Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Anniversary # 80


__ADS_3

Tubuhnya berubah sangat tegang, raganya menjadi semakin aneh dirasakan. Tulang-sendinya seperti meleleh pelan-pelan. Perlahan, tubuhnya mulai memanas tiba-tiba. Terlebih nafas Leehans berhembus cepat mengenai pipinya. Wajah Leehans telah mulai menyentuh pelipis wajahnya dari belakang. Deru nafas lelaki itu semakin memburu dan memanas membelai kulitnya.


Desta hanyut menikmati rasa intim yang tercipta dari pergesekan tubuh belakangnya dengan tubuh depan Leehans. Sepertinya lelaki itu begitu lihai mempermainkan gejolak rasa di jiwanya. Desta tenggelam dalam pelukan panas Leehans dari belakang.


Desta terkesiap saat Leehans telah memutar pelan kepalanya hingga menoleh ke samping. Dengan sangat cepat, Leehans kembali mengunci tangannya dengan hanya sebelah tangan. Sambil kepalanya juga bergerak cepat menempelkan bibirnya di bibir Desta.


Desta sesaat tersihir oleh bibir hangat dengan aroma nafas maskulin Leehans yang menempel menekan bibirnya sedikit kuat. Sepertinya Leehans tengah menunggu lampu hijau yang akan Desta berikan untuk meneruskan gerakan bibirnya.


Namun, sekonyong-konyong Desta kembali ke alam sadarnya, tak mau terpedaya sentuhan Leehans yang memabukkan. Sedang lelaki itu tidak memberikan jaminan masa depan pernikahan yang jelas untuknya. Kini hati yang terbuai berubah menjadi rasa sakit tidak terima. Leehans seperti hanya memanfaatkan dirinya belaka. Kenapa lelaki itu tidak kembali pada kekasihnya dan mereka menikah saja?!


Desta menghentakkan tangan dan punggungnya, mendorong tubuh Leehans menjauhinya. Wajahnya segera ditarik menghadap lurus ke depan semula. Rasa sakit di hati karena perasaan kecewanya pada Leehans, yang tak pernah sekalipun mengatakan cinta!


Mata Desta telah berkaca-kaca sangat basah. Sudah sewajarnya, Desta adalah gadis muda yang belum pernah berpacaran, hanya bermimpi agar pangeran hatinya mengucap indah cinta padanya. Dan Leehans tidak seperti itu, Leehans tidak seperti harapannya!


Leehans yang terhentak mundur kebelakang, sedikit terkejut dengan penolakan Desta yang tiba-tiba. Meski respon Desta yang seperti ini sempat diduganya, namun sikap Desta yang terkesan pasrah menerima sedari awal, membuat jiwa kelelakian Leehans berhasrat mencobanya. Bagaimanapun, Leehans adalah lelaki dewasa yang sangat waras, yang telah memendam hasratnya begitu lama.


Leehans sempat melihat mata indah itu telah basah berkaca-kaca. Seketika hatinya terkesiap, merasa benar-benar khilaf dan menyesal. Dirinya yang terlalu buru-buru karena merasa mendapat peluang. Padahal Leehans telah berkata akan mengendalikan dirinya dan menjamin rasa aman pada gadis itu. Nyatanya Leehans ingkar janji, lelaki itu tidak mampu mengendalikan hasratnya. Padahal juga, Leehans ingin mendekati gadis itu pelan-pelan, ternyata.. Desta menolak pada akhirnya.


"Desta, maaf telah mengejutkanmu... Aku hanya ingin mengambil peciku di sini." Leehans menjelaskan sambil meraih peci yang ditinggalkannya di atas meja almari gantung. Dan ini adalah alasan Leehans yang sebenarnya. Memang itulah niat jujur Leehans pada awalnya.


Desta yang tetap dalam posisi membelakanginya, melirik sebentar ke arah peci Leehans. Kemudian bergeser dan melangkah menjauh menuju sofa. Desta duduk diam di sana sambil mengelap air matanya sekilas


Perlahan, Leehans mendekati sofa dan duduk di sofa depan Desta. Leehans memandang gadis di depannya dengan rahang yang mengeras, serta merasa serba canggung.


"Desta.." Leehans akhirnya bersuara memanggil nama Desta dengan ragu. Desta menatap Leehans sebagai jawabannya.


"Apakah baju yang disiapkan kak Leezha sesuai dengan seleramu?"


Mendengar pertanyaan Leehans, rasa semangat datang padanya. Soalan itu sesuai dengan gundah hatinya saat tadi.


