Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Masjid Camii, Tokyo # 53


__ADS_3

Leehans merasa perbincangan ini sudah cukup, maka dia ingin mengakhiri kedatangannya itu dengan berpamitan. Namun Tauji menahan kepergiannya, dia ingin kedua tamunya kembali setelah makan malam di rumahnya. Tanhiya, nama istrinya, telah begitu baik dengan menyiapkan sebuah sajian beragam agar mereka mengisi perut dengan puas. Istrinya bisa beraktifitas dengan bebas, saat kedua anak balita lelakinya sedang tidur seperti saat ini.


Desta hanya mengikuti Leehans yang bergerak setuju menuju ruang makan. Dia juga memilih duduk di samping walinya itu. Sejak Daniel mengatakan hal luar biasa padanya barusan, hatinya seakan langsung berubah tidak nyaman berada diantara orang-orang di rumah ini.Kecuali Leehans, hanya Leehans orang yang tidak membuatnya merasa risih. Sepertinya Desta sedang dihampiri sebuah phobia pernikahan.


Selama acara makan berlangsung, putri Daniel terus memperhatikan Desta yang duduk di depannya. Desta sedikit iba dengan balita malang itu, sesekali disendokkan makanan di piringnya lalu disuapkannya ke mulut kecil yang nampak menyukainya. Begitulah sampai Desta dan putri Daniel, Jenny namanya, jadi orang terakhir yang menyelesaikan makanannya.


Kakak ipar Daniel, Tanhiya yang cantik, dan sebelumnya terlihat tidak suka pada Desta, kini mulai sering tersenyum. Tanhiya sangat menyukai interaksi alami yang dilakukan Desta pada keponakannya. Jenny tidak pernah dekat dengan wanita dewasa selain dirinya, dan kali ini Destalah wanita pertama itu.


Tanhiya memandang adik ipar lelakinya, yang kedapatan mencuri pandang pada Desta beberapa kali. Tanhiya yakin, something happen pada hati adik iparnya ini. Duda mana yang tak tertarik pada gadis menawan dan baik seperti gadis itu? Terlebih, Desta nampak paham dan menanggapi beberapa sinyal maksud, yang ditujukan Jenny padanya. Gadis cantik itu begitu sabar menanggapi kemauan Jenny.


Pandangan Tanhiya beralih pada Leehans, mengamati diam-diam. Lelaki tampan dengan kharismanya yang luar biasa. Kenapa diusianya yang nampak sama dengan Daniel ini masih betah melajang? Di mana kekasihnya? Tidakkah lelaki ini juga tertarik pada gadis di sebelahnya itu? Thaniya sibuk bertanya-tanya sendiri di hatinya.


Leehans memperhatikan Desta yang sudah menghabiskan isi piringnya dan piring Jenny. Lelaki itu berdiri perlahan, dengan sopan berpamitan kembali pada tuan rumah. Daniel mendekat dan merangkul bahunya, mereka beriringan menuju pintu keluar.


Leehans telah masuk ke dalam mobil, menunggu Desta yang masih berpegangan tangan dengan Jenny. Balita itu ingin Desta tinggal saja di rumah bersamanya. Daniel mengambil perlahan Jenny dari pegangan tangan Desta, dan menyuruh gadis itu masuk mobil.


Leehans membawa mobilnya keluar gerbang, dengan diiringi panggilan pilu Jenny untuk Desta. Destapun nampak iba dengan kesedihan Jenny yang ditinggalnya. Rasa tidak nyamanya barusan, seakan hilang dengan kesedihannya bersama Jenny. Desta begitu tahu rasanya tidak memiliki ibu. Tak terasa air matanya mengalir karena Jenny.


"Sudah... Berhentilah menangis, Balita itu ada ayahnya, ada tante serta paman yang dekat dengannya. Jenny tidak kekurangan apapun. Kau tidak perlu sedih berlebihan. "


Desta memandang lelaki disampingnya. Iya, betul apa yang diucapkannya. Jenny masih jauh beruntung darinya. Ada orang - orang yang siap menjaganya tanpa kekurangan apapun. Jauh beda dengan nasib dirinya selama ini.


Sedih di hatinya seketika berkurang, Desta dengan berani menatap Leehans yang fokus dengan kemudinya. Mata indah berkaca-kaca itu berkedip mengamati Leehans, lelaki berbintang yang selalu mampu menenangkannya. Lelaki yang membuatnya merasa nyaman dan bersemangat. Desta semakin melebarkan matanya, saat Leehans menoleh padanya, semakin ditatapnya dalam-dalam lelaki itu, seolah takut kehilangan wajahnya dari pandangan.

__ADS_1


"Kenapa? bicara saja, apa tentang ucapan Daniel? "


Ucapan Leehans yang lembut itu benar-benar mengusik ketenangannya.


