
Ini hari ke tujuh untuk Desta menghabiskan masa cutinya di Surabaya. Rasanya baru kemarin saja dirinya pulang ke sini, ah cepatnya waktu itu berlalu. Sayang waktunya juga banyak terbuang untuk mengurusi hal yang harusnya tidak perlu ada, seperti mengurusi beberapa dokumennya yang hilang akibat peristiwa penjambretan itu.
Tadi pagi, saat mengurus surat kehilangan, bu Hartini begitu heboh dengan lukanya yang tertutup perban itu. Mas Gilang pun juga sangat perhatian, dengan pertanyaannya yang detail banget sampai ciri-ciri jambretpun dia tanyakan.
Beberapa pegawai yayasan yang lainpun juga ikut melihat keadaan dirinya. Pagi itu, Desta seakan jadi pemeran protaganis dadakan yang sedang viral. Dan dengan ramah alaminya, gadis itu menjawab semua keingintahuan mereka dengan begitu santai sambil tidak lupa memajang senyumnya.
***
Desta telah selesai dengan ***** bengek urusan dokumentasi E-KTPnya, dengan semua syarat yang sudah dipenuhi. Namun petugas dukcapil dengan santuy mengatakan dirinya dan seluruh pemohon lainnya, harus kembali lagi besok, untuk mengambil hasilnya. Hari ini kepala kantor dukcapil sedang rapat, jadi belum ditanda tangani.
Ya Allah..sabar.. Innallaha ma'a shobiriin.. Desta berucap berkali-kali. Mengharap kecewa di hatinya segera pudar. Berapa lama sih tanda tangan segitu aja. Apa nggak dipertimbangkan gitu, berapa banyak waktu yang terbuang untuk pergi mengurus ke sini. Desta berangkat pagi pukul tujuh, hingga sekarang pukul dua belas lewat. Desta nih lagi nganggur ya, kalo tukang becak, sopir, dan tukang-tukang lainya, berarti harus ngambil cuti dua hari kan?.
***
Sehabis sholat dzuhur di kamarnya, Desta bergegas nenemui ibu Hartini.
"Ibu memanggil saya? Ada apa bu?" Desta merasa penasaran.
"Ini nak, tiba-tiba ada tamu penting yang akan mengunjungi yayasan kita malam ini. Ibu minta kamu membantu menyiapkan penyambutannya boleh?"
Sepertinya ibu ketua sedang memerlukan bantuan.
"Persiapan yang bagaimana bu?"
Desta ingin kejelasannya dengan pasti.
"Sepertinya tamu itu akan menginap di sini, Ibu ingin bantuanmu untuk meyiapkan ruangan khusus di atas, apa Desta bisa?".
Bu Hartini mengharap kesediaan Desta, gadis itu paham dan mengangguk dengan senang hati sambil menunjukkan wajah cerahnya. Bu Hartini yang merasa lega, hanya memandangi Desta dengan rasa sayang dan senyumannya penuh arti.
__ADS_1
****
Desta telah siap membersihkan ruang istimewa yang berada di atas kantor yayasan ini. Ruangan ini sangat bersih dan nyaman, dengan dua kamar tidurnya yang besar. Hanya dibuka sesekali jika ada tamu penting yang diizinkan menginap di dalam yayasan.
Ruangan ini sekarang telah berubah segar dan wangi. Lantai sudah dipel, perabot sudah dilap semua, kaca telah berubah jadi kinclong, dan sprei kamar tidur telah terpasang licin dengan aroma terapinya. Desta yang mencoba merebah di atas kasurnya, hampir terlelap saking terasa nyamannya.
Selama di sini, Desta baru dua kali menginjak ruangan ini. Yang pertama saat dirinya sedang menyusun skripsi tentang properti dan perbankan. Saat itu dirinya perlu real foto sebuah suite ala-ala hotel berbintang, saat itulah bu Hartini merekomendasikan ruangan ini. Dan kali keduanya adalah dirinya sekarang ini, dapat tugas house keepping juga dari bu Hartini.
Sebenarnya Desta juga penasaran, siapakah tamu yang akan datang malam nanti. Tapi toh tanggung iawabnya sudah beres, dan kamar ini telah siap utuk digunakan. Setiap tamu penting yang datang ke yayasan ini, juga tidak pernah ada hubungan dengan dirinya. Jadi siapapun tamu itu, bukan jadi urusannya.
Orang terpercaya yang diizinkan membersihkan ruangan ini selain bu Hartini sendiri, juga mas Gilang, dan pegawai khusus Tata Usaha, namanya mbak Rina. Pegawai TU wanita itu kebetulan sedang mengambil cuti melahirkan. Dan sekarang Destalah yang dipercaya untuk sementara menggantikan tugas mbak Rina.