"Tak satupun yang bisa saya pakai. Lalu.. Besok harus pakai baju yang mana?" Mendengar keluhan lirih itu, Leehans tak ingin salah menanggapi. Dihampirinya alamari baju gantung dan benar-benar diperiksa seluruh isinya. Memang benar, dress dan kimono yang rapi tergantung di dalam almari , tidak sesuai dengan selera fashion Desta. Leehans tersenyum masam mengingat usaha kakaknya yang jelas gagal total. Leehans kembali menghampiri Desta.


"Lalu apa rencanamu Desta? Malam sudah sangat larut, ku rasa semua butik sudah menutup gerainya." Leehans ikut memahami kebingungan yang dirasakan gadis itu. Bagaimanapun, sekarang Desta adalah istrinya. Jadi apapun penampilan Desta bersamanya, itu adalah lambang harga dirinya.


"Gamis saya sangat banyak di rumah induk.." Desta menggantung ucapannya, menatap Leehans seolah punya maksud. Leehans sedikit mengerti pikirannya.

__ADS_1


"Sudah cukup larut, Desta. Apa kau ingin pulang?" Melihat ekspresi cerah gadis itu, memang benar tebakan Leehans.


"Apakah boleh? Saya akan pesan taksi online saja sekarang." Desta bersungguh-sungguh dengan keinginannya.


"Apa kau tidak ingin istirahat dulu? Aku bisa mengantarmu habis shubuh." Leehans memberi masukan pada Desta.


"Sekarang saja, tuan Hans. Aku tidak yakin, apakah di sini aku bisa cepat tidur atau tidak. Aku tak mau berjumpa dengan ibu dan kakak anda, mereka pasti melarangku kembali. Jika dari rumah, saya pasti bisa istirahat. Bukankah jika terpaksa datang lambat, tidak masalah?" Semua yang dikatakan Desta memang benar. Tak ada alasan Leehans lagi untuk mengundurnya.


"Baiklah, sekarang saja. Aku akan mengantarmu." Leehans berdiri sambil mencari kunci mobilnya. Melihat gerak Leehans, Desta juga bergegas menyambar tas talinya dan ikut mencari kunci mobil.


Keadaan di hotel cukup lengang, ini adalah jam malam, sudah saatnya hanya berada dalam kamar. Karena cuaca di Jepang sedang sangat dingin di malam hari. Sehingga akan malas untuk beraktivitas di luaran.


#######


"Terimakasih, tuan Hans. Saya akan istirahat di kamar saya." Desta berpamitan di puncak tangga yang terakhir. Tak ditunggunya jawaban dari Leehans, dirinya telah melesat menuju kamarnya.


Leehans hanya memandang punggung cantik itu bergerak pergi menjauh. Dirinyapun segera bergegas menuju kamarnya di ujung lorong lantai dua, dengan langkah tak kalah cepatnya.


Dalam kamar yang sangat nyaman baginya, Desta telah memilih sebuah gamis yang menurutnya paling pantas dipakai untuk menemani Leehans di acara besok. Sebuah gamis cantik biru muda, gamis yang dibawakan Leehans untuknya sebagai oleh-oleh dari negara Brunei Darussalam.


Desta menyingkap tirai gorden pintu balkon. Mengintip ke segala penjuru kegelapan. Rupanya suara berisik itu berasal dari balkoni Leehans. Pemilik balkoni terlihat sedang berolahraga tinju samsak.


Rasanya begitu heran dengan lelaki itu. Malam telah hampir dini hari, apakah dia tidak lelah? Kenapa tidak ingin istirahat saja dalam kamar yang hangat. Padahal suhu di luar sangat dingin menggigit tulang dan kulit. Desta tidak paham kenapa Leehans bertingakah aneh begitu.


Ini adalah malam pengantinnya, malam pertama. Sedikit rasa bersalah di hati hadir untuk lelaki itu. Apakah diam-diam Leehans mengharap malam pertama bersamanya? Apa Leehans sangat kecewa padanya? Sebenarnya Desta merasa iba pada Leehans.


Namun, Desta juga sangat kecewa pada lelaki itu. Teringat perkataannya saat keluarga Tauji Hiroshi datang. Leehans justru memberinya peluang untuk kembali dekat bersama Daniel. Suami macam apakah itu? Desta merasa tidak berguna dengan setatusnya sebagai istri Leehans, istri yang sah di mata hukum dan sah di mata agama.


Desta telah melanjutkan keinginan tidurnya kembali, dengan diiringi bunyi gedebag gedebug dari tangan Leehans yang sedang meninju samsak. Hal itu berlangsung cukup lama. Hingga kepalanya telah lelah, matanya mulai mengantuk dan perlahan menutup, bersamaan dengan hilangnya bunyi gedebug dari balkon Leehans.


