Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Desta Mengenalnya # 50


__ADS_3

Sudah hampir sepuluh hari, Desta berada di rumah keluarga Lee tanpa bekerja apapun. Terasa sangat tak nyaman, meski tuan rumah di situ selalu memperlakukannya dengan kelewat baik. Dirinya hanya sebagai teman penghibur bagi nyonya Yuri. Berbelanja, berkebun,bersenam, memasak, ataupun jalan-jalan, ibu Leehans itu dengan gembira selalu meminta di temani.


Mr. Lee juga bergembira hati melihat sang istri nampak lebih bersemangat dalam aktivitas. Semenjak Desta kembali di rumah ini, Mr. Lee tidak lagi ingin menjadikannya pekerja kontrak seperti rencana semula, mungkin gadis itu lebih tepat jadi pekerja jasa saja.


Baginya sangat tidak masalah menggaji Desta tanpa memberi pekerjaan. Toh gadis itu sudah jadi penghibur hati bagi sang istri. Lagipula memang sudah kebiasaan Mr. Lee, untuk berbagi rezeki di manapun tanpa mengharap imbalan. Hal itu terbukti dari banyaknya yayasan yang dimiliki di Indonesia, serta beberapa juga ada di Jepang.


Mr. Lee hanya diam-diam sedang berfikir, bagaimana cara membebaskan Desta dari wasiat nenek Benn, tanpa harus menikahkan Desta dengan lelaki bandel itu. Mr. Lee sangat ingin membebaskan dana warisan milik Desta yang masih terikat wasiat, untuk diserahkan sepenuhnya pada gadis itu tanpa pernikahan.


***


Sarapan pagi itu dihadiri lengkap oleh Leehans, setelah hampir seminggu tidak terlihat duduk bersama di meja makan. Rupanya Leehans sedang pergi ke kota Kuala Lumpur, Johor, serta Pahang, di negara Malaysia. Kepergian Leehans yang berhari-hari, dilakukan demi diplomasi pelebaran penanaman ekspor, untuk product tekstil yang terekomendasi dengan sangat baik di negara upin ipin tersebut.


"Eh bujang mommy sudah kembali, oleh-oleh apa yang kamu bawa untuk mommy? "


Ibu Leehans nampak gembira, anak lelakinya sudah tiba di rumah dan kembali makan bersama. Semalan, Leehans sampai di rumah setelah dini hari.


"Tidak ada. "


Leehans mengeluarkan jurus jawaban andalan. Namun nyonya Yuri tidak mempedulikan jawaban anak kesayangan.


"Untuk Daddymu? "


Nyonya Yuri tidak putus asa, meski tahu apa jawaban Leehans berikutnya.


"Tidak ada".


Nyonya Yuri menahan tawa, gemas dengan jawaban itu.


"Untuk gadis mommy, apa yang kau bawa? "


Nyonya Yuri memperhatikan wajah Leehans lebih dekat


"Tidak sempat, mom... "


Leehans nampak jengah dengan pertanyaan sang ibu yang sengaja mengganggu. Namun nyonya Yuri nampak puas dengan jawaban Leehans kali ini.


"Jadi, kau hanya berniat membelikan untuk Desta, tanpa mengingat mommymu? "


Leehans menatap ibunya yang senyum-senyum itu dengan tatapan horor.


"Aku -tidak -ingat -semuanya, mooom... "


Leehans nampak kesal dengan suara sanh ibunya, dengan cepat segera dihabiskan isi piring di meja. Dilirik sebentar, Desta tengah menunduk sambil mengunyah makanan di piring. Lalu tangan Leehans meraih gelas berisi air putih, yang telah disiapkan petugas dapur, lalu meminum hingga bersih.

__ADS_1


"Dad."


Leehans memanggil sang. ayah yang masih sibuk dengan isi di piring.


"Hmmm... "


Mr. Lee hanya mengeluarkan suara sebagai tanda responnya.


"Dari informasi yang didapat Sharon, pengacara Isao Hiroshi itu sudah meninggal dunia. "


Kali ini tatapan Leehans beradu dengan mata indah Desta. Gadis itu memandanginya beberapa saat, lalu menunduk dan sibuk lagi dengan isi makanan di piring.


"Namun, pengacara Isao telah meninggalkan seorang putra yang juga seorang pengacara hebat sepertinya. "


"Saat ini pengacara itu masih berada di Singapura, akan kembali dua hari lagi. "


Leehans berbicara sambil terus memandangi Desta di tempat.


"Siapa nama anaknya? "


Kali ini Mr Lee mengeluarkan suara.


"Tauji Hiroshi. "


"Saya mengenal pemilik nama Tauji Hiroshi, sepertinya saya pernah bertemu dengan pengacara itu. "


Desta memandang Leehans dan sang ayah bergantian, memastikan bahwa dirinya tidak hanya berbual. Leehans menatap lebih dalam lagi pada Desta.


"Kau mengenalnya? Dimana kalian bertemu? "


Leehans terlihat penasaran dengan pengakuan Desta yang mengejutkan.


