Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Rencana Pertunangan # 17


__ADS_3

Benn dan Desta sampai di kediaman Mr. Lee pukul 9.00 malam. Leehans sedang di ruang kerjanya dan Mr. Lee sudah istirahat dalam kamarnya. Hanya Mrs. Lee yang sabar menunggu kedatangan mereka. Hatinya lega melihat Desta sudah terlihat segar pertanda alerginya sudah mulai tawar. Fek-flek warna merah di wajah itu juga memudar, gadis itu kembali cantik dan bersinar seperti sedia kala.


Nyonya Yuri meminta mereka makan malam, tapi Desta mengatakan sudah makan nasi goreng sangat pedas, sehingga dirinya banyak berkeringat membuat alerginya menguap. Benn menimpali bahwa itu juga pengaruh obat yang diminumnya tadi. Dan Desta pun mengiyakan pernyataan Benn itu.


Desta memasuki kamar dan membersihkan dirinya di kamar mandi. Kemudian merebahkan tubuhnya di tempat tidur setelah menunaikan sholat isya'nya. Hari ini, dirinya terlepas beberapa waktu sholat, ada rasa bersalah di hatinya. Desta membangunkan tubuhnya sebagian, meraih hpnya yang seperti lama tidak disentuhnya. Pukul 10.30 malam. Dibukanya sebuah pesan masuk di whatsap.


"Bagaimana? " pesan dari Leehans, nomer asing itu belum juga diberinya identitas. Desta mengetik..


"Saya sudah sehat. "


Centang dua abu-abu, agak lama..


Desta meletakkan hpnya, berniat ingin tidur, pengaruh obat itu masih ada. Saat kesadarannya mulai hilang, bunyi klunting itu datang lagi. Desta malas membukanya, tapi itu tidak sopan, akhirnya dibacanya pesan baru itu.


"Kalian berkencan? Segera beri putusan, Benn sudah menerimamu, jangan lupa aku adalah walimu. " Desta yang semula malas, kini telah hilang kantuknya, segera menulis balasan..


"Apakah Benn pria yang baik? Apakah saya harus mengorbankan diriku demi warisan itu? " Desta lega sekali, pertanyaan yang dari kemarin ingin ia tanyakan pada Leehans, kini telah tersampaikan.


"Maaf, anggap saja aku tidak tahu tentang Benn. " Desta geram dengan isi pesan itu. Dimatikannya hpnya, dia ingin tidur saja meski jadi tidak mengantuk. Setelah membolak-balikkan badan berulang kali, Desta kembali tidur karena lelahnya.


**


Pagi itu Leehans tidak pergi kerja karena ujung minggu. Dia sengaja menahan Benn dan Desta untuk membicarakan kelanjutan wasiat itu.


"Bagaimana, apakah sudah kamu pikirkan? " Leehans menatap Desta seksama.


"Maafkan, saya semalam langsung tertidur, hari inipun lambat bangun, jadi tak sempat berfikir. " Desta menjawab tanpa dosa.


"Sudah, jangan tanya padanya lagi, biar aku yang memutuskan. Aku berencana bertunangan dalam waktu dekat ini, dan menikahinya beberapa minggu kemudian. " Benn memandang lembut dan penuh harap pada Desta.


"Desta, Benn telah memudahkannya, bagaimana? " Leehans menunggu jawaban Desta.


Gadis itu lama berfikir, hal sebesar ini, siapa yang mau diajaknya bicara? Tapi bukankah ini kehidupannya, hanya dirinya yang bisa mengambil keputusan. Benn selama ini bersikap baik padanya, meskipun kadang menyebalkan. Mungkin dengan perlahan, hatinya bisa menerima Benn sepenuhnya. Dan mungkin juga, Mr. Lee ataupun Leehans mulai bosan mengurusi hal ini.


"Baiklah, saya setuju dengan rencana Benn tuan. "

__ADS_1


Desta menatap wajah lelaki tegas itu. Mata tajamnya berkilat nampak lega. Dipandanginya Benn yang hendak berbicara.


"Aku akan menelepon orang tuaku agar datang ke sini, paling lambat dua hari lagi kita akan bertunangan. Sebenarnya aku ingin langsung menikahimu saja, tapi tentu orang tuaku akan shock, jadi bersabarlah Desta. "


Benn menjawab tanpa beban.


"Apa?! Tuan pikir saya sedang kebelet menikah?! " Desta memprotesnya dengan cepat.


Jawaban Desta membuat Leehans geli, dia tahu isi pikiran Benn, dari awal lelaki ini sudah begitu berminat pada Desta. Biasanya Benn akan gigih melancarkan rayuan maut pada wanita incarannya, begitu buruan itu lengah, Benn akan terus menerkamnya. Mungkin Benn segan dengan penampilan Desta yang tertutup itu, sehingga belum melakukan tindakan bodoh apapun pada gadis itu.


