
Benn telah berdiri tegak di depan pintu kamar. Kedatanganya di malam yang selarut ini membuat Desta sangat terkejut. Apalagi suasana dalam villa sedikit gelap. Hanya lampu dapur saja yang menyala, nampak sedikit terang dari ujung sana.
Rasa terkejutnya makin bertambah. Tanpa berkata apapun, Benn memegang kuat bahunya lalu mendorongnya hingga kakinya mundur kembali ke dalam kamar. Perbuatan Benn membuat perasaan Desta takut dan waspada, ada alarm bahaya di matanya.
Desta menepis sebelah tangan Benn, yang masih memegangi bahu kecilnya hingga lepas. Gadis itu melangkah berundur, terasa kakinya membentur keras pada kaki kursi meja riasnya. Dengan wajah meringis, digeserkan tubuhnya ke samping, dan tangannya berpegang pada sandaran kursi. Diawasinya Benn dengan penuh kecurigaan.
"Anda tidak sopan!" Desta menghardik lelaki itu.
Namun Benn hanya diam memandangnya, kakinya mulai bergerak mendekat ke arah dirinya.
"Apa kau sudah berubah pikiran?" Benn bertanya sambil terus bergerak maju mendekati Desta.
"Berilah jawaban yang membuatku senang Desta."
Benn berhenti tepat dihadapan Desta, jarak dirinya hanya beberapa centimeter saja dari tubuh gadis itu. Merasa akan dipepet, Desta menarik tubahnya ke samping lagi, namun Benn dengan sigap menahan pinggangnya, hingga kembali tegak di posisinya semula.
Tangan Desta gagal menepis tangan Benn dari pinggangnya, lelaki itu mencengkeram dengan kuat tubuhnya. Desta diam mematungkan diri, menghindari pergesakan tangan itu dengan tubuhnya.
Desta sedikit menahan nafas, karena Benn sedikit membungkuk mendekatkan wajah padanya.
"Jawablah Desta."
Benn berkata dekat di wajahnya, bau alkohol menyengat dari mulutnya,seketika perut Desta jadi terasa mual.
"Aku tetap tidak ingin menikah!" Desta menjawab sambil menjerit.
Tidak tahan dengan bau itu, tubuhnya berontak dari pegangan tangan Benn. Lelaki itu justeru mendorongnya, Desta jatuh terjengkang di atas tempat tidur.
"Jawabanmu mengecewakan, nikmatilah balasan dari ucapanmu tadi Desta." Benn berkata menyeringai.
__ADS_1
Desta sangat panik, tubuh lelaki itu telah menindihnya dengan sekali tubruk, dadanya sesak seperti kehabisan oksigen, rasanya sangat susah untuk bernafas.
Dengan gerakan tepat, Benn telah mengunci kedua tangan dan kakinya, membuat tubuhnya tak berkutik untuk melawan.
"Hennn...tikan Benn, sadarlah dengan perbuatan jahatmu ini!" Desta berteriak panik, nafasnya terengah-engah.
"Kau yang memaksaku, setelah ini kau pasti akan merindukanku, bersiaplah Desta." Benn berkata melembut, memperlihatkan gairahnya yang tidak tertahan pada gadis itu.
Benn berusaha menarik kerudung, yang masih menutupi kepala Desta dengan sebelah tangannya. Kesempatan yang ditunggu Desta itu tiba, sebelah tangannya yang melonggar bergeser cepat ke bawah bantal di sampingnya. Menggenggam erat ponsel di tangannya, dengan gerakan cepat, dihantamkannya ponsel besar itu di kepala Benn bagian belakang dengan keras.
"Aarrrgghh!" Mulut Benn berteriak keras, merasakan nyeri hebat di kepalanya.
Kerudung Desta yang berhasil ditarik tangannya itu terjatuh di atas kasur. Benn memegangi kepalanya dengan kedua tangan, sambil meringis kesakitan, lelaki itu nampak menutup rapat matanya sambil merintih.
Merasa ada kesempatan, Desta menarik dirinya dari kungkungan lelaki itu, menggeser tubuhnya menjauhi Benn dengan badan gemetaran. Benn nampak diam tidak memburunya, kakinya bergegas mencapai pintu kamar hendak keluar.
Desta menyempatkan menoleh ke arah Benn, ternyata lelaki itu telah merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tak ada gerakan sedikitpun, Desta bimbang untuk berlari keluar kamar. Perlahan dia memutar badan, berjalan lagi ke arah tempat tidur.
