Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Dijemput Leehans # 18


__ADS_3

Leehans juga sedang memperhatikan dirinya. Sejak kapan lelaki itu berdiri di sana? Merasa diperhatikan terus oleh Leehans, Desta merasa salah tingkah meskipun pandangan itu hanyalah remang dan samar.


Desta mengangguk kecil pada lelaki itu dan berbalik ingin kembali ke kamarnya. Dikuncinya pintu kamar seolah-olah khawatir akan ada yang menerobos ke dalam kamar. Gorden lembut itu sudah dia turunkan dengan rapat. Desta bersiap naik ke atas pembaringan, namun suara panggilan masuk di hpnya tiba-tiba terdengar. Leehans memanggil, lalu diangkat tapi didiamkannya.


"Aku ingin bicara denganmu Desta. " terdengar suara khas lelaki itu.


"Tuan, bicaralah. " Desta mnyahut.


"Sebagai wali, ayahku ingin membelikanmu beberapa gaun untuk hadiah pertunanganmu. " Desta diam, menunggu Leehans meneruskan bicaranya.


"Kau ingin desainer datang ke sini, atau pergi ke Butik langsung? "


"Dengan siapa saya akan pergi? " Desta tidak tahu kota Tokyo, tapi ingin jalan-jalan ke luar.


"Tentu dengan Benn dan sopirku. "


"Baiklah, jam berapa? "


"Benn yang akan mengatakan padamu besok. " Keduanya diam, keheningan beberapa saat di telepon.


"Istirahatlah." akhirnya terdengar suara Leehans. Hening kembali. Desta meletakkan hp begitu saja di meja. Beberapa saat baru terdengar samar bunyi panggilan berakhir.


**


Desta telah bersiap dengan gamis tosca dan kerudung berwarna krem. Sangat pas menempel di tubuh cantiknya. Bibir cerahnya dipoles dengan lipstik berwarna pink kemerahan, lipstik kesukaannya, pemberian Ajeng saat wisudanya beberapa bulan lalu.


Desta merasa rindu pada sahabatnya itu, rasa bersalah karena belum memberinya kabar secara langsung. Salam yang dititipkannya melalui bu Hartini entah tersampaikan apa belum. Tapi sampai sekarang, Ajeng belum ada kabar juga di hpnya.


Mrs Lee memandangi penampilan Desta yang sedap dipandang. Gadis itu sangat lihai memilih gamis dan accesorisnya agar serasi membungkus tubuhnya. Kalau bukan karena ada acara undangan bersama suaminya, dia juga ingin mengantar Desta ke butik, memilihkan gaun untuk gadis itu.


Benn sangat bersamangat untuk pergi bersama calon tunangannya. Sesekali bersiul-siul riang sambil melirik Desta yang semakin jelita di matanya. Benn benar-benar sudah mabuk cinta pada gadis bergamis itu. Menghayalkan pernikahan dan bulan madu, sudah memenuhi otak dan aktifitasnya tiap waktu. Desta hanya diam dengan kelakuan Benn yang mendadak ceria sore ini.

__ADS_1


Sopir pribadi keluarga Lee mengantarkan keduanya di sebuah butik. Butik langganan Mrs. Lee yang lengkap dengan berbagai model baju, termasuk model gamis yang akan menjadi pilihan Desta.


Calon pasangan itu disambut oleh seorang pegawai butik, membawa Desta ke ruangan yang dipenuhi gaun dan gamis-gamis cantik. Benn nampak dihampiri beberapa pegawai perempuan yang menawarkan diri untuk membantu Benn memilih pakaian, tapi Benn menolakny dan segera menyusul Desta.


Desta hinggap di sebuah gamis yang sangat cantik berwarna merah cerah. Dihiasi manik-manik berwarna hitam yang bersinar. Desta memegangi label harga gamis itu, membaca bandrol yang tercetak dengan angka 119,000 yen. Rasa terkejutnya ia sembunyikan saat melihat hasil hitung kurs rupiah di layar HPnya, lima belas juta.


Dengan sedikit nyengir kuda, dia berputar di antara gamis-gamis cantik itu, semuanya menarik baginya. Digeserkan kakinya ke gamis warna peach di sebelahnya, gamis itu tampak berkilauan dengan manik-manik warna perak. Cukup manis, diintipnya angka dilabelnya 75.250 yen. Desta kaget, saat sebuah tangan kokoh menarik gamis itu, ternyata Benn.


"Jangan melihat angka di label, kamu tak akan jadi mengambilnya. Ambil yang kamu suka, Mr. Lee sudah menyerahkan kartu unlimitednya padamu. Ini cukup cantik, cobalah. " Desta menerima gamis yang disodorkan Benn.


Saat hendak mencari pilihan kerudung. Desta menangkap percakapan Benn yang sedang menerima telepon, sepertinya penting.


"Desta, orang tuaku sudah ada di bandara, mereka ingin aku menjemputnya. " Benn memberitahu dengan berat hati.


