kantor yayasan.


Bu Hartini menerima panggilannya, dan menjelaskan keadaan Desta yang sebenarnya tanpa ditutupi sedikitpun, Desta sedang terluka karena jambret. Mendengar cerita itu, Leehanspun langsung mengabarkan pada ibu ketua, akan rencana kedatangannya yang dipercepat, maju beberapa hari.


***


Leehans sedang berbicara pada ayahnya, Mr. Lee, mengabarkan bahwa dirinya telah berada di Surabaya, di yayasan milik ayahnya itu. Ayahnya memang begitu ingin mengunjungi yayasan ini, tapi berhubung kesehatannya sedang terganggu, maka Leehanslah yang disuruh Mr. Lee untuk datang ke sini.


Kini tugas Leehans bertambah lagi. Selain mengunjungi yayasan dan urusan kerjanya, ayahnya juga meminta dirinya untuk sebisa mungkin menjaga Desta, selama gadis itu belum mendapat seorang suami yang baik. Ayahnya benar-benar memberi tugas yang berat kali ini. Sampai kapan gadis itu akhirnya menikah?!


Saat merenungi ponsel dan terngiang ucapan ayahnya, Leehans dikejutkan oleh suara pintu yang diketuk seseorang dari luar. Disuruhnya seseorang itu untuk membuka pintu dan masuk menemuinya. Seketika pintu dibuka, dan masuklah lelaki yang mengantar Desta pagi tadi dengan mobil sport warna merahnya.


Melihat Gilang telah berdiri di depannya, Leehans segera mempersilahkan lelaki berperawakan gagah itu untuk duduk di depannya. Gilang telah duduk di sofa depan Leehans. Sejenak kedua lelaki itu saling berpandangan, dan keduanya saling melempar senyum secara bersamaan.


"Halo saudara Gilang, ada sesuatu yang bisa saya bantu?"


Leehans bertanya hangat pada lelaki dengan pakaian santai itu, yang duduk di depannya.


"Baik tuan Hans."


"Sebelumnya saya minta maaf, telah mengganggu waktu anda yang padat itu. "


"Ada hal bersifat pribadi, yang ingin saya bincangkan dengan anda tuan Leehans. "


Gilang berbicara dengan nada tegas dan sopan

__ADS_1


"Hal apa itu, katakan saja saudara Gilang. "


Leehans membalas ucapan Gilang dengan intonasi suara yang tak kalah sopannya.


"Maaf, apakah benar Desta Galerie Aisha masih berstatus pekerja anda? Lebih tepatnya telah terikat kontrak kerja dengan anda? "


Sepertinya Gilang sudah mulai pada maksud kedatangannya.


"Iya, hal itu betul sekali. Apakah ada masalah?


Leehans memandang Gilang dengan pandangan bertanya-tanya.


"Apakah ikatan kontrak kerja itu berlangsung lama? "


"Cukup lama, selama dua tahun, namun sudah terpotong sebanyak dua setengah bulan. Saya telah memasukkan masa tes itu hingga sekarang, ke dalam hitungan kontrak kerja itu."


"Ternyata anda sangat bermurah hati tuan Hans. "


"Baiklah, begini tuan Hans. "


"Sebenarnya selama ini, saya ada hati pada Desta, dan saya berniat untuk mengambilnya menjadi istri saya. Sewaktu Desta selesai dengan sekolahnya, saya berpikir untuk memberi kesempatan Desta menikmati kebebasan dunia luar."


"Namun sekarang, setelah gadis itu kembali, saya tidak ingin dia pergi lagi bersama anda. Saya akan segera menikahinya saja. "


"Sebab itulah, saya menemui anda untuk meminta kebebasan Desta dari ikatan kerja itu dengan anda. Jika anda tidak rela membatalkan kontrak itu cuma-cuma, anda bisa mengatakan berapa kerugian anda yang harus saya tanggung, saya akan menebusnya, asal anda lepaskan tanggung jawab gadis itu. "


Leehans nampak berfikir, mencermati setiap perkataan Gilang kepadanya.


"Apakah Desta telah setuju dengan rencana itu, apakah kalian sudah membicarakan bersama? "


Leehans menanyakan soalan itu dengan begitu tenang.