"Saya tidak memikirkannya lagi, saya tidak ingin berfikir apapun "


"Saya hanya ingin bekerja saja padamu tuan Hans. "


"Kau sudah bekerja padaku, jika kau ingin menikah kapanpun, aku tidak akan melarangnya."


Desta seperti putus asa dengan jawaban itu, putus asa dengan perasaannya, perasaan rumit yang dirinyapun susah memahaminya. Yang dia tahu, hanya rasa bersemangat berada dekat di samping lelaki ini. Perasaan begitu nyaman tak terkata di hatinya. Apakah dirinya mulai tertarik padanya? Tapi perasaan ini bukankah tidak tahu diri? Siapa dirinya dibanding Leehans, lelaki kaya raya dengan segudang pesonanya.


Desta hanya akan bersemangat sendirian, tidak ingin Leehans membaca perasaannya. Betapa malu jika ketahuan lelaki itu, bahwa hatinya mulai berbeda rasa dari biasanya. Desta tak ingin salah tingkah dihadapan Leehans. Sedapat mungkin akan disembunyakan gemuruh hatinya dari pemilik hati itu, pemilik hati yang membuat hatinya gelisah saat tidak menatapnya.


"Hei, suka sekali kau menangis. Maafkan aku, tak kan ku ungkit lagi soal ucapan Daniel itu. "


Desta justru semakin terisak dengan perkataan Leehans padanya. Tapi mending begitu saja, daripada dirinya malu jika lelaki itu tahu isi hatinya yang tak menentu. Sungguh merasa cengeng berlebihan dirinya kini. Dengan cepat dibuangnya sisa-sisa isak tangisnya. Kini Desta merasa malu sendiri dengan kebodohannya barusan, akibat terbawa perasaan saja, tidak boleh terulang lagi hal memalukan ini!


***


Leehans membelokkan mobilnya di sebuah Masjid besar Camii, Masjid yang berdiri strategis di pusat kota Tokyo. Desta membacanya berulang kali, tak menyangka dirinya menginjakkan kaki di Masjid megah ini. Masjid terindah di Jepang, bahkan konon juga terindah seAsia. Masjid ini luas menjulang, nampak agung dari tempat Desta berdiri.


Desta sempat melihat salah satu acara gosip tanah air, menginfokan artis senior, Maia Estianty dan suaminya Irwan menikah di Masjid ini. Ya Allah.. Desta begitu takjub, bersyukur karena Leehans membawanya singgah di sini.

__ADS_1


Desta tidak bisa beribadah saat ini. Desta tengah datang bulan, di hari keduanya, datang bulannya lebih deras. Jadi dia memilih untuk menunggu di luar saja. Sedang Leehans telah masuk ke dalam Masjid, meninggalkannya sedari tadi.


Saat seseorang melangkah ke arahnya, Desta tengah sibuk memandangi kubah besar di atas sana. Leehans berdiri tepat di depannya, Desta segera mengalihkan pandangannya pada lelaki di depannya. Desta mendapati hal lain di wajah itu, wajah itu lebih tampan bersinar meski tanpa senyum sedikitpun.


Oh pecinya itu.. Leehans kembali nampak di matanya memakai peci yang sama dengan waktu itu. Rambutnya tersimpan rapi dalam peci, hanya menyisakan seluruh bagian wajah cerahnya. Bebar-benar ciptaan Tuhan yang indah, Desta memandanginya kagum, terpesona tanpa sadar pada Leehans.


"Kau yang lebih cepat, atau hanya berdiri di sini saja? "


Leehans terheran, dari ditinggalkannya hingga kini keluar, Desta masih berdiri di tempat yang sama. Yang dia tahu, biasanya perempuan akan jauh lebih lama berada dalam masjid dibanding laki-laki. Hal itu terbukti pada kakak dan ibunya, ketika sekeluarga mampir di masjid saat perjalanan. Ayah dan dirinya sudah menunggu hingga jenuh, tapi dua perempuan yang ditunggu masih sibuk di dalam.


"Saya sedang libur tuan Hans. "


Leehans diam sebentar, tapi kemudian paham dengan maksud gadis itu. Jawaban yang tidak asing, Ibunya juga sering beralasan begitu. Dengan wajah tanpa ekspresi, Leehans mengajak Desta bergegas masuk mobil, sepertinya malam ini akan hujan. Desta segera mengekor saja di belakang punggungnya


"Lebih baik tuan Hans sering-sering berpeci saja. "


Desta bersuara tanpa beban mengeluarkan pendapatnya pada Leehans. Mereka telah duduk kembali dalam mobil, kali ini Leehans tidak langsung melepas peci dari kepalanya. Leehans memang sengaja, dia ingin sesekali mengimbangi style Desta yang berkerudung, dan terus kontinyu dengan pilihan model busananya itu.


✌✌✌


🀨🀨🀨🀨


Buat yang mampir harap dukungannya dong.. πŸ™

__ADS_1


__ADS_2