"Benn dan juga kamu Desta, silahkan diskusikan rencana pertunangan kalian dengan matang. Aku dan ayahku berdiri dibelakang kalian. " Leehans menepuk pundak Benn sebelum pergi meninggalkan mereka.


Desta tidak bersemangat untuk melanjutkan perbincangan dengan Benn. Hatinya pasrah dengan segala rencana Benn. Dia ingin pergi ke kamar saja, ingin tidur, karena sebenarnya tubuhnya masih sedikit kurang nyaman.


"Tuan Benn, saya ingin istirahat di kamar ya, saya ikut saja rencana anda, atau kita bisa bicara lagi nanti ya. " Desta bicara dengan rasa canggung pada Benn.


"Apakah kamu masih belum sehat Desta? " Benn bertanya perhatian. Melihat anggukan Desta, disuruhnya gadis itu pergi istirahat.


"Turunlah nanti saat makan siang. " Benn mengingatkan Desta. Desta mengiyakan sambil berlalu.


Benn segera menghubungi orang tuanya untuk berkabar, dan segera menyusulnya ke Jepang. Tentang wasiat itu, dia sudah memberitahu orang tuanya, dan mereka setuju serta mendukung penuh semua keputusan anaknya. Benn merasa bahagia dengan rencana kedatangan orang tuanya.


**


"Kenapa tidak ambil nasi? "


Mrs. Lee mengamati tubuh ramping Desta.


"Saya merasa berselera dengan ini saja nyonya, melihat nasi rasanya tidak nyaman. " Desta beralasan.


"Apa obat kemarin sudah habis ? " Kini Benn yang bersuara. Desta menggeleng.


"Aku merasa ngantuk hebat jika meminumnya. " Desta beralasan, padahal memang diriny tidak ingin mengonsumsi obat kimia terlalu banyak jika tidak terdesak.


"Habiskan.Obat itu akan bekerja maksimal saat kau tidur. " Kali ini Leehans bersuara. Desta menoleh pada pemilik suara yang juga sedang memandangnya. Desta hanya diam, ya dia memang benar.

__ADS_1


"Kalau mengantuk, tidurkan saja.. apakah Benn melarangmu banyak tidur?"


Mr. Lee menimpali sambil melirik jenaka pada Benn.


"Aku tidak akan melarang, dia juga tidak akan gemuk meski tidur sepanjang tahun. "Benn cengengesan.


" Tidak akan gemuk, tapi penyakitan. "


Desta memprotes ucapan Benn.


"Benn, kapan orang tuamu akan datang? "


Mr. Lee mengalihkan pembicaraan.


"Mungkin besok, om. Dan hari pertunangan, secepatnya setelah mereka tiba. "


"Lakukan saja di rumah ini Benn, aku akan merasa lega. "


Mr. Lee memandang Desta yang sudah mulai dianggap seperti anak perempuannya.


"Hans, bantu Benn mempersiapkan acara ini." Mr. Lee menatap putranya. Dan Leehans hanya mengangguk mengiyakan.


**


Desta tidak mengantuk, dia ingin duduk di balkoni sambil bermain game. Bunyi pesan masuk di aplikasi whatsappnya. Ada nama pengirimnya, Leehans.


"Mommy ingin kau menjaga tanamannya. "


Desta mengerti, mungkin semenjak dia menempati kamar ini, Aglaonema-aglaonema cantik di balkon belum lagi disiram. Karena dia pernah melihat Mrs. Lee berada di balkon, selain balkon Leehans, sedang menyirami tanaman-tanaman itu.


Desta segera mengambil air dengan gayung dan sebotol bekas minumnya, kemudian membuka pintu balkoni. Aglaonema-aglaonema itu terlihat lemas dan lunglai, tidak tegak segar seperti kemarin. Segera diguyurnya daun-daun cantik itu hingga air menggenang dalam tatakan potnya. Diapun bolak-balik kamar mandi berulang kali. Dia sangat terhibur dengan kegiatan kecil ini.


Semua daun aglaonema sudah basah oleh air, hatinya puas sekali. Bau media tanaman kena air aromanya sangat khas dan segar. Desta ingin menikmati kenyamanan itu sambil berdiri di pembatas balkon. Mata indahnya menangkap siluet hitam di balkon seberang. Leehanskah? Lampu di sana tidak dinyalakan. Desta mempertajam matanya, cahaya bulan yang sempurna memantulkan sinar pada sosok itu, dia memang Leehans, sedang memperhatikan dirinya. Sejak kapan dia di situ?


####

__ADS_1


πŸ€—πŸ€—πŸ€—Terimakasih telah menemukan novel ini. Terimakasih dukungannya... harap ninggal jejak yaa..like,komen, vote, favoritr, hadiah.. atau apa apa ajalah yeeeeer.. Arigato so much


πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ™πŸ™πŸ™βœŒβœŒπŸ’ͺ


__ADS_2