__ADS_1


Gilang meluruskan punggung dan nenarik nafasnya.


"Desta pernah bilang, bahwa dia ingin selalu tinggal di sini, namun kontrak dengan anda itu membuatnya tidak ada pilihan. "


"Tentang niatku untuk menikahinya, saya memang belum bicara padanya, namun saya akan bersabar menunggu hingga Desta bersedia menyetujuinya. "


Leehans kembali merenung sejenak, dipandanginya lelaki rupawan di depannya itu.


"Begini, Kita bicarakan ini bersama dengan menunggu Desta kembali.Kalian bisa bicarakan ini bersama-sama denganku. Jika Desta bersetuju menikah dengan anda, akan saya bantu melaksanakan pernikahan itu secepatnya. Dan saya tidak menuntut ganti rugi sepeserpun."


"Namun jika Desta hanya ingin bebas kontrak kerja itu dan menolak menikah dengan saudara Gilang, saya tidak akan membebaskannya dan akan tetap membawanya ke Jepang, saya akan berangkat besok dengan peberbangan paling pagi dari Surabaya. "


Leehans selesai berbicara, matanya menatap Gilang dengan tajam, namun ada sinar keteduhan di sana. Menatap Gilang begini, mengingatkan dirinya akan Benn, apakah lelaki ini akan jadi seperti Benn berikutnya?


Gilang memandangi pemilik yayasan tempatnya bekerja itu, terselip sedikit rasa kagum pada lelaki yang kini juga sedang menatapnya. Seorang konglomerat, namun bersikap terbuka dan nyaman. Lelaki berpenampilan menarik dan berwajah sangat tampan. Diusianya yang terbilang muda, sudah begitu berpengalaman, dan jadi pimpinan di berbagai usahanya serta yayasan. Bertemu orang seperti ini, sebagai sesama lelaki membuat Gilang semakin bersemangat.


"Baiklah tuan Hans, saya setuju dengan keinginan anda, apapun keputusan yang diberikan Desta nanti, pasti akan saya sanggupi dengan lapang dada. "


Semua perkataan Gilang terdengar tulus.


"Baiklah saudara Gilang, saya akan atur pembicaraan kita nanti, bersiaplah menerima kabar dariku. "


"Terimakasih atas bantuan anda, tuan Hans, saya sangat mengharap panggilan anda secepatnya. "


Gilang bergerak berdiri dari duduknya, lelaki itu berpamitan dengan menyalami tangan Leehans begitu akrab. Kini gumpalan gunung di dadanya, seakan ambyar setelah berbicara dengan pimpinan itu. Ambisinya pada Desta mulai rasional, meski besar harapannya pada kesediaan gadis itu, tapi jika ternyata ada penolakan untuk dirinya, Gilang juga akan menerimanya.


Leehans memperhatikan kepergian punggung lelaki itu. Lelaki yang berani berjuang untuk perasaannya dan sekaligus sanggup berkorban untuk apa yang dipilihnya.


Ada rasa bangga di hati Leehans, mempunyai relasi sekaligus pegawai yang berjiwa besar seperti Gilang.


Berfikir kemungkinan Desta akan menerima tawaran dan pasrah pada lelaki itu, ada rasa hampa di hati Leehans. Maknanya dia akan kembali ke Jepang tanpa gadis itu, dan tak akan pernah berjumpa lagi dengannya. Namun mengingat Gilang adalah sosok yang baik dan berdedikasi tinggi, ada sedikit kerelaan dihatinya. Dan tugas berat dari ayahnya itu akan segera berakhir secepatnya.

__ADS_1


Leehans menelepon bu Hartini yang sedang di kantor yayasan, yang berada di lantai di bawahnya. Bu Hartini srndiri yang menerimanya. Leehans nampak berbicara serius dengan ibu ketua itu, sesekali kepalanya menggangguk mengerti menanggapi bu Hartini yang bicara di seberang sana. Sesaat , Leehans telah menutup telepon itu. Wajahnya yang terlihat tegang, diusapnya dengan telapak tanganya yang lebar hingga ke belakang rambutnya. Dengan keadaan begitu, Leehans terlihat sangat tampan sekali.


__ADS_2