
Berlindung di balik badannya yang tegap, membuat Desta salah tingkah. Mematung tak bergerak, bahkan untuk menghembuskan nafas saja rasanya jadi segan. Untung saja orang-orang dalam lift ini tidak saling peduli.
Sedang Leehans terlihat begitu santai, tangan sebelah kiri menyangga di dinding lift melewati kepala Desta. Sedang tangan kanan dimasukkan ke saku celana sepenuhnya. Leehans membuang muka, menatap jauh seakan menembusi dinding lift, mengacuhkan Desta di depannya.
Desta tidak tahu lift ini menuju lantai berapa dan mau ke mana. Yang jelas dirinya hanya perlu menjaga tubuhnya untuk tegak berdiri di depan Leehans. Desta berharap, jangan sampai ada gempa di Jepang saat ini, agar tubuhnya tidak sampai oleng dan butuh pegangan.
Bau parfum Leehans dengan menthol maskulinnya itu semakin menambah gemuruh hati Desta, yang susah payah disembunyikan1q. Dengan keadaan seperti ini membuat kakinya serasa tidak sedang berpijak.
"Bersabarlah, sebentar lagi akan sampai di lantai 52, kau tahu itu apa?"
Desta yang tidak siap akan pertanyaan Leehans padanya itu, hanya menggeleng tidak yakin.
"Mori Art Museum."
Leehans kembali setengah berbisik di samping kepalanya. Mendengar nama itu, Desta mendongakkan wajahnya mencari mata Leehans. Mencari kebenaran dari matanya.
"Benarkah, tuan Hans?"
Rasanya tak percaya mendengar keterangan Leehans itu. Ini Serasa kejutan jika memang benar menuju ke museum. Apakah dia tahu dengan keinginannya tadi? Ah, tidak mungkin tahu!
Ting! Pintu lift telah terbuka pada angka pass 52. Desta tidak beranjak, karena Leehans seperti masih menahannya. Lelaki itu masih di posisi semula dengan sikap tenangnya.
Ruang lift hanya tersisa beberapa orang,mereka mungkin menuju lantai ke 53 atau 54. Leehans berbalik badan dan berjalan keluar, Desta pun mengekori di belakangnya. Begitu keluar dari ruang lift, perasaan lapang dan segar seolah mengganti sesaknya. Tanpa disadari, Desta telah sangat lama berdiri tegang dalam ruang besi tadi.
Desta terus mengikuti Leehans. Sambil membaca sebuah reklame yang terdapat banyak tulisan, di antaranya ruang Observatorium juga Mori Art Museum. Iya, ternyata benar yang dibilangnya. Leehans akan membawanya megunjungi museum agung itu.
Kini, rasa tak percayanya telah menjadi kenyataan. Desta telah berdiri dalam ruangan besar sangat luas, dengan Leehans yang berhenti diam menghadapnya. Leehans seperti sedang memastikan kegembiraan yang Desta dapatkan saat itu.
"Apakah tempat ini yang ingin kau kunjungi dengan mas Danielmu tadi?"
Benar, jika lelaki itu tahu apa yang dibicarakannya bersama Daniel. Jadi, sejak kapan dia datang? Desta yakin, Leehans menyimpan bakat hantu alamiahnya.
"Sejak kapan anda menguping kami? Seperti hantu saja..."
Desta bertanya dengan wajah agak masamnya, pergi tanpa pamit datangpun tak permisi. Desta menjeling pada Leehans dengan sinar matanya yang kesal. Namun disambut Leehans dengan gaya acuhnya.
Lelaki itu nampak memanggil salah seorang, dari beberapa orang yang mengenakan seragam serupa. Mereka adalah guide khusus di Mori Art Museum yang difasilitasi oleh pihak museum.
Museum akan menutup kunjungan hingga pukul sepuluh malam hari. Desta melihat time di ponselnya, masih pukul sembilan malam. Waktu satu jam rasanya mungkin akan kurang- sekali. Desta ingin memanfaatkan waktu yang tersisa dengan mulai berkeliling. Kini Leehans yang ganti mengikuti Desta di belakangnya.
Guide museum yang dipanggil Leehans begitu tanggap. Dengan bahasa inggrisnya yang jelas dan fasih, guide itu membaca dan menerangkan segala hasil karya yang nampak menarik bagi Desta.
Desta akan kembali berjalan, dan berhenti untuk memperhatikan karya lain yang baginya nampak unik. Dan guide itu kembali menjelaskan lebih detail dengan bunyi bicaranya yang enak didengar dan penuh semangat.
Leehans masih terus mengikuti di belakang mereka, sambil memperhatikan obrolan keduanya.Sesekali juga ikut memperhatikan hasil karya seniman yang unik dan cukup menarik perhatiannya.
__ADS_1
Di antaranya karya seniman Yuto Kamaguchi, yang telah menghasilkan banyak buku origami. Asalnya dari buku tebal biasa, yang dilipat seluruh lembarannya membentuk pop up dengan berbagai macam pola yang unik. Seniman satu ini memang sangat kreatif sekali. Selain menjual bebas hasil karyanya, seniman ini juga tidak pelit ilmu. Dia rajin membagikan banyak tutorial karyanya melalui instagram ataupun di kanal you tube miliknya.
***
Petugas telah menginfokan, pukul sepuluh, kurang lima belas menit lagi, dan museum akan benar-benar ditutup. Seluruh pengunjung diminta untuk mulai meninggalkan museum.
Leehans mendekati sang guide, mengucapkan terimakasih sambil memberikan tips beberapa lembar yen pada guide pria tersebut. Guide itu menerimanya dengan gembira dan berpamitan sambil membungkukkan punggungnya pada Leehans dan Desta.
"Arigato! Sayonara..!"