****
Pukul Sembilan malam lewat sedikit, Desta yang tertidur dengan mukena masih melekat di badannya, terbangun saat pintu kamarnya diketuk seseorang dari luar. Ternyata bu Hartini tengah berdiri menantinya.
"Ada apa ibu mencariku?"
"Ikutlah ibu, tamu itu sudah datang, bantulah ibu untuk menjamunya. Tamu yang datang kali ini sangat penting."
Bu Hartini menerangkan sambil setengah berbisik. Desta mendongakkan sekilas ke arah atas, di mana kamar tamu itu berada di seberang atas kamarnya. Ruangan besar itu sekarang nampak terang benderang, menandakan tamu itu memang sudah menghuninya di sana.
"Saya dapat tugas apa bu?"
Desta mendekatkan dirinya pada bu Hartini, bersiap jika wanita itu berkata dengan berbisik lagi.
"Bawakan buah yang ada di dapur kepada tamu di atas. Ibu akan meneliti kembali laporan-laporan yang belum direvisi bulan ini."
Bu Hartini menarik pelan bahu Desta agar mengikutinya, gadis itu segera menutup pintu kamarnya dan bergegas pergi menuju dapur. Sedang Bu Hartini kembali menuju ruang kantornya.
__ADS_1
***
Desta membawa keranjang buah berisi buah anggur, jeruk, dan kiwi di tangan kirinya. Di dalam keranjang itu juga disertakan beberapa botol air mineral kemasan kecil.
Sebenarnya ada dua sajian yang telah disiapkan bu Ranti, selaku penanggung jawab dapur. Namun Desta tidak bisa membawa keduanya, tangan kanannya belum bisa mengangkat beban, dan terasa sakit jika bergerak terlalu banyak. Hanya berfungsi sebagai penyeimbang saja.
***
Desta telah berdiri di depan pintu ruangan tamu, namun tidak ada seorangpun yang menanggapi ketukannya. Desta mencoba mendorong handel pintu, pintu itu terbuka sedikit. Dibukanya lebih lebar lagi, dan dirinya masuk ke dalam ruangan dengan perasaan tidak enak.
Karena tidak ada seorangpun tamu yang nampak, Desta meletakkan keranjang buah itu di atas meja kecil di dekatnya. Gadis itu kembali keluar dengan maksud kembali ke dapur, mengambil nampan berisi kue dan puding yang ditinggalkannya tadi.
***
Desta telah kembali berada di depan pintu ruangan tamu. Mencoba untuk mengetuk pintunya, berharap kali ini ada sahutan dari dalam situ. Kembali tak ada sahutan, Desta membuka pintu itu dan masuk seperti pertama dilakukannya tadi.
Tugasnya akan selesai, namun dirinya bimbang untuk membiarkan tamunya begitu saja. Apakah cukup sopan jika dia pergi begitu saja, tanpa berbasa basi kepada tamu itu meski hanya sepatah atau dua patah kata saja?
Desta nekat mengetuk salah satu pintu kamar yang menurutnya berpeluang ada seseorang itu di dalamnya. Tangan kirinya mengetuk pintu itu beberapa kali dengan tenang. Tak ada sahutan apapun, dicobanya lagi beberapa kali. Desta cukup lega, terdengar sahutan dari dalam berupa suara deheman yang berat. Oh, ternyata tamu yayasan itu adalah seorang laki-laki.
"Assalamualaikum."
"Halo tuan, selamat datang di yayasan kami, saya telah letakkan beberapa makanan di sini untuk anda nikmati. Semoga anda merasa nyaman dan selamat beristirahat tuan."
"Wassalamulaikum."
Desta menyelesaikan kata-kata panjangnya begitu lancar , dengan suaranya yang terdengar renyah dan lembut. Tanpa menunggu jawab apapun dari tamu itu, dia berbalik dan ingin cepat keluar dari ruangan tamu itu.
Tangan kirinya telah menarik pegangan pintu, dan tubuhnya bersiap maju keluar. Namun terdengar sebuah pintu yang terbuka, disusul suara seorang lelaki yang seperti menegurnya.
__ADS_1
"Hei gadis kecil, kau tidak mau menemani tamu terhormatmu ini untuk minum?"
Deg! Suara itu, Desta begitu hapal di luar kepalanya. Segera diputar tubuhnya mencari pemilik suara barusan. Benar saja, sosok lelaki itu adalah seperti yang telah diduganya. Desta seperti terpaku ditempatnya. Bibirnya mendadak kelu, seolah dirinya terserang sakit bisu yang menimpanya tiba-tiba.