"Di Narita, saat tiba bersama anda kemarin, saya pergi ke cafe dan berkenalan dengan lelaki yang bernama Tauji Hiroshi. "


Desta kembali mengingat sosok Tauji Hiroshi, lelaki berkulit sangat putih dan begitu ramah padanya.


"Kau bisa menggambarkan bagaimana rupa dan karakter Tauji? "


Kali ini Mr Lee yang bertanya pada Desta.


"Mmm... Kulitnya begitu putih, mata.. tidak terlalu sipit, hanya sedikit sipit saja, Hidung mancung, rambut ikal agak panjang, dan dia cukup ramah."


Desta menggambarkan sosok Tauji Hiroshi dengan sangat bersemangat. Leehans mengambil nafas dalam lalu meneguk air putih dalam gelas. Diraih ponsel yang diletakkan di samping piring, lalu mengetik sesuatu.

__ADS_1


"Apakah dia? "


Leehans mengarahkan layar ponsel pada Desta. Desta memajukan wajah dan fokus menatap layar ponsel yang dipegang Leehans.


Pengacara Tauji Hiroshi.


Terdapat kata ini di tajuk pencarian sebuah situs web, di bawah lagi terpampang banyak foto seorang lelaki dengan berbagai gaya dan moment berlainan. Benar, foto di layar ponsel ini sama dengan wajah Tauji Hiroshi yang pernah dikenal di Narita kemarin. Desta menganggukkan kepala berkali-kali, menatap pada Leehans dan Mr. Lee kembali dengan yakin.


"Benar, benar, wajahnya sama dengan Tauji Hiroshi yang ku kenal. "


"Apakah dia akan mengenalimu andai bertemu denganmu?


Desta nampak sedikit bingung untuk nenjawab pertanyaan Mr. Lee.


"Sepertinya... dia akan mengenali saya.... " Desta agak ragu dengan jawaban yang terucap.


Keempat orang di meja itu saling pandang, seakan tak percaya, Desta yang masih beberapa hari sampai di sini, namun sudah mengenal dengan salah seorang pengacara handal di negara itu, Tauji Hiroshi. Selama aktif berbisnis, Mr Lee memang dulu pernah mengenal Isao Hiroshi, tapi berhubung sudah memiliki pengacara keluarga sendiri, jadi kurang mendengar informas detail tentang Isao Hiroshi, berikut kabar kematian yang tidak sampai ke telinga keluarga.


***


Desta berjalan menaiki tangga, hendak masuk melewati pintu kamar.Tapi di belakang sana, terdengar suara Leehans yang baru memanggil namanya. Desta pun berbalik dan menunggu Leehans hingga selesai berjalan, berhenti di depan pintu kamar. Desta melempar senyuman yang manis pada lelaki yang sudah berhari-hari tidak dilihat. Namun Leehans tidak membalas senyumnya, hanya berdiri sambil menatap Desta sangat lama.


"Ada apa tuan Hans? " Desta memecah keheningan di antara mereka.


"Lusa ikutlah denganku, menemui kenalan barumu itu. "


Leehans berkata dengan nada yang datar.


"Kenalan... Tauji Hiroshi? "


Leehans mengangguk membenarkan. Dahi Desta berkerut, perasaanya bercampur aduk tentang lelaki yang berdiri gagah di depannya ini. Ternyata dibalik sikap yang dingin, selalu tersimpan kebaikan di hati, sikap bertanggung jawab dan ketepatan berucap. Lelaki ini telah memikirkan urusan dan kepentingannya, padahal Desta sendiri tidak terlalu berharap untuk menjumpai pengacara itu.


Ingat saat subuh sebelum berangkat ke Juanda, Desta dan Leehans berpamitan dengan bu Hartini. Ibu ketua itu, memasrahkan Desta pada Leehans dan meminta bantuan untuk bertemu dengan pengacara Isao Hiroshi. Dan Leehans menyanggupi keduanya begitu saja, seolah tanpa beban. Desta pikir kesediaan kali itu tidak diiyakan sungguh-sungguh. Ternyata...


Mendadak, Leehans kini seperti lelaki yang hebat baginya, lelaki yang mampu untuk diandalkan dalam banyak hal. Lelaki yang hebat soal kekayaan, pekerjaan, ketampanan, kepintaran, serta kemurahan hati. Kebaikan dalam hal materi selama ini, sudah berapa rupiah yang telah Desta terima dari uluran tangan lelaki ini? Hati Desta bergelayut, berdesir rasa mengagumi lelaki ini dalam kebisuan.


"Desta."


Panggilan Leehans meyadarkan Desta dari lamunan yang jauh. Desta merasa kikuk, kedapatan tengah merenungi lelaki itu dalam waktu cukup lama. Wajah piasnya yang cantik, membuat Leehans tak sadar telah mendesah bibir karena gadis itu.


"Pandangilah aku sepuasmu, aku tidak akan memungut bayaran sepeserpun. "


Leehans berbisik di dekat telinga Desta yang tertutup oleh kerudung warna kuning. Mungkin telinga Desta telah memerah di dalam sana, akibat rasa malu yang ditanggung dari sindiran Leehans barusan. Gadis itu hanya bisa memalingkan wajah dari pandangan Leehans, tanpa mampu berkelit dengan kata-kata.

__ADS_1


__ADS_2