Wasiat Cinta di Tokyo

Wasiat Cinta di Tokyo
Lunch Bertiga # 56


__ADS_3

Leehans membawa Desta keluar kantor untuk mencari makan siang. Tengah hari begini, keadaan kota sangat ramai, semua sibuk ingin mengisi perut masing-masing. Leehans ingin makan di restaurant seberang kiri kantornya dengan berjalan kaki saja, alasan ingin menghemat waktu. Gadis berkerudung di belakangnya, hanya mengikuti dengan ekor matanya yang mencuri pandang ke kanan dan ke kiri.


Meski matahari terlihat terik, namun suasana udara di kota Tokyo terasa sangat segar. Pohon-pohon sakura yang berbaris di sepanjang tepi jalan, berpengaruh besar pada suplai oksigen, baik kualitas juga kuantitas. Jepang memang terlalu bagus untuk urusan sistem tata kotanya.


Leehans membelok di sebuah kawasan resto, dan memilih sebuah restauran dengan konsep terbukanya. Mereka duduk berhadapan, sebuah buku menu diserahkan pelayan resto ke tangan masing-masing. Desta memilih sepaket mochi isi salmon dan sekotak kecil salad anggur.


Leehans melirik pilihan Desta, dan berkata pada pelayan untuk menyamakan saja pilihan menu mereka. Desta yang mengerti percakapan itu, tersenyum kecil padanya. Leehans memandang senyumnya tanpa ingin membalas, hanya kedua alisnya saja yang terangkat ke atas sedikit.


Seorang pelayan lelaki mengantar pesanan itu, dengan melempar senyum ramahnya pada Desta. Desta menyukai keramahan pelayan itu, diapun mengangguk dan memperhatikan sekilas wajahnya. Sepertinya, dia orang Indonesia. Wajahnya tampan, tapi nampak familiar dengan wajah-wajah orang Indonesia, tak ada kesipitan matanya sedikitpun.


Leehans paham maksud gadis itu, namun lelaki itu tidak peduli, meski dia tahu pelayan tadi adalah orang Indonesia. Leehans mulai menyentuh paket mochinya, diseruput teh hangatnya dengan nikmat. Sambil tangannya menusuk sebuah mochi untuk dicelup dalam mangkok kecil saos pedas.


Desta mengalihkan matanya pada apa yang sedang Leehans lakukan. Gadis itu menelan liurnya, dengan cepat ditusuk mochi miliknya dan dicelupkan saos pedas. Mochi itu dikulumnya bulat-bulat dan dikunyah sebentar saja. Saat di telan, Desta langsung cegukan. Gadis itu memang begitu, makan pedas saat tenggorokan kering, sudah pasti akan tersedak. Tangan kanannya langsung menyambar gelas teh hangat, dan meneguknya sembarangan.


"Apakah begitu lapar? "


Leehans sedikit perhatian padanya. Desta sedikit malu dan menggelengkan kepalanya.


"Melihat anda makan itu tadi, terlihat menggiurkan. "


Leehans hanya memandang senyum Desta yang lucu itu. Kini keduanya nampak diam menikmati tusuk demi tusuk mochi-mochi mereka, hingga habis tak tersisa. Sejenak menikmati sisa rasa mochi di mulut, Desta melihat seorang gadis seksi mendatangi mejanya. Gadis itu berhenti dekat kursi Leehans dan memandangi lelaki itu.


"Hans. Kaukah itu? "


Leehans menoleh dan mendongakkan kepalanya, nampak terkejut saat dilihat siapa yang telah menyapanya barusan. Gadis cantik dengan baju menggoda itu sangatlah dikenalnya. Dianggukan kepalanya pada wanita itu setenang mungkin. Kini tak ada ekspresi apapun tersisa di wajahnya.


"Apakah kau sudah lupa padaku Hans? Aku Shena, Shena kekasihmu dulu. "

__ADS_1


Wanita seksi itu nampak membungkuk dan memajukan tubuhnya pada Leehans. Desta mengingat lagi nama itu, itukah kekasih Leehans tujuh tahun yang lalu? Wanita itu sangat cantik, tapi cara berpakainnya, Desta menilainya sebagai pakaian yang seksi berlebihan.


Bukankah profesinya adalah model artis papan atas? Pantas saja model bajunyapun seperti itu, ya memang begitu modelnya... Desta bermonolog, seolah memberi pengertian untuk dirinya sendiri. Kembali ekor matanya mengamatai dua orang di hadapannya. Desta sangat ingin tahu dengan respon yang Leehans berikan pada wanita itu.