"Jemputlah mereka tuan Benn, aku akan mencari taksi yang nampak berderet di depan Butik tadi. Anda pergi saja dengan sopir yang mengantar tadi. Anda jangan khawatir. "


Desta meyakinkan Benn untuk segera berangkat. Benn nampak menelepon seseorang sebentar dan menutupnya.


Benn berkata sambil menyerahkan sebuah kartu ke tangan Desta.Kemudian lelaki itu berjalan keluar dengan sang sopir tadi untuk menuju Bandara.


Desta kembali mencuci mata di antara gaun dan gamis-gamis mahal itu. Kakinya menghampiri deretan kerudung indah dengan pegawai butik yang setia menamani, dia sungguh tidak bosan mengikutinya. Dibacanya sekilas name tag yang melekat di


baju gadis dengan mata sangat sipit itu, Zumnha namanya. Berkat bantuan Zumnha, ia menemukan kerudung manis paduan warna peach dan merah, cocok untuk gaun peach yang dipilihkan Benn tadi.


Gamis peach pilihan Benn telah menempel indah di tubuhnya. meski menutupi bentuk tubuhnya yang berlemak di tempat yang tepat, penampilanya sangat mempesona. Zumnha juga tak berhenti mengaguminya.


Desta tidak memadankan dengan kerudung itu, dia sudah yakin dengan pilihannya. Zumnha membuka ponsel dan mengatakan jika ada seseorang yang sedang menunggu Desta diluar. Seseorang itu ingin melihat pilihannya. Desta berfikir , sopir yang dibilang Benn mungkin telah sampai.


Desta hendak melepas gamis baru itu berganti dengan gamis toscanya, tapi dihalangi oleh Zumnha. Diambilnya tangan Desta dan dibimbingnya keluar dari fitting room.Desta melihat seorang pria memunggunginya, segera dikenalinya siapa lelaki itu. Leehans, apakah dia yang akan menjemputnya?


"Tuan Leehans? " Desta memanggil lelaki gagah itu.

__ADS_1


Leehans memutar tubuh dan mengamatinya, sesaat hilang nafas saat menatap gadis cantik di depannya. Mata tajamnya seakan hendak menguliti gamis yang melekat di badan Desta. Mata tajam berkilat itu terkesiap dan sebentar mengalihkan pandangan. Kemudian mendekati Desta dan berbicara dengan santai.


"Ini cocok untukmu, ambil saja, mana lagi pilihanmu? " Leehans bertanya sambil kemudian menatap Zumnha. Pegawai itu menggelengkan kepalanya yang kemudian dipahami oleh Leehans.


"Ambilkan mana-mana yang sekiranya disukai gadis ini. "


Leehans berkata pelan pada Zumnha dalam bahasa Jepang.


Gadis itupun sedikit membungkuk pada Leehans, dengan cepat diturunkannya beberapa gamis yang tadi sempat dipegangi Desta. Dengan cekatan dilipatnya dan dimasukkan ke keranjang belanja. Kemudian dibawanya ke pegawai penotalan. Melihat hal itu, Desta sangat segan dan tidak enak hati.


"Tidak perlu tuan, cukup ini saja, saya tidak memerlukan baju-baju itu." Desta sangat memohon.


"Ayahku sedang bermurah hati, jadi gunakanlah kesempatan ini sebaik mungkin."


Leehans berusaha meyakinkan Desta. Gadis itupun pasrah dengan rezeki besar yang menghampirinya.


"Apakah boleh tidak melepas baju yang dicoba?"


Leehans menunduk ,berkata di dekat telinga Desta. Gadis itu sadar dan salah tingkah, diajaknya Zumnha untuk bertukar baju di ruang ganti.


Leehans duduk menunggu di luar pintu, dan tak berapa lama Desta keluar dengan gamis toscanya. Zumnha menyerahkan gamis yang baru dilepas Desta kepada kasir yang bertugas. Leehans bergegas menyusul zumnha menuju meja kasir untuk melunasi tagihan.


Kasir itu menunjukkan angka total belanja pada Leehans, yang segera dibayar tunai dengan kartunya.


Desta tersadar dengan kartu yang dibawanya, diambilnya dari dompetnya dan segera diserahkannya pada Leehans. Leehans menerima dan menyimpan kartu ayahnya ke dalam saku jasnya, lalu diraihnya kantung-kantung gamis itu dan meninggalkan meja kasir. Desta mengikuti dibelakangnya dengan rasa yang semakin segan. Gamis-gamisnya telah dibelikan Leshans dengan kartu pribadinya, bukan dengan kartu ayahnya.


#####


πŸ€—πŸ€—Terimakasih telah menemukan novel ini dan menyimaknya. Terimakasih supportnya. Harap tinggalin like, komen.vote dan favorite yeeer... atau apa apa lah yeer... hadiah apalagi..


Arigato so much πŸ˜šπŸ˜šπŸ™πŸ™πŸ—£βœŒπŸ’ͺ

__ADS_1


__ADS_2