Desta menerima dengan senyuman dan juga membungkukkan sedikit punggungnya. Guide itu berundur kembali, berkumpul dengan temannya yang lain.
"Apakah sudah cukup puas? Jika tidak, kau bisa mengunjunginya sendiri lain waktu."
Leehans mendapati ekspresi cerah Desta, yang nampak gembira dengan kunjungan pertamanya di museum itu.
"Terimakasih tuan Hans, meskipun singkat, saya sangat-sangat menyukainya."
Leehans tersenyum samar dengan jawaban itu. Keduanya mulai berjalan meninggalkan museum, untuk turun menggunakan lift kembali. Keduanya menggunakan lift tanpa berdesakan, pihak Mori Tower telah menyiapkan petugas di depan lift lantai itu.
***
Keduanya telah berada dalam mobil, dengan sopir yang membawa mereka dalam perjalanan menuju pulang. Leehans melepaskan sweater hangat yang dipakainya karena merasa cukup gerah. AC dalam mobil dilarangnya untuk dinyalakan, karena di luar sedang turun salju.
Diliriknya Desta yang duduk bersebelahan dengannya, sedang memperhatikan salju turun di jalanan. Benar yang dikatakan gadis itu tadi, salju benar-benar turun sekarang.Leehans tahu, meski ramalannya benar, itu hanyalah kebetulan saja. Lelaki itu terdengar berdehem.
Desta yang mulanya memandangi salju dan mulai melamun ke mana-mana, kembali bernafas dan menoleh pada lelaki di sampingnya.
"Jika Jenny menginginkannya. Tapi itu murni karena Jenny, bukan kencan."
Desta mengingatkan lagi pada Leehans tentang perasaannya saat ini.
"Kau akan mengecewakan hati ayahnya. Ayah gadis itu sangat serius denganmu, ingat itu."
Leehans juga mengingatkan Desta tentang perasaan sahabatnya itu. Antara kepentingan putrinya dengan keinginan pribadinya hanyalah beda tipis. Leehans tak ingin Desta memberi harapan palsu untuk sahabatnya.
"Jika begitu, saya tak ubahnya seperti anda. Bilang tidak suka membicarakan kekasih anda, tapi barusan menghilang begitu saja dengan Shena."
Desta mengeluarkan rasa penasarannya saat lelaki itu tadi menghilang. Desta ingin Leehans terbuka sedikit tentang hubungannya dengan Shena.
"Desta!"
Leehans membentaknya, hatinya serasa diguyur cairan es saat ini. Ini pertama kalinya Leehans menyebut namanya dengan kasar. Lelaki itu sangat marah padanya karena bicaranya barusan. Desta merasa malu pada sopir, yang sedikit meliriknya lewat kaca di atasnya.
Desta kembali membuang mukanya ke arah kaca jendela di sisi kanannya, menatap jalanan yang mulai tertutup salju. Pandanganya kosong, tak habis pikir dengan kemarahan Leehans padanya.
__ADS_1
Ada sakit di hatinya, menyesali kelancangan mulutnya pada lelaki itu. Ada selip marah juga di hatinya, apa yang dikatakan pada Leehans barusan, bukankah memang benar adanya?
"Desta..."
Kali ini Leehans memanggilnya kembali, panggilan tanpa nada seperti biasanya. Desta hanya meluruskan wajahnya tanpa bersuara.
"Maaf. Aku tidak suka ada salah paham tentangku. Ku harap jangan pernah menyebut nama itu lagi padaku. Jangan pernah membahas tentangnya lagi di depanku."
"Apa kau bisa, Desta?"
Leehans menunggu suara dari jawaban Desta, dengan berusaha dapat melihat wajah cantik gadis itu.
"Iya."
Desta menyanggupinya singkat, dia seperti telah berjanji pada lelaki itu sekarang. Meskipun Desta merasa itu tidak adil diterimanya. Bentakan itu cukup membuatnya malas berdebat lagi.
***
Kebisuan yang menyiksa itu akhirnya berakhir. Desta begitu lega saat sopir membelokkan mobil, memasuki halaman rumah megah itu kembali.
Dengan saling diam, keduanya berjalan beriringan masuk dalam rumah. Desta bertanya pada salah satu pegawai rumah yang menyambutnya bersama Leehans, apakah pasangan Lee telah kembali dari Osaka ataukah belum. Pelayan itu mengangguk, dan mengatakan bahwa pasangan Lee telah kembali dan beristirahat dari tadi.
Desta kembali melangkah menaiki tangga, dengan Leehans yang diam mengikuti di belakangnya. Hanya bunyi sepatu mereka saja yang terdengar bising beradu dengan lantai tangga itu.
"Desta.."
Leehans memanggilnya saat Desta hendak membelok menuju kamarnya di ujung tangga.
Kakinya berhenti dan menunggu, hingga Leehans berdiri tepat di depannya.
"Desta.."
"Apakah kepergianmu denganku ke Mori Art Museum barusan, juga bukan kencan bagimu?"
Leehans memandangnya dengan sangat dalam. Desta masih mencerna pertanyaan lelaki itu.
"Tidak perlu kau menjawabnya. Aku tidak suka jawabanmu."
Leehans berbalik, berjalan meninggalkannya menuju ke arah kamarnya. Desta terus termangu memandang kepergian punggung kokoh itu. Dengan terngiang di kepalanya pertanyaan usil Leehans kepadanya barusan.
¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥
🤗🤗🤗 Terimakasih udah view karyaku hingga ke sini. Mudah2an puasa kita lancar hari ini.
Mohon dukungannya.. tinggalin jejak like, komen/saran/kritik/ juga favoritenya. Biar aku ada semangat update sedikit saja...😢😢😢❤😄😄😄
__ADS_1
Salam Ramadhan.🙏🙏🙏😍😍😍