######


Leehans telah sampai di hotel bintang milik Mr. Lee, bersama Desta di sampingnya. Acara anniversary perusahaannya bertempat di hall terbuka yang teramat sangat luas. Terdapat kolam renang raksasa yang begitu panjang, berada di tengah-tengah hall. Sepertinya kolam renang itu mampu memuat berpuluh-puluh perenang di dalamnya.


Leehans bergegas membawa Desta menuju kursi di mana keluarganya telah berkumpul. Nampak orang tuanya dan orang tua Benn telah duduk di meja yang sama. Berikutnya kak Leezha dan keluarganya beserta nenek Meghi telah duduk bersama.

__ADS_1


Di sebelah lagi, ada Benn duduk dengan madam Sharon dan asisten Harry, serta seorang lagi, lelaki muda yang mungkin seumuran dengan Benn. Leehans mengenalinya, adalah tamu undangan spesial sebagai rekan bisnisnya dari negara Brunei Darussalam.


Leehans memilih duduk bersama mereka, yaitu di meja yang sama dengan Benn. Disapa seluruh tamu yang duduk bersamanya. Begitu juga dengan tamu kehormatan dari negara Brunei itu. Tidak ada acara bersalaman, karena rumor virus ganas yang merebak di dunia, baru saja usai dan mereda di atmosfir langit Jepang. Negara Jepang telah melarang keras untuk saling jabat tangan.


Desta duduk berhadapan dengan lelaki pengusaha dari Brunei Darussalam. Leehans di kursi paling pinggir di sampingnya.


Leehans mengedarkan pandangan ke seluruh hall yang telah berisi ratusan pegawainya. Rasanya begitu puas dapat mengundang seluruh pekerjanya untuk bergembira bersama, dengan banyak acara dan perlombaan di anniversary perusahaannya kali ini.


"Tuan Hans, seluruh divisi telah mendaftarkan nama peserta wakil lomba mereka. Hanya devisi kita yang zonk, tak ada perwakilan nama satupun." Asisten Harry melapor pada Leehans dengan bahasa inggrisnya yang bagus.


"Bukankah divisi direksi memang selalu tidak ada? Leehans herans dengan perubahan acara kali ini.


"Pihak panitia telah merevisinya tuan." Harry membenarkannya.


"Lalu, siapa di antara kita yang bersedia mewakili direksi, setidaknya di salah satu perlombaan sajalah.." Leehans bertanya pada asistennya. Mereka saling berpandangan kebingungan.


"Kalian jangan suruh aku. Aku sudah tua, tenagaku tidak ada." Madam Sharon telah membentengi dirinya.


"Madam, kau masih bagus bernyanyi. Tulis namamu di lomba menyanyi." Leehans mengusulkan.


"Tidak. Suaraku jadi sangat buruk belakangan ini. Jangan usik aku." Madam Sharon bersikukuh. Dan Leehans tidak lagi mendesak sekretarisnya itu.


Dengan diskusi panjang dan saling menunjuk, akhirnya Harry menuliskan namanya pada perlombaan main catur. Sedang Leehans akur dengan pilihannya pada lomba memanah.


"Desta, kau tulislah namamu..apa-apa lomba.. menang kalah kan tidak masalah. Lihatlah devisimu..dari sekian banyak lomba, hanya kelur dua nama saja. Kau tidak kasihan?" Benn yang dari semula hanya diam, kini berkata memandang Desta yang juga nampak menyimak antusias. Namun Benn hanya berniat usil untuk mengusik kediaman gadis cantik itu.


Desta meraih daftar lomba yang telah berurut rapi itu. Dibacanya dengan penuh perhatian. Sepertinya ada urutan lomba yang sangat menarik minatnya.


"Aku akan mengikuti dua lomba. Yang pertama adalah berenang. Setelah itu, aku akan ikut lomba bernyanyi. Tentu saja semampuku.. Seperti yang dibilang Benn." Desta yakin mengumumkan kesediaannya. Disodorkannya kertas itu pada Harry kembali.


"Asisten Harry, tolong tulis saja namaku di lomba yang ku sebut tadi." Desta tidak selalu memegang pena seperti Harry.


Leehans dan Benn merasa terkejut pada Desta yang mengajukan dirinya dengan sangat percaya diri. Begitupun dengan yang lain. Tapi melihat ekspresi tenang Desta. Mereka jadi penasaran pada kemampuan Desta yang disebutnya tadi.


########

__ADS_1


Harap dukungannya...!!!!!!! ❤❤❤


__ADS_2