Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Gilang Hendrawan ! # 90


__ADS_3

Ditimang-timang uang itu dalam pangkuan. Sebagaian kecil dari jumlah total pembayaran, dengan harga yang di inginkan mafia itu untuk melepas dirinya. Melepas kepada seseorang yang telah berkeinginan membeli Desta dengan kemungkinan besar akan membawa tubuhnya ke atas tempat tidur kamar itu.


Desta berdiri, berjalan mengitari area kamar. Tapi, jika ditaksir akan besar harga beli dirinya, orang yang membeli itu pasti begitu kaya raya. Sedangkan kamar ini terlihat sederhana, tempat tidur itu tidak terlalu lebar, dengan sebuah sofa panjang, yang tadi diduduki. Satu bufet kecil di samping tempat tidur, dan sebuah pintu yang pasti kamar mandi di baliknya.


Ada balkon mini yang menghadap ke luar sana. Dengan berdebar, Desta berjalan mendekati. Sekali lagi hanya rasa kecewa yang didapat, kamar hotel ini terlalu tinggi, mungkin di atas lantai 15. Bahkan melihat ke bawah saja rasanya tidak sampai, pandangan Desta terasa kabur terhalang ketinggian. Desta memupus harapnya untuk lari lewat balkon kamar.


Hembusan angin malam semilir menyapu mukanya. Terasa dingin menggigit di kulit lehernya yang terbuka sebagian, sedang sebagian yang lain tertutup oleh rambut indah yang tergerai di punggung, dengan sedikit gelombang di ujungnya.


Desta beranjak masuk ke bagian dalam kamar, hendak duduk kembali di sofa panjang empuk itu. Langkahnya terhenti, pintu kamar di depannya terdengar bunyi tit..tit..tit.., seseorang dari luar tengah memasukkan sebuah kode untuk membukanya. Desta berdiri tegang, menunggu orang di balik pintu menampakkan diri ke dalam kamar.


Seorang lelaki membawa sebuah baki besar berisi banyak makanan dan segelas air jeruk. Mengangguk dan tersenyum kecil dengan ramah pada Desta. Diletakkan baki itu di atas meja dan kembali mengangguk, lalu berjalan keluar kamar.


Pintu tidak terdengar dikunci, bahkan kini sedikit terbuka. Sedang terganjal badan seseorang yang tengah berdiri tepat menyentuh pintu. Seorang lelaki, terdengar sedang berbicara di telepon dengn suara yang lirih. Suara pelan itu, Desta seperti tidak asing, Desta pernah akrab dengan suara itu. Siapakah..Oh, dia...Benarkah dia?! Desta dag dig dug penasaran dan cemas.


Jantung Desta semakin berdetak laju saat lelaki itu mulai membuka pintu lebih lebar. Serta merta lelaki itu telah masuk melewati pintu dan berdiri tegak menghadapnya. Keduanya saling berpandangan, Desta terbelalak menatap sosok lelaki di depannya.


"Mas...Mas Gilang?!" Desta menyebut nama itu sembari menutup mulut dengan sebelah tangannya.


"Desta, apakah benar itu kamu?" Ya, lelaki yang datang itu adalah mas Gilang. Gilang Hendrawan! Lelaki berdedikasi yang pernah ingin menikahinya.


Mendengar jelas suara yang langsung berbicara dengannya, Desta tak bisa menahan rasa shock di hatinya. Kini air matanya mengalir deras tanpa berusaha ditahannya. Desta hendak berhambur memeluk gilang, tapi gerakanya berhenti tepat di depan badan tegap itu. Desta teringat akan statusnya, dalam keadaan apapun, masih berstatus istri orang, Leehanslah suaminya. Desta melanjutkan tangisnya semakin deras. Berdiri menangis di depan Gilang sangat dekat.


Gadis yang selalu didambanya, yang kini dengan penampilan telah berubah total dari seperti apa yang ada dalam hati dan ingatannya. Desta sangat mempesona dengan penampilan yang beda sama sekali.

__ADS_1


Gilang terenyuh, bagaimanapun Desta pernah menjadi gadis remaja dalam asuhannya, juga dalam pengawasannya. Gadis yang tidak pernah dilihat aurat oleh matanya, yang akhirnya tumbuh rasa cinta dan ingin memilikinya dalam ikatan pernikahan. Tapi Desta telah menolaknya.


Gilang terenyuh dan merasa tidak tahan, direngkuhnya kepala mungil itu ke dalam dadanya, hanya kepalanya. Kepala Desta dengan rambut harum itu bergerak-gerak karena tangisnya. Dan justru semakin terisak dalam pegangan tangan Gilang. Desta menangis cukup lama, Gilang hanya diam tegak dengan mata berkaca-kaca. Bagaimanapun, gadis yang sangat dicintainya ini telah sah menikah dan kini menjadi istri orang. Gilang hanya tidak menyangka jika Desta akan mengalami hal buruk seperti ini.


"Kakiku agak pegal, Desta. Kita duduk di sofa saja. Desta mengangkat kepalanya, berbalik perlahan menuju sofa dan duduk di ikuti oleh Gilang. Desta menunduk , kini mulai menyadari penampilannya, rasa malunya perlahan hinggap lagi di hatinya.


"Makanlah, habiskan semua ini. Aku ingin mengajak kamu jalan-jalan. Apakah kamu mau Desta?" Gilang ingin menacairkan suasana karena menyadari kecanggungan gadis itu.


Desta hanya mengangguk, melirik pakaian yang melakat di badannya. Desta ingin membeli beberapa gamis bersama Gilang dengan uang yang dimilikinya.