Tapi sampai kakinya pegal berdiri, tak ada tanda pergerakan dari tubuh Benn. Dengan kesiagaan penuh, lebih didekatinya lagi tempat tidur itu. Samar hidungnya mencium aroma asing, Desta mengenali bahwa bau itu adalah anyir darah.
Desta sedikit panik karena rasa khawatir. Apakah kepala Benn berdarah, bagaimana jika kepalanya terluka parah? Cepat digapainya tombol lampu kamar. Lampu menyala terang, seketika didapatinya darah merah mengalir dari kepala Benn. Darah itu meresap mengenai kerudungnya yang tadi telah dilepaskan Benn dengan paksa.
Desta sesaat bingung harus melakukan apa. Ada pikiran untuk kabur, tapi itu ditepisnya. Apapun penyebabnya, Benn telah dilukainya. Diperhatikan ponsel di genggaman tangannya, ponsel size besar hampir menyamai tablet miliknya itu, kini telah retak sangat parah.
Ponselnya mati, Desta berusaha menekan tombol on agak lama. Perasaanya amat lega, benda itu mulai menyala seperti semula. Desta berniat menghubungi Leehans terlebih dahulu.
Tak dihiraukannya kemungkinan lelaki itu sedang tidur nyenyak.
Telinganya mendengar nada sambung yang terhubung di telepon, hingga panggilan berakhir tidak juga diangkat. Dicobanya kedua kali, saat panggilan akan berakhir, baru terdengar sambungan dari pemilik ponsel di ujung sana.
__ADS_1
Desta menunggu suara Leehans dengan sangat cemas.
"Hallo.. Ada apa Ta?" Suara Leehans terdengar berat, sepertinya terbangun dari tidur.
"Tuan Hans, maafkan saya, saya telah melukai kepala Benn, darahnya banyak keluar, saya takut dia akan mati, cepatlah anda ke sini."
Desta mengatakan keadaan Benn yang sebenarnya dengan cepat, meski nada bicaranya terdengar gemetar.
"Bagaimana bisa kau melakukannya?" Leehans bertanya kaget.
"Dia...dia memaksa masuk ke dalam kamar saya."
Dengan terbata dijawabnya pertanyaan Leehans, bingung bagaimana menjelaskan kronologisnya pada lelaki itu.
Namun, Leehans seolah paham dengan maksud perkataan gadis itu.
"Huhh!! Baiklah, kau tunggu aku di sana, aku akan tiba dengan cepat." Panggilan telah diputus oleh Leehans.
Desta memandangi layar ponselnya yang kembali di menu utama. Kemudian memandangi Benn, yang jatuh dengan posisi menyamping. Wajah itu nampak basah berkeringat. Meskipun masih muak dengan tindakan lelaki itu, namun rasa khawatirnya tidak bisa diabaikan.
Keadaan darurat begini, Desta merasa harus melakukan sesuatu. Didekatinya kepala Benn yang mengeluarkan darah, dengan hati dag dig dug ngeri. Dicarinya dengan seksama bagian kepala mana yang terluka, rambut Benn yang baru dipangkas tipis dan rapi itu, memudahkan mata Desta menemukan lukanya.
Kulit kepala bagian belakang itu koyak memanjang, kurang lebih tujuh sentimeter. Tapi masih terlihat mengalirkan sedikit darah segar. Desta bergegas ke kamar mandi, mencuci bersih tangannya di wastafel.
Diraihnya beberapa lembar tissu muka dari meja riasnya, Desta kembali mendekati Benn di ranjangnya. Tangannya mengangkat kepala Benn dengan sangat hati-hati, terasa ditangannya deru nafas Benn yang teratur, Desta berubah lega menyadari hal itu.
Diambilnya sebuah bantal untuk meletakkan kepala Benn, dengan perlahan pada posisi tetap miring. Tisu itu ditempelkannya pada luka di kulitnya, dan diambilnya lagi sebuah bantal untuk mengapit kepalanya, agar tisu tebal itu tidak terlepas.
Dengan posisi Kepala yang lebih tinggi dari jantungnya itu, Desta berharap pendarahan di kepala itu bisa berhenti. Di kamar ini tidak ada perlengkapan obat apapun, bahkan Desta sendiri hanya sedia sebotol minyak kayu putih di meja riasnya.
__ADS_1
Desta duduk di kursi meja riasnya, memandang wajah Benn dengan rasa tak menentu. Apakah lelaki ini sedang cidera parah? Bagaimana nasibnya setelah ini, apakah dirinya akan berurusan dengan hukum? Tapi Desta demi menjaga kehormatannya. Hukum membela diri sendiri itu wajib bukan?