"Aku sudah mengubur tentangmu sejak waktu itu. "


Leehans berkata sadis pada wanita itu, pandangannya hanya tertuju pada Desta di depannya.


"Maafkan aku Hans, aku terpaksa melakukannya. Ayahku terlilit hutang jutaan yen waktu itu. "


"Jadi semua demi uang? "


"Aku terpaksa menunjukkan baktiku pada orang tuaku, Hans. Ku harap kau mengerti posisiku. "


"Bukankah kau tak bersedia menikahiku saat itu, Hans?"


"Sejak kau tutup semua aksesmu, sejak itu kau sudah tak ada di dunia ini. "


Leehans berkata dengan rahangnya yang mengeras, menatap Shena sangat dingin.


"Maafkan aku. Percayalah, sejak aku memutuskan hal itu, tak sedetikpun aku melupakanmu. Aku selalu menginginkanmu Hans. "


Shena berkata memelas, sambil tangannya mencoba menggenggam telapak tangan Leehans. Wanita itu terang-terangan mengharap Leehans seperti dulu. Namun, Shena harus kecewa saat tangannya dikibas kasar oleh Leehans dari tangannya. Kekecewaan itu hanya sebentar, dengan tenang ditariknya kursi kafe dari meja sebelah yang kosong. Dengan santai, Shena duduk di samping Desta dan Leehans.


Pandangan Shena mulai menghampiri keberadaan Desta. Matanya menilai penampilan gadis bergamis itu. Shena mulai penasaran dengan gadis yang bersama Leehans ini. Muslimah cantik, cukup menarik, meski badan gadis ini tidak terlalu kentara saat duduk, Shena bisa menduga kelangsingan tubuh gadis ini.


"Hai, aku Shena, kekasihnya. "

__ADS_1


Shena begitu percaya diri mengenalkan siapa dirinya pada Desta menggunakan bahasa Jepang, seperti percakapannya dengan Leehans. Desta sangat paham ucapannya, namun gadis berkerudung itu hanya mengangguk sambil menyambut hangat uluran tangan Shena.


"Apakah kau pekerjanya? Siapa namamu? "


Shena memperhatikan gaya Desta yang anggun dan sepertinya agak pendiam.


"Desta." Desta menyebut singkat namanya sambil mengangguk, mengiyakan pertanyaan Shena padanya.


Leehans semakin gerah dengan sikap Shena yang seperti tak punya rasa malu itu. Wanita itu coba diabaikannya, diambilnya kotak salad anggur miliknya, dan mulai di makannya. Dilihatnya Desta yang tetap tenang menanggapi Shena, gadis itu tetap nyaman di kursinya.


" Sepertinya kau baru datang ke Jepang, kau orang Indonesia? "


Sekali lagi Desta hanya mengangguk dengan senyum ramahnya pada Shena. Shena nampak tidak puas dengan sikap Desta yang banyak mengangguk dan pelit bicara.


"Ceritakan padaku, bagaimana kau bisa datang ke sini?"


Shena ingin mendengar suara Desta lebih banyak lagi. Ditatapnya Desta dengan pandangan menyelidik.


" He is bring me. "


Desta menjawab asal dan singkat sambil matanya mengerling indah ke arah Leehans. Diam-diam lelaki itu menahan nafasnya, saat melihat cara gadis itu menjawab pertanyaan Shena. Karena tak ingin membuat Desta tidak nyaman, lelaki itu ingin cepat mengakhiri makan siangnya. Tanpa kata, tubuhnya berdiri dan bersiap pergi sambil memanggil seorang pelayan.


Leehans diam sejenak, bermaksud menunggu Desta mengikutinya. Gadis itu justru telah berjalan cepat meninggalkan dirinya dengan Shena, sambil membawa kotak salad yang disambarnya sebelum pergi. Leehans mendesah memperhatikan kepergian Desta yang tergesa itu.


Merasa tiada penghalang, Shena dengan cepat meraih bahu Leehans dan bergelayut begitu manja.


"Berikan nomer ponselmu Hans. Aku siap untukmu. "

__ADS_1


Leehans tidak berniat merespon rayuan Shena padanya. Sedikit didorongnya tubuh Shena agar terlepas dari lengan bahunya. Shena nampak tertegun dengan sikap penolakan Leehans. Ditatapnya nanar, lelaki yang dirinduinya siang malam itu dengan hati yang menyala. Bagi Shena, tak mengapa gagal hari ini, masih ada banyak lagi hari esok.


__ADS_2