Desta makan dengan lahap, semua makanan yang dipesan Gilang sangat sesuai dengan selera lidah Desta. Sesekali Gilang menanyai beberapa hal yang dialaminya selama dalam penculikan. Desta bercerita dengan detail dan sangat bersemangat. Bercerita pada Gilang, seperti berbicara dengan sahabat yang sangat lama tidak saling bertemu. Desta merasa aman dan nyaman mengatakan semuanya pada Gilang. Rasa terancam akan ditiduri oleh orang yang membelinya, sejenak terlupakan dari benaknya.


Tidak terasa, piring yang diisinya cukup banyak, telah habis licin tak tersisa. Desta meminum air jeruknya beberapa teguk dan diletakkan lagi dalam nampan. Gadis itu nampak puas dengan isi perutnya yang kembali merasa aman.


" Jangat terlalu dipikirkan. Yang penting sekarang, kamu sudah aman. Kamu sudah bebas dari tangan mafia itu. Sekarang ayolah kita keluar saja. Kamu ikut aku jalan-jalan di Metro Macau malam ini." Gilang berdiri, dilepaskan jaket miliknya lalu diberikan pada Desta.


"Cuaca di luar sangat dingin, pakailah. Desta, apakah ada barangmu di sini? Jika ada, bawalah. Kita tidak akan ke sini lagi. Ini kamar sewa milik mereka, bukan punyaku." Desta mengerti perkataan Gilang. Segera diambilnya bag baju kotor yang ada di pojok sofa.Berjalan mengikuti Gilang meninggalkan kamar hotel.


Mereka berjalan beriringan turun dengan sebuah Lift menuju lantai dasar. Lantai yang mereka tinggal ternyata berada di level lantai tujuh belas. Desta bisa membayangkan apa yang akan terjadi, jika nekat menggunakan balkon sebagai pilihan untuk lari.


Gilang membawa Desta memasuki sebuah pusat perbelanjaan raksasa super besar. Berdiri megah di Metro Macau yang buka dengan waktu penuh dua puluh empat jam.


Gilang menemani kemanapun langkah Desta yang sedang memilh baju gamis. Mereka berbelanja di sebuah butik khusus yang menjual segala macam kebutuhan umat muslim. Desta telah selesai memilih beberapa potong gamis beserta kerudungnya. Juga beberapa set baju dalam yang sangat diperlukannya. Meski rasanya segan pada Gilang, tapi itu kebutuhan primer yang tak mungkin diabaikan.

__ADS_1


*****


Desta baru keluar dari salah satu kamar di Toilet. Baju terbuka yang semula dipakai, telah digantinya dengan salah satu gamis indah pilihannya. Uang dalam amplop yang diberikan mafia itu, tetap utuh tidak jadi dipakainya. Gilang yang membayarkan semua belanjanya dikasir dengan sigap.


Gadis itu sangat bersyukur dengan nasib baiknya kali ini. Setidaknya, Gilang, sebagai lelaki yang telah menebusnya dengan nilai yang tidak sedikit adalah orang yang sangat dikenalnya. Dan sikap Gilang sangatlah baik, tidak menunjukkan gelagat mesum sedikitpun selama bersama.


Desta berfikir, apakah Gilang memang membelinya untuk mengajak tidur? Apakah bisa menolak, dan berjanji akan mengganti uangnya? Dan, apa keterlaluan jika meminta pada Gilang, agar mengembalikan dirinya pada Leehans? Desta akan membicarakannya. Meski sangat kecewa pada Leehans, tapi lelaki itulah yang sedang jadi suaminya. Dan dengan lelaki itulah, Desta akan mendapat harta, untuk mengganti kerugian Gilang untuknya. Desta sama sekali tidak ingin menjual diri pada siapapun.


****


"Apakah kamu sudah merasa puas Desta?" Gilang bertanya, saat Desta terlihat kelelahan. Gilang mengajak Desta berjalan di seputaran Metro Macau. Pemandangan malam hari begitu menakjubkan di sana.


"Alhamdulillah mas. Kakiku rasanya ngilu." Desta memegangi luka di tumitnya. Gilang yang telah memahami asal luka itu terlihat sangat khawatir.


"Desta, kita sudahi jalan-jalannya. Ayo! Aku akan mengantarmu ke hotel."


"Apakah masih kuat berjalan? Apa kamu ingin ku gendong?" Gilang bertanya sungguh-sungguh pada Desta.


"Tidak perlu mas Gilang. Aku sudah biasa kok. Ayuk!" Desta memulai berjalan, Gilang menarik pelan tangannya dan menuntun tangan itu. Tapi Desta merasa ada yang aneh dari ucapan Gilang.


"Mas Gilang mengantarku?! Lalu mas Gilang akan ke mana?!" Desta ada rasa takut jika sendiri.


"Kamu jangan khawatir Desta. Kamu sudah dewasa. Aku tetap ada di dekatmu. Yang pasti, kamu akan tetap aman!" Gilang membantunya untuk tetap berjalan dengan pelan. Desta tetap merasa ada yang disembunyikan dari ucapan Gilang. Seperti sedang ada yang disembunyikan lelaki itu darinya.

__ADS_1


Gilang membawanya memasuki sebuah hotel international yang megah dan mewah, setelah menyeberangi satu jalan di depan pusat perbelanjaan. Mendadak perasaan Desta kembali tidak enak. Ada sedikit kecurigaannya pada Gilang, jika ada sesuatu yang sedang ditutupinya. Tapi Desta tak ada pilihan lain. Tetap mengikuti Gilang yang terus memegang tangannya agar terus kuat berjalan, menahan nyeri di tumit kakinya.


__ADS_2